
Part 34
________
Pukul 05:00 pagi, William terbangun dari tidur singkatnya. Ia yang sedang tidur di atas sofa satu ruangan dengan Arista, memiringkan badannya menatap Arista yang tengah tertidur pulas di atas ranjang.
William terus memandangi Arista, “Hari ini aku akan pulang, setelah sampai di rumah aku tidak akan mendapatkan ocehan atau tingkah konyol yang di buat gadis ini lagi. Aku sangat berharap penantian 3 tahun akan menjadi waktu yang singkat untuk menunggu kepulangan kamu dan aku juga berharap setelah kamu kembali ke rumah, dan aku tidak ada di sampingmu kamu bisa menangani situasi yang akan kamu hadapi sendiri tanpa bantuanku.” Gumam William pelan.
William duduk ia menyingkap selimut yang menutupi tubuhnya, ia berjalan mendekati ranjang Arista.
Sampai sekarang saat menatap wajah kamu dan mendengar omelan dan amukan kamu aku merasa nyaman.
Aku berharap ini bukan rasa cinta, aku berharap ini hanya rasa kasih sayang antara Paman dan keponakan atau Kakak dan Adik.
Gumam William di dalam hati dengan wajah yang terus menatap wajah indah Arista.
Kedua kelopak mata Arista bergerak secara perlahan.
Melihat Arista mulai menggerakkan kelopak matanya, William bergegas berbalik badan dengan kaki kanan yang hendak melangkah namun tangan William di tahan Arista.
“Kenapa Paman berdiri di dekat ranjangku.”
Tanya Arista yang masih mengantuk.
Wajah William memerah, ia tidak mampu menunjukkan wajah merah yang menahan malu di hadapan Arista.
“Itu tadi ada nyamuk di pipi kamu jadi aku sudah mengusirnya. Sekarang nyamuk nya sudah bangun… eh! Maksduku nyamuknya sudah pergi jadi aku mau pergi mandi dulu ya?”
Sahut William gugup, ia berlari cepat berjalan menuju kamar mandi.
Waktu sudah menunjukkan pukul 07:00 pagi. Arista dan William sedang berjalan-jalan menuju Danau, sepanjang perjalanan William dan Arista hanya diam tak berbicara satu patah kata pun.
Arista menundukkan pandangannya menatap jalan yang mereka lalui.
“Jam berapa Paman akan pulang?”
William tertegun menatap Arista dan ia menghentikan langkah kakinya.
“Aku hampir lupa jika hari ini aku akan pulang.”
Arista menghentikan langkah kakinya, “Jangan katakan jika Paman mulai tua dan sedikit pikun.” Arista berjalan mendekati William, ia terus menatap wajah William secara detail.
Arista meletakkan jari telunjuk di pipi William dan menekannya secara perlahan. “Tapi wajah Paman masih terlihat ketat dan tidak ada bekas kerutan yang terlihat, tapi kenapa Paman bisa menjadi pelupa secara tiba-tiba.” Tanya Arista dengan wajah polosnya.
William memalingkan wajahnya suram.
Pertanyaan macam apa ini, seharusnya dia tahu jika aku ingin sedikit berlama-lama menatap wajah jeleknya itu.
Batin William menatap jari jemari tangan Arista yang terlihat kosong.
William mengerutkan dahinya seperti mengingat sesuatu hal. William merogoh saku jas bagian dalam dan mengeluarkan satu buah cincin yang berbentuk ular.
Dengan tangan kanan yang memegang 1 cincin emas yang berbentuk ular yang di dapatkannya dari hasil upah membasmi Monster. William berjalan mendekati Arista, kedua kakinya terhenti tepat di hadapan Arista.
Tangan William mengambil tangan kiri Arista dan memasangkan 1 cincin yang berbentuk ular di jari tengah Arista.
__ADS_1
Arista tertegun dan terdiam melihat William yang tanpa basa-basi memasangkan cincin berbentuk ular di jari tengahnya.
Setelah memasangkan cincin berbentuk ular di jari tengah yang imut dengan kulit yang sangat lembut. William tersenyum dengan tangan yang masih memegang tangan Arista, kedua mata William tidak berpaling sedikitpun dari jari yang indah yang sudah di hiasi cincin berbentuk ular.
Cincinnya tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil.
Tidak sia-sia aku menerima pemberian dari lelaki tersebut. Aku juga ingat jika aku ada sepasang anting pemberian dari wanita tua itu.
Tapi aku tidak mungkin memberikannya sekarang, setelah ia lulus dari sekolah ini aku akan memberikan semua perhiasan yang aku dapatkan dari jeri payahku.
Gumam William di dalam hati dengan bibir yang terus tersenyum bangga.
Arista memegang dahi William, “Apa Paman sedang sakit.” tanya nya dengan wajah yang polos.
William terkejut, ia melepaskan tangan Arista dan beralih pandang menatap ke sebuah Danau yang cukup indah jika di lihat di pagi hari.
Arista mengangkat tangan kirinya, ia menatap jari tengah yang dihiasi 1 buah cincin berbentuk ular yang di pasangkan oleh William.
“Cincinnya sangat bagus Paman, apa Paman membelinya untukku.”
William menganggukan kepalanya, “Semua yang aku dapatkan hanya aku berikan kepada kamu dan aku berharap kamu bisa menjaga barang itu buatku karena cincin yang tengah melingkar di tangan kamu itu adalah cincin dimana semua orang tidak bisa mencarinya atau mendapatkannya. Jika pun ada itu pasti tiruan dan harganya mungkin tidak akan semahal yang kamu pakai.”
