
Sudah dua minggu lebih Aldrin pergi berbulan madu dengan Sidqila, selama di benua E, Aldrin tidak pernah untuk tidak menghubungi Vanila. Walaupun sedang bersama Sidqila, Aldrin selalu menghubunhi Vanila menanyakan aktivitasnya, atau menanyakan apakah ada yang Vanila inginkan ketika Aldrin berada di negara-negara yang ada di benua E.
Sidqila yang melihat Aldrin yang selalu perduli dengan Vanila, merasa cemburu dan tidak suka. Karena dari awal Sidqila memang tidak pernah menyukai Vanila. Sidqila selalu berusaha mencari perhatian Aldrin, agar Aldrin segera menghentikan pembicaraannya dengan Vanila.
"Kamu kenapa lagi sih Qila?, mas baru sebentar nelpon Lala." Kata Aldrin lembut, karena Ia tahu betul kalau Sidqila tidak bisa mendengar nada suara tinggi, karena Sidqila sangat dimanja kedua orang tuanya.
"Kan kita lagi honey moon mas. Bisa nggak sih, mas sehariiii... aja, sama Qila terus, jangan mikirin Lala." Kata Sidqila dengan tingkah manjanya ke Aldrin.
"Kan mas harus adil." Kata Aldrin sambil tersenyum dan mencium puncak kepala Sidqila yang tengah bersandar di dada Aldrin, dan kedua tangannya memeluk pinggang Aldrin.
"Tapi kan mas..."
"Nggak ada tapi-tapi sayang." Potong Aldrin, yang membuat Sidqila mengalah dan tidak bisa berkata apa-apa lagi.
Setelah dua minggu berada di benua E, Aldrin sangat bersemangat sekali ketika kembali ke negaranya. Aldrin tidak sabar untuk segera bertemu dengan Vanila. Aldrin sengaja tidak memberitahu Vanila, tapi meminta Vano untuk menjemputnya.
"Qila ikut mas ya?" Tanya Sidqila dengan manja, membuat Vano yang mendengarnya menjadi agak tidak suka dengan kakak iparnya.
"Kan mas sudah sama kamu 2 minggu. Itu supir kamu sudah jemput. Mas ke rumah Lala dengan Vano. Nanti kalau udah sampai telpon mas ya." Kata Aldrin begitu melihat supir Sidqila datang menjemputnya, karena Sidqila memilih untuk tinggal di rumah orang tuanya yang berada di kota K, sedangkan Vanila tinggal di kota S.
"Tapi mas janji ya, besok ke tempat Qila." Kata Sidqil sambil mengalungkan tangannya ke leher Aldrin, yang membuat Vano merasa semakin jengah, melihat drama Sidqila.
"Nggak nisa Qila. Mas kan juga harus kerja. Akhir pekan mas ke tempat kamu." Kata Aldrin sambil tersemyum, lalu mengecup kening Sidqila, dan Sidqila mencium punggung tangan Aldrin dan melepaskannya dengan tidak rela.
Setelah Sidqila pergi dengan sopirnya, Aldrin segera menuju rumaj Vanila bersama Vano.
"Mas yakin bisa berlaku adil?" Tanya Vano yang merasa bahwa Sidqila akan nerusaha menguasai Aldrin sendiri.
"InshAllah mas akan berusaha." Kata Aldrin
"Kalau mas nggak bisa bahagiain Vanila, setidaknya mas jangan sakitin Vanila." Kata Vano lagi yang mengingat wajah sedih Vanila ketika duduk di ayunan di hari Aldrin menikah.
"Maksud kamu apa Rasyid? Kamu mau rebut Lala dari mas?" Tanya Aldrin agak emosi.
"Kalau mas nggak bisa bahagiain Vanila, biar Rasyid yang bahagiain nya." Kata Vano serius yang membuat Aldrin mengepalkan tangannya menahan emosi, karena ternyata Vano masih belum bisa melepaskan Vanila.
"Mas nggak akan lepasin Lala. Kamu dengar itu." Kata Aldrin dengan nada mengancam.
Selama sisa perjalanan mereka berdua hanya diam dengan pikirannya masing-masing.
"Assalamualaikum La." Salam Aldrin ketika sampai rumah Vanila, dan melihat Vanila sedang sibuk dengan laptopnya di taman depan.
Wa'alaikumussalam Wa Rahmatullahi Wa Barakatu. eh mas sudah pulang. Kok nggak ngabarin Lala?" Kata Vanila sambil mencium punggung tangan Aldrin.
"Biar surprise. Tapi ekspresi kamu kok biasa aja sih La?" Tanya Aldrin heran karena Vanila biasa saja ketika Aldrin datang.
"Ya.. kan nggak mungkin juga Lala salto atau guling-guling di tanah pas mas datang." Jawab Vanila.
"Bisa aja kamu." Kata Aldrin sambil mencubit hidung mancung Vanila gemas.
"Kak Vano, masuk yuk. Nanti Lala kasih jus." Kata Vanila ketika melihat Vano.
