Vampire Kecil Milik Tuan William.

Vampire Kecil Milik Tuan William.
William menggoda Esme.


__ADS_3

Part 32


_________


William, Arista, Anggun dan Esme berdiri di halaman depan mes kamar khusus tamu.


Esme menggandeng tangan William, “Kamu hari ini sangat tampan.” Ucap Esme yang terlihat genit di depan Arista dan Anggun.


Wajah Arista mendadak suram menatap wajah William yang membiarkan Esme menggandeng tangannya. Arista memalingkan wajahnya.


Melihat wajah Arista yang terlihat berbeda, William tersenyum licik. “Apakah benar aku sangat tampan.” Tanya William mendekatkan wajahnya.


Esme memalingkan wajahnya yang memerah, “Aahhh. Jangan menatapku seperti itu, malu di lihat anak kecil.” Sahut Esme yang bersalah sangka kepada William.


Arista semakin menekuk wajahnya dengan bibir yang di gerak-gerakan seperti tidak senang melihat kelakuan William yang menggoda Esme.


Arista berbalik badan, “Anggun mari kita pulang saja, aku tidak mau kita di sebut pengganggu kencan seseorang.” Ajak Arista sambil melangkah kaki kanannya.


Anggun menolehkan wajahnya menatap William dan Esme, “Apa kamu tidak rindu dengan Paman kamu, kita hanya bisa pulang saat kita libur kenaikan kelas.” Ucap Anggun menatap wajah Arista.


Langkah kaki Arista terhenti. “Tidak.” Sahutnya singkat melanjutkan langkah kakinya meninggalkan William.


William tersenyum menatap kepergian Arista yang sedang marah kepadanya.


Akhirnya aku melihat gadis remaja ini marah lagi kepadaku.


Aku tidak perlu mengejarnya, nanti jika dia tidak tahan pasti dia akan berlari memelukku sambil berkata. “Paman kamu tidak boleh dekat-dekat dengan wanita lain.”


Gumam William di dalam hati membayangkan sikap cemburu Arista dengan wajah imutnya.


Esme berbalik badan dengan tangan yang menggandeng tangan William, “Mari saya antar ke kamar tamu tuan William.” Ajak Esme.


William dan Esme berjalan melangkahkan kedua kaki mereka secara bersamaan menuju kamar tamu yang tak jauh dari kamar khusus mes wanita dan pria.


Baru tiga langkah berjalan Arista berlari kencang sambil berteriak, “Paman. Kamu tidak boleh mendekati wanita lain.” teriak Arista yang terus berlari, ia menjatuhkan tubuhnya dengan kedua tangan yang memeluk tubuh William dari belakang.


Kedua kaki William terhenti dengan senyum yang terukir manis di bibirnya.

__ADS_1


Esme juga ikut terhenti dengan bibir tersenyum manis melihat tingkah Arista yang seperti anak kecil.


“Arista. Kamu kenapa balik lagi, bukannya kamu tadi marah dengan tuan William.”


Arista berjalan sedikit ke samping William, “Sebenarnya aku sangat rindu dengan Paman.”


Arista menarik tangan Esme, “Esme. Izinkan aku malam ini tidur dengan Paman William ya?” Arista memelas dengan wajah yang terlihat imut.


Esme memegang dadanya, “Aaahh. Wajah yang sangat imut dan polos.” Esme memegang dagu Arista, “Sebenarnya tidak boleh, tapi karena kamu sangat rindu dengan tuan William maka saya akan mengizinkan kamu untuk tinggal satu malam dengan tuan William.”


William memegang tangan Arista, “Kamu tidak boleh tidur satu kamar denganku, apa kamu tidak sadar jika kamu bukan anak kecil lagi kamu ini sudah tumbuh menjadi gadis remaja.” William berbalik badan menarik tangan Arista, “Sebaiknya aku antar kamu kembali ke mes khusus wanita.”


Arista menahan tangan William, “Aku bilang tidak mau. Apa Paman tidak merindukanku, apa Paman beneran tidak ingin melihatku lagi sehingga menyuruh untuk kembali ke mes khusus wanita. Apa sudah ada wanita lain yang mengisi hati Paman saat aku bersekolah di sini.” Arista berkata dengan nada tinggi dengan kedua mata yang basah menahan air mata yang sudah tidak bisa di bendung nya lagi.


William berjalan sedikit menghapus jejak air mata yang membasahi pipi dan kedua mata indah Arista.


“Gadis nakal bukan itu maksud Paman…”


Esme memotong pembicaraan William, “Sudahlah tuan William, biarkan dia bermanja dengan kamu saat kamu masih berada di sini. Mungkin ada sesuatu hal yang ingin dia bicarakan.” Esme memegang tangan Arista, “Arista yang tangguh, mari saya antar kamu ke kamar tuan William.”


Esme memegang tangan Arista dan mengajaknya pergi menuju kamar khusus untuk tamu. Sedangkan William hanya mampu menepuk dahinya.


...🌾🌾...


Esme membuka pintu kamar tamu yang terlihat cukup besar dan mewah untuk istirahat satu orang tamu. Esme memegang tangan Arista.


