Vampire Kecil Milik Tuan William.

Vampire Kecil Milik Tuan William.
Bab 108. Menuju Desa Berkabut


__ADS_3

Anggun, Abel, Arista, dan Ellard, sudah sampai di sebuah hutan. Dimana hutan tempat William, dan bocah lelaki elf itu bertemu.


Di sisi lain, Esme, terus berusaha menerangkan, dan memberi arahan ke guru-guru, dan beberapa anak murid di sana. Sejenak kericuhan sempat terjadi karena berita mendadak dari Esme. Namun, pemilik Yayasan, yaitu kedua orang tua Ellard, ikut menyakinkan hal itu. Dan akhirnya semua guru dan anak murid dari klan lain bergegas, mempersiapkan diri untuk melawan kehancuran di buat Grace bersama dengan Ibis penghancur, semakin lama semakin mendekat.


Esme sedang berdiri di tengah halaman asrama mengerutkan dahinya, menatap awan gelap dari dimensi manusia semakin menggelap, kilatan merah juga terlihat menyambar-nyambar melewati dinding penghala dari dimensi lain.


“Aku harap Anggun, Arista, Ellard, dan….”


Gumam Esme terhenti saat memikirkan Abel. Esme langsung teringat jika Abel itu ‘kan Rajanya dari para iblis. Apa mungkin Abel ikut dalam peristiwa kehancuran dilakukan oleh Grace. Apa Abel ingin menghancurkan dunia ini, dan membentuk dunia baru?


Pertanyaan-pertanyaan aneh pun mulai muncul di kepala Esme. Hal itu membuat hati Esme semakin gelisah memikirkan Arista. Sampai pikiran itu terhenti saat seorang anak murid mendekati Esme.


“Bu..kenapa kita semua harus waspada? Bukannya tempat ini sudah sangat aman?” tanya murid perempuan, bola mata merah menyala, setitik pupil berwarna hitam menambah kesan horror setiap orang memandangnya. Gadis berusia 11 tahun dari klan vampire, anak baru di semester baru di sekolah itu.


Esme menoleh kepada gadis itu, tangannya menggenggam hangat tangan dingin dari gadis vampire itu, dan berkata, “Tidak, meski tempat ini sudah dilindungi oleh mantra kuat dari semua guru di sini. Tapi dinding dimensi ini tetap akan hancur jika kita tidak melindunginya dengan benar. Jadi, ibu minta kalian bersatu, menyatukan kekuatan agar dimensi kita tidak terhubung dengan dimensi manusia. Iblis penghancur itu juga tidak bisa memasuki dimensi kita yang aman ini, karena di sini masih banyak tersimpan klan-klan langkah lainnya.”


“Oh, berarti di sini ada klan elf juga?” tanya gadis itu dengan nada suara sedikit berbeda.


“Tidak, mereka sudah berada di dunia manusia, di tempat yang aman,” sahut Esme tak mencurigai.


“Kak Arista, dan kakak petarung hebat lainnya dimana Bu?” tanya gadis itu kembali.


“Mereka sudah berada di dunia manusia. Ada tugas penting yang harus mereka selesaikan,” sahut Esme mulai curiga dengan pertanyaan dari gadis vampire itu.


“Oh, kalau gitu aku pigi dulu bu,” pamit gadis vampire itu.

__ADS_1


Gadis vampire itu balik badan, kedua kakinya perlahan berjalan, segaris senyum penuh maksud tercetak di raut wajahnya.


Esme sendiri terus menatap kepergian gadis Vampire itu, sorot matanya mulai menyelidik, memandang seluruh tubuh gadis itu dari atas sampai bawah. Saat sorot mata itu melihat sebuah tanda berwarna hitam berlambang tanduk di sebelah betis kirinya tertutup kaos kaki panjang sebetis. Dahi Esme mengernyit, langkahnya perlahan goyah kebelakang. Esme pun buru-buru berlari keluar dari gerbang sekolah.


Kedua tangannya mengulur ke depan, bibirnya merapal mantra. Pintu portal terbuka, terlihat portal itu menuju ke tempat hewan fantasi. Saat kedua kaki hendak melompat masuk ke dalam, ada beberapa cabang ranting mengulur panjang, melilit tubuh Esme, membawa Esme masuk ke dalam hutan berada di depan gerbang yayasan. Lalu portal itu pun tertutup bersama dengan Esme sudah menghilang dari tempat.


