Vampire Kecil Milik Tuan William.

Vampire Kecil Milik Tuan William.
Bab 85. Melawan siluman Ratu Gagak


__ADS_3

Anggun ikut menghentikan langkah kakinya tepat di belakang Abel, “Ada apa?” tanya Anggun berbisik. Namun, suara kodoknya tetap ke dengaran.


Abel langsung berbalik badan, tangannya menutup kedua mata Anggun, “Kamu tidak boleh melihatnya,” pinta Abel, saat ia sudah melihat di sepanjang koridor di penuhi kawanan siluman gagak sedang melakukan kawin.


“Kenapa? Kenapa aku tidak boleh melihatnya?” tanya Anggun penasaran.


Meski Abel menutup kedua mata Anggun. Namun, kedua telinga Anggun bisa mendengar jelas suara erangan dari wanita dan pria memenuhi kepala dan telinganya. Penasaran dengan erangan saling bersautan, Anggun menyingkirkan tangan Abel dari matanya. Sontak saja hal itu membuat kedua mata Anggun membulat, dan mulutnya menganga lebar.


“Wow…seperti karya seni,” puji Anggun, melihat lelaki dan perempuan melakukan perbuatan tersebut secara terbuka, dan beramai-ramai.


“Kamu jangan bising, sepertinya mereka dalam masa kawin. Mari kita lewati mereka, dan abaikan apa yang mereka lakukan,” pinta Abel, tangannya menggenggam tangan Anggun. Dan perlahan membawa Anggun berjalan, menyusuri koridor, melewati sekumpulan siluman gagak sedang kawin.


“Ternyata seperti itu caranya berkembang biak, keren juga. Tapi kenapa suara mereka seperti itu? jika mereka bersuara seperti kesakitan, kenapa wajah mereka sangat menikmatinya?” tanya Anggun dengan polos.


“Nggak tahu, pikir saja sendiri!” ketus Abel.


“Oh…kapan-kapan aku coba,” gumam Anggun, Abel mendengar itu seketika langsung melotot ke Anggun. “Why?” tanya Anggun, menaikkan kedua bahunya.


Abel tidak menjawab, ia hanya menggeleng.


Langkah kaki Abel, dan Anggun, melewati sekumpulan siluman gagak sedang kawin seperti tidak terlihat. Membuat mereka berhasil melewati nya. Dan kini langkah kaki mereka sudah terhenti di tengah-tengah koridor, dan di sisi kiri terdapat pintu besar dengan ukiran salib. Sesampainya di depan pintu, dahi Abel, dan Anggun mengernyit. Mereka juga seperti mendengar suara erangan dari dalam ruang tersebut.


“Sepertinya di dalam sedang ada pesta,” bisik Anggun.


Abel tidak menjawab, ia mengulurkan kedua tangannya ke daun pintu, dan mendorong daun pintu tersebut secara bersamaan.


Nyiiittt!!!!


Kedua bola Anggun membulat sempurna, dan mulutnya kembali mengangak, “Wow…musim yang sangat indah. Benar-benar karya seni seperti yang ada di Zaman Luth,” puji Anggun, saat melihat seorang wanita cantik dengan rambut hitam panjang bergelombang, di puncak kepalanya terdapat mahkota, dan ada 5 pria tanpa busana, mengelilingi Ratu siluman gagak sedang terbaring.


Namun, adegan itu harus terhenti. Saat melihat Anggun, dan Abel membuka pintu dan berdiri di depan pintu tersebut. Ratu siluman gagak tadinya sedang menikmati kebahagian dunia, duduk, menatap Abel.


“Sepertinya aku kedatangan tamu,” Ratu siluman gagak berjalan tanpa busana ke arah Abel. Dan berhenti tepat di hadapan Abel, dan Anggun.


“Aku tidak ingin membuang waktu, aku datang ke sini hanya untuk mengambil air mata bidadari yang katanya di simpan di sini!” ucap Abel tegas, pandangan menatap liar ke dalam ruangan.


