
Hari ini dokter Abimana membuka gips kaki kiri Vanila yang retak. Setelah melakukan perawatan, dan melakukan pemeriksaan terakhir, dengan berat hati dokter Abimana mengizinkan Vanila pulang.
"Nanti jangan lari-lari dulu ya La. Jangan lompat juga. Kadang memang terasa agak sedikit ngilu. Tapi kalau kamu rutin periksa ke dokter ortophedi dan minum obat, Saya yakin kamu akan pulih dengan cepat." Terang dokter Abimana.
"Aye aye kapten." Kata Vanila sambil memberi hormat ala pelaut.
"Aduh.. Ratu drama bakalan pulang. Rumah sakit jadi nggak seru." kata Dokter Abimana dengan wajah sedih.
"Alah.. dokter jangan pura-pura sedih deh. Mukanya biasa aja." Kata Vanila mengejek dokter Abimana.
"Ini bukan akting La. Tapi ini beneran." Kata dokter Abimana lagi dengan wajah yang di buat makin sedih.
"Tapi bohong. hahahaha." kata dokter Abimana lalu tertawa.
"Sudah Lala duga. Lala mah, nggak bisa dokter prank." Kata Vanila lagi.
Mbok Sa sudah membereskan barang-barang Vanila dan dibantu pak Arman membawa travel bag Vanila menuju parkiran.
Vanila yang walau gibs nya sudah di lepas, tapi masih menggunakan kruk untuk berjalan. Mbok Sa berjalan di samping Vanila, memastikan kalau Vanila bisa berjalan menggunakan kruknya.
Dokter Abimana dan suster Diana yang dekat dengan Vanila, mengantarkan Vanila ke loby rumah sakit. Sedangkan Arlan yang mebetulan ada pekerjaan di negara M yang tidak bisa di tinggal, mempercayakan Vanila kepada mbok Sa.
"Sering-sering main kesini La." Kata dokter Abimana.
"Lah? Dokter kira kota S ke sini tinggal seberang paret ya? Enak bener suruh-suruh Lala sering main-main kesini." Kata Vanila yang pura-pura kesal.
"Dasar ratu drama" Kata dokter Abimana sambil menoel hidung Vanila yang mancung.
"Dokter ! ih, ntar hidung aku.."
"Iya. Ntar kalau hidung kamu pesek, saya biayain buat operasi plastiknya. Ntar saya suruh mamang tukang sampah komplek rumah saya kumpulin plastik buat operasi hidung kamu. Puas?!" Kata dokter Abimana sambil tertawa.
"Wah.. masak pakai plastik yang di kumpulin mamang tukang sampah sih? Pakai plastik botol infus kayaknya lebih bagus deh dok." Kata Vanila yang pura-pura berfikir.
"Dasar kamu ini ya. Ada aja jawabannya." kata Dokter Abimana sambil mengelus kepala Vanila gemas.
"Hati-hati di jalan ya La. Semoga kakinya cepat pulih" Kata suster Diana sambil memeluk Vanila.
"terimakasih sus." Kata Vanila sambil teesenyum.
"Saya nggak di peluk juga La?" Tanya dokter Abimana sambil senyum dan menaik turunkan alisnya.
"Bukan muhrim. Nggak boleh peluk-peluk ya." Protes Vanila
"Saya mau kok jadiin kamu muhrim saya." Kata dokter Abimana sambil tersenyum.
"In your dream dok." Kata Vanila sambil tertawa.
"Saya minta kamu sama yang punya kamu loh La. Nanti kalau kamu jadi muhrim saya, kamu nggak boleh kabur." Kata dokter Abimana percaya diri.
"I'll see" Kata Vanila lalu masuk ke mobil, kemudian membuka kaca mobil.
"Assalamualaikum. Lala pulang dulu." Kata Vanila sambil tersenyum, lalu dokter Abimana dan suster Diana menjawab salam Vanila, dan melihat sampai mobil yang membawa Vanila tidak terlihat lagi.
