Vampire Kecil Milik Tuan William.

Vampire Kecil Milik Tuan William.
Bab 82. Aku sudah lama menyukai kamu


__ADS_3

Ternyata rasa sesak di dada, dan sulit bernafas Arista, di rasakan juga oleh William. William tadi sedang tertidur lelap kini terbangun, keringat dingin memenuhi seluruh wajahnya, dadanya juga terasa berdebar, dan tenggorokannya terasa sakit. Ellard, dan Esme sedang tidur di satu ranjang dengan William, ikut terbangun.


“Kamu bermimpi buruk?” tanya Esme, kedua tangannya mengucek kelopak matanya.


“Aku sepertinya tadi bermimpi tentang Arista. Aku melihat ia sedang berdiri, memakai baju seperti Ratu, dan bagian dadanya terbuka. Aku juga melihat secara samar-samar jika Raja Iblis sedang menyakitinya. Aku sungguh kuatir,” keluh William di sela nafasnya tak teratur.


“Mudah-mudahan saja tidak terjadi hal buruk seperti itu kepada Arista,” ucap Esme menenangkan William, meski sebenarnya ia tahu jika hal itu sudah pasti terjadi pada Arista.


“Hei…hei..aku baru sadar jika kamu memakai baju seperti ini saat tidur!” teriak Ellard, matanya mengarah pada Esme hanya berbalut pakaian dalam.


“Emang kenapa? Apa ada larangan untuk tidur dengan memakai baju seperti ini?” tanya Esme, ia semakin mendekatkan 2 semangka kembarnya, dan menggesekkannya ke bidang dada Ellard. Membuat Ellard duduk tegak, mengangkat wajahnya untuk tak melihat 2 semangka kembar Esme.


“Ta-tapi kami ‘kan seorang pria. Dan kau tidur di tengah-tengah kami, aku jadi curiga kepada kamu. Selain kau berprofesi sebagai Guru di sekolah ku, apa kamu seorang wanita liar?” tanya Ellard gugup, ia masih memalingkan wajahnya, tak mau menatap hal membuat nafsunya naik.


“Oh…ternyata pikiran murid ku sudah dewasa,” Esme memalingkan wajahanya ke William, “Kamu sudah mendengar jika murid ku yang satu ini ternyata bisa berpikir mesum. Hati-hati untuk memberi restu Arista kepadanya. Bisa-bisa Arista di nodai oleh…”


“Tak ada satu orang pun yang akan menyentuh Arista. Jika itu terjadi, aku akan membelahnya menjadi pecahan kecil yang tak bisa di sambung lagi,” sela William dingin, bola mataya suramnya perlahan melirik ke Ellard, “Dan kau sebagai klan lain. Berhentilah berharap cinta Arista. Jika kau mau terus memaksa Arista untuk mencintai kamu. Maka kamu harus menggali lubang untuk kuburan kamu!” sambung William, mengancam Ellard dengan tatapan menusuk.


“Iya-ia, macam kamu tidak dari klan lain saja,” ejek Ellard seolah tak takut. Ellard kembali membaringkan tubuhnya, membelakangi Esme, dan William.


“Kenapa harus mengejar cinta Arista? Aku sebagai wanita dewasa masih ada di sini. Kejarlah aku, karena belum ada yang mengejar ku," ucap Esme, ia membaringkan tubuhnya, memeluk Ellard, dari belakang, “Dan aku juga bisa memberikan kehangatan, dan rasa yang belum pernah kamu coba,” sambung Esme, ia kembali menggoda Ellard.


“Jangan kotori ranjang ku dengan perbuatan kamu!” omel William, tangannya menarik pengait penutup 2 semangka Esme dari belakang, membuat tubuh Esme menjauh dari Ellard.


“Apa kamu iri, sayang?” tanya Esme menggoda William, ia mengubah posisi tidurnya menghadap William, tangannya mulai ramah, menyentuh bidang dada William.


“Aku bilang jangan berbuat seperti itu di ranjangku, dan rumahku!” William menggenggam pergelangan tangan Esme, dan menghempaskannya ke bawah.


Esme duduk, ia mendekatkan wajahnya ke William, “Kenapa sulit sekali menggoda Mutan dingin seperti kamu. Aku jadi penasaran, wanita mana yang akan beruntung menikmati tubuh kamu nantinya?” goda Esme sekali lagi, tangannya memegang bibir merah muda William.


“Itu bukan urusan kamu!”


“Haah…baiklah. Kalau gitu mari kita lihat keberadaan Anggun dan Abel dulu,” ucap Esme menyudahi godaannya. Meskipun ia sebenarnya sangat menyukai William sudah sejak lama. Dan rasa suka itu Esme simpan dalam-dalam, karena ia sangat tahu, siapa wanita sudah mencuri hati William, dan merubah sikap dingin William menjadi sedikit berkurang dari sebelum, awal mereka bertemu.


“Kalau melihat Arista bisa tidak?” tanya Ellard, ia langsung duduk, menatap serius wajah Esme terlihat sedang fokus menatap kedua tangannya sedang melakukan putaran seperti bola.


Wush!!!wush!!!

__ADS_1


Sebuah cahaya kecil muncul, terlihat aktivitas Abel, dan Anggun sedang tertidur di depan perapian, mulai redup.


“Maaf, untuk mengecek keadaan Arista, aku tidak bisa. Dunia yang sedang di lalui Arista adalah dunia Raja Iblis,” sahut Esme.


