
Arista, William, Ellard, Abel, dan Anggun, dengan tubuh terluka perlahan mereka keluar dari gerbang Kastil. Baru sampai di depan pintu luar gerbang Kastil. Esme memegang bahu Abel dari belakang.
“Ada apa bu?” tanya Abel setelah menghentikan langkahnya.
“Siapa kamu?” Esme balik bertanya.
“Aku adalah Abel, anak murid ibu guru Esme,” sahut Abel tenang.
“Aku merasa ada seseuatu hal yang sedang kamu tutupi dariku. Siapa kamu sebenarnya?” tanya Esme kembali penuh selidik.
“Aku adalah Abel. Kalau ibu tidak percaya ya, sudah,” ketus Abel, lalu meninggalkan Esme.
Abel kembali melangkah mengikuti William Arista, Anggun, dan Ellard sudah berada jauh di depan.
“Sebaiknya aku tunda dulu untuk bertanya siapa Abel sebenarnya,” gumam Esme, sembari melangkahkan kedua kakinya mengikuti William, Abel, Anggun, Arista, dan Ellard, sudah berjalan cukup jauh di depannya.
William, Arista, Abel, Ellard, Esme dan Anggun, kembali berjalan meninggalkan Kastil. Kini mereka sudah memasuki hutan, dan sudah menyebrangi sungai. Melihat Arista sudah sangat lelah. William memutuskan untuk menghentikan langkah mereka.
“Sebaiknya kita berhenti dulu!” tegas William memberi perintah.
“Kenapa tidak dari tadi!” cetus Ellard sembari merebahkan tubuhnya di tanah.
“Sepertinya kita harus kembali sekarang,” ucap Esme tiba-tiba.
“Kenapa harus pulang sekarang Bu?” tanya Anggun.
“Aku masih ada urusa lagi soalnya. Jadi aku akan membuka portal dari sini,” sahut Esme bebohong. Padahal dirinya merasakan ada aura negative sedang datang ke arah mereka.
‘Sial. Aura ini. Bukannya ini aura..kami beneran harus segera keluar dari tempat ini,’ batin Abel ikut merasakan ada aura sangat gelap dan dingin.
Abel berdiri, “Benar, mari kita pulang,” ajak Abel.
“Baiklah, aku mari kita pulang,” sambung William mengiyakan, karena dirinya juga merasakan ada aura gelap dan dingin.
Esme pun berdiri, kedua tangan ia luruskan, tapak tangan mengarah ke tanah. Esme pun mulai merapal mantranya.
“Buka portal menuju manusia, dan tutup portal dari dunia lain!”
Bush wungg wung!!!
Portal seperti air terbuka.
“Cepat masuk!!” ajak Esme, tangannya mengajak William, Anggun, Abel, Ellard, dan Arista segera masuk ke dalam portal.
“Baik bu,” sahut Anggun.
Saat Anggun dan Arista hendak masuk ke dalam portal di buat oleh Esme. Terlihat lagit bertabur bintang berubah menjadi merah, dan awan hitam mulai menyelimuti cahaya bulan. Esme merasakan hawa gelap itu semakin dekat, menggenggam lengan Anggun, dan Arista.
“Kalian cepatlah masuk!” tegas Esme sembari menarik, dan mendorong Anggun, Arista masuk ke dalam portal buatannya.
__ADS_1
“Ibu jahat sekali!” teriak Arista saat setelah masuk ke dalam portal.
William, Abel, dan Ellard, merasakan ada hal aneh segera berkumpul di depan portal buatan Esme.
“Kau, masuklah!” perintah William kepada Ellard.
“Berani sekali kau menyuruhku masuk,” cetus Ellard tak senang di perintah.
Geram dengan penolakan Ellard, William menggenggam erat pergelangan tangan Ellard, menariknya, dan mendorongnya masuk ke dalam portal.
“Aaa…dasar mutan tua!” teriak Ellard saat dirinya jatuh ke dalam portal.
“Abel, kamu juga harus masuk. Jaga Arista di sana!” sambung Esme memberi perintah.
“Sebaiknya Paman William saja yang masuk. Aku akan bersama dengan ibu,” tolak Abel.
“Kau tidak cukup kuat untuk melawan mahkluk ini,” Esme memegang pergelangan tangan Abel, “Aku mohon, masuklah,” sambung Esme sepenuhnya memohon.
“Tidak!” tolak tegas Abel, sembari menurunkan genggaman tangan Esme dari pergelangan tangannya.
“Abel!” bentak Esme.
“Maaf, sebaiknya ibu juga harus masuk,” maaf Abel belakangan setelah tangannya dengan cepat mendorong tubuh Esme masuk ke dalam portal.
Bush!
“Maaf, Anda juga harus masuk ke dalam!” tegas Abel mendorong tubuh William masuk ke dalam portal.
