Vampire Kecil Milik Tuan William.

Vampire Kecil Milik Tuan William.
Apa kamu tidak punya sopan santun?


__ADS_3

Part 61


________


...Kembali ke William....


...🤔🤔...


William sedang duduk di ruang baca pribadi miliknya, terlihat cukup gelisah. Ia berjalan ke sana dan ke sini dengan kepala yang tertunduk serta wajah yang terlihat suntuk. Apa yang di pikirkan William? tentu saja yang berada di dalam pikiran William saat ini adalah Arista. Vampire kecil yang kini tumbuh menjadi gadis remaja dan sekarang telah mencuri hatinya yang dingin.


“Apakah aku mengkhianati Arista? Apakah aku mengkhianati Arista?”


William meletakkan kedua tangannya di rambut dan memukul pelan rambutnya yang sudah terlihat panjang seperti tidak terawat lagi.


William menarik bangku besar kesayangannya yang berada di dalam ruang baca, ia menyandarkan tubuhnya sambil menatap kaca jendela besar yang berada di ruang baca miliknya.


“Arista. Maafkan aku karena telah membawa wanita lain ke kediaman rumah ini, entah apa yang ada di dalam pikiran wanita itu sehingga ia tidak mau pergi.”


William memejamkan kedua matanya, menatap biasan cahaya pagi yang memantulkan cahayanya memasuki kaca jendela besar yang berada di dalam ruang baca William.


Ada sekitar 10 menit William tertidur dengan tangan yang memeluk foto gadis yang kini tumbuh menjadi gadis remaja. Foto gadis itu adalah foto Arista. William tersentak, meletakkan kembali foto Arista di atas meja ruang baca miliknya. William berdiri, melangkahkan kedua kakinya berjalan meninggalkan ruang baca.


William terus melangkahkan kedua kakinya berjalan di koridor ruangan yang menuju kamar milik Arista. Kedua mata William membulat, dahinya mengerut saat melihat pintu kamar Arista terbuka.


Tangan William memegang gagang kunci pintu dan membukanya. Wajah William berubah menjadi suram, ketika ia mengetahui siapa yang berani memasuki kamar Arista tanpa seizin dirinya. William melangkah besar menarik tangan wanita yang ia tolong sedang membuka lemari pakaian milik Arista.


“Apa kamu tidak punya sopan santun.” Bentak William menatap tajam wajah wanita yang sedang memegang baju Arista.

__ADS_1


Wanita tersebut membulatkan kedua bola matanya menatap sendu wajah William yang semakin suram menatap dirinya. “Tu-tuan. Ini tidak seperti yang kamu pikirkan, saya bisa jelaskan tuan.”


Amarah William yang kala itu sedang memuncak melihat tingkah wanita yang ia tolong, segera menarik paksa pakaian Arista yang ia pegang dan mengembalikannya ke dalam lemari pakaian milik Arista. Bukan itu saja, William mengunci pintu lemari Arista agar tidak terjadi kesalahan yang sama di kemudian hari bila William tidak berada di dalam rumah.


Kedua alis William menyatu, dahinya mengerut kedua mata yang menatap wanita tersebut seperti sedang berapi-api. Tanpa banyak berbicara, William menarik paksa tangan wanita tersebut supaya keluar dari kamar Arista.


“Tuan…tuan…saya bisa jelaskan.” Keluh wanita tersebut yang dipaksa keluar dari kamar Arista.


William yang sudah di penuhi amarah tidak menghiraukan keluhan wanita tersebut. Ia terus menarik tangan wanita tersebut dan menghempaskan di depan pintu kamar Arista, dan membuat wanita tersebut terduduk di atas lantai.


“Apa kamu tahu, kamar dan baju yang kamu pegang itu tadi punya siapa?” bentak William menatap wanita yang terduduk di atas lantai.


Wanita tersebut menundukkan pandangan, kedua matanya meneteskan air mata akibat mendengar bentakan William yang bisa memutuskan urat dan syaraf jantung bagi pendengarnya.


