
Ding dong!
Bel pintu rumah berbunyi.
'Siapa sepagi ini datang berkunjung ke kediaman William', gerutu wanita tersebut, ia berhenti di depan pintu, dan membuka ‘kan pintu.
“Permisi. Apa benar ini kediaman rumah tuan William dan Dinda Arista?” tanya salah satu pemuda mewakili 2 orang ikut bersama pemuda tersebut.
“Kalian siapa?” tanya wanita tersebut menatap tajam 3 pemuda berdiri di depan pintu.
“Hei. Kenapa kalian datang sepagi ini, dan dari mana kalian tahu rumah 'ku?” tanya Arista berjalan melewati wanita tersebut, kedua mata mendelik seperti hendak keluar dari tempatnya.
“Kenapa kamu tidak memberi teman ku masuk ke dalam. Mereka bertiga…tidak-tidak..” Arista mendekatkan wajahnya ke salah satu dari 3 pemuda tersebut. 2 pria satu wanita. 2 pria tersebut adalah Ellard dan Abel dan 1 wanita tersebut adalah Anggun. Arista menarik tangan Anggun mengajaknya sedikit menjauh dari pintu rumah. “Kamu kenapa membawa mereka ke sini?"
Anggun melirik Abel dan Ellard sedang tersenyum menatap mereka berdua, “Aku tidak tahu. Aku hanya bertanya pada Esme di mana alamat kamu tinggal dan bus apa yang kamu naikin. Dan saat aku berada di dalam bus mereka sudah ada di belakang,” Bisik Anggun dengan suara khasnya.
Tap!
Tap!
Terdengar suara langkah kaki sepatu pria turun dari tangga.
Arista melirik ke arah anak tangga. Wajah panik terlihat jelas, “Gawat...gawat....' gerutu Arista panik.
“Apanya yang gawat?” tanya Anggun ikutan panik.
“Ia. Apanya yang gawat Arista?” sambung Abel dan Ellard serentak ikutan panik. Abel dan Ellard juga ikutan masuk ke dalam berdiri di samping kanan dan kiri Arista.
Melihat wajah panik, dan gugup Arsita. Wanita tersebut mulai merencanakan sesuatu. Wanita tersebut tersenyum jahat.
“Nona muda. Kenapa teman nona tidak di bawa masuk ke dalam," ucap wanita tersebut meninggikan nada suaranya agar terdengar oleh William sedang menuruni anak tangga.
Mendengar perkataan wanita tersebut dan William juga sudah melihat siapa teman Arsita. William segera mempercepat langkah kakinya mendekati Arsita. Berhenti di depan Ellard, dan Abel, dengan tatapan suram. William juga melirik ke Arista sedang bersembunyi di balik tubuh Anggun.
“Arista!” terdengar suara datar keluar dari bibir William.
Arista perlahan keluar dari balik tubuh Anggun, “Iii-ia, Paman,” sahut Arista. Ia berdiri di hadapan William dengan kepala tertunduk, kedua tangan di letakkan di depan perutnya.
“Siapa mereka?!” tanya William tegas.
__ADS_1
Dengan polosnya Abel melambaikan tangan, bibir tersenyum manis kepada William, “Hai, Aku teman satu kelas Arista. Nama aku Abel,” ucap Abel malah memperkenalkan dirinya.
“Aku tidak bertanya kepada kamu. Aku bertanya pada Arista!” tegas William, menatap Arista masih tertunduk takut.
Arista menaikkan wajahnya, “Paman mereka teman 'ku. Mereka berkunjung ke rumah ini karena sedang libur panjang dari sekolah. Jadi izinkan mereka berkunjung, ya?” Arista memegang tangan William, kedua mata berbinar, wajah imut terlihat jelas menatap wajah William yang suram, “Paman!”
Tidak tahan melihat rayuan maut Arsita, William memalingkan wajahnya, “Baiklah,” sahut William pasrah.
“Ta-tapi tuan. Teman nona muda ada yang pria,” jelas wanita tersebut kepada William, tangannya mengarah pada Abel, dan Ellard.
Rencananya untuk membuat William cemburu gagal. William tidak memperdulikan penjelasan wanita tersebut. William malah melirik tajam ke wanita tersebut.
“Aku masih punya urusan penting sama kamu. Tentang masalah kita tadi malam belum selesai,” William balik badan, “ Ikut aku ke ruang baca. Cepat!” tegas William.
"Ba-baik tuan," sahut wanita tersebut patuh.
Arista menjulurkan lidahnya menatap wajah wanita tersebut yang terlihat kesal memandang Arista.
William, dan wanita tersebut melangkah menuju ruang baca. Meninggalkan Arsita, Anggun, Abel, dan Ellard.
