Vanilarea

Vanilarea
Badai


__ADS_3

Dokter Abi menatap Vanila yang sedang tertidur sambil memeluk tas ransel yang di bawanya. Dulu dokter Abi pernah suka dengan Vanila, tapi begitu tahu Vanila masih kecil, rasa sayang terhadap lawan jenis berubah menjadi rasa sayang terhadap adeknya.


Dokter Abi merupakan anak tunggal, kedua orang tuanya juga merupakan dokter yang sangat sibuk.


Berjumpa lagi dengan Vanila seperti berjumpa dengan adek perempuan yang selama ini diinginkannya. Tidak memiliki saudara sebenarnya membuat dokter Abi kesepian, tetapi kedua orang tuanya berhasil memberikan pengertian kepada dokter Abi, bahwa kedua orang tuanya harus menolong orang banyak.


Setelah menempuh perjalanan lebih dari dua jam, mereka sampai di daerah yang terkena bencana, yang tidak terlalu terdampak, sehingga pesawat militer masih bisa mendarat.


"La kita udah sampai." Kata dokter Abi.


"Hmm.. iya mbok. Sebentar lagi." Igau Vanila yang membuat dokter Abi tersenyum.


"Ini bukan di rumah La. Kita udah sampai bandara." Kata dokter Abi lagi.


"Hmm.. Bandara. hah.. Bandara?!" Kata Vanila yang terkejut dan langsung membuka matanya.


Sebagian sudah keluar dari pesawat dan membantu mengeluarkan logistik bantuan yang akan dibagikan.


"Sini dokter bawakan tas kamu." Kata dokter Abi.


"Jangan ah dok, bawaan dokter udah banyak. Biar Lala aja. Lala kan wonder women" Kata Vanila sambil mengangkat tangannya ala binarangka yang lagi pamer otot lengan.


"Kamu ini sok-sokan jadi binarangka. ya udah cepetan turun" Kata dokter Abi.


"Binaraga dok" Kata Vanila membenarkan perkataan dokter Abi.


"Kalau yang badannya gede bener binaraga. Nah kamu kurus begini, yang benar binarangka." Kata dokter Abi sambil tertawa.


"Ih dokter Abi body shaming, ntar kena pasal perbuatan tidak menyenangkan loh." Protes Vanila.


"Dokter senang kok. Jadi nggak bisa kena pasal." Jawab dokter Abi.


"Dokteer.. ih gitu kan." Protes Vanila yang kesal sendiri.


Kedekatan Vanila dan dokter Abi tetap membuat beberapa orang merasa tidak senang. Karena mereka yang lama bersama dokter Abi tidak pernah bercanda dengan dokter Abi, karena dokter Abi selalu kelihatan cool.


Berbeda ketika bersama Vanila, dokter Abi bisa bercanda dan tertawa seusai mengganggu Vanila.


Mereka segera naik truk tentara untuk menuju lokasi yang paling terdampak bencana. Truk yang lumayan tinggi membuat Vanila agak sedikit susah untuk naik.


"Tuh kan susah kalau pakai gamis begitu." Kata dokter Anye.


"Bisa kok" Kata Vanila lalu mengangkat gamisnya agak tinggi karena Vanila mengenakan celana dengan ukuran besar sehingga tidak memperlihatkan lekuk kakinya.


"Sini La." Kata dokter Abi yang menyediakan tempat duduk di samping dokter Abi.


"Dokter Abi, mentang-mentang Lala imut, di kekep terus." Kata dokter Harun.


"Iya kalau nggak di jagain takutnya ni bocah hilang." Kata dokter Abi sambil tertawa begitu juga dengan dokter cowok yang lain.


"Bully terus." Protes Vanila.


"Abis kamu lucu kalau lagi marah." Kata dokter Abi sambil mengacak kepala Vanila yang tertutup jilbab.


"Dokter, ntar jilbab aku berantakan" Protes Vanila.


"Nggak apa-apa. Tetap cantik ini kok." Kata dokter Abi sambil tertawa.

__ADS_1


Vanila segera menggendong tas ranselnya yang lumayan besar.


"Mau saya bantu bawa tasnya nona?" Tanya salah seorang tentara kepada Vanila.


