
Part 66
_______
William melajukan mobilnya dengan cepat meninggalkan kediaman rumahnya. Mobilnya melaju cepat menuju pusat pasar, di tengah perjalan menuju pusat pasar William memberhentikan laju kendaraannya.
Kedua matanya terpanah melihat kelinci yang sedang menyebrang jalan. Kelinci berwarna putih bersih, bermata merah. Hewan berkaki 4 itu seperti memikat hati William.
“Imut sekali. Bagaimana jika aku bawa pulang buat Arista.”
William membuka sabuk pengaman, membuka pintu mobil. Agar kelinci tidak kabur dari hadapannya, William berjalan pelan mendekati kelinci tersebut.
William tidak memperdulikan apa pun, yang ada dalam pikirannya saat ini bagaimana cara mendapat kelinci tersebut dengan cara tidak menyakiti kelinci yang masih diam terpaku menatap gerak gerik William berjalan ke arahnya.
Baju rapih, rambut yang klimis dan sedikit panjang, tidak menghalangi tekad yang akan di buatnya. Kedua tangan William terbuka lebar, ia menjatuhkan tubuhnya mendekati kelinci putih bersih bermata merah. “Dapat.” Ucapnya penuh semangat memeluk tubuh hewan berkaki 4 tersebut.
Kelinci putih, bersih, bermata merah hanya diam di dalam dekapan tubuh kekar William. Tidak seperti binatang pada umumnya, menggeliat dan berusaha lepas dari genggaman manusia.
William bingung melihat kelinci yang hanya diam, tidak berkutik sama sekali. Kedua tangan William menjunjung tinggi kelinci putih, kedua alis William menyatu menatap leher kelinci yang di hiasi kalung emas. William mendekatkan arah pandangnya menatap kalung emas yang melingkar di leher kelinci putih.
“Kalung emas yang indah, tapi bagaimana bisa kelinci mendapatkan kalung seperti ini.”
William terus memandang kalung yang di kenakan kelinci putih. Kalung emas yang melingkar di leher kelinci putih bersinar, sinarnya menyilaukan kedua mata William membuat kedua tangan William reflex melepaskan kelinci putih.
“Sinar apa ini.” Keluh William, menyilahkan kedua tangan menutup sinar terang yang menyilaukan kedua matanya.
Kelinci putih bermata merah berubah menjadi seorang wanita cantik, berbaju tipis, panjang, mempunyai belahan di dua sudut kanan dan kiri sampai sepinggang.
“Sinar yang bisa membutakan mata dan hati kamu saat menatap kecantikanku.” Sahut kelinci putih yang berubah menjadi wanita cantik.
William mengerutkan dahinya, kedua mata menatap tajam wanita tersebut. “Iblis.” Tandas William.
“Ia. Iblis cantik dari kelinci, panggil saja aku wanita kelinci.” Sahut wanita kelinci berjalan mendekati William.
Sembari berbalik badan, William berkata. “Aku tidak punya banyak waktu dengan Iblis rendahan seperti kamu. Nyesel aku menatap kamu saat berubah menjadi binatang.”
William melangkah pergi mendekati mobil miliknya.
“Hahahaha.” Terdengar suara tawa yang begitu sangat familiar.
“Suara tawa ini seperti suara tawa…”
__ADS_1
William menolehkan wajahnya, kedua matanya membulat saat apa yang ada di dalam pikiran William benar. Suara tertawa itu adalah suara pria berjubah hitam, tongkat panjang yang di ujung tongkat terdapat hiasan Kristal berwarna merah.
William berbalik badan, menyimpan wajah terkejut di balik wajah yang kekar agar tidak terlihat lemah. “Ada perlu apa kamu repot-repot datang menemui aku secara langsung.” William yang menatap ke arah pria berjubah hitam, tongkat panjang yang di ujung tongkat berhias Kristal merah melihat ke kanan/kiri. “Kemana wanita kelinci tadi.”
Woosh!!
Pria berjubah hitam, tongkat panjang yang berhias Kristal merah melayang ke hadapan William. “Kenapa mencari wanita kelinci tadi? Apa kamu ingin menukarnya dengan gadis Vampire yang saat ini sedang bersama kamu.”
William mengerutkan dahinya, William berdiri di samping mobil miliknya, mengulurkan tangan kanan meraih pedang yang berada di dalam mobil miliknya. William mengarahkan pedang kesayangannya. “Hentikan omong kosong yang baru saja kau ucapkan, Martinus.” Tandas William nada tinggi.
Wajah Martinus berubah menjadi merah menyala, tangannya bergerak cepat membuka telapak tangan kiri tanpa menyentuh William. Martinus membuat William bergerak kebelakang.
Wuuushh!
Terdengar suara angin kencang seperti hendak menerbangkan William.
Mendapat tiupan kencang dari hempasan tangan Martinus. Kedua tangan William menggenggam erat gagang pedang miliknya, menancapkan di dalam tanah sedalam mungkin seperti bertumpu pada pedang yang menyatu di atas tanah.
Wajah, tangan William bergetar menatap Martinus. Tatapan yang sangat menusuk bagi setiap lawan yang bertatapan langsung dengan William.
