
Part 72
______
Arista dan William masih berdebat di dalam kamar William. Arista duduk di tepian ranjang, wajahnya cemberut, bibir bawah di gigit.
Aku benci Paman.
Masih tidak mau mengaku lagi, jika di rumah ini ada wanita lain selain aku. Lihat saja, minggu ini umur aku bertambah 1 tahun. Jadi 18 tahun, aku tidak ingin menjadi gadis remaja, aku ingin menjadi gadis dewasa.
Tapi. Badan tidak bisa di bohongi, kenapa dua gunung ini lama sekali besarnya seperti milik wanita-wanita yang selalu merayu Paman.
Gumam Arista di dalam hati.
William berjalan mendekati Arista, duduk di samping memegang tangan kiri Arista. “Kamu kenapa? Apa kamu marah dengan Paman. Baru saja datang kamu sudah….”
Tok!
Tok!
Kltak!
Perkataan William terputus, melihat wanita yang sudah di usir berulang kali membuka pintu kamar miliknya.
William berdiri, kedua mata membulat. “Tidak mungkin.” Ucapnya pelan yang bingung.
Arista berdiri, dahi mengerut, kedua mata menatap tajam wajah William yang sedang bingung. “Aku benci Paman.” Ucapnya pelan namun pasti.
Arista pergi meninggalkan kamar William. Di depan pintu kamar William. Arista menghentikan langkah kakinya menatap dari atas sampai bawah wanita yang sedang berdiri di depan pintu.
“Dinda Arista.” panggil William saat melihat Arista berjalan pergi meninggalkan dia dan wanita yang berada di depan pintu. Dahi William di tekuk, tangan kiri memegang dada sebelah kanan. “Ukh!” keluh William memegang dadanya yang masih terasa perih.
Wanita yang sedang berdiri di depan pintu berlari mendekati William. Memegang tangan William. “Tuan kenapa? Apa lukanya masih sakit?”
William menepis tangan wanita tersebut. “Pergi. Apa kamu tidak punya malu, berulang kali aku mengusir kamu dari rumahku. Tapi kenapa kau tetap tidak mau pergi. Apa yang kamu inginkan dariku?”
Wanita tersebut diam, menatap wajah William yang masih terlihat pucat. Wanita tersebut tersenyum, menaikkan sudut bibir atasnya. “Apa tuan tidak ingat sama sekali.”
__ADS_1
“Apa yang harus aku ingat tentang dirimu.” Tandas William.
“Tuan memang mengusirku, tapi aku juga yang menemukan tuan tergelatak di pinggir jalan. Tubuh tuan penuh luka, darah mengalir dari bagian tubuh yang terluka, wajah pucat.
Aku tahu tuan sangat tidak ingin melihatku, tapi aku masih punya hati untuk menolong orang yang pernah menolongku. Meski pun mereka tidak menginginkan pertolongan dariku.” Sahut wanita tersebut mengingat kejadian pada waktu itu. Saat William di hajar oleh Martinus tanpa ampun.
“Hentikan omong kosong kamu. Pergi kamu dari hadapanku, pergi.” Bentak William mengulurkan jari telunjuknya mengarah ke pintu kamar.
Wanita tersebut berbalik badan. “Baik.” sahut wanita tersebut melangkah pergi meninggalkan kamar William.
William berdiri, berjalan mendekati pintu kamar dan menutup pintu kamarnya.
Blam!
Willian terus memegang dada kanannya. “Kenapa dada ini terasa sangat sakit sekali, bukannya tadi baik-baik saja.” Gumam William pelan, berjalan mendekati ranjang. William merebahkan tubuhnya di atas ranjang, memiringkan tubuhnya memeluk selimut. “Selimut ini wangi sekali. Ia benar, wangi aroma tubuh Arista.” William menarik selimut yang tersimpan aroma tubuh Arista. Saat memeluk selimut tersebut, William merasa nyaman dengan aroma yang tertinggal, membuat ia lupa akan rasa sakit di dada.
Baru saja memejamkan kedua matanya, tiba-tiba terdengar suara.
Blam!
Arista menunjang pintu kamar William dengan kuat. Membuat William spontan duduk menatap ke arah pintu kamar. Dimana Arista sedang berdiri, wajah memerah, dada bernafas dengan cepat. “Paman…” teriak Arista menutup pintunya kembali memakai kakinya.
Arista duduk di tepian ranjang, wajahnya cemberut. Kedua tangan di lipat di dada.
