
Part 62
_________
Aku sudah tak membutuhkan kamu lagi.
William terus melajukan mobilnya menuju pusat pasar yang berada di tengah kota. Tak sampai 1 jam, William akhirnya sampai di keramaian pusat pasar yang berada di pusat kota. Seperti biasa, William memarkirkan mobilnya tak jauh dari warung bar kecil milik Pak tua.
William yang keluar dari mobil, segera memakai jubah panjang, kaca mata hitam dan topi hitam. Setelah cukup yakin jika dirinya tidak bisa di kenali, William melangkah pergi meninggalkan mobil yang sudah aman terparkir.
William terus melangkah dan melangkah, hingga ia memasuki pusat pasar yang padat dengan berbagai macam jualan yang di jajakan di trotoar jalan maupun di dalam ruko besar dan kecil. William melihat sekeliling, namun ia tidak bisa melihat wanita yang ia tolong berada di tengah-tengah keramaian.
William yang terlihat lapar memutuskan untuk pergi mencari tempat makan terlebih dahulu, sebelum mencari wanita tersebut.
...30 menit kemudian....
...🧐🧐...
William yang selesai makan sedang menikmati minum kopi yang masih terlihat hangat. “Srruupp!” William menyeruput kopi tersebut dengan nikmat.
Merasa cukup lama bersantai, William segera membayar makanan yang ia pesan dan bergegas pergi dari warung kecil yang berada di tengah pusat pasar. Kaki kanan William melangkah keluar dari pintu warung kecil tersebut, memalingkan wajah ke kanan.
Di balik kaca mata hitam, dan topi hitam yang menutupi setengah wajahnya. Tampaklah seorang wanita yang sedang tertawa riang bersama 5 pemuda bertubuh tinggi dan kekar. Wajah yang terlihat familiar. Wajah wanita dan 5 pria yang bertubuh tinggi dan kekar adalah, wanita yang ia tolong dan kini tinggal bersama dirinya sebagai pelayan sedangkan 5 pria lainnya adalah 5 pria yang kemarin baku hantam kepada William karena ingin membela wanita yang tinggal di rumahnya sebagai pelayan.
William mengepal erat kedua tangannya, dadanya berdetak sangat kuat seperti hendak lepas dari tempatnya. Ia bergertak gigi menahan amarah melihat wanita yang selama ini terlihat lemah dan tak berdaya jika di hadapannya, kini wanita tersebut tertawa riang sambil memukul bahu satu sama lain di jalan.
Setelah semuanya cukup jelas terlihat di kedua bola mata William. William segera pergi meninggalkan pusat keramaian yang sangat padat. William berusaha menahan amarahnya, meninggalkan wanita tersebut bersama 5 pria bertubuh tinggi dan kekar. Jika ia melampiaskan amarahnya sekarang, ia tidak akan bisa mengetahui apa motif dari perbuatan wanita tersebut kepadanya.
William terus melangkah dan melangkah dengan cepat menuju warung bar milik Pak tua. William menghentikan langkah kakinya di depan pintu warung bar milik Pak tua, tangannya dengan cepat membuka jubah panjang, kaca mata hitam dan topi hitam kemudian melipatnya dengan rapih.
“Pak tua.” Teriak William yang berdiri di depan pintu warung bar milik Pak tua.
Pak tua pemilik bar keluar dari tempat persembunyiannya dengan tangan yang terlihat susah mengancing resleting celana miliknya, karena terlihat ada sesuatu yang menonjol cukup besar. “Tuan William.” ucap Pak tua pemilik bar melihat wajah William.
__ADS_1
William berjalan masuk, tangan kanan William memegang jubah panjang yang sudah terlipat rapi yang di dalam lipatan baju terdapat kaca mata hitam dan topi hitam miliknya.
“Enak. Enak terus ya?” teriak William yang menatap ke bawah yang menjurus ke alat Vital Pak tua yang masih sulit di jinakkan.
Pak tua pemilik bar tertawa. “Hahaha.” Pak tua pemilik bar berbalik badan, “Kalau begitu aku lanjutkan dulu ronde aku yang tertinggal, soalnya wanita yang di dalam sudah sangat kesepian karena sesi terakhir belum mencapai puncaknya.” Pak tua pemilik bar melangkah pergi meninggalkan William yang sedang duduk di meja biasa di mana ia duduk.
