Vampire Kecil Milik Tuan William.

Vampire Kecil Milik Tuan William.
Hari ke-4 di sekolah.


__ADS_3

Part 21


______


Hari ke-4 di sekolah “There Never Was.”


Riiing!


Riiing!!


Suara bel tanda memasuki pelajaran pertama di mulai, semua para murid berjalan masuk ke masing-masing kelas mereka.


Arista yang sedang berjalan dengan Anggun berhenti di depan kelas Anggun.


Anggun melambaikan tangannya, “Selamat jumpa setelah pulang sekolah.” Ucapnya sambil berjalan masuk ke dalam kelas.


Arista hanya tersenyum sambil mengarahkan kaki kananya menuju kelas yang bersebelahan dengan kelas Anggun.


Ke-4 teman Ellard memandangi kedatangan Arista, mulai dari masuk ke dalam kelas hingga duduk di bangkunya.


Arista meletakkan tas jinjing sekolah miliknya di samping meja, setelah itu mengeluarkan buku dari dalam tas dan meletakkannya di atas meja.


Ellard yang duduk di belakang kursi Arista hanya memandangi kegiatan yang Arista buat.


Gadis ini sangat santai.


Apa dia tidak merasa bersalah tentang apa yang di perbuat dia kemarin dengan teman-temanku.


Jika memang dia tidak merasa bersalah, setelah pelajaran ini aku akan membuat dia meminta maaf kepada teman-temanku.


Gumam Ellard dalam hati dengan sudut bibir atas yang menaik.


1 jam kemudian.


Ring!


Riingg!!


Suara bel ke-2 berbunyi, tandanya jam pelajaran telah usai. Esme yang sedang berdiri di depan ruang kelas tersenyum manis.


“Pelajaran kita sudah selesai anak-anak, ingat besok ada pelajaran di lapangan. Di harapkan besok memakai baju bebas atau baju olah raga juga boleh.” Ucap Esme memberitahu.


Arista mengangkat tangan kananya ke atas, “Pelajaran apa yang mengenai tentang di lapangan Esme.” Tanya nya dengan wajah yang cukup serius.

__ADS_1


Esme tersenyum manis, “Mau tahu aja, besok kalian semua akan tahu dan siapkan mental kalian semua.” Esme berbalik badan dengan tangan yang melambai, “Sampai jumpa.”


Setelah kelas selesai dan para murid meninggalkan kelas.


Ellard berdiri di samping meja Arista, “Kamu sangat santai.” Dengan wajah yang menatap sangat dekat dengan wajah Arista.


Arista santai saja dengan tangan yang masih menyusun buku pelajaran di dalam tas.


Braaakk!


Ellard menggebrak meja Arista, “Apa kamu tidak dengar. Apa kamu buta, tidak melihat temanku yang babak belur.” Bentak Ellard sambil menunjuk ke arah Sebastian dan Robert yang masih duduk di bangku kelas.


Arista berdiri dengan wajah yang menatap tajam ke-4 teman Ellard yang duduk di bangku paling belakang nomor 2. Arista beralih pandang menatap Ellard dengan tatapan yang sangat serius.


“Apa kamu tidak tahu apa yang ingin teman kamu lakukan kepadaku. Apa aku harus diam saja jika ada orang lain yang berusaha menyentuh kulitku.” Tanya Arista dengan wajah yang cukup serius.


Ellard menolehkan wajahnya menatap ke-4 teman-temannya dengan tatapan yang sangat suram.


“Apa benar yang di katakan gadis ini.” Bentak Ellard.


Robert dan Sebastian menggelengkan kepalanya dengan kedua tangan yang di lambaikan.


“Gadis itu berbohong, kami tidak menyentuhnya sama sekali. Dialah yang mencari gara-gara terlebih dulu kepada kami.”


Arista mendorong pelan tumbuh Ellard yang menghalangi jalannya menuju Robert dan Sebastian.


Arista memegang kerah baju sekolah Sebastian, “Kamu jangan terus berbohong, jika kamu terus berbohong maka ada hukuman yang akan kamu sesali seumur hidup.” Ucap Arista seperti mengancam.


Diana berdiri dengan tangan yang menggenggam pergelangan tangan Arista, “Berani sekali kamu berkata seperti itu, jelas-jelas kamu duluan yang menyerang mereke berdua. Masih saja kamu menyangkalnya, dasar gadis tukang bohong.” Ucap Diana sambil menatap tajam Arista.


