
Anggun, dan Abel terus berjalan, kedua mata Anggun mendadak liar menatap sekeliling pohon menjulang tinggi ke atas, dan berdaun rindang, membuat jalan Desa tersebut gelap. Di ujung mata terlihat ada kabut tebal, tanah basah, hawa tadinya segar berubah menjadi lembab, dan berbau belerang.
“Tunggu,” tahan Abel, tangannya memegang bahu Anggun di samping kirinya.
Anggun menghentikan langkah kakinya, “Kenapa?” tanya Anggun hanya menggerakkan bibirnya.
“Menunduk!” ajak Abel, tangannya menekan punggung Anggun, membuat Anggun, dan Abel menunduk dengan cepat.
Nguak!!!nguak!!nguak!!!
Segerombolan gagak tiba-tiba saja datang dari arah belakang mereka, melewati Abel, dan Anggun. Di susul suara angin bertiup sangat kencang, menerbangkan beberapa dedaunan.
Wuusshh!!!!!
Abel dan Anggun, melirik ke belakang. Dahi Abel mengernyit saat pandanganya bisa menembus sampai kejauhan, terlihat ada gulungan angin hitam. Dari dalam angin tersebut terlihat banyak tangan melambai keluar.
“Lari!!!” teriak Abel, tangannya menggenggam pergelangan tangan Anggun, membawa Anggun terus berlari tak tentu arah. Sesekali Abel dan Anggun melirik ke belakang.
“Ada apa? Kenapa kita harus lari?!” tanya Anggun bingung, kedua kakinya terus ikut berlari kemanapun Abel pergi.
“Jangan lihat kebelakang,” perintah Abel terburu-buru.
“Kenapa? Tadi aku sudah melihatnya dan tidak…..”
Ucapan Anggun terputus saat terdengar banyak suara jeritan aneh memekakkan gendang telinga. Abel, dan Anggun, terus berlari, kedua tangan mereka menutup kedua gendang telinga mereka. Namun, suara tersebut menembus ke telapak tangan mereka, membuat gendang telinga hampir pecah.
“Angin apa itu? dan kenapa banyak tangan mengerikan keluar dari gulungan angin hitam tersebut?” tanya Anggun di sela ketakutannya.
“Namanya Black hand. Iblis pemakan manusia, ruh manusia tersimpan di dalam gulungan hitam tersebut. Dan tangan yang terus keluar dari dalam angin Black Hand itu adalah para ruh mencoba untuk kabur. Namun tak bisa, ” jelas Abel.
“Menjijikkan,” gumam Anggun bergidik ngeri.
Anggun, dan Abel terus berlari, sampai mereka bertemu dengan sekawanan siluman domba, sedang menghadang jalan mereka.
“Awas!” teriak Anggun, kedua tangan melambai, berharap diberi jalan untuk lari.
__ADS_1
Sekawanan siluman manusia setengah domba tidak menggubris teriakan Anggun, mereka semakin membuat formasi, berjejer miring ke samping. Kedua tangan mereka mengeluarkan cermin dan mengulurkannya ke atas langit, lalu memantulkannya ke gulungan angin berwarna hitam (Black Hand).
Gulungan angin hitam itu terhenti, dan terdengar suara jeritan aneh, berkata, “Kalian para siluman domba akan segera mati. Kalian akan mati…Aaaaaaa….”
Gulungan angin hitam (Black Hand) di penuhi tangan tersebut menghilang seperti terisap lubang. Sekawanan manusia setengah domba mengarahkan batang bambu ke Abel dan Anggun.
“Kenapa kalian ada di sini?” tanya salah ketua dari sekawanan manusia setengah domba.
Anggun, dan Abel mengangkat kedua tangannya ke atas, mereka perlahan berjalan mundur ke belakang. Namun, tubuh mereka tertahan karena merasakan ada ujung bambu menyentuh punggung mereka. Karena waktu diberikan Esme untuk mencari air mata bidadari sangat singkat. Anggun terpaksa menurunkan kedua tangannya, berjalan mendekati ketua dari sekawanan tersebut.
“Teman kami di tangkap oleh Raja Iblis. Dan Pamannya sekarang sedang terluka parah di rumah. Semua itu karena ulah dari Raja Iblis. Jadi, kami datang ke sini untuk mengambil air mata bidadari yang katanya berada di dalam Gereja. Air mata itu untuk mengobati luka Paman, teman kami.”
“Kau pikir kami percaya?” ketua sekawan manusia setengah domba menarik lengan Anggun, menatap lekat wajah panik Anggun, lalu melanjutkan ucapannya, “Di sini tidak ada air mata bidadari. Air mata itu sudah punah, akibat ulah dari salah satu Iblis muda. Dan kami juga di sihir, menjadi manusia setengah binatang seperti ini karena ulah dari sekelompok Iblis!”
