
Part 42
_______
...Pukul 09:00 pagi....
...🐾🐾...
William melajukan mobilnya meninggalkan halaman kediaman rumahnya. William terus melaju kencang dengan kedua mata yang serius menatap lurus jalan yang di lewati.
1 jam lamanya ia melajukan mobilnya meninggalkan kediaman yang tenang dan damai, terlihat dari jarak 1 meter sebuah pusat pasar yang berada di tengah kota.
William mengurangi laju mobilnya mendekati bar Pak tua dan memarkirkan mobilnya tak jauh dari warung kecil yang berada di tengah padatnya pusat pasar yang terletak di pusat Kota itu.
Blam!
William menutup pintu mobilnya.
Seperti biasa, saat William menginjakkan kedua kakinya berjalan di atas tanah semua mata wanita terpanah dan kagum melihat tubuh kekar, tampan dan awet muda yang terpancar dari wajahnya.
“Tampan sekali tuan William.”
“Sekarang ia sering pergi sendiri, kemana kira-kira Vampir kecil yang sudah tumbuh menjadi gadis remaja itu ya?”
“Apa kamu tidak tahu jika Vampir kecil yang bersamanya sekarang sedang bersekolah.”
“Dimana?”
“Tidak tahu.”
“Sayang sekali, padahal kunci utama mendekati tuan William ada pada Vampir itu."
Terdengar sahut menyahut dari beberapa wanita yang berbelanja di pusat pasar.
Aku rasa perempuan itu kalau tidak bergosip mulutnya akan terasa pahit mungkin.
Batin William dengan kedua kaki yang terus melangkah menuju bar Pak tua.
William menghentikan langkah kakinya berdiri tepat di depan pintu bar Pak tua. “Pak tua cepat keluar.” Teriak William.
__ADS_1
Hampir 10 menit menunggu di depan pintu, panggilan William tidak di jawab oleh Pak tua. “Harus aku juga yang mencarinya.” Gumam William pelan dengan kedua kaki yang melangkah mencari di setiap tempat.
Langkah kaki William harus terhenti saat mendengar suara ciri yang khas dari seorang wanita yang seperti sedang menikmati perannya.
“Akkh!”
“Heeemm!”
“Sudah 1 jam kita bermain, semangat dan ketahanan yang kamu miliki tidak mencerminkan kamu seorang pria yang sedang berumur.” Ucap wanita yang sedang menikmati perannya.
William yang berdiri di depan pintu yang hanya tertutup tirai menggelengkan kepalanya, tangan William menyingkap sedikit kain tirai yang tergantung. Terlihatlah Pak tua pemilik bar sedang beradu kasih dia atas ranjang kecil dengan seorang wanita yang berusia sekitar 30 tahun tanpa memakai sehelai benang pun yang melekat di tubuh mereka berdua.
William berbalik badan, “Sungguh besar dan tangguh.” Gumam William pelan sambil melangkahkan kedua kakinya berjalan meninggalkan ruangan tersebut.
William menunggu Pak tua pemilik bar di meja biasa yang sering William duduki dengan 1 botol minuman beralkohol dan 1 gelas kecil yang terisi penuh minuman beralkohol, tak lupa beberapa potongan kecil es batu sebagai pelengkap nikmat setiap tegukan nya.
10 menit kemudian keluarlah seorang wanita rambut acak-acakan, bekas tanda kisah cinta berwarna merah di mana-mana sambil berjalan terhuyung-huyung dengan kedua kaki yang gemetar melewati meja William.
“Sungguh nikmat sentuhan yang di buat Pak tua tersebut hingga membuat aku susah berjalan.” Ucap wanita tersebut dengan kedua kaki gemetar berjalan meninggalkan bar.
William menaikkan sudut bibir bagian atas, “Memang nikmat jika hanya sesaat.” Gumam William pelan.
“Sering-seringlah berhutang kepadaku supaya aku bisa selalu terasa puas.” Ucap Pak tua pemilik bar keluar dari tempat persembunyiannya.
“Kapan kamu datang.”
William mengangkat gelas kecil yang berisikan minuman beralkohol. “Tidak lama, mungkin hampir 1 jam.” William mendekatkan wajahnya di telinga Pak tua, “Jangan sering-sering memakai obat seperti itu jika tidak kamu akan kehilangan kenikmatan yang begitu dahsyat Pak tua.” Bisik William.
Mendengar ucapan William seperti itu, Pak tua tersebut panik melihat ke kanan kiri. “Jika aku tidak memakainya bagaimana mungkin aku bisa memuaskan diriku dan wanita yang aku ajak tidur. Kamu macam tidak pernah aja.” Sahut Pak tua berbisik.
