
Part 51
_______
...Di depan Gereja Tua....
William berdiri di depan Gereja tua, kedua matanya memandang sekeliling luar Gereja tua. Sudut bibir atasnya menaik, seolah ia mengetahui apa yang ada di dalam Gereja tua tersebut.
Tap!
Tap!
William melangkah mendekati Gereja tua, langkah kakinya terhenti tepat di depan pintu Gereja tua. Pandangan William siaga, tangan kanannya mengulur panjang membuka pintu Gereja tua sedangkan tangan kirinya bersembunyi di belakang tubuhnya yang kekar memegang pisau belati miliknya.
Nyit!
Suara pintu Gereja terbuka, William melangkah dnegan kaki kanan memasuki dalam Gereja. Kedua matanya tetap siaga melihat sekeliling tempat menatap susunan rapih bangku di atas meja Gereja tua yang terbengkalai yang di penuhi sarang laba-laba.
Tap!
Tap!
Tap!
Terdengar suara langkah kaki sendal wanita datang mendekati William.
William yang masih berjalan menghentikan langkah kakinya. Tangan kirinya mengepal erat pisau belati yang bersembunyi di belakang tubuh kekarnya.
“Ada tamu rupanya.” Terdengar suara wanita yang telah berdiri tak jauh di depan William.
William mengerutkan dahinya, dan tetap berusaha tenang. “Lilith.” Gumamnya pelan.
...Sedikit informasi tentang Lilith versi Author.🤗...
...Lilith adalah wanita misterius dan berbahaya sepanjang peradaban manusia. Lilith di gambarkan sebagai roh gelap dengan hasrat yang tidak terkendali dan berbahaya. Lilith dikatakan telah membuahi dirinya sendiri dengan mengambil cairan pria untuk menciptakan setan. Dia diyakini sebagai ibu dari ratusan setan....
...Hanya itu saja informasi tentang Lilith yang bisa Author jabarkan, kalau terlalu panjang nanti beda ceritanya dan itu Versi Author sendiri. Kalau Versi orang lain mungkin ada sedikit berbeda. ☺😊...
...Ilustrasi Lilith.☺☺😊...
Lilith terbang mendekati William, jari-jemari kuku panjang yang hitam membelai lembut wajah William. “Sudah lama tidak di kunjungi pria tampan dan gagah seperti kamu. Aku jadi penasaran gimana kekuatan kamu saat melawan diriku.”
“Menyingkir kau dari hadapanku.” Sentak William sambil mendorong tubuh Lilith.
Lilith melayang terbang dengan kedua sayap hitam yang menyatu di punggungnya. “Hahaha.” Terdengar suara tawa keji terlontar dari bibir Lilith. Lilith mengeluarkan dua pedang, ia menatap wajah William dengan sangat serius. “Lumayan. Kalau begitu mari kita bertaruh, jika aku menang, kamu akan menjadi budakku atau kamu akan menjadi santapan sarapan menjelang pagi.” Lilith menjulurkan lidahnya seperti sedang menjilat sekitaran bibirnya.
“Aku tidak akan pernah menjadi budak dari wanita, baik itu manusia, Monster, Iblis bahkan wanita yang lebih tinggi derajatnya dariku. Aku adalah Aku, tidak ada yang bisa menjadikanku seperti apa yang orang lain inginkan. Sebelum dia menjadikan aku pesuruh atau semacamnya, aku yang akan terlebih dahulu menjadikan apa yang ia mau untuk diriku sendiri.” sahut William dengan nada datar.
William mengeluarkan pedang dari balik jubah panjangnya, tangan kanan memegang pedang, sedangkan tangan kiri memegang pisau belati.
“Semua Iblis dan Monster wanita itu cantik dan sangat ingin aku ajak tidur. Tapi sayang, kalian hanya penikmat semata yang bisa merusak, menghancurkan dan menyakiti hati orang.” Ucap William menekan perkataannya, dengan kedua kaki yang sedang bersiap memasang kuda-kuda untuk siap menyerang.