Tadi sewaktu aku keluar dari kamar, kenapa Paman tidak menahan ku.
Dan ini aku datang marah-marah, membuka pintu kamar pakai kaki dia juga tidak marah. Wajahnya terlihat datar menatapku.
Apa Paman sudah tidak perduli lagi denganku.
Gumam Arista di dalam hati.
William kembali merebahkan tubuhnya dengan santai, memejamkan kedua mata, menarik guling yang di duduki Arista. “Jika sudah siap marahnya bilang ya?”
William sengaja tidak ingin meladeni Arista yang sedang marah. Ia tahu, jika melawan wanita yang lagi marah hanya menambah kekeruhan yang tidak akan berujung.
Arista naik ke tengah ranjang, mendekati William yang sedang memejamkan kedua matanya. Arista mengulurkan tangan kanan menggoyangkan badan William. “Paman.”
__ADS_1
“Hem.” Sahut William membuka sebelah matanya, kemudian menutupnya kembali.
“Aku benci dengan Paman.”
“Hem.” Sahut William singkat.
“Apa Paman tidak merasa bersalah.”
“Tidak.” sahut William masih memejamkan kedua matanya.
Arista memalingkan wajah sedihnya. “Kenapa jawaban Paman tidak. Apa Paman menyukai wanita itu?”
“Tidak.” sahut William.
“Aku sudah tidak lagi menyentuh darah, aku sudah berubah Paman. Aku sekarang lebih senang meminum jus atau yang lainnya. Dan apa Paman ingat, minuman yang terakhir Paman beri kepadaku. Minuman itu sampai sekarang masih berkhasiat untuk mencegah aku tidak jahat, haus akan darah.” Arista seperti ingin mengungkap rasa cemburunya, perasaan yang sebenarnya sedang tumbuh tapi tidak di ketahui nya, ia malah mengalihkan obrolan lain.
William membuka kedua matanya, menatap wajah Arista yang terlihat malu. “Aku tidak pernah memberikan kamu ramuan apa pun, mungkin itu hanya akal-akalan kamu saja. Jika sudah tidak ada yang perlu di bahas lagi, sebaiknya kamu keluar dari kamar Aku dan kembali ke kamar kamu.”
“Berarti perasaan aku saja, karena darah yang manis itu hanya Paman yang punya. Karena tidak ada darah yang semanis milik Paman, makanya aku beralih ke minuman yang lain.
Dan bagaimana mungkin aku bisa kembali ke kamarku, jika kamar itu Paman kasih kunci seperti itu.” sahut Arista bernada sendu.
William duduk, meletakkan tangan kanan di kepala Arista dan membelai lembut rambut panjangnya. “Ini semua gara-gara wanita itu, dia pernah menyelinap masuk ke dalam kamar kamu. Aku tidak rela ada orang lain yang masuk ke dalam kamar dan menyentuh semua barang yang aku berikan kepada kamu.”
“Apa Paman tidak merasakan ada hal yang ganjil dengan wanita itu? “ tanya Arista yang merasakan ada keganjilan dari tingkah laku dan perlakuan dari wanita tersebut.
“Sudah. Kamu tidak perlu cemas, sekarang kamu istirahat dulu. Atau kamu ingin kita pergi berjalan-jalan. Menikmati suasana malam hari di kota ini.” Tanya William mengalihkan suasana hati Arista yang sedang buruk.
Wajah Arista berubah senang. “Yang benar Paman? Kalau begitu mari kita pergi, tapi aku ingin Paman merapihkan sedikit rambut yang terlihat panjang. Aku tidak ingin berjalan dengan seorang pria yang lebih tua dariku.” Ucap Arista memegang rambut William yang sedikit panjang tak terurus.
William memegang tangan Arista. “Aku memang pria yang lebih tua dari kamu. Walau pun aku lebih tua dari kamu, tapi aku masih pantas jalan bersama kamu.” William mengacak rambut Arista. “Kamu memang Vampir kecil yang nakal. Apa kamu ingin jalan dengan pria lain selain aku.”
Arista berusaha menepis tangan William, tapi tidak bisa. Tenaga William lebih kuat dari dirinya. Arista hanya bisa pasrah dan mengeluh. “Ampun Paman. Aku tidak berani jalan dengan pria lain selain Paman.”
...Bersambung.........
**Terimakasih atas dukungan nya... 😘😘
__ADS_1
Lagi musim sakit, akibat cuaca yang tidak stabil..🥺
Buat kalian semua, aku doakan sehat selalu dan di limpahkan rezeky**.