
Sudah dua bulan, Vanila tidak bertemu Al. Al benar-benar seperti di telan bumi. Hilang tanpa meninggalkan jejak sama sekali. Vanila masih tetap ke pondok di tepi danau, berharap suatu hari nanti Al muncul dan bertemu dengannya.
Hari ini hari pembagian rapor. Mbok Sa mengambil rapor Vanila dan sangat bangga menerima rapornya, karena semua nilai mata pelajarannya adalah nilai sempurna. Sejak tidak ada Al, Vanila semakin tenggelam dengan dunia buku. Semua buku bidang ilmu di bacanya, Vanila benar-benar tidak seperti anak seusianya.
Selama sekolah di bangku kelas dua, Vanila tetap menjadi yang terbaik disemua pelajaran, sehingga wali kelasnya menyarankan kepada mbok Sa agar Vanila mengikuti kelas akselarasi. Vanila dan Arland menyetujui untuk ikut kelas akselerasi. Tim seleksi akselerasi sempat terkejut melihat nilai tes Vanila yang sempurna. walaupun Vanila terkenal Jenius untuk anak seusianya, tapi Vanila tidak pernah mau memperhatikan kejeniusannya kepada sembarang orang. Karena Vanila masih anak-anak, terkadang Dia memang bertingkah seperti anak seusianya. Setelah lulus tes, tim guru akselarasi memutuskan bahwa Vanila pada saat kenaikan kelas nanti, tidak naik kelas 3, tapi langsung naik kelas 6.
Pada saat kenaikan kelas, Vanila menjadi murid kelas 6. karena Vanila memiliki tinggi badan yang terbilang lumayan tinggi, jadi walaupun usianya baru 7 tahun, tapi Ia tidak terlalu beda jauh dari murid kelas 6 lainnya. Akselerasi membuat Vanila tetap tidak memiliki teman, ditambah lagi, kelas tempat Vanila belajar sekarang, juga berisi anak-anak yang cerdas, walau tidak secerdas Vanila. Walaupun masuk kategori jenius atau cerdas, psikolog sekolah sangat sulit mengidentifikasi tingkat IQ Vanila. karena sewaktu menjawab pertanyaan tes IQ, Vanila tidak pernah benar-benar serius, hal ini membuat psikolog sekolah menyatakan bahwa Vanila sangat cerdas, tidak hanya dari segi ilmu pengetahuan tapi juga cerdas secara emosi. Arland yang agak khawatir dengan kecerdasan Vanila, memutuskan untuk menutupi kecerdasannya. Tidak boleh ada berita tentang Vanila sedikitpun. Dan pihak sekolah menyetujui hal itu. Bahkan, untuk menutupinya, Arland meminta pihak sekolah untuk memanipulasi usia Vanila. Tidak ada murid atau pihak luar sekolah yang tau kalau Vanila baru berumur 7 tahun.
Vanila yang tidak memiliki teman, dan murid-murid lain yang juga cerdas di sekolah nya hanya menyibukkan diri dengan belajar. Sesekali Vanila mengunjungi toko buku, masih berharap Ia berpapasan dengan Al.
"Kak Al kok nggak pernah balik lagi ya mbok?" tanya Vanila dengan wajah sedihnya, sambil duduk di tepi kolam berenang yang berada di samping rumahnya.
"Den Al lagi sibuk mungkin Non. Suatu hari nanti mbok Sa yakin, Non pasti ketemu lagi dengan Den Al InshAllah." Jawab mbok Sa yang berusaha membuat Nona kecilnya kembali senang. Sejak Al menghilang, Vanila terlihat tidak seceria biasanya.
Hari ini Vanila dan semua murid kelas 6 SD mengikuti UN (Ujian Nasional). Vanila dan teman-teman satu kelasnya dapat menyelesaikan ujian dengan sangat baik. Setelah menghabiskan waktu 3 hari untuk pelaksanaan UN, Vanila telah menyelesaikan pendidikan dasar.
"Non, mau lanjut sekolah di mana?" tanya mbok Sa
"Kita pindah aja yok mbok? Di rumah ini sudah nggak ada Papa, kak Jasmin, Kak Lily, Kak Dahlia sama Kak Sakura. Lala ikut pindah ke tempat Kak Jasmin seperti Kak Dahlia boleh nggak mbok?" Tanya Vanila semangat.
"Mmm.. Nanti cobak mbok tanyakan dulu sama papa non ya?"kata mbok Sa.
"Ok mbok. Semoga Lala bisa sekolah di tempat baru ya Allah. Yang ada Kakak Lala yang lain biar Lala nggak kesepian. Aamiin." Doa Lala sambil mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan mungilnya.
Pengumuman kelulusan UN telah keluar. Vanila mendapatkan nilai Ujian Nasional tertinggi, tetapi karena pengaruh Arland, tidak ada sedikitpun pemberitaan tentang Vanila. Seperti keinginan Vanila, akhirnya Arland mengizinkannya untuk melanjutkan sekolah ke kota B. Ketiga kakak Vanila sekolah di kota B, hanya saja Jasmine bersekolah dilingkungan pesantren, salah satu teman Arland. Walaupun melalui perdebatan panjang dengan kedua putrinya Sakura dan Dahlia yang tidak ingin serumah dengan Vanila, akhirnya mereka menerima permintaan Arland dengan syarat, Arland harus bersama mereka di hari Sabtu.
__ADS_1
"Terimakasih mbok Sa"kata Vanila sambil memeluk mbok Sa begitu mereka sampai di rumah Arland yang berada di kota B. Rumah yang asri dan nyaman, tidak begitu besar tapi tidak bisa di bilang kecil juga. Kamar Vanila berada di lantai 1, yang awalnya adalah kamar tamu. Rumah itu memiliki 6 kamar utama, 2 kamar berada di lantai 1, yaitu Kamar Arland bersama Rosaline ketika masih hidup dan 1 kamar tamu, yang sekarang menjadi kamar Vanila, serta 4 kamar berada di lantai 2, yang merupakan kamar milik kakak-kakak Vanila.
