Vampire Kecil Milik Tuan William.

Vampire Kecil Milik Tuan William.
Bab 104. ELF


__ADS_3

đź’«Di sisi lainđź’«


Setelah pulang dari membasmi siluman tikus di tempat hiburan milik Madam. William terus berjalan dan berjalan, meninggalkan tempat itu. Baru setengah perjalanan pulang menuju rumahnya, William di jegat oleh seorang elf kecil berjenis kelamin lelaki, bermata biru terang seperti awan.


“Paman tolong ibu,” pinta anak elf tersebut, kedua tangan di rentangkan ke samping.


“Elf, baru kali ini aku melihat bangsa elf. Jika memang seperti ini, pasti akan pertanda buruk yang akan menimpa dunia ini,” gumam William dengan pikirannya sendiri.


Bocah lelaki elf itu mendekati William, tangannya menggenggam tangan kanan William, “Paman…ayo, bantu ibuku,” bocah lelaki elf itu mengarahkan tangannya ke balik hutan gelap, dengan ranting pohon kering serta daun hijau tak ada menempel satupun di tangkainya, “Ibu ada di balik hutan itu, ibu di jebak oleh seseorang. Paman, aku mohon,” lanjut bocah elf itu kembali meminta tolong kepada William.


“Berani bayar berapa kamu?” tanya William memikirkan bayaran. Baginya kekuatan miliknya tidak ingin keluar dengan gratis. Kecuali, diperintah oleh Arista.


“Aku dan ibu ku tidak memiliki uang karena kami tersesat sendirian dari kelompok,” bocah lelaki elf itu bersujud, kedua telapak tangan di jadikan satu, bola mata penuh pengharapkan menatap William masih berdiri di hadapannya dengan tatapan serius. “Paman, aku mohon!” lanjut bocah lelaki elf itu.


William menarik nafasnya dalam-dalam, detik selanjutnya menatap bocah lelaki elf itu penuh dengan pengharapan, “Baiklah, dimana ibu-mu?” tanya William mencoba percaya jika bocah elf ini tidak menipunya.


Bocah lelaki elf itu segera beranjak dari sujudnya, balik badan, “Ayo Paman, ibu ada di dalam sana!” ajak bocah lelaki elf itu semangat, sembari terus melangkah dan masuk ke dalam hutan gelap dan gersang itu.


William masih terus berjalan di belakang, sepasang waspada menatap sekeliling hutan tampak usang, hawa sekeliling pepohonan kering itu juga terasa sangat panas.


Sudah ada berjalan 50 meter ke dalam, langkah bocah lelaki elf dan William terhenti di depan sebuah jebakan besar terbuat dari bambu, di setiap ujung bambunya runcing.


“Ibu..aku sudah membawa seorang pemuda untuk membebaskan ibu. Bertahanlah ibu,” pinta bocah lelaki elf itu, ia berdiri di samping kandang bambu, menatap seorang wanita elf terduduk lemah, wajah pucat, keringat dingin mengalir, dan ada beberapa bekas tusuk di sekitar pahanya.


William perlahan mendekat sembari sepasang bola mata tajamnya ia pertajam menatap sekeliling hutan. Berharap tidak ada jebakan baru atau seseorang sedang bersembunyi di bali batang pohon utama.

__ADS_1


“Menghindarlah dari perangkap itu!” perintah William tegas, tangannya menarik lengan bocah itu segera menjauh dari sangkar.


Wuuusshh jlub!


Benar, baru saja William menarik bocah itu menjauh dari jebakan yang menjebak ibunya. Terlihat 2 anak busur melesat hampir mengenai lengan William. Untung William dengan cepat bisa menghindar, dan busur itu meleset ke batang pohon kering itu.


“Siapa di sana?!” tanya William tegas, pandangan waspada menatap sekeliling hutan gersang itu.


“Tuan, to-tolong selamatkan putra saya. Di-dia adalah salah-satu penerus dari bangsa elf. Anak seusia dia sudah banyak dihabisi karena…akh..ka-karena bagi klan lain kemunculan kami adalah pertanda buruk,” pinta ibu dari bocah elf tersebut.


