Vampire Kecil Milik Tuan William.

Vampire Kecil Milik Tuan William.
Bab 102. Hewan Fantasi


__ADS_3

Esme, dan 4 orang guru lainnya mulai membagi tugas sesuai dengan kelompok.


Esme bersama dengan kelompok Arista, Anggun, Abel, dan Ellard. 4 guru lainnya bersama dengan kelompok lainnya.


Setelah membagi tugas dan tempat mana akan mereka tuju. Mereka semua pun berpencar, Anggun, Arista, Abel, dan Ellard, mengikuti langkah kaki Esme sebagai guru pembimbing. Kelompok lainnya pun juga seperti itu.


Anggun, Ellard, Abel, dan Arista, terus berjalan mengikuti langkah kaki Esme sedang berjalan di depannya.


“Anak-anak, apakah kalian semua semangat?” tanya Esme, sembari mengangkat tangannya ke atas, sesekali pandangan melirik ke belakang.


“Entahlah, sampai sekarang kami masih belum mengerti kenapa kami harus mengikuti semua kemauan-mu,” sahut Ellard terdengar tak suka.


“Hei..hei, bukannya tadi sudah dijelaskan jika kalian semua ini adalah anak-anak yang terpilih untuk melindungi 2 dunia ini,” jelas Esme mengulang perkataannya, kedua kaki terus melangkah ke depan.


“Kenapa meski kami, Bu?” tanya Anggun masih belum mengerti.


“Tidak tahu, itu rahasia dari pemilik yayasan,” Esme melirik ke Ellard, “Tanya saja ama anaknya,” sambung Esme melimpahkan pertanyaan ke Ellard.


“Loh! Kok sama ku, tanya aja sana sama Papa dan Mama,” elak Ellard tak ingin ikut campur.


“Jangan-jangan di balik ini semua adalah ulah kamu!” tuduh Abel sengaja.


“Apaan sih, jangan sangkut-pautkan aku dengan semua masalah mendadak ini. Aku tidak tahu apa-apa, kita saat itu sedang liburan bersama. Apa kau lupa!” Ellard membela diri dari tuduhan Abel.


“Kalau memang dunia ini akan hancur, maka Paman akan…” gumaman Arista terhenti saat ia kembali mengingat penolakan kasar William. Arista menarik nafas kembali, menetralkan pikiran dan hatinya saat ini masih hancur dan terluka.


Anggun, Ellard, Esme, Abel, dan Arista, sudah melangkah cukup jauh dari yayasan mereka. Memasuki hutan, menyebrangi sungai, dan sampailah mereka di depan gua besar. Bola mata mereka membulat sempurna saat melihat binatang Fantasi banyak di depan gua besar itu. Serigala putih memiliki sayap, terdapat beberapa tanda di setiap kepala dan bagian badan tubuh mereka. Sebuah ukiran indah berwarna emas.



...ILUSTRASI ...

__ADS_1


.


“Indah sekali,” puji Anggun, Ellard, Abel, dan Arista, secara serentak, pandangan penuh kagum masih memandangi hewan Fantasi berada di depan gua itu.


“Mari kita dekati,” ajak Esme, kakinya melangkah terlebih dahulu mendekati salah satu hewan Fantasi lebih besar, tangguh, dan kuat. Tak lain adalah ketua dari hewan Fantasi itu.


Merasa ngeri saat Esme sudah terlanjur dekat dengan ketua dari hewan Fantasi. Arista berlari, mengejar Esme, diikuti Anggun, Abel, dan Ellard di belakangnya.


“Esme…tunggu!” panggil Arista, berlari mengejar Esme.


Esme tak mendengarkan panggilan Arista. Esme kini sudah berdiri tepat di hadapan ketua hewan fantasi sedang duduk, menatap kedatangan Esme, Abel, Arista, Anggun, dan Ellard.


“Apa kabar?” tanya Esme ke ketua hewan Fantasi itu.


“Kenapa kau membawa banyak bocah ingusan ke sini?” ketua hewan Fantasi bertanya dengan tidak senang, tatapan waspada memandang ke Abel, Anggun, Arista, dan Ellard.


“Perkenalkan, mereka adalah anak didik ku. Mereka jugalah yang akan melindungi kalian saat masalah itu tiba,” jelas Esme perlahan memberitahu tujuannya.