Abel mendekati Anggun, tangannya dengan lihai menarik tangan Anggun dari genggaman ketua manusia setengah domba tersebut. Dan menatap tajam ke ketua manusia setengah domba.
“Kalau kalian tidak percaya, lebih baik kami pergi!” tandas Abel.
Abel menggenggam pergelangan tangan Anggun, kakinya ingin melangkah maju ke depan. Namun, sekawanan manusia setengah domba mengarahkan ujung bambu mendekati Anggun, dan Abel. Membuat Abel, dan Anggun merapatkan punggung mereka, kedua tangan saling berpegang erat.
“Tentu saja, aku ingin segera bertemu dengannya.”
“Kalau gitu mari kita serang mereka secara bersamaan. Tapi aku minta jangan tunjukkan kekuatan asli kamu. Pakai ilmu bela diri saja,” usul Abel.
“Baik,” sahut Anggun patuh.
Pertarungan pun segera di mulai. Sekawanan manusia setengah domba tersebut terus mengayunkan ujung bambu mereka ke Abel dan Anggun. Abel dan Anggun sendiri terus menghindar dengan cara bertarung manual mereka masing-masing.
Wuuusshhh!!!!wuusshhh!!!
Suara ayunan bambu.
Kraakkk!! Bam!!! Busshh!!
Sekawanan manusia setengah domba, menghentakkan bambu kea rah Anggun. Namun, Anggun segera menghindar sehingga bamboo tersebut patah mengenai bebatuan.
__ADS_1
“Menyerah lah kalian berdua, penipu! Dan biarkan kami menyantap daging kalian. Sepertinya kalian terlihat sangat muda, dan sudah pasti sangat manis,” teriak ketua manusia domba. Kedua tangan masih terus berperang.
“Ha ha ha…menyerah katamu! Lebih baik kalian saja yang menyerah, sebelum kalian semua aku buat menjadi domba guling!” sahut Abel di sela tawa sumbang nya. Kedua tangan masih terus melawan.
Dengan secepat kilat Abel membalikkan tubuhnya. Namun, saat ia membalikkan tubuhnya 2 bola mata Abel berubah menjadi biru, menatap ke ranting pohon di atas kepala mereka. Lalu saat tubuh memutar kembali, bola mata Abel berubah menjadi normal.
Di tengah-tengah pertarungan mereka terdengar suara gemuruh dari bawah tanah, dan membuat tubuh mereka terguncang.
“Kenapa ada gempa di sini?” tanya Anggun, kedua kakinya berdiri tak seimbang.
Abel mendekati Anggun, menatap serius wajah panik Anggun, “Aku bilang lari, kamu harus ikut aku lari!” tegas Abel.
“Baik,” sahut Anggun mengangguk.
Suara gemuruh tersebut semakin jelas, tanah mereka pijak pun terlihat retak.
Traakk!!!trakk!!!!
“Lari!” teriak Abel, ia balik badan, kedua kakinya berlari, di susul Anggun.
“Hei…kalian mau ke….”
Teriakan sekawanan manusia domba tersebut terhenti saat tanah mereka pijak mengeluarkan akar, menarik tubuh sekawanan manusia setengah domba. Membawa tubuh manusia setengah domba masuk ke dalam tanah. Lalu terlihat akar pohon tersebut seperti memakan tubuh manusia setengah domba, dan menyatukannya ke batang pohon mereka, sehingga tubuh para sekawanan manusia setengah domba, membekas di batang pohon tersebut.
Setelah semua sekawanan manusia setengah domba di makan oleh akar pohon, dan di pajang di batang pohon. Anggun, dan Abel menghentikan kaki mereka.
“Hosh…hosh…hosh…kenapa tempat ini sangat mengerikan?” gumam Anggun di sela nafas terengah-engah. Namun, Abel masih bisa mendengarnya.
“Itu hanya menurut kamu saja. Sekarang mari kita mencoba berjalan masuk lebih dalam lagi ke hutan, agar kita bisa menemukan Gereja tersebut, dan kita bisa kembali dengan cepat!” tegas Abel mengajak Anggun.
Anggun menurut, Anggun, dan Abel pun berjalan dengan langkah cepat memasuki dalam hutan. Sepanjang perjalanan Anggun terus melirik ke Abel. Ia ingin bertanya, tapi ia merasa takut. Merasa risih terus di tatapan Anggun seperti itu, Abel melirik ke Anggun.
“Kenapa kamu terus menatapku seperti itu?” tanya Abel dingin.
“Apa kamu sangat mencintai Arista? Meski kamu tahu jika Arista mencintai Pamannya?”
__ADS_1