Vanilarea

Vanilarea
Marah


__ADS_3

Hari ini Vanila mulai masuk sekolah, setelah beristirahat selama dua hari. Jenifer sangat senang akhirnya teman semejanya datang. Karena gara-gara Vanila istirahat dan tidak masuk sekolah, membuat Jenifer tidak punya teman untuk di usilin.


"La.. aku nanti main ke rumah kamu ya? please..." Kata Jenifer memohon dengan wajah yang di melas-melasin.


"Maaf Jeje sayang, bukannya aku nggak mau. Tapi aku nggak bisa. Dan maaf banget aku nggak bisa kasi tahu alasannya." Kata Vanila


"Aku kan pengen banget loh La, lihat rumah hasil design papa kamu. bangunan hotelnya aja keren-keren. Rumah kamu pasti keren juga kan La?" Tanya Jenifer antusias


"Biasa aja kalau rumah, seperti rumah pada umumnya, ada atapnya, ada lantainya." Canda Vanila


"Ih.. Lala. Aku serius loh." Kata Jenifer yang cemberut sambil memanyunkan bibirnya.


"Kayaknya bisa diikat pakai karet gelang tu bibir manyun." Kata Vanila sambil tertawa yang membuat Jenifer semakin manyun.


"Maaf.. Maaf.. ok gini aja, kamu nggak usah ke rumah aku, sebagai gantinya kamu boleh nginap berapa lama yang kamu mau di hotel keluarga aku yang mana aja. gratis, nggak usah bayar. Ntar aku bilangin papa. Plus bonus buku arsitektur Papa seri terbaru beserta tandatangan nya. Bagaimana?" Tawar Vanila


"Sumpah Kamu La? Beneran..?" Tanya Jenifer antusias yang di balas anggukan oleh Vanila.


"Aaa... aku senang banget. Thanks ya La. Kamu emang teman terbaik aku. Nggak sia-sia aku berteman dengan kamu." Kata Jenifer senang sambil memeluk Vanila.

__ADS_1


"Ye... maunya di dapat aja, baru bilang aku teman terbaik, tadi tuh mulut di monyong-monyongin, sekarang kok nggak?" tanya Vanila


"Karena aku lagi senang... Aaa... pasti keren buku arsitektur karya Arland Syauqi yang baru. Aku selalu beli loh semua buku karya papa kamu." Kata Jenifer senang


"Kamu masih SMP tapi suka nya dunia arsitektur, berat bener. bukannya biasanya suka drakor-drakor gitu ya?" Tanya Vanila heran.


"Ah.. penggemar drakor mah nggak keren. Apaan tuh plastik di kagumi, Bangunan keren di kagumi itu baru keren"terang Jenifer.


"Wah.. bisa di timpuk penggemar drakor kamu Je." Kata Vanila sambil tertawa.


Jenifer dan Vanila termasuk murid yang cantik di sekolah, sehingga setiap hari, ada saja kakak kelas, ataupun teman seangkatan mereka yang mengirimkan macam-macam. Mulai dari yang nggak bermodal ngirim surat cinta, ngirim coklat, bunga, suvenir, Sampai yang paling mahal ngirimin tiket liburan ke negara M.


"Kembalikan Je. Aku nggak mau. seperti yang sudah-sudah, kembalikan aja paket liburannya. Kalau kamu mau ke negara M, nanti pergi sama aku aja. Kebetulan Papa juga punya project di sana. Kakak aku juga ada yang tinggal di sana." Kata Vanila.


"Beneran loh ya. Kamu janji." Kata Jenifer lagi meyakinkan.


"Beneran lah. Udah, balikin sana gih. ingat ya Je, jangan ambil apapaun dari cowok-cowok yang ngasih aku sesuatu, tapi ada pamrihnya, aku nggak mau ada udang di balik bakwan." Kata Vanila lagi


"Kan enak La, udang di balik bakwan" Kata Jenifer yang langsung membayangkan goreng bakwan dengan toping udang di atasnya.. hmmm.. yummy 🤤.

__ADS_1


"Dah.. nggak usah di bayangkan juga kali." Kata Vanila lagi.


