
Part 65
_______
...Kembali ke William....
...🤪😜...
William sedang berlatih pedang suci di tempat latihan pedang miliknya. Keringat mengalir dari ujung rambut, membasahi seluruh pakaian yang ia kenakan. Nafasnya terlihat letih, ia berdiri dengan wajah yang tertunduk menatap pedang suci yang memantulkan bayangan wajah yang penuh keringat.
Dari aku selesai membuat pedang ini, kenapa pedang ini sama sekali biasa saja. Apa pria itu menipu aku.
Gumam William di dalam hati.
William yang tak putus asa ingin mencari kebenaran, apakah pedang ini benar-benar bermanfaat untuk membasmi Raja Iblis dan klan Iblis lainnya kembali berlatih pedang suci. Meski wajahnya terlihat letih, semangat William tidak pudar.
“Hiaakkhh.”
Swoosh!
Swoosh!
Tangan kanan William, lihai mengayunkan pedang suci ke kanan/kiri. Tubuhnya memutar arah, menekan ujung kakinya, tubuhnya sedikit melentur ke belakang mengayun pelan seperti hendak menghindari lawan yang akan menusuknya dari depan.
Saat sedang berlatih pedang, kedua bola William membulat menatap ke arah pintu masuk tempat latihan pedang miliknya. Betapa terkejutnya William, melihat wanita tersebut sedang berdiri di depan pintu menatap tajam dirinya.
Apa maksud dari tatapan wanita tersebut, William juga belum mengetahuinya. Melihat William sadar akan kehadirannya, wanita tersebut berbalik badan, bergegas meninggalkan tempat latihan milik William.
William tersulut api amarah, langkah kaki William bergerak cepat mengikuti wanita tersebut yang sudah berjalan jauh meninggalkan tempat latihan miliknya.
Wanita tersebut terus melangkah cepat, sesekali ia menoleh wajah paniknya ke belakang. Memastikan apakah William masih terus mengikutinya apa tidak.
Merasa cukup aman berjalan sampai di ruang tamu, wanita tersebut menghentikan langkah kakinya. Tangan kanan memegang dada, nafasnya terlihat tidak beraturan antara takut dan panik. “Sial. Pakai ketahuan segala lagi, jika aku sedari tadi memandanginya.”
__ADS_1
Ada tangan kekar yang memegang bahu kanan wanita tersebut, wajah wanita itu terlihat ketakutan. Kedua matanya membesar, jenjang leher yang ingin bergerak ke belakang serasa kaku.
“Tuan.” Ucap wanita tersebut yang tertegun menatap William yang berdiri menatap tajam wajahnya.
Hanya satu tangan, William memutar arah wanita tersebut menghadap dirinya. Bibir William terus bergerak, kedua alisnya menyatu, kedua mata berapi-api menatap wanita yang ada di hadapannya. William menekan bahu wanita tersebut dengan sangat kuat.
“Di sisi lain wajah kamu terlihat polos, lugu dan penuh dengan kesengsaraan. Di sisi berikutnya wajah kamu terlihat seperti Iblis, penuh maksud dan amarah yang terpendam.”
“Bu-bukan itu maksud saya tuan. Saya mohon dengarkan penjelasan saya.” bantah wanita tersebut memotong pembicaraan William.
William menghempas wanita tersebut di atas lantai. “Aku sudah katakan, berulang kali aku ucapkan kepada kamu. Pergi kau dari kediaman rumahku, dari awal aku tidak suka ada wanita lain yang hadir di dalam kediaman rumahku. Karena rumah ini hanya untuk di tinggali dua orang saja.”
William yang tidak mampu menahan amarahnya, menarik tangan wanita tersebut. Menyeretnya sampai ke depan pintu rumah miliknya, dan melepaskan tangan wanita tersebut kuat. Membuat wanita tersebut tersungkur di atas lantai teras rumah William. “Kau tidak berhak lagi tinggal di rumahku.”
Wanita tersebut hanya diam, kedua matanya berlinang air mata menatap William berharap ada sedikit belas kasih yang terpendam di hati William.
Melihat wajah wanita tersebut yang terlihat sedih, berharap belas kasihan. Wajah William berubah suram, di campur dengan rasa jijik.
William berbalik badan, melangkah cepat menutup pintu rumah miliknya.
