
Part 22
______
Ellard berbalik badan menatap wajah Diana, “Bukan urusan kamu.” ketus Ellard.
Diana merangkul tangan Ellard, “Ingat. Kamu tidak boleh jatuh cinta dengan Klan lain termasuk gadis Vampir itu selain aku, apa kamu sudah lupa jika kita sudah di jodohkan dari kecil.” Ucap Diana dengan wajah yang sedikit memelas.
Ellard melepaskan perlahan tangan Diana, “Perjodohan. Aku sudah lupa, dan aku akan menikah dengan orang yang aku sukai.” Ellard berjalan pergi meninggalkan Diana, Sebastian, Robert dan Mulan.
Sebastian memegang tangan Diana, “Kamu tidak perlu bersedih seperti itu, aku akan selalu ada buat kamu Diana.” Ucap Sebastian dengan penuh percaya diri.
Diana melipat kedua tangannya dan di letakkan di dada, “Apa kamu mencintaiku. Jika kamu mencintaiku, aku ingin kamu buktikan saat Ulang tahun Ellard.” Ucap Diana dengan sudut bibir atas yang menaik.
Sebastian yang masih berdiri di belakang Diana tersenyum, “Baiklah. Aku akan melakukan apa pun buat kamu.” sahut Sebastian yang meletakkan dagunya di atas bahu Diana dengan kedua tangan yang melingkar memeluk tubuh Diana dari belakang.
...Tepian Danau....
...❇️...
Arista dan Anggun telah duduk di tepian Danau yang tak jauh dari mes khusus wanita dan sekolah mereka.
Arista yang sedang meluruskan kedua kakinya dengan kedua tangan yang di sanggah ke belakang menatap ke arah Danau yang sangat indah dengan burung-burung yang berterbangan di atas danau.
Sedangkan Anggun menekuk kedua kakinya dan melingkarkan kedua tangannya di kaki yang sedang di tekuk.
“Arista. Apakah kamu tidak tahu, jika kita para Monster harus hidup mandiri di saat umur kita mulai beranjak 8 tahun?” tanya Anggun menolehkan wajahnya menatap Arista yang masih menata lurus ke arah Danau.
Arista menggelengkan kepalanya, “Tidak. Tapi aku pernah mendengarkan itu dari Paman William.” Sahutnya dengan tatapan yang masih sama.
Anggun mendekat, “Wah. Apa saja yang di bilang tuan William saat kau tinggal bersamanya, pasti dia sangat keren dengan tubuh nya yang kekar. Wajahnya yang tetap awet muda dan otot-otot tubuhnya itu yang selalu aku mimpikan ketika aku berjumpa dengan tuan William.” Ucap Anggun yang merasakan tubuhnya sedang jatuh cinta.
Arista menaikkan alis kananya menatap Anggun dengan kedua pipi yang memerah.
Berjumpa katanya.
Bagaimana bisa Paman berjumpa dengan gadis sepertiku di luar sana, tanpa sepengetahuanku.
Apa saat ini dia juga sedang berkencan dengan wanita lain di sana.
Karena wanita dewasa dengan kedua gunung kenyal itu sangat suka menggoda.
Bodohnya aku.
__ADS_1
Kenapa saat sebelum pergi ke sini, aku tidak melihat bentuk miliknya.
Gumam Arista di dalam hati dengan kedua tangan yang di kepal kuat sedangkan matanya menatap tajam seperti hendak menerkam mangsa menatap wajah Anggun.
“Kamu kenapa?” tanya Anggun dengan wajah yang panik.
Arista mengubah ekspresi wajahnya, “Jika aku boleh tahu, mulai kapan kamu bertemu dengan Paman William?” tanya Arista dengan nada yang sedikit lembut.
Anggun menggaruk kepala belakangnya, “Saat aku berusia 10 tahun.” Jawabnya dengan kedua pipi yang mulai memerah kembali.
Wajah Arista kembali suram.
Saat usianya 10 tahun.
Bukannya saat seusia itu aku juga sudah bertemu dengan Paman.
Aku harus menggali lebih dalam lagi.
Gumam Arista di dalam hati.
Arista kembali bertanya, “Jika aku boleh tahu, di mana dan bagaimana kamu berjumpa dengan Paman William.”