.


.


💫Di sisi lain💫


William tidak langsung membawa Grace ke rumahnya, William malah membawa Grace ke tempat Bar, pemilik pria berkepala botak. William dan Grace duduk di depan meja penyajian. Pak kepala botak terus melirik ke William sedang asik meminum arak.


“Ikut aku sebentar,” pinta Pak kepala botak, tangannya mengarah ke sebuah pintu bertirai kain usang.


“Ada apa?” tanya William setelah sampai, berdiri di depan Pak kepala botak.


“Kenapa gadis itu sangat mirip dengan gadis vampire milikmu?”


“Aku bukan bapaknya, aku juga bukan saudaranya. Jadi aku tidak tahu harus menjawab apa. Meski gadis itu berkata jika dia adalah saudara Arista, tapi aku tetap tidak percaya,” sahut William paket lengkap.


“Aku merasakan aura aneh menyelimutinya. Kamu harus berhati-hati William. Dan kamu juga pasti sudah tahu tentang ramalan itu, ‘kan?!”


“Tentu saja aku tahu. William, aku sarankan kamu sebaiknya menemui seorang peramal, dan penyihir hebat di salah satu kampung berada di Desa berkabut. Di sana kau bisa menemukan semua rahasia terbesar tentang yang akan terjadi,” Pak kepala botak mendekatkan bibirnya ke daun telinga William, “Aku sangat yakin jika gadis itu bukanlah saudara Arista. Gadis itu terlihat seperti sedang menjalin persyaratan dengan seseorang. Kau lihat saja di pergelangan kakinya tertutup gelang kaki berwarna hitam itu. Ada sebuah tato pengikat janji,” lanjut Pak kepala botak, sorot matanya mengarah ke pergelangan kaki Grace tertutup dengan kalung kaki terbuat dari kain berwarna hitam.

__ADS_1


“Aku tidak salah tempat. Kalau gitu aku titip bocah itu, aku akan pergi ke Desa berkabut. Aku akan mencari wanita itu dan menanyakan kebenaran yang akan terjadi,” pamit William, tangannya menepuk sebelah bahu Pak kepala botak.


“Jangan senang dulu. Kamu tidak akan mendapatkan semuanya dengan gampang sampai kamu bisa memberikan sesuatu milik kamu kepadanya,” sambung Pak kepala botak memberitahu.


“Tenang saja, aku pastikan dia tak akan meminta hal ini dan itu. Aku mau pinjam black sih gagah milik kamu dulu, kalau naik kendaraan berasap, aku takut tidak bisa menempuh ke tempat terpencil,” pinta William.


“Pakai saja, asal kau membayarnya dengan baik.”


William mencampakkan sekantung kecil emas, “Aku rasa uang itu bisa membuat kamu membeli kuda baru. Jika sih black mati bersamaku nantinya!” tegas William sembari melangkah mendekati Grace.


“Hei, jangan macam-macam kau, William. Aku hanya menginginkan Black, tidak kuda lain!” teriak Pak tua mengikuti langkah kaki William.


“Aku titip Grace,” William menoleh ke Grace, “Tunggu aku di sini, karena aku masih ada pekerjaan!” sambung William memberi perintah ke Grace.


“Paman, jangan tinggalkan aku. Aku ikut Paman,” pinta Grace setengah memohon.


“Jangan! Aku tidak ingin kau mati sebelum bertemu dengan saudara kamu. Pria berkepala botak itu orangnya baik, jadi kamu jangan takut. Cuman otaknya aja sedikit mesum saat melihat gadis bertubuh seksi,” William menatap Pak kepala botak, “Aku titip Grace,” pesan William.


“Iya, pergi lah kau sana. Jaga black, jangan sampai lecet!”


“Aku tidak menjamin.”


William pun bergerak pergi meninggalkan Grace bersama dengan Pak kepala botak. Kedua kakinya terus melangkah menuju kuda hitam milik Pak kepala botak terikat di samping bar miliknya.


“Black, tuntun aku sampai ke Desa berkabut,” pinta William mengelus tubuh Black.

__ADS_1


Seolah mengerti permintaan William, Black hanya menggeleng.


William pun naik, menunggangi black menuju Desa berkabut untuk menemui wanita peramal itu.


__ADS_2