Setelah William pergi bersama wanita tersebut, Anggun memeluk tubuh Arista, “Aku sangat merindukan kamu..." Anggun melepaskan pelukannya, "Sebentar."
Anggun berjalan keluar menuju pintu. Membuat Arista bingung, dan mengikuti Anggun.
“Kami mau menghabiskan masa liburan di rumah kamu!" sahut Anggun, Abel dan Ellard serentak.
Tubuh Arista melemah, tangannya memegang daun pintu, dan berteriak, “Tidak..”
Arista tidak percaya jika teman-temannya akan menghabiskan waktu liburan di rumahnya. Disaat ingin berdua dengan Pamannya kenapa ada saja kendala membuat mereka sulit untuk berduaan.
.
.
...Di ruang baca William...
William melipat kedua tangan di depan dada kekar miliknya. Tatapan tajam menusuk seluruh tubuh menatap wanita tersebut, berdiri di depan mejanya.
“Apa kamu sengaja berbuat seperti itu? dan sejak kapan kamu tahu jika Arista seorang Vampire. Jawab!”
__ADS_1
Wanita tersebut bersujud memegang kedua kaki William, “Tidak ada yang memberitahu kepada saya, tuan. Saya benar-benar tidak tahu jika nona muda seorang Vampire," rengek wanita tersebut di sela isak-tangis bohongan.
William tidak memperdulikan tangisan wanita tersebut. William malah mencengkeram rambut bagian belakang wanita tersebut, membuat wanita tersebut mendongakkan wajahnya.
“Jika kamu berbohong, kamu akan tanggung akibatnya. Aku sudah lama tidak menggunakan pedang ku, jadi aku bisa mengasah pedang itu di kulitmu. Jangan pikir karena wajah kamu cantik dan body kamu oke aku terpikat. Di mata, pikiran, dan hati ku hanya ada satu wanita. Jadi berhentilah menggoda ku, dan berbuat buruk kepada Arista!” ancam William, tangannya semakin mencengkram erat rambut wanita tersebut.
Wanita tersebut kesakitan, kedua tangan memukul pelan tangan William, “Tuan. Saya mohon lepaskan, genggaman tuan sangat menyakiti saya!” keluh wanita tersebut berharap di lepaskan William.
“Sakit? Aku baru tahu jika kamu bisa merasakan sakit. Baiklah aku akan melepaskan kamu!” William menghempaskan wanita tersebut hingga tersungkur jatuh ke lantai.
Bug!!
Dahi wanita itu menyentuh lantai.
“Auw!" keluh wanita tersebut, kedua tangannya memegang dahi lebamnya. Wanita tersebut bangkit, “Tuan. Kenapa Anda kasar sekali kepada saya, apa salah saya sama Anda?” tanya wanita tersebut di sela isak-tangis nya.
“Banyak. Banyak sekali. Aku minta sekarang kau keluar dari rumahku. Cepat!” usir William, tangannya mengarah ke pintu ruang baca.
Wanita tersebut merangkak mendekati William, memegang kedua kaki William, dan memohon, "Jangan. Saya mohon tuan, jangan usir saya,” rengek wanita tersebut, kepala mendongak ke atas, menatap wajah suram William.
William semakin emosi, ia tidak habis pikir kenapa ada seorang wanita benar-benar tidak tahu malu seperti wanita sedang berlutut di hadapannya. Sudah berulang kali di usir dikasari masih tetap bertahan, William jadi teringat dengan ucapan Esme tentang siapa wanita berada di rumah nya kecuali, Arista. Ternyata wanita ini adalah wanita disebut oleh Esme.
William mencengkram pergelangan tangan wanita tersebut, membawanya keluar dari ruang baca.
“Aku bilang keluar, keluar wanita yang tidak tahu malu!” William menyeret wanita tersebut keluar ruang baca miliknya sampai ke ruang tamu.
Arista, Anggun, Ellard dan Abel berada di ruang tamu terkejut melihat William bersikap kasar kepada wanita tersebut. Mereka diam mematung melihat sikap William tidak biasa.
Langkah kaki William terhenti saat melihat Arista terlihat ketakutan memandang ke arahnya.
“Arista, aku bisa jelaskan!"
“Ada apa ini Paman? Kenapa dengan wanita itu?” tanya Arista bingung, permasalahan apa terjadi pada William dan wanita tersebut.
“Ini hanya urusan Paman,” sahut William singkat.
William menarik kembali wanita tersebut sampai ke depan pintu rumah. Setelah membuat wanita itu keluar dari rumahnya, William segera mengunci pintu rumahnya dan menyimpan kunci tersebut.
William kembali berjalan melewati ruang tamu, ia melirik ke Anggun, Arsita, Abel, dan Ellard.
__ADS_1
“Tidak ada yang boleh keluar!” perintah William. Setelah itu ia berjalan kembali menuju ruang baca miliknya.
...Bersambung...