Vanilarea

Vanilarea
Pesantren 2


__ADS_3

Hari ini dengan penerbangan paling pagi, Aldrin dan Vsnila berangkat ke kota S, ke tempat umi Salma, pesantren tempat dulu Vanila sempat menimba ilmu. Sedangkan Vano kembali ke kota J untuk mengurus perusahaan.


"Assalamualaikum wr. wb." Salam Aldrin di depan ointu rumah umi salma yang masih tertutup.


"Wa'alaikumusalam wr wb." Ucap umi Salma lalu membuka pintu dengan perasaan senang, karena umi Salma sangat hapal suara anak-anaknya.


Umi salma tersenyum bahagia ke arah Aldrin dan senyumnya semakin lebar bahkan sampai meneteskan air mata ketika Aldrin menggeserkan tubuhnya, dan memperlihatkan Vanila yang sedang tersenyum ke umi Salma.


"MashaAllah. Ini kamu La? beneran ini Al?" Tanya umi salma tidak percaya dan langsung memeluk Vanila erat.


"Iya umi. Ini Lala. Al sudah berhasil nemuin istri Al." kat aldrin meyakinkan.


"Siapa Mi?" Tanya abah Abdullah, yang muncul di ambang pintu.


"Assalamualaikum bah." kata Aldrin lalu mencium tangan abahnya, dan abah menjawab salam Aldrin dan masih penasaran, siapa yang dipeluk istrinya.


Umi Salma melepaskan pelukannya sehingga memperlihatkan wajah Vanila. Abah Abdullah sangat senang melihat Vanila yang baik-baik saja, dan tanpa ia sadari mata tuanya meneteskan air mata karena bahagia.


"Ini kamu La?" Tanya Abah Abdullah masih tidak percaya.


"Assalamualaikum abah. Iya ini Lala." Kata Vanila sambil mencium punggung tangan kyai Abdullah.


"Wa'alaikumussalam. Abah senang kamu baik-baik aja. masuk-masuk. Umi kebiasaan nih, masak mantu sama anaknya dibiarkan di luar." kata Abah Abdullah.


Umi Salma tidak melepaskan tangannya dari tangan Vanila, berkali-kali umi salma memegang wajah Vanila dan mengelus kepala Vanila untuk meyakinkan kalau Vanila nyata.


Umi Rania yang sedang membantu umi Salma menvantarkan minuman dan cemilan, untuk menemani umi Salma mengobrol dengan Aldrin, Abah dan Vanila.


"Assalamualaikum umi." Sapa Vanila sambil mencium tangan umi Rania.


"Wa'alaikumussalam. Maaf, ini beneran istri mu Al?" tanya umi Rania tidak percaya ketika melihat wajah cantik Vanila.


"Beneran umi. masak Al bawak istri orang. Ini istri Al loh. Lagian umi masak nggak ngenalin." Kata Aldrin sambil tersenyum.


"Oalah.. ayu tenan istri mu Al. Umi nggak kenal. Baru ketemu ini." Kata Umi Rania.


"Ini Aisyah Umi." kata Vanila sambil tersenyum, mengingatkan umi Rania.


"Aisyah?, yang dulu tinggal di sini? Kok beda? Yang ini cantiknya kebangetan." kata umi Rania tidak percaya.


"Maaf umi, kalau dulu Aisyah bohong, soal penampilan." kata Vanila sambil myengir, karena merasa bersalah sudah membohongi orang-orang yang ada di pesantren.


"Cantik koyo ngene, kenapa di sembunyikan toh?" Tanya umi Rania heran.


"Banyak tanya kamu Ran." Kata Umi Salma yang paham kalau Vanila mulai tidak nyaman dengan pertanyaan uki Rania.

__ADS_1


"Yo wes. Tak lanjutin masaknya dulu ya mbak yu." kata Umi Rania lalu kembali ke dapur.


