Vampire Kecil Milik Tuan William.

Vampire Kecil Milik Tuan William.
Part 81. Memikirkan Arista


__ADS_3

Mendengar pertanyaan Anggun, Abel menghentikan langkah kakinya. Sedangkan Anggun masih terus berjalan di depannya.


“Iya, aku akan terus mencintai Arista, meski dia mencintai Pamannya,” sahut Abel datar, pandangannya lurus ke Anggun, sedang menghentikan langkah kakinya, dan menoleh sedikit ke belakang, menatap Abel.


“Ternyata percintaan serumit ini. Kalau gitu lanjut jalan, karena waktu kita sudah tidak banyak lagi,” ajak Anggun, ia kembali melangkah. Abel juga kembali melangkah, dan kini sudah menyeimbangi jalan Anggun.


Abel, dan Anggun, terus berjalan. Tak terasa hari mulai gelap, Abel, dan Anggun, masih terus berjalan di tengah-tengah hutan, berdaun rindang. Samar-samar mereka juga mendengar suara gagak, dan burung hantu. Untung saja di depan sana ada sebuah rumah tua, Anggun, dan Abel pun mempercepat langkah kakinya, berjalan menuju rumah tua tersebut.


“Untuk malam ini kita istirahat di sini dulu, dan besok pagi kita lanjut kembali,” ucap Abel, melihat hutan semakin gelap.


“Iya, sebaiknya kita masuk,” ajak Anggun, tangannya perlahan mendorong handle pintu di penuhi sarang laba-laba.


Begitu pintu terbuka, Anggun terkejut melihat dalam rumah banyak tulang-belulang. Dan hawa rumah terasa amis, dan lembab. Anggun kembali menutup pintu rumah, menatap serius wajah datar Abel.


“Sepertinya kita tidur di luar saja,” usul Anggun dengan raut wajah panik.


“Mau pilih di makan Iblis, dan makhluk buas, di luar, atau kamu memilih tidur nyaman dengan aroma bau busuk di dalam?” tawar Abel dengan pilihan sulit.


“Di dalam saja,” Anggun kembali membuka pintu rumah, dan masuk ke dalam. Diikuti oleh Abel.


Sesampainya di dalam, Abel mengunci pintu, ia juga menarik sofa lapuk berisi tulang-belulang, untuk mengganjal pintu rumah.


“Kenapa di ganjal pintunya?” tanya Anggun penasaran.


“Entar kamu juga akan tahu. Sekarang bantu aku untuk mengunci semua jendela, atau pintu yang ada. Kamu juga harus menutup semua celah yang ada, kalau tidak Black Hand akan mudah masuk, dan menelan ruh kita hidup-hidup,” jelas Abel, kedua tangannya masih mendorong sofa, mengganjal pintu rumah.


“Baiklah, sekalian aku mau mencari lampu,” ucap Anggun.


Anggun berjalan dengan meraba jalan di dalam rumah tanpa penerangan. Kedua tangannya terus meraba ke sekeliling tempat ia lewati, mencari lampu teplok. Tak butuh waktu lama, Anggun menemukan lampu teplok, dan di sampingnya terdapat korek api. Anggun pun menyalakan lampu teplok tersebut, lalu ia mendekati tempat perapian, menghidupkan api, agar ruangan tersebut menjadi hangat. Setelah itu, Anggun melakukan perintah Abel.

__ADS_1


1 jam sudah berlalu, semua tempat sudah aman, dan semua lubang, serta jendela sudah di ganjal, dan di tutup rapat. Karena udara semakin dingin, Anggun, dan Abel memutuskan untuk membersihkan bagian depan tempat perapian, dan beristirahat di depan tempat perapian, dengan karpet usang.


“Kamu tidak tidur?” tanya Anggun, perlahan ia membaringkan tubuhnya di atas karpet usang.


“Bagaimana aku bisa tidur, sementara aku tidak tahu gimana keadaan Arista di sana. Apakah dia baik-baik saja, ataukah dia sekarang sedang menjalani kekejaman Raja Iblis,” sahut Abel datar, pikirannya terus memikirkan Arista.


“Tenang saja, Arista itu gadis yang tangguh. Aku yakin dia pasti bisa menjaga dirinya dengan baik,” ucap Anggun mencoba menenangkan Abel, meski hatinya sendiri sebenarnya saat ini sedang kacau, memikirkan keberadaan Arista.


“Apa kamu tidak lapar?” tanya Abel mencoba mengalihkan suasana.


“Tidak, tenggorokan ku sepertinya tidak enak,” sahut Anggun berbohong. Padahal ia tidak selera makan karena ia sangat mencemaskan Arista.


“Kalau gitu sebaiknya kita tidur, dan besok pagi kita cari makanan yang ada di hutan ini,” ajak Abel, ia mengambil lampu teplok, mematikan lampu teplok, dan membiarkan kayu api sedang membara menemani tidur malam mereka.


