Vanilarea

Vanilarea
Anak Danyon


__ADS_3

Sudah seminggu pasien yang di operasi Vanila menjalani perawatan, dan kondisinya semakin hari semakin membaik. Walaupun sudah agak membaik tapi Danyon yang bernama Satria Hermawan itu cepat sekali pulih karena memang terbiasa disiplin olah raga dnn mengkonsumsi makanan yang 'bersih'.


"Bagaimana keadaan bapak hari ini? Masih ada yang sakit? atau tidak nyaman?" Tanya Vanila sambil memeriksa bekas operasi pak Hermawan.


"Alhamdulillah sudah lebih baik. Apakah saya boleh pulang hari ini?" Tanya pak Hermawan.


"Karena bapak tidak ada keluhan lagi, tinggal pemulihan saja, saya rasa bisa pulang sore ini." Kata Vanila sambil tersenyum ramah.


"Dulu waktu saya jadi pasien kok kamu nggak ramah sih?" Protes sebuah suara yang berasal dari belakang Vanila yang membuat Vanila memalingkan wajahnya ke arah sumber suara.


"Astagfirullah" Ucap Vanila terkejut karena melihat Pram berdiri tidak jauh dari Vanila.


"Kamu kira saya setan Ai?" tanya Pram ketika mendengar Vanila beristigfar ketika melihat Pram yang membuat pak Hermawan tertawa begitu juga dengan istrinya yang berada di samping pak Hermawan.


"Ini loh Le, dokter cantik yang mami bilang. Kalian sudah saling kenal toh." Kata istri pak Hermawan yang bernama Ayu Prameswari.


"Kenal lah mi, calon istri." Kata Pram yang berdiri tepat di belakang Vanila yang membuat wajah Vanila jadi memerah, karena mau marah membalas Pram, tidak enak kelihatan tingkah bar-barnya di hadapan orang tua Pram.


"Yo wis. Lamar aja langsung le. Mumpung masih cuti ini kan." Kata pak Hermawan yang membuat Vanila tiba-tiba tersedak salivanya sendiri tidak percaya ucapan papinya Pram.


Vanila menginjak kaki Pram dengan keras agar mundur, tetapi karena Pram memakai sepatu PDH yang keras, usaha Vanila sia-sia saja.


"Minum dulu Ai." Tawar Pram sambil menyerahkan segelas air kepada Vanila sambil menahan tawa. Kapan lagi Pram bisa membuat Vanila tidak berkutik, karena kalau tidak ada orang tua Pram, Vanila langsung saja protes.


"Lagi jaga sikap di depan camer ya?" Bisik Pram yang membuat Vanila langsung melotot galak ke arah Pram.


"Permisi pak bu." Kata Vanila sambil misruh-misruh yang membuat Pram semakin tertawa.


"Jadi itu perempuan yang berhasil buat anak mami move on?" Tanya maminya Pram.


"Iya. Menurut mami bagaimana?" Tanya Pram sambil tersenyum bahagia dan memeluk maminya manja.


"Mami suka dengan suster Vanila. Anaknya cantik, baik, imut-imut. Tapi memang suster Vanila mau sama kamu? Umurnya lumayan beda jauh dari kamu sepertinya le." Tanya mami Pram lagi.


"Umur nggak masalah mi. Yang penting papi sama mami setuju." jawab Pram.


"Memangnya suster Vanila mau sama kamu le?" Tanya papinya lagi.


"Mau dong Pi. Siapa sih yang bisa menolak pesona Pramudya Satria Hermawan?" Tanya Pram sambil menaik turunkan alis matanya.


"Ge er kamu Pram. Suster secantik itu pasti banyaklah laki-laki yang ngejar di luar sana. Bahkan lebih segala-,galanya dibanding kamu le." Kata pak Hermawan bijak.


"Biar kamu nggak kalah le, cepat halalin aja le. Perempuan itu cuma butuh satu, kepastian. Mami aja dulu mau terima papi kamu yang es balok ini, karena cuma papi kamu yang baru kenal seminggu, eh habis itu langsung lamar mami, padahal waktu itu mami punya kandidat lain selain papi mu." Kenang maminya Pram.


"Ih mami kok masih bilang papi es balok sih?" Protes papinya Pram sambil memanyunkan bibirnya.