“Aku tidak percaya dengan mereka berempat. Tubuh mungil, jenjang kaki masih baru saja mulai tumbuh. Bisa-bisa kami yang akan menjaga mereka nanti,” celetuk ketua hewan fantasi menyepelekan.


Buur!


Ketua hewan Fantasi menyemburkan api dari mulutnya ke ujung kaki Ellard, hal itu sontak saja membuat Ellard mundur beberapa langkah ke belakang.


"Hei..hei..." teriak Ellard, kakinya memadamkan api membakar rumput di depannya.


Bukannya takut, Arista melihat itu merasa kagum, perlahan kedua kakinya mendekati ketua hewan Fantasi, ragu-ragu tangannya menyentuh bulu kaki depan ketua hewan Fantasi.


“Aaa…lembut sekali. Lebih lembut dari ranjang yang ada di asrama,” gumam Arista, tanpa ia sadari kedua tangan dan pipinya mengelus di bulu kaki ketua hewan fantasi.


Anggun, Ellard, dan Abel, melihat hal itu mendadak ngeri. Mereka buru-buru mendekati Arista, namun semburan api tiba-tiba melayang di atas kepala Abel, Ellard, dan Anggun, sontak saja mereka jongkok, kedua tangan menutup puncak kepala mereka.

__ADS_1


“Jangan coba-coba mendekati aku,” bentak ketua hewan Fantasi.


“Arista, menjauh lah dari hewan itu, dia sangat berbahaya,” teriak Anggun, dan Abel serentak.


“Tidak, dia tidak berbahaya. Lihatlah bulunya yang halus dan lembut. Aku sangat menyukainya,” sahut Arista memuji bulu hewan itu, kedua tangannya terus mengelus-elus bulu lembut seputih kapas itu.


Perbuatan Arista sontak saja membuat ketua hewan Fantasi itu nyaman, hingga terdengar suara dengkuran dari mulutnya. Menit selanjutnya ketua hewan fantasi itu membaringkan tubuhnya, menunjukkan perutnya, meminta Arista mengelusnya.


Maklum saja, namanya juga sebangsa kucing. Kalau sudah sekali terkena elus dan merasa nyaman, pasti hewan itu akan meminta lebih dan lebih. Sama seperti kucing, manja, dan imut.


Esme melihat itu hanya bisa tertawa pelan, sembari mendudukkan dirinya di atas rerumputan. Tak lama ia duduk terdengar suara langkah kaki berlari keluar dari dalam gua, benar saja itu langkah kaki dari ribuan anak hewan fantasi.


“Esme…” teriak anak-anak hewan Fantasi.


Anak-anak hewan Fantasi itu pun menjatuhkan tubuhnya di atas pangkuan Esme, bergelayut manja gesek tubuhnya. Esme hanya tertawa, menerima perlakuan dari anak-anak hewan Fantasi itu.


Anggun, Abel, dan Ellard, terdiam terpaku, sepasang bola mata membulat sempurna, kaki terasa keluh saat melihat ribuan anak-anak hewan Fantasi bergelayut, bahkan ada anak menggigit lengan tertutup zirah Esme.


“Hei, kenapa kalian cuman berdiri di sana. Ke sini!” ajak Esme melambaikan tangannya mengajak Anggun, Abel, dan Ellard.


"Apa mereka berdua ingin mat" tanya Ellard dengan wajah takutnya ke Abel dan Anggun.


"Aku rasa begitu," sahut Abel santai, kakinya perlahan melangkah mendekati Arista, duduk di samping tubuh ketua hewan Fantasi, kedua tangan mengelus-elus perut hewan itu.


Anggun, dan Ellard ikut berjalan, mendekati Esme.


"Esme, apa yang terjadi? dan kenapa ketua hewan Fantasi itu seperti mengetahui 2 dunia ini akan punah?" tanya Ellard setelah ia duduk.


"Bola ramalan yang mengatakannya," sahut Esme, tangannya mengarah ke pintu gua.


Ellard dan Anggun mengarahkan pandangannya ke tangan Esme terarah ke pintu gua.

__ADS_1


"Emang ada apa di dalam sana?" tanya Anggun penasaran.


"Sebuah benda yang di jaga ketat oleh hewan Fantasi ini. Mulai dari tidak adanya manusia, sampai sekarang. Hewan Fantasi terus menjaganya. Mereka juga akan berpindah tempat jika merasa terancam. Jadi penampakan mereka di sini adalah suatu hal yang langkah," jelas Esme.


__ADS_2