Lilith mengerutkan dahinya, kedua tangan mengepal erat pedang yang ia genggam. “Menarik. Bukan hanya tubuh saja yang kekar, ucapanmu juga sangat tegas membuat aku ingin tahu seberapa hebat kekuatan kamu.”
__ADS_1
Lilith terbang mendekati William, tangan kanan yang memegang pedang mengulur panjang seperti hendak menancapkan ke tubuh depan William.
Lilith membulatkan kedua bola matanya berusaha menekan pedang yang hampir sampai di titik sasaran bagian tubuh William. “Sungguh menarik.” Gumam Lilith yang berusaha sekuat tenaga menancapkan pedang yang di tangkis oleh pedang William
“Kamu juga lumayan.” Sahut William yang menahan pedang Lilith.
Lilith yang terbang mundur jauh ke belakang, “Kalau begitu, mari kita mulai lagi.” Ucap Lilith terbang dengan cepat ke arah William.
Lilith melayangkan kedua pedang yang ia pegang.
Srakk!
Sreeekk!!
Srraaakk!!
William yang mendapat serangan membabi buta, hanya bisa menghindar. William menangkis ke kanan dan ke kiri.
Ting!
Ting!
Swwiisshh!!
William bergerak cepat memutar tubuhnya.
Wajah Lilith berubah menjadi suram dan penuh amarah melihat kekuatannya bisa ditandingi oleh William. Dengan tarikan nafas yang bersatu dengan amarah, serta dahi yang mengerut Lilith berkata “Siapa kamu.”
William yang terlihat lelah hanya tersenyum tipis memandang wajah Lilith yang terlihat sangat kesal kepadanya. “Sungguh menyedihkan, Iblis secantik kamu tidak tahu siapa aku. Mau mengajak aku tidur dan menjadikan aku budak tapi tidak tahu siapa aku, sungguh Iblis yang buruk.”
William menghalau pedang Lilith yang selalu hampir menyentuhnya dirinya, William bergerak cepat ke kanan dan ke kiri.
Ting!
Ting!
Ting!
“Aku tidak akan membiarkan kau selamat dan mengambil mata air suci. Kini kamu akan aku buat berakhir dengan sia-sia karena telah melawanku dan kamu tidak akan bisa mengambil” Ucap Lilith seperti menjatuhkan mental William.
Nafas William menggebu-gebu, kedua matanya berubah menjadi hitam pekat menatap tajam wajah Lilith. “Ucapan kamu hanya cocok buat diri kamu sendiri. Iblis.” William berlari kencang, ujung kaki kanannya di tekan membuat ia terbang ke arah Lilith dengan kedua tangan yang masing-masing memegang senjata andalannya.
Sraak!
Sraak!
William melayangkan pedang ke sayap Lilith, dan membuatnya jatuh di atas tanah dengan sisa potongan sayap yang masih melekat mengeluarkan darah menetes jatuh di atas lantai Gereja tua.
“Akh! Berani sekali kamu memotong kedua sayapku.” Ucap perih Lilith yang menahan amarah serta rasa perih akibat sabetan pedang yang William layangkan kepadanya.
Sreet!!
Sreet!!
William berjalan sambil menyeret pedang yang berlumuran darah. Kedua kakinya terhenti di hadapan Lilith yang sedang melemah, William berjongkok meletakkan pedang yang dipegangnya. William meraih rambut Lilith dan mencengkeram sangat kuat sehingga membuat Lilith mendongakkan kepalanya menatap wajah William.
__ADS_1
“Jangan merasa sombong dengan apa yang kamu miliki. Sekarang pilihan kamu ada 2 hidup di dunia tanpa sayap, atau kembali ke Neraka.”
Lilith menggerakkan bibirnya merasa tidak senang dengan apa yang baru saja William katakan. Dengan rambut yang masih di cengkram kuat oleh William, tangan Lilith bergerak berlahan mengambil pedang miliknya dan menyayat lengan William.