.


.


Arista terlihat berdiri di depan jendela besar, tanpa daun jendela. Kamar cukup luas, dan pintu terbuat dari besi kokoh. Baju Arista juga berubah menjadi baju seperti Ratu, dengan bagian dengan terbuka, menampakkan belahan dua gunung kembarnya terlihat berdiri, dan berisi. Rambut panjangnya sendiri di hiasi bunga-bunga.


“Haah…andai aku bisa melompat, pasti aku akan melompat saat ini,” gumam Arista, pandangannya mengarah ke luar jendela, langsung menembus awan gelap, dan di bawah awan ada pusaran angin.


Saat sedang melamun, memikirkan bagaimana caranya ia ingin kabur dari jeratan Raja Iblis. Lamuna Arista terpecah, mendengar suara pintu besi terbuka.


“Arista,” panggil Raja Iblis, berjalan masuk dengan melayang, dan berhenti di depan Arista.


“Jangan sok ramah!” ketus Arista, pandangannya masih terus tertuju ke luar jendela.


“Apa kamu ingin mencoba kabur?” tanya Raja Iblis, menatap pandangan bola mata Arista tak lekang oleh pemandangan di luar jendela.

__ADS_1


“Lepaskan aku!” tegas Arista, ia memandang wajah keriput Raja Iblis, tertutup jubah hitam.


“Sudah 7 tahun aku menunggu-mu. Dan kini setelah aku mendapatkan kamu, kenapa aku harus melepaskan kamu. Kamu harus ingat, kau adalah kontrak yang harus segera aku lunasi,” jari panjang berbalut kulit keriput membelai sebelah wajah Arista, “Kau itu sangat wangi. Sungguh di sayangkan jika Mutan itu tidak mencicipi kamu. Merawat kamu selama 7 tahun, menjelang 8 tahun dengan sia-sia.”


“Omong kosong apa yang baru saja kamu ucapkan? Paman adalah pria yang baik, dan aku sangat tahu dia bukanlah pria jahat seperti kamu!” tunjuk Arista ke wajah Raja Iblis, membuat Raja Iblis marah, dan menampar Arista.


Plak!!!


Raja Iblis memegang kuat dagu Arista, membuat wajah Arista menengadah, “Jangan arahkan jari telunjuk kamu ke wajah ku. Kau harus ingat, kau hanyalah kontrak yang akan segera aku nikmati,” ucap Raja Iblis sedikit berbisik, dan menekan.


“Nikmati saja sekarang, kenapa harus nunggu nanti!” ucap Arista menantang, tatapannya memandang tajam ke nanar mata Raja Iblis.


“Jika aku sudah sempurna, pastinya aku akan memangsa-mu saat ini. Dan membuat kamu menyesali atas ucapan yang baru saja kamu lontarkan!”


Arista melirik ke bagian tengah jubah Raja Iblis, sedikit sudut bibirnya menaik, dan ia berkata, “Oh…ternyata kamu tidak memiliki kelamin? Sungguh di sayangkan. Padahal aku baru saja ingin menikmati seberapa kuatnya energi kamu saat melakukan itu. Apa kekuatan kamu akan sama dengan kekuatan kamu yang sudah menyakiti Paman!” Arista memalingkan wajahnya ke sisi kiri, “Ck, dasar lemah. Sungguh memalukan,” umpat Arista sekali lagi, membuat Raja Iblis marah.


Raja Iblis membuka perlahan mulut Arista, “Aku tidak menyangka jika ucapan kamu bisa setajam ujung pedang. Kamu ingin merasakan sesuatu yang berbeda?”


Raja Iblis memasukkan 2 jarinya ke mulut Arista. Semakin dalam hingga menyentuh kerongkongan. Kedua bola mata Arista juga terlihat berair, merasa sesak karena kehabisan oksigen.


“Hemm…hem…” Arista memukul tangan Raja Iblis, berusaha menarik tangan Raja Iblis, untuk mengeluarkan jarinya masih berada di dalam tenggorokannya.


“Gimana?” tanya Raja Iblis, mengeluarkan jarinya dari mulut Arista.


“Uhuk…uhuk…” Arista menundukkan tubuhnya, tangannya memukul dadanya, berusaha menyerap udara, dan memasukkannya ke dalam paru-paru.


Tak sampai di situ saja, Raja Iblis menarik rambut bagian belakang Arista, membuat hiasan bunga rusak.


“Lain kali jaga ucapan kamu, gadis,” pesan Raja Iblis dingin. Raja Iblis melepaskan gengaman tangannya dari rambut Arista, dan segera pergi meninggalkan Arista di dalam kamar.

__ADS_1


Arista terdiam, dengan bola mata berkaca-kaca, dan hidung memerah, Arista menatap kepergian Raja Iblis, “Dan aku akan pastikan, diri kamu segera kembali ke Neraka,” gumam Arista membuat sumpah.


__ADS_2