“Ini kamar tidur buat Paman kamu dan kamu saya izinkan tidur khusus untuk malam ini, tapi kamu harus ingat tidak boleh berisik dan mengganggu tamu yang yang lain.” ucap Esme memberitahu Arista.


Wajah Arista berubah menjadi sangat senang, ia menganggukan kepala. Ia berbalik badan melangkahkan kaki kanannya memasuki kamar tamu.


William memegang tangan Esme, “Apa kamu tidak waras, kami tidur dalam satu kamar malam ini.” Ucap William sambil berbisik.


Esme menarik tangan William menjauh sedikit dari kamar Arista. Sejenak ia menatap pintu kamar Arista yang seolah sedang waspada apakah Arista akan membuka pintu dan keluar. Esme menarik nafas panjang menatap wajah William.


“Aku cuman mau kasih tahu kamu, jika Vampir kecil kamu ternyata memiliki kekuatan yang tersembunyi. Apa kamu tidak menyadarinya jika semua orang tahu siapa dia ini akan sangat bahaya.” Bisik Esme seakan ingin memberitahu tentang kejadian Arista yang melawan Spider-hybrid human di dalam hutan.


William menarik tangan Esme menuju lobi.

__ADS_1


“Apa yang sebenarnya terjadi dan kenapa dia menunjukan sisi lain yang telah aku tutupi sejak lama. Jika terus berlanjut akan sangat bahaya untuk dirinya sendiri.” bisik William dengan wajah yang terlihat cemas.


Esme mengerutkan dahinya sambil mengingat kembali kejadian yang terjadi di dalam hutan saat mencari Spider-hybrid human.


“ Sebelumnya aku minta maaf. Beberapa hari yang lalu aku membawa mereka untuk tugas di alam bebas, sebagai wali kelas yang baik aku menyuruh para muridku untuk mencari Spider-hybrid human. Aku pikir itu hanya mitos belakang tenyata aku keliru, Monster itu ternyata ada di Dunia ini dan dia bersembunyi di hutan.”


“Tim Arista memasuki hutan secara perlahan dan penuh waspada. Aku memasukkan Arista bersama tim Ellard dan Diana, karena aku merasa cemas aku terus mengikuti Arista secara diam-diam. Mereka terus berjalan dan berjalan hingga pada akhirnya gadis yang bernama Diana membuat keributan di dalam hutan membuat Spider-hybrid human keluar dari sarangnya.”


“Disitu aku sangat kuatir karena Spider-hybrid human menyerang habis-habisan tim Arista. Aku melihat Arista hanya diam berdiri seperti orang linglung menatap Spider-hybrid human yang menyerang secara membabi buta. Saat itu juga aku ingin bertindak, aku mencoba keluar dari balik pohon ingin membantu tim Arista. Namun Arista telah berubah menjadi Monster Vampir yang sangat kejam. Aura jahat terpancar dari tubuhnya, ia menghabisi Monster tersebut tanpa ampun.”


William menarik tangan Esme, “Lain kali jangan berbuat tugas seperti itu lagi, jangan mengundang banyak perhatian yang membuat Arista mengulang kembali perbuatannya.”


William menatap wajah Esme sangat serius.


“Aku harap dia mampu mengendalikan amarahnya dan kekuatannya dengan benar tapi tidak dengan cara umum seperti itu, jika ada mahluk jahat yang mengetahui kekuatan dari sisi dirinya yang lain dia bakal menjadi gadis yang jahat. Dan aku sangat berharap kamu dapat membimbing Arista dengan benar disini.” Pinta William cukup serius.


Esme menganggukan kepalanya, “Baik. Kamu tenang saja.” Esme mendekatkan wajahnya di telinga William.


William membulatkan kedua bola matanya memandang Arista yang tiba-tiba sudah berdiri di hadapannya.


“Arista.” Ucap William dengan kedua tangan yang mendorong pelan badan Esme.


Arista menatap bibir William, ia beralih pandang menatap bibir Esme. Arista berjalan mendekati William, “Apa Paman sedang melayangkan kecupan di bibir Esme.” Jari telunjuk kanan Arista menyentuh bibir yang belum pernah menyentuh bibir wanita lain.


Ctak!


William menyelentik dahi Arista, “Gadis nakal apa yang sedang kamu pikirkan.” Bentak William dengan kedua pipi yang memerah.


Esme hanya tersenyum melihat Paman dan gadis remaja berkelahi di depannya.


William menggendong Arista, “Esme, aku pamit masuk kamar dulu. Mungkin gadis nakal yang berada di dalam gendonganku sedang mengantuk jadi dia terus berpikir buruk tentang diriku.” William pamit ia melangkahkan kedua kakinya berjalan menuju kamar tamu.


Arista menggeliat di dalam gendongan William, “Tidak. Aku belum mengantuk Paman, dan aku juga tidak salah lihat kalau wajah Paman berdekatan dengan Esme. Kalau bukan sedang berciuman apa lagi.”


William terus melangkahkan kedua kakinya seperti tidak menghiraukan amukan Arista yang seperti anak kecil.


...Bersambung.......

__ADS_1


...**Terimakasih atas waktu berkunjung menyempatkan diri untuk membaca cerita saya. 🤗🤗...


...Saya doa kan buat kita semua sehat selalu dan di limpahkan Rezekinya. ☺**...


__ADS_2