"Tidak, terimakasih. Saya bisa sendiri." Kata Vanila lalu segera turun dari truk yang membawa mereka ke lokasi bencana.


Vanila melihat beberapa tenda besar di hadapannya. Kondisi di sekitat lokasi masih sangat berantakan.


"Tolong... tolong anak saya tolong." Teriak seorang wanita yang keluar dari tenda yang tidak jauh dari Vanila.


Vanila dan beberapa yang mendengarnya langsung menuju ke arah wanita tersebut.


"Anak ibu kenapa?" Tanya dokter Abi.


"Tidak tahu. Tiba-tiba saja dia kesulitan bernafas." kata wanita itu panik.


Dokter Abi segera memeriksa anak laki-laki yang berusia sekitar 10 tahun.


"Anak ibu mengalami asma. Dokter Anya apakah mouth piece diletakkan di kotak darurat?" Tanya dokter Abi.


"Sebentar saya cari dok." Kata dokter Anye lalu keluar dari tenda untuk mengambil kotak darurat.


Vanila mendekati anak laki-laki itu dan mendudukkannya.


"Dengarkan kakak, kamu harus tenang, karena jika kamu tidak tenang, kamu akan semakin sulit bernafas" Kata Vanila sambil mengusap punggung anak laki-laki itu lembut, dan menunggu dokter Anya membawa mouth piece atau inhaler.


"Ok, bagus. Kamu tenang saja. Semua akan baik-baik saja." Kata Vanila sambil memegang tangan anak laki-laki itu memberinya kekuatan untuk menjadi lebih tenang.


"Mouth piece tidak ada, tapi saya bawa inhaler." Kata dokter Anya.


Dokter Abi segera menyemprotkan inhaler agar pernapasan anak laki-laki itu menjadi lancar. Karena memang sudah agak tenang, dua kali semprotan inhaler sudah membuatnya bisa bernafas lega.


"Kamu hebat La. Kamu cepat sekali tanggap." Kata dokter Abi.


"Karena sudah biasa." Kata Vanila.


"Dokter dokter, tolong suami saya." Kata seorang wanita paruh baya menarik dokter Abi.


Dokter Abi segera mengikuti wanita itu ke tenda pengungsian.


Vanila mengikutinya sambil mengeluarkan kotak P3K yang di bawanya.


Vanila melihat pria yang sedang terbaring lemah dengan wajah pucat dan memegang dadanya, lalu pria itu tidak sadarkan diri.


Dokter Abi segera menghampirinya dan memeriksa kondisi pasien.


"Serangan jantung dok, lakukan RJP (Resusitasi jantung paru), Saya akan cari nitrogliserin."Kata Vanila yang membuat dokter Abi bingung tapi tetap melakukan perintah Vanila.


Dokter Abi segera melakukan RJP dan berusaha membuat pasiennya sadar. setelah pasien sadar Vanila segera memberikan nitroliserin ke bawah lidah pasien.


Tidak hanya dokter Abi, dokter yang lainpun sebenarnya heran, tanpa memeriksa dan hanya melihat sekilas, Vanila langsung tahu bahwa pasien mengalami serangan jantung.


"La.."


"Iya dok?"


Belum sempat dokter Abi menanyakan, kenapa Vanila bisa tahu kalau pasien yang baru saja mengalami serangan jantung, terdengar suara adzan berkumandangn

__ADS_1


Vanila segera permisi untuk mengambil wudhu dan ikut melaksanakan sholat berjamaah di tanah lapang. Pakain yang Vanila gunakan tidak membuatnya susah-susah harus membawa mukenah.


Selesai sholat subuh, semburat cahaya matahari mulai memperlihatkan sinarnya. Banyak para penduduk yang selamat serta relawan lain mulai melakukan akttivitas.


"La, kamu ikut Saya, kita periksa pasien di tenda satu. Dokter yang lain sudah bagi tugas." Kata dokter Abi.


"Aye aye Captain." Kata Vanila sambil memberi hormat dan tersenyum.


Vanila membawa kotak P3K yang cukup besar agar mereka bisa segera memberikan pertolongan kepada penduduk yang terluka.


Vanila, dokter Abi dan dokter lainnya segera memeriksa dan mengobati para penduduk yang terluka, yang sebelumnya hanya di atasi seadanya.