“Aku jadi kasihan sama Raja Iblis seperti kamu, mencari Vampire kecil yang sampai sekarang belum juga kamu temukan. Saat aku mendengar keluhan kamu, aku harus menangis atau aku harus berpura-pura tidak mengetahuinya.”
William yang merasa jenjang lehernya terasa ada yang mencengkram kuat, berusaha melepas diri tapi tidak bisa. Kedua tangan William berusaha memegang jenjang leher yang menegang. Kedua mata William menatap tajam wajah Martinus sembari berkata terbata-bata. “Terkadang aku merasa sedih melihat orang yang hanya bisa bertarung memakai sihir sebagai titik tumpu terkuat di hidupnya.”
Martinus tidak memperdulikan wajah pucat William seperti kehabisan nafas. Martinus semakin memperkuat sihirnya untuk mencengkeram jenjang leher William.
“Raja Vampire telah berjanji untuk memberikan keturunan darah murni pertama yang dimilikinya untukku. Meski aku tahu darahnya tidak sepenuhnya murni dari darah keturunan Ratu Vampire, melainkan anak dari selir campuran darah Vampire dan darah dari wanita Ratu penyihir jahat. Justru darah yang bercampur dengan keturunan wanita penyihir itu sangat bermanfaat bagi kepentingan yang akan aku buat.”
William yang hampir kehabisan nafas, menggerakkan tangannya mencengkram erat pedang yang ada tangan kanannya. Kedua mata yang berubah menjadi hitam pekat menatap tajam wajah Martinus. “Jika dari awal kamu tahu salah satu selir Raja Vampire mempunyai keturunan dari campuran penyihir, kenapa kamu tidak mengambil dan membawanya pergi saat pertama kali gadis itu dilahirkan ke dunia ini.”
Whooossshh!
William dengan cepat melayangkan pedang ke arah tubuh Martinus berjarak 1 langkah di hadapannya.
Zraakk!
Martinus yang terkena sabetan pedang William segera menyingkir beberapa langkat dari William. Suasana semakin memanas, wajah William dan Martinus terlihat serius memandang satu sama lain.
William menaikkan sudut bibir atasnya menahan amarah yang semakin memuncak. William berlari ke arah Martinus. “Tidak ada Vampire kecil yang terlahir di dunia ini dari campuran wanita penyihir jahat.”
Syut!
__ADS_1
Syut!
William mengayunkan pedangnya penuh dengan rasa amarah. Kenan/kiri. William terus mengejar Martinus berpindah tempat seperti hantu yang ketakutan saat di lawan oleh musuhnya sendiri.
Martinus hilang dari hadapan William, membuat William semakin geram tersulut api amarah. William menatap sekeliling tempat. “Keluar kau, Martinus.” William menepuk dadanya dengan kuat.
Buqh!
Buqh!
“Hadapin aku secara utuh, jangan seperti pengecut yang beraninya bersembunyi.” William mengepal tangan kirinya. “Kau pikir kau siapa? Sang penguasa alam? Yang mampu menciptakan dan menghidupkan seseorang yang sudah tiada? Mengorbankan gadis yang tidak bersalah hanya untuk menghidupkan mayat. Kamu pikir aku tidak tahu rencana busuk kamu.” Teriak William.
“Ia. Aku adalah Raja Iblis yang kekal abadi, semua manusia lemah menyembahku. Aku tidak pernah mengorbankan siapa pun untuk memenuhi keinginanku, merekalah yang terus memaksaku. Meminta hasil dari apa yang mereka berikan kepadaku, semua itu harus ada timbal baliknya. Huaahaha.” Suara Martinus menggema di udara, membuat William semakin geram.
Whoooosh!
Jleb!
Whooosshh!
Jleb!
Whoosssshh!!
Jleb!
Dari arah belakang William melintas cahaya merah, menembus dada kiri William sebanyak tiga kali.
Bibir William mengeluarkan darah. “Uhuk!” Kedua kaki William melemah, tangan kanan memegang jantung, darah mengalir cukup kencang membuat William tersungkur bersimbah darah. “Beraninya menyerang secara sembunyi-sembunyi.” Ucap William melemah.
Martinus berdiri di samping William yang semakin melemah, tongkat panjang berhiaskan Kristal menekan punggung kanan William. “Jangan berusaha menceramahi aku, aku bisa menghabisi siapa saja yang aku inginkan tanpa menyentuh seperti apa yang aku lakukan saat ini ke kamu.”
Martinus menekan tongkatnya, luka yang di dapat William terasa perih saat tongkat panjang milik Martinus di tekan di bagian punggung kanan miliknya.
“Akh. Aku tidak akan pernah takut, Iblis jelek.”
“Hahaha.” Martinus tertawa keji. “Luka yang kamu dapat tidak akan mudah di obatin, kamu akan merasakan antara hidup dan mati mulai saat ini. Jika kau terus bertahan untuk melindungi gadis Vampire yang seharusnya aku miliki, maka kamu akan merasakan hidup seperti ini berulang kali. Hingga aku mendapatkan apa yang seharusnya menjadi milikku.”
“Aku tekankan sekali lagi, gadis Vampire itu tidak ada. Selama aku masih hidup di dunia ini, aku tidak akan membiarkan kamu berbuat seenaknya kepada siapa pun.” Sahut William yang memulai melemah kehabisan darah yang terus mengalir dari tubuhnya.
...Bersambung.......
__ADS_1