Banyak pertanyaan dari umi Salma dan abah Abdullah yang harus dijawab Vanila. Aldrin yang tahu kalau Vanila mulai merasa tidak nyaman dengan pertanyaan umi dan abahnya, izin untuk membawa Vanila istirahat, dengan alasan mereka sudah melakukan perjalanan jauh.


"Umi masih kangen loh Al, sama mantu umi." kata Uni Salma merajuk.


"Nanti kan bisa ngobrol lagi umi. Lala kan harus istirahat. Umi mau, mantunya kabur lagi, gara-gara diajakin ngobrol terus sama umi?" Tanya Aldrin bercanda yang membuat Vanila jadi tersenyum canggung dan mencubit pinggang Aldrin.


"Jangan ungkit-ungkit kabur deh mas." bisik Vanila yang merasa tidak enak.


" Ya udah, kamu istirahat dulu ya La. Kamar kamu selalu umi bersihin. Jadi bisa ditempati." Kata Umi Salma yang lupa kalau Vanila sudah menikah dengan Aldrin.


"Kok di kamar Lala sih mi?, Lala itu istirahatnya di kamar Al." protes Aldrin.


"Oh iya, umi lupa. Kamar kamu juga selalu umi bersihin kok." kata Umi Salma sambil tersenyum.


"Lala di kamar Lala aja ya mas?" Kata Vanila ketika berjalan dengan Aldrin menuju kamarnya.


"Kamu istri mas La. Jadi ya kita harus di kamar yang sama. Ntar kita di gosipin yang nggak-nggak lagi. Mas janji, mas nggak akan macam-macamin kamu, kalau ksmu nggak izinkan." Kata Aldrin sambil tersenyum meyakinkan Vanila.


"Cklek"


Aldrin membuka pintu kamarnya, pintu yang pernah Vanila lihat sewaktu membantu umi Salma membereakan lantai atas, tapi tidak pernah tahu dalam kamar Aldrin seperti apa.


Vanila melamgkahkan kakinya ke kamar Aldrin yang tertata dengan rapi. Kamar yang cukup luas, dimana dalam kamar tetdapat satu kasur berukuran besar, dua buah kursi dan sebuah meja untuk bersantai, rak buku besar yang penuh dengan buku-buku, sebuah meja belajar yang terletak disamping rak buku, dan lemari pakaian yang tidak terlalu besar.


Vanila segera membuka lemari pakaian Aldrin, dan melihat beberapa gamis lengkap dengan jilbabnya tergantung rapi di lemari.


"Kok ada baju cewek sih mas?" Tanya Vanila heran.


"Ya adalah. Itu maju mantan mas."Kata Aldrin sambil tersenyum jahil, tapi tidak terlihat oleh Vanila.


"Ngapain cobak, baju mantan mas ada di sini. Lala di kamar bawah aja." Kata Vanila marah, dan bermaksud keluar dari kamar Aldrin, tapi Aldrin menahan tangan Vanila, dan memeluk Vanila dari belakang.


"Eleh eleh, istri cantiknya mas makin imut deh kalau lagi cemburu." Kata Aldrin yang memeluk Vanila semakin erat, karena Vanila menggeliat berusaha melepaskan pelukan Aldrin.


"Iya mas sih, barang mantan masih aja di simpan." Protes Vanila.


"Kamu lihat sini dulu sayang." Kata Aldrin lalu menuntun Vanila menuju lemari pakaiannya kembali.


"Cobak kamu lihat. Kamu merasa asing dengan baju-baju itu?" Tanya Aldrin.


"Nggak sih. Ini mirip gamis Lala." kata Vanila yang mengingat, bahwa ternyata baju-baju yang ada di lemari mirip dengan pakaian yang sering ia gunakan.


"Memang itu pakaian kamu sayang. Kan kamu mantan, yang sudah jadi istri mas." Kata Aldrin sambil menoel hidung mancung Vanila sambil tertawa karena berhasil mengerjai istrinya, yang membuat Vanila jadi malu dan wajahnya memerah seketika.

__ADS_1


"Mas jahat ih. Senang ya, berhasil ngerjain Lala? Ntar Lala balas ya." Kata Vanila kesal.