"Eleh-eleh, merajuk deh es balok kesayangan mami, yang sekarang udah berubah jadi es krim manis." Kata maminya Pram sambil memeluk suaminya.


"Aih.. kasihanilah hamba mu ini yang masih jomblo ya Allah." Kata Pram yang melihat kelakuan orang tuanya.


"Makanya, cepat sana halalin suster Vanila. Biar nggak iri lihat kita ya mi?" Kata papi Pram lagi.


"InshAllah Pi secepatnya. oh iya, kok papi sama mami manggilnya suster Vanila?" Tanya Pram heran, karena seingat Pram, Vanila adalah salah satu dokter bedah terbaik di rumah sakit yang ada di negara J.


"Kamu nggak lihat, nak Lala pakai pakaian perawat?" Tanya mami Pram yang hanya di jawab gelengan kepala oleh Pram.


"Ai itu dokter mi, pi. Dokter bedah terbaik di salah satu rumah sakit di negara J. Waktu Pram tugas dan kecelakaan di negera J, Ai yang ngobatin. Kenapa di sini cuma jadi perawat ya?" Tanya Pram heran yang hanya mendapat jawaban bahu terangkat dari kedua orang tuanya.


Setelah pulang ke rumahnya, Pak Hermawan mendapatkan perawatan jalan, dimana Vanila harus datang setiap hari memeriksa kondisi pak Hermawan yang tinggal di komplek perumahan militer.


"Selamat siang pak. Kalau boleh saya tahu Bapak ada keperluan apa?" Tanya petugas penjags pos.


"Ini pak, saya mau antar nona saya. Kemana non?" Tanya pak Arman lupa.


Vanila membuka kaca mobilnya dan tersenyum ramah kepada petugas yang berjaga, yang membuat petugas yang di seragam bagian dada sebelah kanan bertuliskan Ari. W, terpaku menatap Vanila.


"Selamat sore pak. Saya harus ke rumah Danyon Hermawan karena harus melakukan pemeriksaan rutin." Jelas Vanila ramah, tetapi lettu Ari masih diam memandang Vanila.


"Pak" Panggil Vanila dengan suara yang agak keras.


"eh Iya bu. Siap salah." Kata Lettu Ari terkejut, yang membuat Vanila tertawa.


"Kamu kenapa Ai?" Tanya sebuah suara yang muncul dari belakang mobil Vanila, yang Vanila sudah kenal betul siapa pemilik suara tersebut.

__ADS_1


"Mau periksa Danyon." Jawab Vanila yang masih sedikit tertawa.


"Ayok, saya antar." Tawar Pram.


"Sama pak Arman aja. Lala nggak mau nyusahin orang lain." Jawab Vanila sambil pura-pura tersenyum ramah.


"Kalau pak Arman yang antar nanti repot, pak Arman harus ngelapor dulu, ninggalin data, pokoknya repotlah" Kata Pram beralasan.


Vanila yang pada dasarnya lugu dan merupakan orang awam, yang tidak mengerti peraturan kemiliteran, berfikir kalau yang dibilang Pram bener juga.


"Ya udah, pak Arman balik aja. Ntar Lala pulang naik transportasi online." Kata Vanila kepada pak Arman.


"Tapi non.."


"Nggak apa-apa pak. Nanti saya yang bertanggung jawab terhadap Vanila." Potong Pram.


"Bertanggung jawab? Emangnya Lala buat kesalahan?" Tanya Vanila heran.


"Udah nggak usah di bahas. Ini data tamu kamu sudah saya isi. turun cepat." Kata Pram lagi.


Lalu Vanila turun dari mobil, dan menggendong tas ranselnya yang tidak terlalu besar, membuat Vanila semakin kelihatan imut. Pram yang sadar kalau Vanila dilihatin petugas penjaga, berdehem agar petugas penjaga tidak menatap Vanila.


"Itu buku tamunya sudah saya isi. Jaga mata." Kata Pram ketus.


"Siap salah Mayor." Kata Lettu Ari takut.


"Terus kita jalan kaki?" Tanya Vanila begitu pak Arman pergi dan tidak melihat ada kendaraan yang dibawa Pram.


"Nggak dong. Mana mungkin saya tega bidadari jalan kaki." Kata Pram sambil tersenyum menggoda Vanila.