"Beneran Va?" Tanya Vano antusias.
"Bener lah. Ntar Lala kasih jus air putih." Kata Vanila lalu tertawa karena beehasil ngerjain Vano.
__ADS_1
"Dasar kamu ya Va. Nggak hilang-hilang jahilnya. Tadi kakak kira kamu beneran mau buatin jus." Kata Vano dengan ekspresi pura-pura sedih.
"Ya udah, Lala buatain. Tapi wani piro?" Kata Vanila lagi sambil tertawa, yang membuat Vano juga tertawa.
Sebenarnya Aldrin merasa cemburu melihat Vanila yang selalu bercanda dengan Vano. Tapi karena tidak ingin berburuk sangka dengan Vanila dan Vano, Aldrin berusaha menyembunyikan perasaan cemburunya.
🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🥀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀
Pernikahan Aldrin dan Sidqila sudah berjalan selama 5 bulan, orang tua Sidqila membelikan rumah untuk Sidqila dan Aldrin di kota S, agar Aldrin tidak terlalu jauh bolak balek antara kantor, rumah Vanila dan Sidqila. Bahkan Sidqila sedang hamil mengandung anak pertama Sidqila dan Aldrin.
Aldrin sangat senang sewaktu mengetahui kalau Sidqila sedang mengandung anaknya, sangking senangnya, Aldrin selalu menuruti apapun keinginan Sidqila.
Kesempatan ini tidak disia-siakan Sidqila, dia ingin menguasai Aldrin seutuhnya. Sewaktu Aldrin giliran kerumah Vanila, Sidqila sering meminta Aldrin pulang ke rumahnya, dengan alasan anak yang di kandungnya. Apalagi, dokter kandungan yang memeriksa Sidqila juga mengatakan kalau kandungan Sidqila agak lemah, sehingga harus benar-benar dijaga termasuk emosinya.
"Mas mau kemana?" Tanya Vanila
"Mas harus ke rumah Qila dulu. Dia lagi ngidam pengen maryabak asin langganannya katanya. Mas pergi dulu, nanti mas balik lagi. Assalamualaikum" Kata Aldrin sambil mencium puncak kepala Vanila.
"Wa'alaikumussalam." Kata Vanila yang sebenarnya mulai merasa cemburu, karena Aldrin mulai berlaku tidak adil.
Untuk menghilangkan perasaan cemburu dan pikiran negatifnya, Vanila selalu memforsir dirinya untuk bekerja, dan membaca lebih banyak buku.
"Udah mau abis aja tuh buku kamu baca Va?" Tanya Vano yang sore itu rencananya datang menemui Aldrin karena ada yang mau dilaporkan Vano.
"Assalamualaikum kak." Kata Vanila sambil menutup bukunya.
"Hehehe.. wa'alaikumussalam Va." Kata Vano sambil nyengir dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, malu karena lupa mengucapkan salam.
"Kakak cari mas Al?" Tanya Vanila
"Mas Al ke tempat kak Qila." Kata Vanila sambil memaksakan tersenyum, karena Vanila tidak mau Vano melihat, kalau Vanila sedang merasa tidak bahagia dengan pernikahannya.
"Bukannya hari ini mas Al seharusnya di rumah kamu ya? Kok di rumah mbak Qila sih?" Tanya Vano curiga, karena akhir-akhir ini Vano sering melihat Aldrin berada di rumah Sidqila.
"Bawaan bumil kak. Lagi ngidam martabak. Mas Al kan harus tanggung jawab, efek perbuatannya." Kata Vanila yang mencoba melucu dan berusaha tertawa, tapi justru malah membuat Vano tahu bahwa Vanila sedang sedih dan tidak tertawa dengan candaan Vanila.
"Nggak lucu ya?" Tanya Vanila dan menghentikan tawanya.
"Iya nggak lucu. Mas Al udah nggak bener ini. Katanya mau berlaku adil, tapi ini nggak adil namanya. Mas Al lebih banyak menghabiskan waktu dengan kak Qila dibandingkan dengan kamu Va." Kata Vano geram karena menahan marahnya.
"Biarlah kak. Lagian kak Qila kan sedang hamil. Ibu hamil memang suka ngidamkan? Jadi Lala rasa wajar.
"Diminum airnya den" Kata mbok Sa yang datang dari dalam rumah sambil membawa secangkir teh hangat.
"Terimakasih mbok." Kata Vano sambil tersenyum.
"Sama-sama den. Mbok masuk duluan." Kata mbok Sa, lalu meninggalkan Vano dan Vanila.
"Kamu bahagia Va?" Tanya Vano yang melihat Vanila sedang melamun.
"Va.."
"Eh, iya kak. Kenapa?" Tanya Vanila yang tersadar dari lamunanya.
"Nggak ada. Ya udah, kakak cari mas Al di tempat mbak Qila." kata Vani pamit setelah menghabisakan tehnya. Karena Vano tidak tqhan melihat wajah sedih Vanila yang di paksa tersenyum, agar Vanila bisa m3nunjukkan kalau dia baik-baik saja.