Tanpa sepengetahuan Vanila dan Jenifer, ternyata Vano selalu memperhatikan mereka. Vano ingin sekali mendekati Vanila, tapi Vano tahu, kalau tidak mudah mendekati Vanila. Semua cowok yang berusaha mendekatinya berakhir dicuekin sama Vanila. Vano sebenarnya pernah ketemu Vanila beberapa tahun yang lalu, di acara peresmian hotel teman Ayahnya. Sejak kejadian Vanila yang menyuruhnya untuk menelan biji kedondong, Vano sangat menyukai Vanila, istilahnya, love at first sight. Vano ingat dengan Vanila, karena memang wajahnya yang khas sekali, berbeda dengan orang Indonesia. Makanya sejak pertama melihat Vanila sewaktu upacara pembukaan, Vano langsung ingat dengan cinta pertamanya.


Vano memang tidak seperti yang lain memberikan perhatian, surat cinta atau benda-benda kepada Vanila, tapi setiap hari Vano selalu menyapa Vanila dan Jenifer seolah-olah mereka tidak sengaja bertemu, padahal Vano memang sengaja selalu berpapasan dengan Vanila. Hal ini tidak luput dari perhatian Dahlia, yang sangat menyukai Vano.


Vano sekelas dengan Dahlia. Dahlia sangat menyukai Vano dari sejak pertama mereka masuk SMP dan menjadi teman sekelas. Dahlia sering memperhatikan Vano, yang suka menatap Vanila dari kejauhan, hal itu tentu saja membuat Dahlia semakin marah dengan adik nya itu.


"La.. Kamu jangan keganjenan deh di sekolah. sok kecantikan banget. Kamu ini pakai pelet apasih? sampai-sampai semua cowok di sekolah suka sama kamu. Kamu boleh dekat atau jadian sama cowok manapun kecuali Vano. Ingat La, Kaka akan semakin benci kamu, kalau kamu sampai dekat-dekat Vano." Kata Dahlia yang tiba-tiba marah sewaktu pulang sekolah kepada Vanila. Vanila yang memang tidak pernah membantah kakaknya hanya mengangguk kan kepalanya.


"Jangan di ambil hati non. Non Dahlia cuma lagi masa pubertas. Lagi masa mengenal cinta monyet." Kata mbok Sa menenangkan Vanila.


"Nggak apa kok mbok. Lagian Lala juga nggak suka di dekati cowok-cowok." Kata Vanila yang mencoba tersenyum untuk menenangkan mbok Sa, karena Vanila tidak mau mbok Sa khawatir atau sedih, karena Vanila yang sedih. Sebenarnya hati Vanila sakit ketika mendengar bahwa kakak kandungnya membencinya. Baru kali ini Vanila mendengar langsung Kakaknya mengucapkan, kalau dia benci dengan Vanila. Selama ini Vanila terlalu naif, masih beranggapan, kecuekan kakak-kakaknya selama ini karena merek sibuk. Sebenarnya Vanila bisa merasakan kebencian mereka, tapi Vanila tidak mau terlalu memikirkan nya.


"Lala udah kenyang mbok. Lala masuk ke kamar dulu." Kata Vanila lalu meninggalkan meja makan.


Sesampainya di kamar, Vanila merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Cairan bening tidak mau berhenti menetes dari sudut matanya yang dari tadi berusaha di tahan Vanila di depan mbok Sa.


"Lala salah ya ma lahir ke dunia? Kenapa mama nggak bawa Lala aja ikut dengan mama. Walaupun Lala tau papa sangat sayang dengan Lala, tapi karena wajah kita mirip, Papa nggak mau menatap atau berdekatan dengan Lala. Lala melihat ada kesedihan di wajah Papa waktu natal Lala. Lala tau papa sedih karena ingat mama. Kakak Jasmine, kak lili, kak Sakura sama kak Dahlia juga nggak suka dengan Lala." Kata Vanila sambil memandang langit-langit kamarnya, seolah-olah ada mamanya yang sedang tersenyum di sana mendengar kan curhatannya.

__ADS_1


__ADS_2