Arsita menghempaskan genggaman tangan Diana, “Dasar wanita jahat, berani sekali kamu memfitnah aku seperti itu. Apa buktinya jika aku yang memulai duluan.” Arista mengarahkan jari telunjuknya ke wajah Diana, “Jangan-jangan kamu sering melakukan hal yang serendah itu dengan seorang pria.”


Ellard menarik tangan Arista hingga mereka saling berhadapan satu sama lain. Dengan cepat tangan Ellard mendarat di pipi Arista.


Plaakk!


Arista tercengang dengan tangan yang memegang bekas tamparan yang membekas di pipi kanannya.


Anggun yang sedari tadi melihat pertengkaran mereka di depan ruang pintu kelas spontan berlari masuk ke dalam kelas Arista.


“Arista.”


Teriak Anggun dengan suara unik yang seperti kodok.

__ADS_1


Mulan, Diana, Robert dan Sebastian tertawa geli mendengar suara Anggun yang begitu unik.


“Hahaha!”


Arista memegang tangan Anggun, “Kenapa kamu ke sini, sebaiknya kamu keluar dari kelas ini.” Dengan tangan kanan yang masih memegang pipi yang memerah bekas tapak tangan Ellard.


Anggun menatap Arista, “Bagaimana mungkin aku pergi, sedangkan temanku sedang di tindas oleh mereka semua.” Sahut Anggun dengan suara khasnya.


Anggun menatap tajam Ellard, “Kemarin kamu tidak mengetahui perbuatan keji apa yang akan di lakukan oleh mereka kepada Arista. Arista orang yang baik, cuman sedikit ketus. Tapi dia tidak akan mungkin jahat kepada orang lain, kecuali orang itu yang memulainya.”


Arista memegang tangan Anggun, “Sudah. Kamu tidak perlu menjelaskan terlalu detail, orang yang salah mana mungkin mau mengaku salah. Biarkan mereka menang dengan cara mereka sendiri.” Arista merangkul tubuh Anggun, “Mari kita pulang.”


Anggun yang sedang di rangkul menolehkan wajahnya menatap Ellard, Sebastian, Diana, Mulan dan Robert, “Bagaimana dengan pipi kamu yang memerah, apa kamu tidak ingin mereka meminta maaf ke kamu.” tanya Anggun menolehkan wajahnya menatap Arista yang sedang merangkul tubuhnya.


Arista hanya menatap dengan bibir yang tersenyum, “Nanti akan sembuh sendiri, kamu tidak perlu kuatir.” Sahut Arista yang terus berjalan seirama dengan langkah kaki Anggun.


Saat Anggun dan Arista sudah keluar dari ruang kelas. Ellard menatap suram Sebastian, Robert, Diana dan Mulan.


“Kenapa kalian berbohong kepadaku, apa kalian pikir aku ini anak kecil.” Bentak Ellard dengan kedua mata yang menatap suram ke-4 temannya.


Sebastian dan Robert bersujud di depan Ellard, masing-masing dari mereka memegang kaki Ellard.


Sebastian mendongakkan wajahnya menatap wajah Ellard. “Ia. Aku mengaku salah, tangan ini lancang masuk ke dalam rok gadis itu.” Sebastian mengangkat tangan kiri, memukul tangan kanannya sendiri dengan ekspresi wajah seperti ketakutan.


Sedang Robert berlutut memohon, “Aku juga telah memegang kedua tangan gadis itu supaya dia tidak bisa berkutik saat kami merasa puas bermain dengannya.” Sambung Robert dengan ekspresi wajah yang merasa takut menatap tatapan Ellard.


Ellard menggenggam rambut Sebastian dan Robert, “Aku sudah bilang beri pelajaran bukan penindasan atau pelecehan. Jika aku mendengar kalian berbuat seperti ini lagi, aku akan membuat kalian pergi dari alam ini untuk selamanya.” Ancam Ellard sambil melepaskan tangannya dari rambut Robert dan Sebastian.


Mulan hanya diam menatap tingkah Ellard yang begitu mengerikan. Sedangkan Diana hanya mengerutkan dahinya.


Kenapa Ellard bisa berkata seperti itu.


Tidak biasanya dia memarahi mereka seperti ini.


Apa Ellard menyukai gadis itu.


Gumam Diana di dalam hati dengan langkah kaki mendekati Ellard.


Diana memegang tangan Ellard, “Apa kamu menyukai gadis Vampir itu?” tanya Diana.


...Bersambung......


...**Terimakasih telah setia membaca cerita saya....

__ADS_1


...Saya Doakan sehat selalu dan dilancarkan rezekinya. 😊😊**...


__ADS_2