Wanita tersebut segera berdiri mendekati pintu kediaman William, air matanya terus mengalir membasahi seluruh wajah cantiknya.
“Tuan. Tolong jangan usir saya.”
Tok!
Tok!
Tok!
Wanita tersebut terus mengetuk pintu kediaman William. kedua tangannya memegang gagang pintu rumah William, menggoyangkan sekuat tenang. “Tolong jangan usir saya tuan.” Teriak wanita tersebut sekali lagi.
William tidak menghiraukan teriakan wanita yang berada di depan pintu kediaman miliknya. William terus melangkah penuh kekesalan, selama beberapa hari amarah dan kebohongan yang tampak di hadapan dirinya berusaha ia pendam namun pada akhirnya William tidak mampu memendam rasa itu kembali dan memutuskan dengan tegas mengeluarkan wanita tersebut dari kediaman rumahnya.
__ADS_1
...3 jam kemudian....
...🤬...
William menuruni anak tangga, baju rapih, wajah terlihat sangat tampan. Wajah William terlihat senang, apa yang ada di pikiran William? sudah jelas, jika sudah melihat wajah sesenang itu. William sedang memikirkan Arista, hanya Arista yang mampu meluluhkan sikap dingin, kejam dan lain sebagainya yang di miliki William.
“Aku baru ingat, Esme pernah berkata Arista akan mendapatkan libur panjang setelah kenaikan kelas nanti. Aku sudah tidak sabar untuk menyambut kedatangan Vampire kecil yang mungkin kini sudah tumbuh menjadi gadis dewasa.”
Langkah kaki William terhenti di depan pintu rumahnya, tangan kanan William mengulur membuka kunci pintu rumah.
Klik!
Terdengar suara kunci pintu rumah terbuka, William membuka pintu rumah. Kaki kanannya melangkah keluar dari dalam rumah, sudut bibir atas William naik sebelah menatap wanita yang tadi diusirnya tidak kunjung pergi dari rumahnya.
Wanita tersebut menatap sendu wajah William, wanita itu merangkak mendekati William. kedua tangannya merangkul erat kaki kanan William. “Tolong jangan usir saya.”
William tidak menghiraukan ucapa wanita tersebut yang terus menerus memohon berharap belas kasih, agar di terima kembali. William terus melangkah pergi, meski kaki kanan sedang di rangkul erat wanita tersebut.
Wanita tersebut juga tidak keberatan, sikap dingin, kasar dan ketidak pedulian William seperti sudah biasa di dapatkannya. Wanita tersebut tetap mengeratkan kedua tangan yang melingkar di kaki kekar milik William.
Kedua kaki William terhenti di samping pintu mobil yang terparkir tidak jauh dari halaman kediaman miliknya. William menundukkan pandangannya menatap wanita yang berwajah sendu, kedua mata terlihat sembab.
Tangan William mencengkram rambut wanita tersebut, membuat wajah wanita tersebut mendongak menatap ke arahnya. William menundukkan sedikit tubuhnya, kedua matanya menatap tajam wanita tersebut.
“Sekali lagi aku tegaskan kepada kamu, keluar dengan tenang dari rumahku sebelum aku kehilangan batas kesabaranku.” Ucap William pelan, namun sedikit menekan.
Wanita tersebut tidak menghiraukan ucapan William yang kasar dan sering kali mengusir dirinya. Kedua tangan wanita tersebut melingkar erat di kaki kekar William. “Tuan. Tolong jangan usir saya.” ucap wanita tersebut sekali lagi.
Dahi William mengerut, bibirnya bergerak menahan amarah yang selalu di pendam saat melihat perbuatan wanita tersebut. William menundukkan lebih dalam lagi, tangan yang gemetar menahan amarah, meraih kedua tangan wanita tersebut yang mencengkram erat kaki William.
Tanpa banyak bicara, William berhasil melepaskan kedua tangan wanita tersebut yang mencengkram erat di kaki kekar milik William.
Wanita tersebut berusaha kembali meraih kaki William, wanita tersebut yang berusaha meraih kembali kaki William tidak berhasil meraih kaki kekar dan tegap milik William. Karena, William cepat masuk ke dalam mobil miliknya.
__ADS_1
Setelah berhasil kabur dari wanita tersebut, William memutar arah stir kemudi miliknya meninggalkan halaman kediaman rumah miliknya.
...Bersambung........