Sraakk!!
“Jika aku berakhir di Neraka, maka aku akan membawa kamu pergi bersamaku.” Ucap Lilith dengan tatapan menusuk.
Tes!
Tes!
Bekas sayatan yang di buat Lilith mengeluarkan darah, yang mengalir, menetes jatuh tepat di atas lantai. Walau tangan sudah tersayat pedang yang di buat Lilith. William tidak getar, ia tetap mencengkram erat rambut Lilith, sudut bibir William menaik, “Aku sudah memberi kamu sebuah penawaran, tapi kamu tidak mau. Kalau begitu aku akan membuat kamu tenang dan damai kembali ke Neraka.” Ucap William menggigit giginya.
Jluubbb!!!!
William menancapkan pisau belati tepat di jenjang leher Lilith. Membuat darah mengalir di tangan William, merasa lawan sudah mulai lemah. William menarik pisau belati dari jenjang leher Lilith, sehingga darahnya menetes di atas lantai dan di atas pangkuan Lilith.
Kedua mata Lilith menatap tajam wajah William, dengan kedua tangan yang menutupi lubang bekas pisau belati milik William yang meninggalkan bekas di jenjang leher Lilith.
“Aku telah salah menilai kamu.” ucap Lilith terputus-putus, dengan tubuh yang terkulai lemas dan jatuh tergelatak di atas lantai.
William berdiri, tangannya kirinya meraih sapu tangan yang selalu tersimpan di dalam saku pakaian yang ia kenakan. William mengikat kuat luka yang di berikan Lilith.
“Kenapa kalian selalu menggangguku, apa kalian tidak sayang dengan tubuh kalian yang bagus harus segera berakhir di tanganku. Sudah mau mati, masih sempat menggoreskan luka di lenganku.” Keluh William sebelum menatap bangkai wanita Lilith.
.
.
.
.
William berdiri, menatap ke dalam lubang sumur yang terdapat di halaman belakang Gereja tua. Sangking jernih dan beningnya mata air suci di dalam sumur Gereja tua, William dapat melihat bayangan dirinya yang terlihat kacau akibat beberapa pertikaian yang baru saja terjadi.
“Ini semua demi kamu.” gumam William memancarkan senyum penuh kehangatan menatap bayangan yang memantul di jernihnya mata air suci.
William meraih katrol sumur yang sudah terlihat tua dan sedikit berkarat. Setelah William mendapatkan sumber mata air yang berada di dalam sumur, William mengulurkan tangan kanannya mengambil 1 botol kaca yang sudah di sediakan di dalam saku jubah panjang miliknya.
William menuangkan sedikit air yang sudah ia timba, memasukkannya ke dalam wadah botol kecil. Setelah terisi penuh William berdiri dan memasukkan wadah botol kaca kecil kembali ke dalam saku jubah miliknya.
“Minumlah sedikit mata air suci dari sumur itu, sebelum kamu melangkah pergi meninggalkan Gereja tua.” Ucap seorang pria yang berdiri di belakang tubuh William.
William berbalik, “Siapa kamu.”
Pria tersebut melemparkan senyum menatap wajah William yang terlihat siaga. “Kamu tidak perlu tahu siapa aku. Aku ke sini hanya ingin mengingatkan kamu tentang apa yang akan kamu hadapin di akhir perjuangan kamu. Mungkin untuk saat ini kamu akan menang melawan makhluk mana pun, tapi akan tiba saatnya kamu kalah dan berakhir tragis di tangannya.
Minumlah seteguk sumber mata air suci yang terdapat dari sumur itu, karena khasiatnya akan sangat bermanfaat kepada kamu. Jika kamu ingin selalu bersama dengan gadis remaja yang sedang tumbuh menjadi gadis dewasa.”
Wwuusshhh!!
Angin bertiup kencang bersamaan kepergian pria misterius.
William tertegun menatap kepergian pria yang baru saja berbicara kepadanya.
__ADS_1
...Bersambung.......