“Oh…aku akan berikan kamu air mata bidadari itu. Tapi harus dengan satu syarat,” wanita tersebut mendekatkan bibirnya di daun telinga Abel, “Tidurlah denganku, dan berikan aku keturunan yang bagus dari kamu, pria muda yang tampan!” bisik wanita tersebut, jari kuku panjang membelai daun telinga Abel.


“Maaf, aku tidak tertarik tidur dengan wanita seperti kamu di tempat suci seperti ini!” tolak Abel kasar, tangannya menepis tangan ratu siluman gagak.


“Oh..kamu ingin mencoba melawanku?!”

__ADS_1


“Tidak! Karena kalian bukan lawan yang seimbang untukku!” ketus Abel. Abel menatap Anggun, “Mari masuk, dan cepat kita ambil botol berisi air mata bidadari itu,” ajak Abel, di angguki Anggun.


Anggun dan Abel berjalan masuk, belum sampai ke tengah ruangan, 5 pria siluman gagak tanpa busana tadi sudah memakai celana hitam panjang, dan baju robek serba hitam menghadang jalan Anggun.


“Beri kami jalan!” pinta Abel tegas.


“Jangan kasih mereka lewat. Mereka hanya bocah ingusan yang akan mati dengan kosombongannya. Semuanya! Cepat berkumpul, dan cabik kulit bocah-bocah sombong ini!” tegas ratu siluman gagak.


Wusshh!!!


Dalam sekejap mata, para sekawanan siluman gagak tadi sedang berpesta kawin kini sudah masuk ke dalam ruangan. Mereka juga sudah memakai baju serba hitam, dengan bagian terbuka untuk wanita, sedangkan laki-laki memakai celana panjang serba hitam, ada pakai baju, ada tidak. Sekawanan siluman gagak mengelilingi Abel dan Anggun.


“Abel…kalau sebanyak ini ceritanya apa kita sanggup melawan mereka?” bisik Anggun, tangannya menarik ujung baju Abel.


“Tenang saja, mereka bukan apa-apa. Yang terpenting kita harus mendapatkan botol kaca air mata bidadari itu, dan waktu kita juga tinggal 3 jam di mulai dari sekarang!” sahut Abel ikut berbisik, kedua mata menatap satu-persatu sekumpulan siluman gagak.


“Kamu benar, mari segera kita bereskan para siluman gagak yang berbauk aneh ini!” sahut Anggun semangat. Namun, perkataan Anggun di dengar oleh Ratu siluman gagak.


“Ha ha ha ha….jangan senang dulu. Kalian akan tahu akibatnya!” ucap Ratu siluman gagak di sela tawa kejinya.


“Iya, dengan senang hati,” sahut Abel datar.


Sekumpulan siluman gagak berubah menjadi burung gagak. Mereka berterbangan, mematuk Abel, dan Anggun, membuat Abel dan Anggun berlari pontang-panting, mencari tempat persembunyian.


“Akh…akh…beraninya kalian main patok! Sakit tahu,” teriak Anggun, kedua tangannya menyilang di depan wajahnya. Kedua kaki terus berlari dan bersembunyi di bawah meja, bersama dengan Abel.


“Gimana ini?” keluh Anggun.


“Lawan saja. Kamu takut?” tanya Abel datar.


“Ya…tidak, aku hanya syok saja di patuk oleh siluman-siluman itu,” sahut Anggun di sela kegugupannya.


“Aku juga,” Abel menggenggam pergelangan tangan Anggun, “Sekarang kita hadapi mereka, waktu kita tinggal 2 jam lagi,” sambung Abel mengajak Anggun.


“Hem!” angguk Anggun.


Anggun dan Abel pun keluar dari tempat persembunyian mereka. Di sambut hangat oleh sekumpulan gagak, dan ratu gagak berjalan santai ke arah Abel.