"Kamu tunggu di sini sebentar. Saya minta anak buah saya antar kendaraan." Kata Pram lalu segera menghubungi anak buahnya.


Tidak berselang lama, muncul seorang tentara membawa sepeda motor tentara.


"Matanya di jaga. Kamu lari dua putaran." Kata Pram galak, yang membuat anak buahnya tersebut, segera menyerahkan motor dan menjalankan hukumannya.


"Ish. Galak bener. Pantasan aja jodohnya jauh." Kata Vanila yang kasihan melihat anak buah Pram yang tadi mengantarkan motor.


"Abisnya nggak bisa jaga mata. Kamu sih jadi orang cantiknya kebangetan." Protes Pram.


"Jangan di manyun-manyunkan. Minta di cium tu bibir?" Goda Pram yang memang suka sekali membuat Vanila marah.


"Mesum." Kata Vanila sambil memelototkan matanya galak, dan membuat Pram langsung tertawa.


"Ayok." Ajak Pram yang sudah duduk di atas motornya dan memakai helm, lalu memakaikan helm ke kepala Vanila.


"Tau pakai motor, tadi mending di antar pak Arman, ribet, ribet deh." Kata Vanila.


"Kenapa Ai?, nggak suka pakai motor?, nggak bisa merakyat dikit" kata Pram.


"Bukan nggak suka naik motor. Tapi kalau di bonceng, kan duduknya mepet bener." Kata Vanila lagi.


"Nggak apa-apa. ayo" Kata Pram sambil tersenyum.


"Calon suami ini." Gumam Pram lagi.


"Apa?" kata Vanila yang tidak begitu jelas mendengar ucapan Pram


"Ayo." Kata Pram lagi.


Lalu Vanila segera duduk menyamping di belakang Pram, karena Vanila selalu menggunakan rok atau gamis.


"Pegangan Ai. Nanti jatuh." Kata Pram yang sudah menjalankan motornya, karena Vanila tidak berpegangan atau memeluk Pram. (Harapan mu Pram...😅😅)


"Udah pegangan kok." Jawab Vanila karena ia memegang besi yang ada di belakang bangku.


Pram menjalankan motornya pelan, dan menyapa beberapa orang yang di kenalnya, dan di sapa semua orang yang melihatnya.


"Pelan amat jalannya. Cepatan siput deh." Protes Vanila.


"Abis kamu nggak pegangan sama saya. Jadi nanti kalau saya cepat bawa motornya, kamu bisa jatuh." Alasan Pram.


Lalu Vanila memegang pundak Pram.

__ADS_1


"Kamu kira saya lagi nuntun orang buta Ai?" Kata Pram sambil menahan tawa karena melihat ekspresi Vanila dari kaca spion.


Vanila menurunkan tangannya, memegang baju bagian pinggang Pram.


"puas?" Kata Vanila galak yang membuat Pram tertawa karena berhasil lagi ngerjain Vanila.


Pram mengbil tangan Vanila yang memegang baju bagian pinggang dan melingkarkan ke perutnya.


"Nah begini baru bener." Kata Pram yang membuat wajah Vanila jadi memerah karena secara tidak langsung memeluk Pram.


Pram mulai menambah kecepatan motornya, karena Vanila masih melingkarkan sebelah tangannya di perut Pram.


Tidak sampai 5 menit, mereka sampai di rumah yang cukup besar dan terdapat beberapa tentara yang berjaga. Mereka memberikan hormat kepada Pram, begitu Pram turun dari motornya.


Vanila yang mulai agak risih bertemu banyak laki-laki, hanya menundukkan wajahnya, dan berdiri di belakang Pram, dan mengikuti Pram masuk kerumah.


"Assalamualaikum." Jawab Vanila dan Pram bersamaan.


"Udah pulang kamu le?" Tanya maminya Pram.


"Udah dari tadi sebenarnya mi, tapi pas mau pulang kebetulan lihat Aisyah di pos pemeriksaan." jawab Pram.


Vanila segera menyalami maminya Pram yang datang menghampiri Vanila sambil tersenyum ramah.


"Duduk dulu sayang. Papinya Pram lagi mandi. udah gerah katanya." jelas mami Pram lalu duduk di sofa yang ada di sebelah Vanila.