“Hem…padahal aku sangat mencemaskannya,” gerutu Ellard, William mendengar itu hanya bisa mendengus kesal.


“Lihat, sepertinya ada Black hand sedang mendekati tempat peristirahatan Anggun, dan Abel!” tunjuk Esme ke dalam cahaya tersebut, terlihat ada angin hitam mulai menggelapkan sekitar rumah singgah Anggun dan Abel.


“Apa itu Black hand?” tanya Ellard penasaran.


“Siluman angin hitam, memakan, dan menyimpan jiwa-jiwa yang tak berdosa. Sehingga seluruh jiwa yang di makan ingin coba kabur dengan mengulurkan tangan mereka keluar dari lingkaran angin yang di buat Black hand,” jelas Esme singkat.


“Apa seperti itu?” tunjuk Ellard saat Black hand sudah mengepung tempat peristirahatan Anggun, dan Abel.


Esme langsung memetik tangannya, membuat cahaya menghilang.


“Kenapa di tutup?” tanya Ellard sinis.


“Kalau sampai ketahuan kita sedang mengawasi Anggun, dan Abel, maka akan buruk dengan kita. Soalnya siluman ini sangat berbahaya,” sahut Esme. Ia kembali membaringkan tubuhnya, menarik selimut, dan tidur.


“Hee…entah kenapa kamu bisa menjadi Guru,” umpat William, menyingkap selimut, perlahan ia turun dari ranjang, dan berjalan dengan terpincang menuju pintu.


“Aku ingin minum,” William melirik ke Ellard, “Kamu mau minum?” tawar William.


“Tidak, aku lebih baik tidur di sini. Mengistirahatkan tubuhku untuk bisa memberantas Raja Iblis,” tolak Ellard, menarik selimut, menutup seluruh tubuhnya sampai ke wajah.


“Baiklah,” William berjalan dengan di bantu Esme, keluar dari kamarnya, menuju ruangan khusus minuman.


Ruangan beralkohol dengan isi minuman dari berbagai macam dari Negara, dan tahun pembuatan. Sesampainya di ruangan khusus minuman, Esme membantu William duduk. Lalu ia berjalan mendekati lemari-lemari berada di ruangan khusus itu, dengan setiap laci di penuhi minuman beralkohol dari berbagai Negera.


“Aku baru tahu kalau kamu memiliki ruangan seperti ini,” ucap Esme, tangannya membuka pintu lemari, mengambil 1 botol dengan cap, dan tulisan zaman dulu. Esme juga mengambil 2 gelas untuk mereka, lalu berjalan, duduk di sebelah William.


“Semenjak Arista bersekolah. Aku sering menghabiskan waktu di sini, daripada aku pergi ke tempat kumuh, yang berbau lendir itu!” sahut William mengingat kedai minuman berada di kota, suka bermain wanita tersebut.


“Tapi ketika kamu datang ke sana, kamu bisa mendapatkan informasi yang kamu inginkan,” ucap Esme mengingatkan, tangannya memberikan gelas berisi minuman beralkohol abad ke-17.


“Iya, tapi saat ini aku lagi tidak ingin ke sana,” putus William, ia menenggak minuman dalam sekali teguk.

__ADS_1


“Apa karena Arista sedang berlibur, dan kamu memilih untuk berdiam diri di rumah?” tanya Esme penasaran.


William memutar wajahnya, menatap Esme sangat dekat, membuat kedua pipi Esme memerah, “Sepertinya itu bukan urusan kamu!”


“William, tapi kamu harus sadar siapa Arista. Dan kalian tidak mungkin akan bisa bersama, dia itu adalah keturuan campuran Ratu penyihir, dan Raja Vampir. Berhentilah untuk mencintainya….”


Blam!!


William meletakkan gelas kacanya di atas meja dengan kuat, membuat Esme terkejut, dan terdiam.


“Karena kamu menyukai ku, ‘kan?”


“Kalau iya kenapa?”


“Berhentilah mencintaiku, karena rasa cinta kamu tidak akan mungkin bisa aku balas,” ucap William mematahkan rasa cinta Esme kepadanya.


“Meski kamu tidak membalas cintaku, aku akan tetap mencintai kamu.”


“Dasar wanita bodoh,” gumam William, ia menyandarkan tubuhnya ke badan sofa.


“Iya, aku memang bodoh,” sambung Esme, ia sudah berpindah duduk di atas pangkuan William.


“Kamu mau apa?” tanya William terkejut, ia berusaha mendorong tubuh Esme, tapi Esme tak mau turun.


“Aku ingin melepaskan rasa cintaku kepada kamu,” sahut Esme, tangannya masuk ke dalam celana William.


“Esme!” teriak William, kedua tangannya menahan pergerakan Esme.


“Baiklah, aku akan turun,” Esme pasrah, turun dari pangkuan William, dan kembali duduk di sebelah William.


“Jangan lakukan hal itu kepadaku. Aku tak ingin mengambil keuntungan darimu.”


“Iya, karena kamu hanya ingin melakukan itu kepada Arista ‘kan?” tanya Esme.


“Aku tidak tahu, tapi yang jelas aku tidak akan berbuat hal itu kepada wanta yang tidak aku sukai,” sahut William tegas, ia menuangkan minuman itu kembali, dan menenggaknya habis.


“Aku berharap Arista akan baik-baik saja, sampai waktu itu tiba,” ucap Esme mengirim doa terbaik untuk Arista.

__ADS_1


“Aku juga,” sambung William.


__ADS_2