“Ha ha ha…punya nyali juga kalian berdua keluar. Mau carik mati,” ejek siluman ular di sela tawa ejeknya.


“Sudah lah, kita damai saja ya,” pinta Anggun, kedua tangan menutup wajahnya agar tak di patuk oleh kawanan siluman burung gagak.

__ADS_1


“Damai?! Kalau mau damai, tidur dulu denganku, ha ha ha…” sahut ratu siluman ular di sela tawa renyahnya.


“Lebih baik bertarung sampai mati daripada tidur dengan siluman seperti kamu!” tegas Abel, kedua bola matanya berubah menjadi merah menyala.


“Hai…hai…kedua bola mata kamu ketika marah indah juga. Kalau gitu mari kita selesaikan sekarang juga!” ucap Ratu siluman gagak. Sayap siluman gagak mengembang, dan terbang mengeliling Abel, dengan bibir terus mengeluarkan tawa keji.


Abel tak tahan dan sudah merasa jijik dengan ulah ratu siluman gagak, tangannya dengan cepat mengulur, dan langsung menggenggam leher ratu siluman gagak. Hanya dengan satu tangan, Abel menurunkan tubuh Ratu siluman gagak, berdiri di hadapannya.


“Aku benci dengan siluman seperti kamu! Aku datang ke sini hanya untuk meminta izin mengambil botol berisi air mata bidadari, bukan berkelahi dengan kalian!” ucap Abel dingin, bola mata merah menyala berubah menjadi ungu gelap.


Anggun sendiri berada cukup jauh dari Abel, masih terus bertarung dengan sekumpulan siluman gagak.


Cetar!!!cetar!!!


“Habislah kalian semua…ha ha ha..” teriak Anggun mengayunkan cambuk petirnya.


“Ka-kalian berdua siapa?” tanya Ratu siluman gagak dengan suara tercekal di tenggorokan.


Abel mendekatkan bibirnya di daun telinga Ratu siluman gagak, dan berbisik pelan. Ratu siluman gagak seketika matanya membulat sempurna, dan terdengar suara tulang patah.


Kraakk!!!!


Tubuh siluman gagak langsung lemas, dan menghilang seperti debu. Begitu juga dengan para siluman gagak lainnya. Hal itu membuat Anggun marah. Belum puas berkelahi, semua musuh sudah musnah di buat Abel.


“Abel…aku belum puas!” teriak Anggun dengan suara khas nya.


“Maaf, kita sudah tidak punya waktu lagi. Kita harus segera mencari botol berisi air mata bidadari,” ucap Abel meminta maaf kepada Anggun.


“Ya sudah, mari kita cari!” sahut Abel menyingkirkan egonya.


Abel dan Anggun pun mulai mencari ke seluruh sudut ruangan, dan tempat. Namun, botol itu tidak di temukan. Hal itu membuat Abel dan Anggun kesal. Setelah mereka sudah cukup lama memikir, dan meredakan amarahnya. Anggun teringat dengan tempat tidur Ratu siluman gagak tadi.


“Abel, sebaiknya kita cari di bawah sana!” ajak Anggun.


Abel dengan cepat menyingkirkan kayu besar, menjadi tempat tidur ratu siluman tadi. Dan benar saja, botol tersebut ternyata ada di sana. Setelah botol tersebut dapat. Terlihat sebuah cahaya keluar dari depan pintu, dan terlihat Esme berdiri di depan portal.


“Apakah kalian berhasil?” tanya Esme.


“Nah!” Abel mencampakkan botol berisi air mata bidadari ke Esme.


Kedua tangannya Esme langsung menangkap botol tersebut, “Kalau gitu mari kita pulang!” ajak Esme.

__ADS_1


Abel dan Anggun pun berjalan mendekati Esme, dan masuk bersama ke dalam cahaya portal.


__ADS_2