Wanita tersebut menaikkan pandangannya memberanikan diri menatap wajah William yang penuh dengan amarah.


“Tuan. Saya hanya ingin meminjam baju saja, karena saya tidak punya baju ganti buat saya kenakan.”


William mengulurkan tangan kirinya. “Kembalikan kunci kamar Arista yang kamu ambil diam-diam. Cepat.” Sentak William menatap tajam wanita tersebut.


Seluruh tubuh wanita tersebut bergetar melihat amarah, suara yang saat itu William keluarkan di hadapannya. Wajah yang terlihat kasar dan kejam hanya bagi orang yang tidak ingin ia ajak bicara dan tidak ia pedulikan kecuali Arista.


Wanita tersebut mengulurkan tangan yang gemetar, memberikan kunci kamar yang di ambil wanita tersebut secara diam-diam. “I-ini tuan.”


William mengambil kasar dari tangan wanita tersebut, setelah mendapatkan kunci Arista. William langsung mengunci kamar Arista dan menyimpan kunci tersebut di dalam saku kemeja yang William kenakan.


William merogoh saku celananya dan mengeluarkan segepok uang, William memegang ujung uang segepok dengan perasaan jijik dan memberikan uang tersebut kepada wanita yang masih duduk di atas lantai di depan kamar Arista.

__ADS_1


“Kamu bilang, kamu tidak punya baju kan? ini uang buat kamu untuk membeli kebutuhan diri kamu. Dan kamu jangan sentuh baju atau kamar Arista lagi dan satu lagi uang itu bukan hanya untuk membeli kebutuhan diri kamu sendiri. Uang itu untuk kamu belikan kebutuhan kamu untuk mengurus rumah ini.”


William berbalik badan, menolehkan sedikit wajah nya menatap ke belakang. Menatap wajah wanita yang sedang memegang uang segepok yang sedang tersenyum penuh dengan pertanyaan yang negatif.


“Cepat pergi, dan kembalilah sebelum malam.”


Setelah berkata seperti itu William melangkah pergi meninggalkan wanita yang sedang menatap penuh uang segepok yang di berikan William dengan senyum licik.


...Di dalam kamar....


...🥱...


William yang masuk ke dalam kamar miliknya segera mengunci kamar miliknya. Karena ia takut jika wanita yang ia tolong masuk ke dalam kamarnya tanpa izin dari dirinya.


William merebahkan tubuhnya di atas ranjang, menatap langit-langit plafon kamar miliknya. “Aku harus berhati-hati dengan wanita itu, sepertinya ia punya maksud tersembunyi yang seperti nya aku tidak tahu.” William memiringkan tubuhnya ke sebelah kiri. “Aku tidak bisa diam saja seperti ini, aku harus mengikuti dirinya dan harus membongkar kedok di balik wajahnya yang terlihat polos dan cantik itu.”


William duduk di atas ranjang, melihat jam kuno yang berada di atas ranjang tidur miliknya. Jam tersebut menunjukkan pukul 09:00 pagi.


William yang tidak ingin mengalami kesalahan segera bangkit dari ranjang. Ia berjalan sedikit membuka lemari pakaian dan mengambil jubah panjang, kaca mata hitam dan topi berwarna hitam miliknya.


Kruqh!


Kruqh!


William menurunkan pandangannya menatap perut yang keroncongan. “Lupa kalau aku belum sarapan.” William segera melipat jubah, menyimpan kaca mata hitam dan menyelipkan topi di dalam jubah panjang yang sudah terlipat rapih. “Sambil mengikuti wanita itu, aku mencari sarapan dulu biar perut ini tidak bergejolak seperti asmara yang kehausan akan cinta dan belaian.”


William membuka pintu kamarnya perlahan mengulurkan kepalanya sedikit untuk memastikan apakah wanita tersebut sudah pergi apa belum dari kediamannya.

__ADS_1


Setelah merasa cukup aman, William segera bergegas pergi keluar dari kamar, tak lupa ia mengunci pintu kamar miliknya.


...Bersambung........


__ADS_2