Anggun berdiri sambil mengingat kejadian saat dia berusia 10 tahun dan saat pertama kali dia berjumpa dengan William.
Arista mengerutkan dahinya.
Tampan apanya?
Para wanita saja yang tidak tahu jika Paman William itu sangat menjengkelkan.
Gumam Arista di dalam hati.
Saat Arista dan Anggun telah berbincang-bincang, Ellard datang dan duduk di samping Arista dengan kedua kaki yang tekuk.
“Aku minta maaf.” Ellard mengulurkan tangannya menghadap Arista.
Arista tertegun, “Eh!”
Sedangkan Anggun yang masi berkhayal tentang William, spontan berlari mendekati Arista.
“Coba katakan sekali lagi.” Tanya Anggun dengan suara khas yang ia miliki.
Ellard kembali berkata, “Dinda Arista. Aku ingin kamu memaafkan aku dan teman-temanku atas kejadian kemarin.”
__ADS_1
Anggun mendekati telinga Arista, “Jangan tertipu. Ellard pewaris tunggal sekolah ini mana mungkin bisa seramah ini, apa lagi langsung meminta maaf kepada orang yang telah di sakitinya.” Bisik Anggun dengan suara yang khas.
“Sudah kamu tenang saja, jika dia berbohong aku akan menumbangkan sekolah ini.” Sahut Arista dengan kuat.
Ellard tersenyum, “Bagaimana? Apakah kamu mau memaafkan aku.” tanyanya kembali.
Arista menerima uluran tangan Ellard, “Baik. Aku kasih kamu kesempatan kedua untuk memperbaikinya.” Sahut Arista dengan santai.
Anggun hanya menyikut tangan Arista.
Arista menepis sikutan Anggun dengan wajah yang tersenyum menatap wajah Ellard.
Ellard berdiri dengan tangan kanan yang mengeluarkan sebuah kartu undangan berwarna gold dari saku kemeja bajunya.
“Minggu ini aku akan mengadakan pesta ulang tahun. Aku harap kamu dan teman kamu datang ya?” ucap Ellard sambil mengulurkan kartu undangan yang ia pegang ke arah Arista.
Arista mengangguk dengan tangan kanan yang mengambil kartu undangan tersebut.
Ellard berbalik badan, “Aku tunggu kehadiran kamu.” dengan senyum yang terpancar dari bibirnya. Setelah itu Ellard tak menolehkan wajahnya, ia terus melangkahkan kaki kanannya meninggalkan tepian Danau.
Anggun menarik salah satu kartu undangan yang di pegang Arista, “Kamu jangan tertipu atas kebaikannya, siapa tahu ada maksud tersembunyi yang tersimpan di balik senyumnya itu.” ucap Anggun yang terlihat cemas.
Arista berdiri, “Apa pun yang akan terjadi, aku tidak akan takut. Jika mereka berani macam-macam maka aku tidak akan tinggal diam.” Arista merenggangkan tubuhnya, “Sebaiknya kita pulang, karena aku ingin berendam di air yang hangat.”
Anggun melompat dengan tangan kanan yang memegang bahu Arista, “Apa kamu ingin pergi ke pemandian air panas yang berada di belakang mes khusus wanita.” tanya Anggun dengan suara yang khas dan wajah yang sangat meyakinkan.
Arista menolehkan wajahnya menatap wajah Anggun, “Apa ada?” tanyanya.
Anggun menganggukan kepalanya sambil tersenyum manis.
Anggun dan Arista melangkahkan kedua kaki mereka secara berirama meninggalkan tepian danau yang sangat indah.
Di balik semak-semak ada sesosok bayangan yang ternyata mengintip mereka. Tidak tahu bayangan siapa yang telah bersembunyi di balik semak-semak belukar yang sangat gelap.
Yang terlihat hanya gigi yang mengkilap saat tersenyum di balik kegelapan semak belukar yang berada di dekat tepian Danau.
...Bersambung.......
...**Terimakasih sudah selalu mampir di cerita saya....
...Sehat selalu buat para pembaca dan dilancarkan rezekinya....
...Jangan lupa Tinggalkan jejak, agar hati ini merasa senang dan terus bercerita. 😘😘**...
__ADS_1