“Sombong sekali kamu…”
Bush!!
William sudah masuk ke dalam portal. Kini Abel tinggal sendiri di depan gerbang portal, jubah permberian Esme berubah menjadi baju zirah, tubuh Abel tadi seperti anak remaja berubah menjadi sosok pria dewasa, berot, tanduk besar melingkar terpampang kokoh di atas kepalanya. Kedua kaki tadi menapak kini melayang terbang ke udara.
Perlahan terlihat ada sebuah portal terbuka di langit merah.
Duumm!!!
Kilatan keluar begitu saja dari dalam portal berada di atas langit merah, membelah tanah dengan mudahnya.
“Selamat datang Raja iblis yang sesungguhnya!” sambut Raja iblis palsu mengejutkan Abel.
“Terimakasih atas hinaannya. Kau hebat juga bisa dengan mudah keluar dari tempat yang sudah aku sediakan. Apa kau ingin di angkat kembali menjadi Prajurit?” tanya Abel dengan nada sombong.
“Aku ke sini hanya untuk mengambil posisi yang seharusnya aku miliki. Dan satu lagi, kau sudah membuat usaha dan rencanakan puluhan tahun gagal. Kau harus menanggung akibatnya Raja iblis…pengecut!”
Wuussshhh wuusshh!!
Jedeer!!!
__ADS_1
Raja iblis palsu murka karena tujuannya untuk menambah keturunan, dan meningkatkan kekuatanya gagal di buat oleh Abel, raja iblis asli. Raja iblis palsu pun terus melayangkan serangan bertubi-tubi kepada Abel. Namun, Abel berhasil menghindarinya. Semua serangan hanya hanya terkena tanah, membuat beberapa tanah banyak berlubang.
“Haa…berani sekali kau mengelak seranganku. Lihat ini, aku akan meleburkan kau di sini!” teriak Raja iblis palsu, tongkat di tangannya berubah menjadi ular berkepala 20 dan ekor 20.
Sssssss!!
Desis ular raksasa berkepala 20 dan ekor 20, ada di hadapan Abel.
“Cuman segini kekuatan yang kamu miliki. Ke…”
Huuuhhhh!!!
Ular rakasa berkepala 20 dan ekor 20, menyemburkan bisa api dari mulutnya. Membuat api besar memakan tubuh Abel.
“Ha ha ha…sudah aku bilang. Yang cocok menjadi Raja iblis itu hanya aku! Bukan kau. Raja iblis pengecut!” cetus Raja iblis palsu di sela tawa renyahnya.
Raja iblis palsu balik badan, ular berkepala 20 dan ekor 20 kembali berubah menjadi tongkat raja ibli palsu, dan kini sudah berada di dalam genggaman tangan kanannya. Raja iblis palsu balik badan, ia terbang perlahan menuju portal buatan Esme masih terhubung.
“Vampire kecilku. Aku dat…ang!”
Jlub!!
Langkah Raja iblis palsu terhenti, saat ada pedang panjang, besar, dan tajam menembus punggung sampai perut bagian depannya.
“Arrg…” mulut Raja iblis banyak mengeluarkan darah, tangan kirinya memegang perut mengeluarkan darah, lalu Raja iblis palsu menoleh ke belakang. Kedua bola mata Raja iblis membulat sempurna saat melihat siapa mahkluk memiliki pedang terkuat itu, dan siapa makhluk yang mampu menembus kulit tubuhnya.
.
.
💫Di dunia manusia💫
Arista berdiri di depan portal, menunggu kedatangan Abel tak kunjung tiba.
“Abel…kenapa kamu bodoh sekali sih,” gerutu Arista cemas.
Melihat kecemasan Arista, William, dan Ellard, cemburu. Mereka hanya bisa diam, menekuk wajahnya menatap kegelisahan Arista menunggu Abel.
“Bu..apa sih yang sebenarnya terjadi?” tanya Anggun penasaran.
Sejenak Esme menundukkan wajahnya, lalu mengangkatnya menatap Anggun, dan berkata, “Sebenarnya Raja iblis yang sudah di bunuh oleh kalian tadi hidup kembali dengan tingkat kekuatan yang cukup tinggi,” Esme menoleh ke arah portal, “Aku mencemaskan Abel,” sambung Esme bergumam.
Tak lama terlihat ada bayangan seorang pria dari dalam portal. Dan tak lama terdengar suara dentuman.
Duuumm!!
Portal buatan Esme seketika menghilang. Arista, Anggun, dan Esme, terdiam. Tubuh mereka lemas saat mengetahui jika Abel ternyata masih terjebak di dalam sana, dan sudah pasti Abel meninggal.
Hal itu membuat Esme, Arista, Anggun, dan Ellard bersedih.
__ADS_1