
Sejak hari itu Vanila sering main ke panti asuhan jika tidak ada kelas. Selain menjadi donatur, Vanila juga membantu Fatih untuk mengajar adek-adek yang ada di panti. Vanila yang menyembunyikan jati dirinya, tidak pernah mau menyampaikan siapa dia sebenarnya, dan bagaimana latar belakang keluarganya.
"Syah, kakak heran deh, kenapa sih setiap jam sholat kamu pulang? Nggak mungkin, kamu nggak sholat kan Syah?" Tanya Fatih penasaran.
"Alhamdulillah, aku sholat kok kak. InshAllah kalau masih bisa sholat, aku sholat." Jawab Vanila.
"Sekali-sekali kamu sholat disini Syah, mana tau awalnya jadi makmum sholat sama kakak, lama-lama jadi makmum di kehidupan kakak." Kata Fatih sambil tertawa supaya Vanila menganggap bahwa itu hanya candaan. Padahal itu adalah keinginan sebenarnya dari Fatih. Tapi Ia tahu Vanila adalah orang yang agamanya bagus, jadi tidak ada istilah pacaran dalam kamus hidup Vanila.
"InshAllah, nanti ada waktunya aku jadi makmum waktu kakak sholat." Kata Vanila sambil tersenyum.
Sudah hampir dua minggu, Vanila tidak datang ke panti asuhan. Fatih juga sudah berusaha mencari Vanila di kampus, tapi tidak ketemu.
Selesai ujian semester, Vanila harus pergi ke kota B, karena kedua kakaknya akan menikah bersamaan. Sakura dan Dahlia akan menikah, dengan laki-laki yang mereka cintai.
Seperti pernikahan Jasmine, Pernikahan Sakura dan Dahlia juga dilangsungkan secara meriah, dengan tema garden party, mengingat pengantin nya ada dua pasang, akan repot kalau harus di sanding di pelaminan.
Vanila, mengikuti segala prosesi dan persiapan pernikahan kedua kakaknya. Liliana sedang hamil anak keduanya, terlihat kesusahan mengikuti prosesi pernikahan adek-adeknya. Sementara anak pertamanya yang sudah berusia 3 tahun, selalu nempel dengan Vanila.
"Onty Lala tak boleh dekat yang lain tau. apalagi dekat onkel Fatir hus sana." Kata Langit anak Liliana mengusir Fatir, yang mencoba mendekati Vanila untuk menyapanya.
"Onty Lala boleh dekat siape aje. Kenape langit halang-halang uncle?" Tanya Fatir tidak terima.
"tak boleh. onty punya langit. onkel Fatir tak boleh dekat." Protes Langit lagi
"Iya onty punya langit." Kata Vanila sambil mencubit lembut pipi gembul langit gemas, supaya Langit tidak ribut terus dengan Fatir.
Vanila menggandeng Langit kemana-mana, karena Langit tidak mau melepaskan Vanila, bahkan ke toiletpun, Langit akan menunggu Vanila di luar.
Pagi ini akad nikah akan dilaksanakan. Arlan sendiri yang akan menikahkan kedua putrinya. Wajah tampannya yang sudah mulai dimakan usia sudah mulai terlihat lelah.
"Pa, kalau papa lelah, papa bisa istirahat. Jangan paksakan diri papa bekerja terus." Kata Vanila sewaktu duduk disamping papanya, menunggu kedua kakaknya yang akan menikah datang.
__ADS_1
"Papa tidak lelah. Papa senang masih bisa ada kesibukan." Jawab Arlan sambil tersenyum sekilas memandang Vanila dan mencium punca kepalanya.
"Granpa no kiss onty. Onty Lala punya Langit tau." Kata Langit posesif yang membuat Arlan tertawa.
"Tapi Onty kamu ini anak grandpa. Sama seperty Mommy kamu. Jadi grandpa boleh cium dan paluk Onty kayak gini" kata Arlan sambil memeluk Vanila yang membuat Langit langsung teriak.
"Mommy... Granpa jahat. huaaa.." Tangis langit yang membuat orang-orang menatap mereka, dan Arlan hanya tertawa karena berhasil menggoda cucu pertamanya yang menggemaskan.
"Pa, jangan gangguin langit deh." Kata Vanila sambil membujuk Langit.
"Langit kesayangannya Onty, kalau mau jaga onty, langit tidak boleh nangis. Harus jadi anak yang kuat, biar bisa lindungi Mommy, adek sama onty yang lain." Kata Vanila yang berhasil membuat Langit menghentikan tangisnya.