William tidak menggubris permintaan ibu dari bocah elf itu. William malah mengangkat perangkat bambu itu, dan melemparkannya sangat jauh ke sebuah semak berada di sisi kanannya. Saat perangkat bambu itu mendarat di semak, terdengar suara seseorang.


“Akhh!” ujung bambu itu mengenai 2 siluman babi berada di dalam hutan.


“Oh…ada orang ternyata. Bukannya aku sudah bilang kalau ada orang lekas keluar. Karena siluman babi sudah mati, aku doakan kalia berdua tenang di alam neraka yang indah itu!” cetus William setengah mengejek.


“Aku bilang jangan berlari, dan mendekati kandang itu. Kamu cukup diam di sana, karena kita tidak tahu jebakan apa lagi yang ada di sekitar ibu, kamu!” ujar William bergumam, sepasang bola mata tajam seperti ingin memburu terus menatap sekeliling hutan.


“Tapi, Paman…ibu..”


“Tenanglah, ibu kamu masih bisa bertahan dalam waktu 30 menit. Kau keluar dari hutan ini, dan tunggu aku di tempat awal kita masuk tadi. Aku janji akan membawa dan mengobati ibu kamu,” perintah William tegas.


“Baik Paman, aku percayakan ibu sama Paman,” sahut bocah lelaki elf itu.


Bocah lelaki elf itu berbalik, kedua kakinya terus berlari dengan cepat, keluar dari hutan, dan menunggu di tempat awal mereka masuk seperti perintah William. Sudah melihat bocah itu berlari cukup jauh, dan berpikir sudah aman. William mendekati, perlahan ia jongkok, mengalungkan lengan ibu elf itu ke bahu kekarnya.

__ADS_1


“Bertahanlah, aku akan…”


Baru saja hendak melangkah, terdengar suara anak panah mengarah ke William. William memiliki pendengaran, penciuman, dan penghilatan tajam, segera mengambil pedang terselip di belakang bajunya. Dan menangkis dengan cepat anak panah melayang ke arahnya.


Ting ting ting!


“Lepaskan elf itu!” tegas siluman babi keluar dari dalam semak hutan, kedua tangan memegang senapan seperti siap ingin membidik.


“Berani bayar berapa kau menyuruhku?” tanya William dingin, kedua kaki melangkah sembari menggendong ibu dari bocah elf tersebut terlihat semakin lemah.


William tak takut dengan siapa pun terus melangkah, mendekati siluman babi. Tak berapa lama keluar 10 orang siluman babi dari tempat persembunyian mereka. Ada bersembunyi di dalam tanah, di balik batang hitam dan usang, dan ada di tempat lainnya.


“Oh, ramai ternyata,” ucap William seperti merendahkan.


William perlahan menurunkan ibu dari bocah elf itu di atas tanah.


“Aku ingin membereskan mereka dulu,” pamit William sembari sebelah tangan kembali mengeluarkan pedang dan sebelahnya mengeluarkan pisau belati.


“Hajar lelaki itu!” perintah siluman babi di hadapan William.


10 siluman babi langsung berlari, mengepung William. Perkelahian pun terjadi, karena William sudah sangat ahli di dalam bidang seperti ini, kedua tangannya dengan cepat melibas semua siluman babi hendak mendekatinya dan mendekati ibu dari bocah elf itu.


Ting ting ting!


Pertarungan sengit terus berlangsung dalam wktu 15 menit, semua siluman babi di babat habis. Tubuh siluman babi tadi memakai tubuh manusia, kini berubah menjadi seekor babi hutan.

__ADS_1


William kembali mendekati ibu dari bocah elf itu. William pun menggendong ibu dari bocah elf itu, “Sebaiknya kita keluar, aku akan mencari tumbuhan berada di sekitar luar hutan ini. Kamu, bertahanlah,” pinta William.


William terus berlari keluar dari hutan, dan berlari. Sesampainya di luar hutan, William meletakkan ibu elf itu di samping bocah lelaki elf itu. tanpa berkata apa pun kepada bocah elf, William berlari lurus di luar hutan, mencari tumbuhan obat untuk menyembuhkan racun pada bekas senapan.


__ADS_2