Dokter Abi selalu memperhatikan Vanila yang sedang bekerja, Vanila lebih suka menangani pasien perempuan dan anak-anak. Bahkan beberapa anak yang terluka terlihat akrab bersama Vanila dan mereka bisa tertawa bersama karena tingkah lucu Vanila.


Hari menunjukkan pukul 8, perut dokter Abi dan yang lainnya mulai keroncongan. Setelah mereka memeriksa penduduk yang membutuhkan pertolongan dan mengobatinya, Vanila dan relawan dokter lainnya, sarapan seadanya dari bahan makanan yang mereka bawa.


Lokasi yang mereka datangi sekarang, tidak begitu dekat dengan lokasi bencana, sehingga penduduk yang terluka tidak begitu banyak.


Setelah sarapan, mereka brefieng dan akan mencoba melakukan perjalanan ke daerah yang dampaknya paling parah.


"Lokasinya lumayan jauh dan harus jalan kaki La. Kamu kuat?" Tanya dokter Abi.


"Kuat dong. Dokter jangan khawatir." Kata Vanila lagi sambil mengangkat lengannya ala binaraga.


"Alah, binarangka aja pamer sok-sok kuat. Nanti kalau kamu capek,saya tidak mau gendong loh." Ejek dokter Abi.


"Dokter Abi mulai deh. Emangnya aku bocah, pakai minta gendong." Protes Vanila.


Vanila, dokter Abi dan beberapa dokter serta beberapa orang tentara memulai perjalanan mereka. Perjalanan mereka sudah tidak terlalu susah, karena sudah ada regu pertama yang membuka akses jalan. Tapi kondisi jalan yang masih banyak terdapat sampah, jalan yang retak dan lumayan jauh membuat Vanila agak sedikit lelah, tapi Vanila selalu menyemangati dirinya, kalau Ia bisa melewatinya.


"Kita istirahat sebentar dokter." Kata seorang pemimpin tentara yang membawa rombongan.


"Baik kolonel Arif." Kata dokter Abi lalu mereka memutuskan untuk beristirahat sebentar karena jarak yang masih jauh.


Setelah 10 menit istirahat mereka melanjutkan lagi perjalanannya, hari yang terik membuat wajah Vanila memerah dan penuh keringat yang mengalir.


Tiba-tiba ada pakain loreng yang menutupi kepala Vanila sambil berjalan di sampingnya.


Vanila menatap orang yang menutupi matahari dengan jaket lorengnya dan berjalan di samping Vanila. Pria itu tersenyum ketika Vanila menatap ke arahnya.


"Kak Badai?! MashaAllah ini beneran kakak." Kata Vanila senang karena ternyata pria tegap yang berjalan disampingnya sambil menutupi Vanila dari sinar matahari adalah Badai.


"Apa kabar kamu La? Ngilang bertahun-tahun, balik-balik kamu di tempat bencana begini. Ini bukan lagi piknik loh La." Kata Badai sambil menatap Vanila penuh kerinduan.


"Alhamdulillah Lala sehat. Kangen bunda, kangen adek-adek di panti, kangen kak guntur juga." Kata Vanila dengan mata yang berkaca-kaca.


"Kamu sih. Pakai ngilang lama banget, nggak terlacak lagi. Trus kamu nggak kangen sama kakak?" Tanya Badai.


"Kangen." Kata Vanila sambil tersenyum dengan air mata yang mengalir.


"Kamu ini bisa aja." Kata Badai sambil mengelus kepala Vanila sayang.


Badai mengambil tas ransel yang Vanila gendong, lalu menggendong tas ransel Vanila yang lumayan berat.


"Terimakasih kak, you my best bro." Kata Vanila sambil tersenyum senang.


"Berat gini, kenapa nggak mintak bantuan sih La?" Kata Badai agak kesal.

__ADS_1


"Kasian, mereka semua juga pada bawa beban, apalagi beban hidup pasti berat." Kata Vanila lalu tertawa, yang membuat Badai hanya bisa geleng-geleng kepala dan tersenyum melihat tingkah Vanila.


kedekatan Vanila dan Badai membuat dokter Anya dan dokter Srik semakin iri dengan Vanila yang selalu di dekatin cowok-cowok cakep.


__ADS_2