"iya. Langit tak nangis." Jawabnya agak sesegukan berusaha menahan tangisnya. Hal itu membuat Arlan senang, begitu juga dengan Vanila. Ia tidak pernah melihat papanya tertawa bahagia seperti itu. Melihat papanya tertawa bahagia untuk pertama kalinya, membuat Vanila tersenyum dan terharu.
Acara ijab kabul di mulai, Arlan duduk di tempat yang sudah di sediakan, kemudian mulai menjabat tangan calon suami anak-anaknya satu persatu. Dua kali kata 'Sah' terdengar yang di sambut sorak sorai lebahagiaan para tamu yang hadir.
Kedua pengantin perempuan datang ke lokasi akad dan duduk disamping suami mereka masing-masing, melakukan kegiatan, tandatangan buku nikah, pembacaan sighat taklik, memasang cinci hingga menyerahkan mas kawin. Semuanya terlihat sangat bahagia termasuk Vanila.
"Grandpa tak boleh tau, peyuk onty Lala. Onty punya Langit." Kata Langit protes karena Arlan memeluk Vanila.
"Lah, nanti kalau Onty Lala sudah besar, Onty Lala juga bakalan nikah. Nggak mungkin onty sama Langit terus." Kata Arlan
"Tak boleh. Onty nikahnya harus sama Langit." Kata Langit
"Bocah. Memangnya kamu tahu nikah itu apa?" Tanya Dahlia heran, bocah 3 tahun ngomong soal nikah.
"Nikah itu seperty mommy sama daddy. Selalu sama-sama." Jawab Langit polos, membuat yang ada di disekitarnya tertawa.
"Langit tunggu di sini sama grandpa, Onty ambil makan dulu. Ok?" Kata Vanila
"Ikut." Kata Langit sambil memasang muka imut.
__ADS_1
"No. Anak baik harus dengerin Onty. Ok?" Kata Vanila lagi, yang hanya di angguki Langit dengan wajah sedih. Lalu Vanila segera ke meja tempat makanan dihidangkan, mengambil beberapa makanan yang ia suka.
"Assalamua'laikum Va. Ternyata masih suka banget sama dim sum ya?" Salam sebuah suara yang berasal dari belakang Vanila, membuat Vanila menoleh ke sumber suara.
"Wa'alaikumussalam. Iya kak. Aku nggak bisa move on dari dim sum. Kakak apa kabar?" Tanya Vanila, masih sambil memilih beberapa jenis dim sum ke piringnya.
"Alhamdulillah kakak sehat. Kamu makin cantik Va." Kata Vano sambil tersenyum menatap Vanila.
"Aku balik ke meja dulu kak." Kata Vanila
"Kakak mau bicara Va, boleh?" Tanya Vano.
"Maaf kak. Aku sibuk. Permisi." kata Vanila lalu meninggalkan Vano, yang menatap punggung Vanila yang mulai menjauh.
Selama acara pernikahan dan resepsi kakaknya, Vanila selalu bersama Langit, bahkan banyak tamu yang mengatakan bahwa Vanila adalah ibu muda yang sangat cantik dan memiliki anak yang sangat menggemaskan.
Setah acara pernikahan dan resepsi, Vanila dan kekuarga besarnya memutuskan untuk liburan selama 3 hari di Vila keluarga mereka yang berada tidak jauh dari resort milik keluarga Vanila.
Pagi itu, Vanila memutuskan untuk berjalan-jalan di sekitar Vila. Melihat hamparan bukit yang dipenuhi tanaman sayur. Vanila mengabadikan beberapa spot yang bagus melalui kamera hpnya dan mempostingnya disalah satu medsos miliknya.
"Assalamualaikum Va." Salam Vano ramah, sambil menatap Vanila yang sedang fokus memandang pemandangan yang begitu menyejukkan mata di depannya.
"Wa'alaikumussalam kak." jawab Vanila, dan hendak pergi meninggalkan Vano.
"Va, apa kamu tidak bisa maafkan kakak?" Tanya Vano yang menghentikan langkah Vanila.
"Aku kan sudah pernah bilang kak, tidak ada yang perlu dimaafkan. Tapi aku tidak mau, nanti kedekatan kita secara sengaja atau tidak, akan menyakiti Jeje." Jawab Vanila.
"Tapi Va.." Kata Vano sambil menahan tangan Vanila untuk tidak pergi. Vanila melepaskan tangan Vano, lalu menatap Vano dengan serius.
"Minta Jeje hubungi aku, sebagai bukti bahwa Jeje sudah maafkan kakak. Maka aku akan menjadi teman kakak yang baik." Kata Vanila lalu pergi meninggalkan Vano yang masih berdiri diam ditempatnya, kembali memandang punggung Vanila yang mulai berlari menjauh meninggalkannya.
__ADS_1