"Iya tante. Terimakasih." Kata Vanila sambil tersenyu. ramah.


"Kamu mandi dulu le. Bau asem, bau matahari juga." Kata maminya sambil menutup hidung.


"Enak aja mami, walaupun dari lapangan, Pram selalu wangi kok. Kalau nggak percaya tanya aja Aisysh. Tadi aja Aisyah nemplok di punggung Pram, berarti Pram nggak asem atau bau matahari loh mi." Kata Pram sambil senyum-senyum melihat Vanila, sementara Vanila langsung memperlihatkan wajah galaknya kepada Pram, tapi begitu sadar di sebelah ada maminya Pram, Vanila segera kembali tersenyum canggung.


"Pram nakal ya Syah?. Biar mami jewer dia kalau gangguin kamu. Mandi sana Pram." Kata maminya lagi dengan suara mulai meninggi.


"Siap ibu Danyon. Laksanakan." Kata Pram lalu segera kabur ke kamarnya yang ada di lantai dua.


"Mami cek papi dulu udah siap mandi atau belum ya." Kata maminya Pram lalu pergieninggalkan Vanila.


"Permisi non" Kata wanita yang kira-kira seusia mbok Sa ramah kepada Vanila sambil meletakkan segelas teh hangat dan sepiring resoles.


"Silahkan non." Katanya lagi ramah.


"Terimakasih buk." kata Vanila sambill tersenyum.


"MashAllah, calon istri mas Pram memang cantik. Ramah lagi, saya senang akhirnya mas Pram bisa ketemu jodoh yang baik seperti non." Kata perempuan itu dengan mata berkaca-kaca.


"Eh.. bukan buk, saya bukan calon istri Mayor Pram. Saya mau periksa pak Danyon." Kata Vanila bingung, karena bisa-bisanya ART Pram bilang kalau Vanila calon istrinya Pram.


"Mbok nggak salah non. Wong di kamar mas Pram ada fotonya non, gede lagi." Kata ART Pram meyakinkan.


"Ada apa mbok Nah?" Tanya mami Pram yang melihat wajah Vanila yang tersenyum terpaksa ketika berbicara dengan Vanila.


"Ini calonnya mas Pram toh bu?" Tanya perempuan yang di panggil mbok Nah.


"Pengennya begitu mbok. Tapi jodohkan siapa yang tahu." Kata mami Pram sambil tersenyum.


"Tuh kan non, non ini calonnya mas Pram. Mbok senang kalau non jadi istrinya mas Pram. Mas Pram itu anaknya baik, berbakti sama orang tua, sayang keluarga, pokoknya suami idaman deh. Mbok aja kalau masih muda, mau sama mas Pram." Kata Mbok Nah sambil tertawa geli membayangkan dirinya berjodoh dengan Pram.


"Hehe.. iya mbok." Kata Vanila masih tersenyum nggak enak. Iyain aja biar si mbok senang, pikir Vanila. Lalu mbok Nah permisi untuk melanjutkan pekerjaannya.


"Ayo nak Aisyah. Bapak sudah selesai mandi. Lagi istirahat di kamar, karena katanya kepalanya suka tiba-tiba pusing kalau lama-lama berdiri." Kata maminya Pram sambil berjalan menuju kamarnya.


Vanila segera memeriksa pak Hermawan setelah berbasa basi sebentar dengan pak Hermawan, menanyakan kondisinya untuk menganalisa dan memeriksa bekas operasinya.


"Bapak, harus sering-sering biasakan untuk duduk. Kalau pusingnya nggak tertahan lagi, Bapak boleh konsumsi obat yang saya kasih spidol merah." Terang Vanila.


"Iya nak. Terimakasih." Jawab pak Hermawan ramah.


"Kamu makan malam disini aja ya Syah. Nanti Pram yang akan antar pulang." Kata mami Pram sambil mengelus punggung Vanila.


"Eh. Nggak usah tante." Tolak Vanila tidak enak.


"Nggak apa-apa. Lagian sebentar lagi magrib. Nanti kita sholat jamaah bareng Pram. Kalau papi sholatnya masih di tempat tidur." Terang mami Pram.

__ADS_1


Vanila melihat jam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya, dan menimbang perkataan mami Pram. Akhirnya Vanila memutuskan untuk menerima tawaran maminya Pram.


__ADS_2