Melihat tingkah Pak tua yang selalu berbuat gila, membuat William menggelengkan kepalanya dan hampir melupakan sedikit rasa amarah atas kebohongan dari wanita yang ia tolong.
William berdiri mengambil 1 gelas kaca kecil dan 1 botol minuman beralkohol. “Rasanya ingin saja aku melakukan seperti apa yang Pak tua itu lakukan kepada wanita seperti mereka. Tapi aku harus tetap sadar, sekali menjadi seorang pria yang tidak ada harga dirinya maka seterusnya akan seperti itu. Akan terus bermain dengan wanita lain hingga ajal menjemput.”
...Kediaman William....
...👀👀...
William terpengaruh minuman beralkohol keluar dari dalam mobil berjalan terhuyung-huyung mendekati pintu rumah miliknya.
Wanita yang di tolong William membuka pintu rumah kediaman William. Melihat William yang berjalan terhuyung-huyung, wanita tersebut bergegas berlari mendekati William. Melingkarkan tangan yang kekar di bahu kecil miliknya.
“Apa yang tuan lakukan? Dan kenapa tuan pulang dengan kondisi seperti ini?”
William terus memaksa dirinya berjalan agar tidak di tolong wanita tersebut.
Melihat William berjalan terhuyung-huyung, wanita tersebut segera mengambil tangan kekar William. “Biar saya bantu.”
William menepis tangan wanita tersebut. “Aku bilang bukan urusan kamu. Apa kamu tidak paham.” Sentak William dengan kedua bola mata yang hendak lepas dari tempatnya menatap tajam wanita tersebut.
Wanita tersebut hanya diam melihat kepergian William yang terhuyung-huyung. Sudut bibir atas wanita tersebut menaik, wajahnya terlihat tidak senang melihat penolakan yang William lakukan kepadanya.
...Di dalam kamar....
...🥴...
William duduk di tepian ranjang kamar miliknya, tangannya mengulur panjang mengambil gelas besar yang berisikan air putih.
__ADS_1
Gleek!
Gleek!
William menenggak habis gelas besar yang berisi air putih, berharap kadar alkohol bisa sedikit berkurang. William membuka 1 persatu pakaian yang ia kenakan hingga tak ada 1 helai benang yang melekat di tubuh polosnya.
William yang masih terhuyung-huyung berjalan menuju kamar mandi yang berada di dalam kamarnya. Walau pun masih di bawah pengaruh minuman beralkohol, William tetap sadar agar tetap mengunci pintunya semenjak ke datangan wanita tersebut yang bisa saja diam-diam masuk ke dalam kamar miliknya.
William berjalan mendekati bak mandi yang cukup besar, seperti muat untuk 2 orang di dalamnya. William memutarkan menghidupkan air panas buat dirinya berendam.
...3 jam kemudian...
...🛀🛀...
William yang sudah kembali normal perlahan berjalan menuruni anak tangga, wajahnya terlihat serius saat melihat wanita tersebut duduk di sofa ruang tamu sambil menonton Tv.
William berjalan mendekati ruang tamu, dengan cepat tangannya menyambar remote Tv yang berada di tangan wanita tersebut.
Melihat perlakukan spontan William yang menarik remote Tv, wanita tersebut segera berdiri menundukkan sedikit pandangannya di hadapan William. “Maaf. Ada yang bisa saya bantu tuan?”
“Aku sudah tidak membutuhkan kamu lagi di sini. Sekarang aku tegaskan kamu angkat kaki dari rumahku.” Bentak William mengarahkan tangan kirinya ke arah pintu depan kediaman rumahnya.
Wanita tersebut membulatkan kedua bola matanya menatap William. “Apa salah saya tuan.” Ucap wanita tersebut sambil meneteskan air mata.
...Bersambung........
...Terimakasih atas dukungan, like dan komen. 🤗...
...Cuaca lagi tidak sehat, buat kita semua jaga kesehatan dan jangan menyerah untuk terus berkarya meski pembaca tidak ada. 🤗🤗...
...Karena mau ujian kenaikan kelas dan libur panjang, akan tiba saatnya Arista dan William akan bersama lagi di beberapa Bab yang akan datang....
...Tidak 2 Bab untuk William dan 2 Bab untuk Arista.🤗🤗...
__ADS_1
...Terimakasih. 😚😚💖...