"Mas mau mandi, trus mau ke pesantren. Kamu siapin baju mas ya." Kata Aldrin lalu mengambil handuk yang tersusun rapi di lemari.


Vanila mengambil baju koko berwarna biru dan kain sarung dengan warna senada, kemudian meletakkannya di atas tempat tidur. Setelah meletakkan pakaian Aldrin, Vanila duduk di kursi yang tidak jauh dari tempat tidur. Vanila mengecek beberapa pesan yang masuk dari AerSS.


"cklek"


Terdengar suara pintu kamar mandi terbuka, dan terlihat Aldrin yang hanya mengenakan handuk sepinggang, yang membuat Vanila refleks berteriak dan menutup matanya dengan telapak tangan.


"Aaa.. mas kenapa nggak pakai baju?" Protes Vanila.


"Ya Allah La, mas abis mandi loh. Bajunya kan baru kamu siapin." Kata Aldrin yang tiba-tiba mendapat ide jahil untuk kembali mengerjai Vanila.


"Udah belum pakai bajunya?" Tanya Vanila sambil masih menutup mata dengan telapak tangannya.


Aldrin tidak menjawab, malah melangkah pelan-pelan menuju ke tempat Vanila duduk. Karena tidak mendengar jawaban, Vanila menurunkan tangannya dan membuka matanya.


"Aaaa.. mas apa-apain sih. Aurat tau. Pakai baju cepat." protes Vanila yang hendak menutup kembali matanya dengan tangan, tapi Aldrin menangkap tangan Vanila dan menarik Vanika kedalam pelukannya, sambil tertawa.


"Aurat dari mana? Kamu mukhrimnya mas La. Lihat lebih dari ini mesum tau. Jangan teriak-teriak ah. Untung aja kamar mas kedap suara, kalau nggak, bisa-bisa umi datang bawain mas sapu." Kata Aldrin.


"Mas mesum. Lepasin Lala nggak?" Kata Vanila garang.


"Nggak mau. Kapan lagi mas bisa peluk istri cantik mas?" Kata Aldrin yang makin mengeratkan pelukannya.


"Mas janji loh, nggak macam-macam sama Lala." Kata Vanila lagi.


"Iya, mas janji untuk tidak melakukan hubungan suami istri sampai kamu siap. Tapi kalau peluk atau cium boleh dong." kata Aldrin lagi.


Vanila yang kesal tidak menjawab, tapi mencubit pinggang Aldrin cukup keras, sehingga Aldrin meringis kesakitan dan langsung melepaskan pelukannya.


"KDRT namanya ini La." Kata Aldrin sambil mengelus bekas cubitan Vanila.


"Biarin." Jawab Vanila kesal lalu menjauh dari Aldrin.


"Maafin mas La. Mas cuma bercanda." Kata Aldrin dan segera mengenakan pakaian yang diletakkan Vanila di atas tempat tidur.


"Udah mas ke mesjid sana. Lala mau dhuha di kamar aja." Kata Vanila sambil mendorong Aldrin keluar dari kamarnya.


Setelah Aldrin pergi, Vanila segera mandi dan melaksanakan sholat dhuha, kemudian kembali mengecek pekerjaan yang dikirimkan Satya dan sempat juga melakukan VC.


Karena merasa cukup lelah, dan tadi tidak tidur di perjalanan, Vanila ketiduran di atas tempat tidur Aldrin, masih menggunakan mukenah yang di pakainya untuk sholat.


Aldrin yang sudah selesai dhuha di mesjid pesantren, kembali ke kamarnya bermaksud mengajak Vanila bertemu dua sahabatnya Rere dan Juli, yang sekarang menjadi pengurus di pesantren.

__ADS_1


Aldrin melihat Vanila yang tertidur pulas, tidak tega unyuk membangunkan Vanila. Aldrin hanya mencium kening Vanila, lalu memperbaiki gaya tidur Vanila yang tadi dalam posisi bersandar di kepala tempat tidur.


__ADS_2