Vanilarea

Vanilarea
Bertemu


__ADS_3

Sudah seminggu Vanila berada di rumah sakit, membantu merawat Daffa dan mama Jenifer. Vanila memperkenalkan Jenifer kepada Daffa, sehingga mereka bertiga menjadi akrab, padahal baru dekat sekitar seminggu.


"Kamu sepertinya udah lebih baik deh. Kenapa nggak pulang dan di rawat di rumah aja?" Tanya Vanila heran, karena baru saja memeriksa kondisi Daffa, dan kondisinya sudah lebih baik.


"Kalau kamu mau rawat aku di rumah, aku akan pulang. Tapi kalau kamu nggak mau, aku akan tetap disini." Kata Daffa sambil tersenyum manis, yang membuat Vanila agak tersipu.


"Jangan sering-sering senyum. Ntar kadar kemanisan kamu berkurang." Kata Vanila yang berusaha merilekskan dirinya agar tidak terpesona dengan senyuman Daffa.


"Cuma sama kamu aja aku suka senyum. Kali aja kalau aku sering senyumin kamu, kamu mau jadi pacar aku." Kata Daffa terus terang yang justru membuat Vanila semakin blushing.


"Udah ah. Ngawur kamu. Aku balik ke tempat Jeje dulu. Kamu baik-baik di sini. Tiang infus jangan di cemilin." Kata Vanila sambil tertawa lalu pergi meninggalkan Daffa.


"Kamu dari mana Je?" Tanya Vanila yang melihat Jeje dari arah koridor lobi.


"Ngurus administrasi mama. Terimakasih ya La, kamu udah bayar semua biaya pengobatan mama." Kata Jenifer sambil memeluk Vanila dan menangis.


"Mama kamu kan mama aku juga. Sebagai anak, aku juga punya tanggung jawab buat mama sembuh. Oh iya, profesor Lucas akan ke sini besok. Jadi kita bisa tahu kondisi mama, semoga aja profesor Lucas bisa buat mama sadar. Aamiin." Kata Vanila, yang juga diAamiinkan oleh Jenifer.


"Itu pasien tersayang kamu, nggak merana kamu tinggalin?" Tanya Jenifer yang tahu kalau Vanila pasti dari ruangan Daffa.


"Nggak lah. Yang jagain kan banyak." Kata Vanila lagi.


"Tapi kan beda kalau kamu yang jaga. Daffa itu suka sama kamu La." Kata Jenifer lagi.


"Biarin aja. Aku nggak mau lukain hati aku lagi. Aku serahkan aja sama Allah. Aku yakin, Allah akan kasi yang terbaik. Oh iya Je, aku punya kejutan buat kamu." Kata Vanila sambil senyum-senyum nggak jelas.


"Kejutan apa La?" Tanya Jenifer penasaran.


"Ada deh, masak kejutan di bilang-bilang. Nggak kejutan namany atuh neng." Kata Vanila sambil tertawa dan segera mempercepat langkahnya sampai di ruang perawatan mama Jenifer.


Sesampainya di ruangan mama Jenifer di rawat, Vanila segera memeriksa kondisi mama Jenifer yang terlihat seperti orang yang sedang tertidur.


"Bagaimana mama hari ini?" Tanya Jenifer.


"Sama aja. Tapi aku yakin, mama akan secepatnya bangun." Kata Vanila sambil tersenyum, memberi semangat kepada sahabatnya.


Sesuai seperti yang di rencanakan, Vanila mengajak Jenifer untuk melakukan perawatan tubuh. Vanila juga mengajak mbak Amel dan Niken.


"Aduh, nih ciwik-ciwik pasti lama nih." Protes Satya.


"Abangkan cuma supir. Dah sana balik lagi ke kantor. Kerja yang benar." Kata Vanila yang mengusir Satya.


"Wah, kamu Ae, KDRT ini namanya, Abang laporkan kamu ke komnas perlindungan pria ya." Kata Satya dengan wajah yang sok di seriusin.

__ADS_1


"Laki-laki tuh nggak perlu dilindungin. Makanya nggak ada komnas perlindungan laki-laki. Lagian abang, aku KDRT dari mananya coba, nyentuh abang juga nggak loh." Protes Vanila.


"Ya udah, kena pasal perbuatan tidak menyenangkan." Kata Satya lagi, yang memang suka sekali membuat Vanila berdebat dengannya.


"Udah Ae, yang waras ngalah. Kamu balik gih Sat, ke kantor. Ini Spa khusus WANITA."Kata Amel yang menekankan kata Wanita.


"Iya deh, ngalah aku kalau sama kamu, dari pada ntar nggak di kasih jatah." Kata Satya.


"Jatah apa?" Tanya Vanila bingung.


"SATYA..." teriak Amel kesak yang membuat Satya langsung kabur sambil tertawa melihat ekspresi Amel.


"Jatah apa sih mbak?" Tanya Vanila lagi


"Hus, itu pembicaraan 18+." Kata Niken.