William menatap tajam wajah Pak tua yang masih penuh dengan keringat yang mengalir dari ujung rambutnya. “Memang tidak. Karena aku akan menikmatinya dengan wanita yang aku suka dari hati bukan dari nafsu sesaat.” Bisik William.
Pak tua tertawa geli seperti tidak percaya apa yang di ucapkan dari bibir William, “Hahaha. Sampai kapan kamu bisa Manahan hasrat yang terpendam.”
William menolehkan wajahnya, “Sampai waktunya tiba untuk melakukannya.” Tegas William.
Pak tua berdiri berjalan mendekati meja yang tersusun jejeran gelas kecil. “Langsung saja ke intinya, kamu ke sini mau bertanya soal apa.” Tandas Pak tua tersebut.
“Tentang wanita yang berada di dalam lukisan tang pernah kau tunjukkan kepadaku.” Sahut William dengan tenang.
__ADS_1
Pak tua pemilik bat segera berjalan mendekati meja, “Apa kamu berjumpa dengan wanita yang berada di dalam lukisan?” Tanya Pak tua dengan wajah yang terlihat begitu sangat serius.
William hanya menggelengkan kepalanya.
“Jadi?” Tanya Pak tua pemilik bar yang terlihat serius.
William melihat ke kanan, kiri. Setelah memastikan lingkungan aman William mendekatkan wajah seriusnya menatap Pak tua pemilik bar.
“Apa benar yang di katakan banyak orang tentang Ratu penyihir jika dia jahat! benar atau mitos belakang.”
“Kalau menurut aku itu hanya kebohongan belakang yang di buat oleh seseorang yang tidak suka akan kehadiran seorang penyihir.” Sahut Pak tua pemilik bar.
Pak tua pemilik bar mendekatkan wajahnya menatap wajah William. “Tunggu. Tidak seperti biasanya kamu mau bertanya hal seperti itu kepadaku.”
William hanya diam dengan mulut yang menenggak minuman yang berada di dalam gelasnya.
“Aku hanya bingung saja kenapa dia di sebut penyihir jahat oleh semua orang yang belum pernah melihatnya. Jika dia seorang Ratu penyihir jahat kenapa sewaktu ia datang ke kota ini tidak membuat keributan dan menghancurkan semua kota dengan kekuatan sihir yang di milikinya.”
Pak tua pemilik bar tertawa, “Hahaha." Tangan kanannya seperti hendak ingin memegang bahu William namun William menepis tangan Pak tua pemilik bar.
“Berani sekali kamu meletakkan tangan kotor kamu di atas bahuku.” Sentak William mengingat kejadian saat Pak tua sedang bercinta dan belum membersihkan dirinya.
Lagi dan lagi Pak tua tertawa, “Hahaha! Kamu sensitive sekali, jika aku membersihkan tubuhku maka wangi khas yang barusan aku capai akan hilang, jadi aku membiarkan sisa perbuatanku melekat di tubuh ini.”
William memalingkan wajahnya, “Sungguh luar biasa mengabadikan perbuatan yang tercela.” Gumam William pelan merasa jijik dengan perbuatan Pak tua pemilik bar.
“Apa kamu sudah mempersiapkan peralatan buat melawan Raja Iblis yang akan datang di kemudian hari.” Tanya Pak tua spontan.
William menggelengkan kepalanya, “Belum.” Tangan kanannya mengambil botol minuman keras dan menuangkan minuman tersebut di gelas kecil yang kosong.
Pak tua mendekatkan wajahnya menatap William. “Aku pernah mendengar dari leluhurku, senjata yang ampuh melawan para Iblis termasuk Raja Iblis adalah pedang suci yang di buat khusus dari pembuat pedang yang berada di dekat gunung di sebrang pulau ini.”
William mengerutkan dahinya menatap serius Pak tua, “Maksud kamu daerah gunung terlarang, satu-satunya gunung yang tak jauh dari Kota kita hanya gunung itu dengan pemukiman penduduk yang jumlahnya sangat sedikit dan seperti kurang bersahabat.”
Pak tua pemilik bar menganggukan kepalanya, “Kamu memang benar, dan hanya di sana kamu bisa membuat pedang suci yang mampu mengalahkan para Iblis beserta Raja Iblis.” Ucap Pak tua menatap wajah William.
William berdiri, “Kalau begitu aku permisi.” William berbalik badan meninggalkan bar pemilik Pak tua.
“Jumpai pria yang bernama Absurd, karena hanya dia yang bisa membuat pedang tersebut.” Teriak Pak tua pemilik bar.
__ADS_1
William menolehkan wajahnya sedikit, “Terimakasih.” Sahutnya dengan kedua kaki yang terus melangkah meninggalkan bar.
...Bersambung........