__ADS_1
Sudah dua hari Aldrin tidak ke rumah Vanila, karena harus menjaga Sidqila yang mengalami pendarahan, karena mengejar Aldrin yang akan ke rumah Vanila.
"Mas jaga Qila ya La. Maaf, mas masih belum bisa tinggalin Qila." Kata Aldrin via telpon.
"Nggak apa-apa. Mas jaga aja mbak Qila. Semoga Allah segera memberi mbak Qila kesembuhan. Aamiin." Doa Vanila.
"Terima kasih sayang. Ya udah, mas matiin dulu ya. Assalamualaikum" Kata Aldrin lalu memutuskan sambungan telponnya.
Semenjak Sidqila hamil dan kehamilannya lemah, Aldrin jadi lebih sibuk dengan Sidqila dan pekerjaan, bahkan terkadang seharian Aldrin tidak sempat menghubungi Vanila.
Sudah seminggu ini Sidqila harus bedrest di rumah sakit. Mamanya dan umi Salma membantu Aldrin menjaga Sidqila.
"Ma, Al titip Qila dulu. Al pulang ke rumah Lala sebentar." Pamit Aldrin ketika mama Sidqila datang.
"Iya, tapi jangan lama-lama. Kamu tahu sendiri bagaimana Qila kalau dia bangun tidak ada kamu." Kata mama Sidqila karena tidak suka Aldrin ke rumah Vanila.
"Iya ma. Al cuma sebentar kok." Kata Aldrin lalu pergi meninggalkan ibu mertuanya.
Setelah menempuh perjalanan sekitar 30 mrnit, Aldrin sampai di rumah Vanila. Aldrin melihat Vanila sedang duduk di bangku teras sambil tertawa. Melihat kedekatan Vano dan Vanila membuat Aldrin menjadi cemburu.
"Assalamualaikum" Salam Aldrin ketus sambil memandang Vano sinis.
Wa'alaikumussalam." Jawab Vanila dan Vano.
Vanila datang menghampiri Aldrin dan segera mencium punggung tangan Aldrin. Tapi perasaan cemburu dan emosi yang di rasakannya membuat Aldrin menepis tangan Vanila.
"Mas kenapa?" Tanya Vanila heran.
"Rasyid ! sudah berapa kali mas bilang, jauhin Lala. Dia ini kakak ipar kamu. Apa pantas kamu berdua-duaan disini dengan Lala." Kata Aldrin dengan nada suara marah.
"Ada kerjaan yang Rasyid bahas mas. Lagian bukannya Rasyid sudah izin?" Kata Vano yang juga marah mendengar tuduhan Aldrin.
"Tapi kan bisa di kantor. Nggak harus ke rumah." Kata Aldrin lagi.
"Ini salah Lala mas. Lala yang minta kak Vano datang, soalnya Lala nggak bisa keluar, karena Lala belum izin sama mas." Kata Vanila yang mencoba menenangkan suasana, tapi malah membuat Aldrin semakin marah karena merasa Vanila membela Vano.
"Kamu bela aja Rasyid. Nggak usah nganggap mas lagi. Apa pantas seorang istri yang suaminya tidak di rumah menerima laki-laki lain. Apalagi laki-laki itu sangat mencintai kamu." Kata Aldrin dengan suara yang semakin tinggi.
"Mas ! jangan bentak Vanila. Kan bisa diomongin baik-baik." Kata Vano yang jadi emosi melihat Aldrin membentak Vanila.
"Ada apa ini den?" tanya mbok Sa yang keluar dari dalam rumah karena mendengar suara ribut-ribut.
"Mbok nggak usah ikut campur." Kata Aldrin yang masih emosi karena Vano berani melawannya.
"Mas ! Jangan bicara seperti itu ke mbok Sa. Mbok Sa itu Ibu Lala." Kata Vanila tidak suka perkataan Aldrin.
"Kamu ini, semua kamu bela, semua kamu anggap, kecuali mas. Kamu memang beda dengan Qila yang bisa mengerti mas." Kata Aldrin yang mulai membandingkan Vanila dan Sidqila.
Mendengar perkataan Aldrin, membuat Vanila merasa sedih. Air mata yang jarang sekali diperlihatkan Vanila, akhirnya mengalir membasahi wajah cantiknya.
Vano yang melihat Vanila menangis, tidak terima dengan sikap dan perkataan Aldrin yang sudah menyakiti Vanila, langsung mengepalkan tanganya dan langsung memukul Aldrin.
Aldrin yang tidak terima, membalas perbuatan Vano, sehingga mereka jadi saling pukul.
Vanila yang melihat Vano dan Aldrin berantem bermaksud melerai mereka, tapi salah satu dari mereka tidak sengaja mendorong Vanila sehingga Vanila terjatuh.
__ADS_1
"Astagfirullah non." Teriak mbok Sa, yang panik melihat Vanila jatuh, dan menyebabkan Vano dan Aldrin menghentikan baku hantamnya.