"Aku udah 18+ loh." protes Vanila.


"Udah nggak usah di bahas, emang Satya sableng." Kata Amel lalu menggandeng Vanila.


"Ayok Je." Kata Vanila yang melihat Jeje yang masih bengong mencerna kejadian yang batu saja dilihatnya.


"Oh iya lupa, mbak Amel, kak Niken, ini Jeje sahabat aku. Jeje, ini mbak Amel dan Kak Niken, kakak aku." Kata Vanila memperkenalkan Amel, Niken dan Jeje. Setelah berkenalan mereka segera memilih jenis perawatan yang mereka inginkan.


"Kamu balik ke hotel Ae?" Tanya Amel.


"Nggak mbak. Aku mau ke Bandara. Ada yang mau di jemput."Kata Vanila sambil melirik Jenifer.


"pakai apa?" Tanya Amel lagi.


"Pakai mobil bang Satya. Aku udah bilang, rental si below seminggu." Kata Vanila.


"Tumben dia ngasih orang pinjam si below." Kata Amel heran.


"Iya kalau Ae pinjam nggak ngasih si Satya, bisa di depak dia sama si Aer." Kata Niken sambil tertawa.


Vanila hanya nyengir, mendengar komentar Niken dan Amel, sedangkan Jeje menikmati makanan yang di pesannya.


Selesai makan, mereka segera menuju tempat parkir karena akan kembali ke rumah masing-masing. Di parkiran terlihat Satya sedang bersandar di pintu mobil kesayangannya yang di kasih nama below, karena berwarna biru.


"Kamu jaga below baik-baik ya Ae." Kata Satya dengan wajah sedih sewaktu menyerahkan kunci mobil.


"Paling lecet dikit." Canda Vanila

__ADS_1


"Kalau below lecet, abang nggak mau jadi abang kaku lagi, abang hapus kamu dari KK." Kata Satya, membuat orang yang mendengarnya tertawa mendengar ancaman Satya.


"Abang nggak ikhlas?" Tanya Vanila pura-pura marah.


"Nggak sih. Terserah kamulah Ae. Below kamu jangan nakal ya sama Aer, jaga Aer baik-baik. Kalau Aer nakal, kamu sentil aja. Ok." Kata Satya sambil menepuk-nepuk mobilnya, yang membuat Niken dan Amel geleng-geleng kepala.


"Calon sumi lo tuh, bawa ke psikiater Mel." Kata Niken


"Enak aja, ogah." Protes Amel.


"Shut.. Adek Amel dan adek Niken, nggak usah rebutin abang, kan Amel bisa jadi istri pertama abang, trus Kenken jadi istri kedua abang, InshAllah abang adil kok." Kata Satya sambil senyum-senyum dan menaik turunkan alis matanya.


"Huuuu.. mau lo." Protes Amel dan Niken lalu meninggalkan Satya.


"Eh babang kok di tinggal sih. Dasar nih, istri-istri nggak ada akhlak, dosa loh ninggalin suami." Kata Satya sambil mengejar Niken dan Amel.


"Ayok Je." Kata Vanila lalu meminta Jenifer masuk ke mobil Satya yang dipinjam Vanila.


"Kita jadi ke bandara?" Tanya Jenifer.


"Jadi dong. Tapi cari mesjid dulu mau sholat." Kata Vanila, lalu segera melaju dengan mobil Satya meninggalkan parkiran Cafe.


Selesai sholat magrib, Vanila dan Jenifer segera menuju Bandara.


"Jemput siapa sih La?" Tanya Jenifer penasaran.


"Ada deh." Kata Vanila sambil senyum-senyum.


Sesampainya di bandara, mereka segera menuju ke terminal kedatangan, Vanila melihat jadwal pesawat yang sudah landing. Lalu Vanila segera mencari sosok yang di tunggu kedatangannya sama Vanila.


"Ayok Je." Kata Vanila sambil menarik tangan Jenifer begitu melihat sosok yang dari tadi dicarinya.


"Assalamualaikum kak Vano." Salam Vanila sambil menepuk bahu seorang pria yang sedang menggendong tas ransel berwarna biru, mengenakan kaos berkerah warna hitam, jogger dan kets putih.


"WaWa'alaikumussalam. La....ma banget kamu Va." Kata Vano yang terkejut melihat Vanila datang dengan Jenifer.


Jenifer yang tidak menyangka kalau cowok yang ada di depannya, hanya bisa bengong, dan tidak tahu harus berkata apa.


"Assalamualaikum Je, apa kabar?" Tanya Vano sambil tersenyum, namun Jenifer masih terpaku, tidak menjawab salam Vano.


"Wa..Wa'alaikumussalam. Alhamdulillah sehat." Kata Jenifer yang menjawab salam Vano ketika Vanila menyenggol lengannya, agar Jenifer tidak bengong lagi.


"Jadi ini kejutan buat kakak?" Tanya Vano pada Vanila.

__ADS_1


"Yup." Jawab Vanila sambil tersenyum senang.


__ADS_2