"Alhamdulillah. Lala senang mbok, bisa tinggal di sini. Walaupun Kak Sakura sama kak Dahlia masih nggak mau main dengan Lala." Kata Vanila agak sedih, tapi Ia tetap berusaha tersenyum agar mbok Sa tidak ikutan sedih.
Hari ini Vanila mulai sekolah, di salah satu sekolah paling bagus di Kota B. Sangking semangatnya pagi-pagi sekali Vanila berangkat sekolah. Walau sekolah di tempat yang sama dengan Dahlia, tapi kakaknya itu nggak mau sampai ada yang tahu kalau Vanila adalah adiknya.
"Dengar La, kakak nggak mau sampai ada yang tahu kalau kita saudara. Tidak boleh ada teman-teman kamu atau teman-teman kakak yang tahu hubungan kita. intinya tidak boleh ada satupun murid di sekolah kita tahu kalau kita saudara. Kamu ngerti?" Kata Dahlia penuh intimidasi.
"Iya kak." Kata Vanila sambil berusaha tersenyum. Di pikiran Vanila, sebenarnya Ia ingin bertanya, kenapa Kakak nya sampai tidak ingin ada yang tahu mereka saudara, apakah karena Vanila jelek atau malu-maluin sehingga kakaknya nggak mau ada orang yang tahu kalau mereka saudara. Tapi Vanila tidak mau cari masalah, dengan mempertanyakan maksud kakaknya. Jadinya Vanila hanya mematuhi pesan kakaknya.
Karena hari masih sangat pagi, di sekolah belum ada orang. Vanila segera mencari kelasnya. Kelas VII A, dan Vanila menemukan kelasnya, Ia segera memilih bangku di pojokan paling belakang, karena Vanila yakin, seperti di SD tidak ada yang mau berteman dengannya. Vanila segera mengeluarkan buku bacaan tentang sejarah dunia yang belum selesai Ia baca, sambil menunggu teman-temannya yang lain datang.
"Assalamualaikum. Selamat pagi." Sapa sebuah suara yang membuat Vanila meletakkan buku yang tadinya menutup wajahnya.
"Hi.. kamu kelas ini juga ya? Kenalin, nama aku Jenifer. Kamu mau nggak jadi teman aku?" Kata Jenifer sambil mengulurkan tangannya kepada Vanila sambil tersenyum manis.
Vanila memandang Jenifer, begitu juga dengan Jenifer. Jenifer adalah anak yang cantik, memiliki kulit yang putih, mata yang sedikit sipit, hidung tidak terlalu mancung, bibir tipis yang berwarna pink serta rambut indah sepunggung berwarna hitam.
"hallo.. kamu mau nggak jadi teman aku. Tangan aku pegal loh.." kata Jenifer lagi yang membuat Vanila tersadar kalau dia sudah nyuekin Jenifer.
"eh.. iya boleh. Nama Aku Vanila, panggil Lala aja." Kata Vanila sambil menyambut tangan Jenifer.
"Ok Lala, mulai hari ini kita teman ya. Btw anyway busway, kamu blesteran ya?" tanya Jenifer karena melihat Vanila tidak seperti orang Indonesia pada umumnya.
"Mama aku orang Moskow." Jawab Vanila agak sedikit canggung.
__ADS_1
"wow.. keren.. kamu benaran blesteran. Setengah bule. Oh iya panggil aku Jeje ya. aku boleh duduk di samping kamu?" Tanya Jenifer
"Silahkan." Kata Vanila lagi.
"Kamu imut banget ya? kalau untuk ukuran setengah bule, kamu ini pendek ya." Kata Jenifer yang pas duduk di sebelah Vanila, ternyata Jenifer lebih tinggi dari Vanila.
"Ups.. sorry. nih mulut emang nggak bisa di rem. maaf ya La. kebiasaan." Kata Jenifer sambil nyengir, karena Ia baru sadar kalau Ia membandingkan fisiknya dengan fisik Vanila.
"its ok. santai aja. Kamu pagi banget sudah ke sekolah." kata Vanila.
"Iya. Mami aku tuh rese. Mami nggak mau aku telat, jadi pagi-pagi aku di antar sekolah deh."terang Jenifer.
"Lah kamu sendiri, lebih pagi dari aku. Aku kira tadi kamu penjaga sekolah loh" kata Jenifer sambil tertawa, karena Jenifer memang anak yang periang an mudah akrab.
"Sengaja, biar pas lewatin gerbang sekolah, nggak ada yang ngelihatin aku dengan tatapan aneh, seolah-olah aku makhluk dari mars." terang Vanila
"hahahaha.. kamu bisa aja. Mana ada makhluk mars cantik kayak kamu. Kamu itu kayak bidadari turun dari taksi tau." terang Jenifer
"Loh kok turun dari taksi?" tanya Vanila heran
"Iya, biar bagusan dikit, kalau bidadari turun dari angkot kan nggak cocok." Kata Jenifer lagi sambil tertawa.
"Jiah... kenapa nggak bidadari turun dari Jet pribadi kek, atau paling mentok bidadari turun dari Alphard." Kata Vanila membela diri, karena di bilang bidadari turun dari taksi.
"ye... kalau bidadari turun dari Jet pribadi mah, susah turunnya, mau mendarat di mana kamu di sekolah? kalau turun dari Alphard, aku yang cocok. hahaha" kata Jenifer kembali tertawa yang membuat Vanila ikut tertawa mendengar penjelasan teman barunya.
__ADS_1