Arista terlihat senang, ia reflex memeluk William dari belakang.
“Terimakasih Paman. Paman memang sangat baik.” puji Arista yang terlihat senang dengan pemberian William
“Arista.”
Terdengar suara wanita yang memiliki suara khas memanggil Arista.
Arsita beralih pandang menatap suara yang memanggilnya dengan kedua tangan yang masih memeluk William.
Arista melepaskan pelukannya menatap kedatangan Anggun dan Ellard.
“Mau apa kalian?” ketus Arista.
William hanya diam menatap teman Arista yaitu Anggun dan Ellard.
Anggun berdiri di hadapan William.
“Tuan. Apakah kamu beneran Paman Arista.” Tanya Anggun dengan suara khasnya.
William mengangguk dengan bibir yang tersenyum manis.
Melihat wajah William yang tersenyum manis, Anggun jadi terkesima dengan kedua pipi yang memerah.
“Paman sudah punya kekasih atau belum jika belum boleh tidak aku menjadi kekasih Paman.”
Tanya Anggun secara tiba-tiba.
Arista menatap suram wajah Anggun dengan kedua bola mata yang hampir lepas dari tempatnya.
Enak sekali dia ingin menjadi kekasih Paman.
Tidak.
__ADS_1
Itu tidak boleh terjadi.
Gerutu Arista di dalam hati menatap sinis Anggun.
“Maaf. Aku tidak tertarik dengan kamu dan gadis mana pun.” Sahut William dengan sopan karena ia tahu jika dia sedang berbicara dengan gadis remaja yang kemungkinan belum mengerti tentang cinta.
Anggun menatap sedih William, “Jika tuan menolakku berarti tuan sudah mempunyai kekasih hati.” Tanya Anggun dengan tangan kanan yang meraih tangan William.
William menggelengkan kepalanya, “Tidak. Aku memang lagi tidak ingin berkencan dengan siapa pun selain pasangan hidupku.” Sahut William dengan tegas namun lembut.
Anggun memalingkan wajahnya, “Aku tidak boleh menyerah.” Gumam Anggun pelan dengan suara khasnya.
William menatap Ellard yang sedang berdiri di samping Arista.
“Kenapa kamu terus mendekati Arista.” Ketus William.
Ellard menatap wajah Arista yang berdiri di sampingnya, “Awalnya aku tidak menyukai Arista, seiring berjalannya waktu ada sifat yang mungkin tidak di miliki gadis lain melekat di dalam diri Arista yang membuat aku makin lama semakin menyukainya.” Sahut Ellard menjelaskan sedikit kepada William.
Kaki kanan William melangkah maju mendekati Ellard dengan dahi yang di mengerut, William meletakkan tangan kanannya di bahu Ellard.
“Rasa suka yang saat ini kamu rasakan itu hanya rasa suka karena kagum saja. Kamu harus ingat, kamu tidak boleh suka kepada Arista dan kamu tidak boleh melukai perasaannya. Jika kamu ingin berteman sebaiknya berteman saja, jika kamu berharap hubungan lebih kepada Arista jangan harap aku akan merestui kamu.”
Ucap William dengan wajah yang suram.
Anggun memeluk tubuh Arista, “Seram. Aura Paman kamu sangat seram saat berkata seperti itu.” ucap Anggun seperti ketakutan menatap William yang sedang berbicara kepada Ellard.
Ellard menundukkan pandangannya, “Tuan tenang saja, bukankah hari ini tuan akan pulang. Jika tuan pulang aku berjanji akan menjaga Arista.” Sahut Ellard dengan tenang.
William mendekatkan wajahnya di telinga Ellard.
“Jangan mengusik pikiran Arista untuk berpacaran dengan kamu, jika dia tidak lulus dengan cepat di perguruan ini maka kamu akan aku habisi.”
Bisik William pelan namun menekan.
Lagi-lagi William mengeluarkan aura yang sangat mengerikan membuat Anggun bergetar ketakutan menatap aura gelap yang terpancar di tubuh William.
William berbalik badan menatap Arista, “Arista. Sudah saatnya aku pulang, kamu harus jaga diri baik-baik. Ingat pesanku.” William berbalik badan melangkahkan kaki kanannya.
Melihat William yang terus berjalan tanpa memberi salam manis perpisahan, Arista berlari mengejar William dan memeluknya dari belakang.
“Begitu cara berpamitan Paman kepadaku, kenapa Paman tidak pernah mengecup dahiku.”
William menarik tangan Arista membuatnya berdiri di hadapannya dengan tangan kanan yang memegang dagu Arista.
“Jangan manja, kamu bukan anak kecil lagi.”
Arista memalingkan wajahnya, “Tapi Paman.” Ucapnya pelan dengan kedua mata yang mulai basah.
William tersenyum menundukkan sedikit tubuhnya dan melayangkan kecupan manis di dahi Arista.
Cup!
Arista tersenyum manis, kedua tangannya menutupi dahi bekas kecupan William.
William tersenyum, “Sudah ya? Aku pamit pulang dulu.”
__ADS_1
William melangkahkan kedua kakinya meninggalkan Arista bersama Ellard dan Anggun di tepian danau.
......Bersambung.........