"Dokter beneran suka dengan Lala?" tanya suster Diana.
"Sejak pandangan pertama sus. Tapi agak sedikit nggak PD, waktu tahu Lala baru 14 tahun. Tapi beda 10 tahun, nggak masalah sepertinya. Palingan nanti Lala nyanyi Kenapa le kok oom manise buat aku jadi terngiang-ngiange" Nyanyi dokter Abimana kemudian tertawa membayangkan Vanila nyanyi lagu itu, yang membuat suster Diana hanya geleng-geleng kepala. Image dokter cool luntur seketika, ketika dokter Abimana berhadapan dengan Vanila.
🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀
Setelah beristirahat selama 2 hari, hari ini Vanila kembali kuliah. Vanila tidak kuliah hampir sebulan. Walaupun tidak masuk,Vanila sudah mempelajari semua materi untuk semester berjalan, bahkan Vanila berencana untuk mengurus SP agar bisa selesai kuliah lebih cepat.
Vanila yang memang menutup diri selama di kampus, tidak memiliki teman. Banyak yang ingin berteman dan mendekati Vanila, tapi Vanila hanya menanggapinya dingin. Makanya di kampus Vanila terkenal cewek yang sombong.
"Assalamualaikum Syah." Sapa Fatih yang nggak sengaja melihat Vanila yang baru keluar dari ruangannya.
"Wa'alaikumussalam kak." Jawab Vanila sambil tersenyum dan berusaha berjalan dengan bantuan kruk, karena kata Dokter yang menangani Vanila, paling tidak Vanila masih hàrus pakai kruk sekitar 2 bulanan.
"SubhanAllah. Kaki kamu kenapa Syah?" Tanya Fatih terkejut dan baru sadar kalau Vanila jalan pakai kruk.
__ADS_1
"Salah satu cara Allah ngurangi dosa aku kak." Jawab Vanila sambil tersenyum.
"Pantasan aja hampir sebulan ini kamu nggak kelihatan." kata Fatih.
"Iya. Lagi pemulihan. InshAllah sebulan lagi nggak kaki tiga." Kata Vanila.
"Kaki tiga?" Tanya Fatih heran.
"Nih kaki ketiga aku." Kata Vanila sambil menunjukkan kruknya.
" Kamu ada-ada aja syah. Mau kakak antar?" Tanya Fatih.
"Nggak usah kak. Itu pak Arman sudah jemput. Aku duluan kak. Assalamualaikum. " kata Vanila lalu segera masuk ke dalam mobilnya.
"Assalamualiakum." ucap Vanila begitu masuk kedalam rumah.
"Wa'alaikumussalam." Jawab Arlan dan mbok Sa.
"Papa kapan datang?" Tanya Vanila sambil berjalan ke arah papanya.
"Tadi pagi waktu kamu berangkat kuliah. La, kan papa sudah bilang, nggak usah kuliah dulu deh sampai benar-benar sembuh. Nanti papa bantu uruskan SP sama si Aryo." Kata Arlan.
"Papa kenal pak Aryo?" Tanya Vanila heran.
"Kenal lah. Aryo itu salah satu sahabat papa. Lagian papa juga punya saham di kampus kamu." Kata Arlan sambil menyeruput kopi panas yang dibuat mbok Sa.
"Serius pa?" Tanya Vanila lagi.
"Serius lah." Jawab Arlan.
"Ok lah kalau begitu. Lala SP semua mata kuliah ya pa? Biar tahun depan Lala tamat." Kata Vanila senang.
"Gampang." kata Arlan.
"Makasih pa." Kata Vanila sambil memeluk papanya.
"Ada maunya aja, peluk-peluk." Kata Arlan sambil tertawa.
Arlan menghubungi Aryo yang merupakan sahabat sekaligus dekan di kampus Vanila untuk mengurus SP Vanila, dan Vanila akan cuti kuliah untuk satu bulan kedepan. Arlan ingin Vanila segera pulih, dan bisa melakukan kegiatan tanpa menggunakan kruk.
🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱
Vanila benar-benar beristirahat selama sebulan, Arlan tidak mengizinkan Vanila keluar rumah, setiap hari Langit menghubungi Vanila melalui VC, hal itu menjadi salah satu hiburan untuk Vanila.
Vanila juga sekali-sekali menghubungi bunda Ningrum, Guntur dan anak-anak panti yang lain. Jaki dan Galih selalu rajin ke panti berharap Vanila sering-sering menghubungi bunda Ningrum.
Waktu sebulan menjadi tidak terasa membosankan, karena Vanila melakukan banyak hal di rumahnya. Vanila juga berhasil membuat beberapa sistem yang akan membantu pekerjaan kantor papanya. Arlan bisa sedikit lebih santai dengan sistem yang di buat oleh Vanila.
"Pa, Lala mulai SP minggu depan ya? Kaki Lala udah sembuh. Udah nggak pakai kruk lagi." Kata Vanila sewaktu makan malam dengan papanya.
"Ok. Aryo udah urus semuanya. Kamu tinggal ketemu aja sama Aryo." Jelas Arlan.
"Siap boss." Kata Vanila yang mebuat Arlan tersenyum melihat tingkah Vanila.
Hari ini Vanila mulai kelas SP nya, Vanila sengaja memadatkan kelas SPnya, sehingga Ia bisa agak santai sewaktu menyusun skripsi. Vanila di kampus belajar face to face dengan dosen yang mengajar. Dosen-dosen yang mengajar Vanila benar-benar kagum dengan kepintaran Vanila. Bahkan kelas SPnya dapat Vanila selesaikan lebih cepat dari waktu yang sudah di rencanakannya.
Vanila mulai sibuk dengan skripsinya setelah menyelesaikan SP selama 4 bulan. Vanila memilih judul skripsi tentang Sistem digital manajemen pekerjaan kantor.
Vanila membuat beberapa sistem pekerjaan dan mencobanya selama tiga bulan di beberapa kantor papanya, kemudian Vanila segera menyebarkan kuesioner untuk melihat efektif atau tidaknya sistem yang dibuat Vanila.
Dalam waktu 3 bulan Vanila telah menyelesaikan skripsinya. Dosen pembimbingnya sangat kagum dengan ide skripsi yang di buat Vanila.
Hari ini Vanila akan sidang skripsi. Vanila benar-benar sudah mempersiapkan semuanya dengan baik. Vanila memasuki ruangan sidang ketika namanya di sebut, dan Vanila agak sedikit terkejut, karena yang akan mengujinya adalah Aldrin.
Aldrin dan Vanila bersikap profesional, mereka berdua seperti orang asing yang tidak mengenal satu sama lainnya.
setelah dipersilahkan, Vanila mulai menjelaskan tentang skripsinya. Selesai menjelaskan Vanila menjawab beberapa pertanyaan dari Al dan Pak Suryo yang merupakan salah satu dosen killer dan detail, tidak ada banyak pertanyaan yang diajukannya. Begitu juga dengan Al, mereka benar-benar kagum dengan hasil penelitian skripsi Vanila.
Vanila yang sedang menunggu hasil pengumuman sidang skripsinya, tiba-tiba di tarik oleh Aldrin menuju parkiran.
__ADS_1
"Maaf pak. Kenapa bapak menarik saya kesini?" Tanya Vanila bingung.
"Kamu ikut aja. Masuk cepat. Yang jelas saya tidak akan berbuat jahat dengan kamu." Kata Aldrin yang sudah masuk ke mobil. Vanila yang bingung masih berdiri di samping mobil Aldrin.
"Cepat Aisyah." Kata Aldrin yang membuat Vanila refleks masuk ke mobil Aldrin.
Sepanjang perjalanan mereka berdua hanya diam. Vanila semakin bingung ketika Aldrin ternyata membawa Vanila ke rumah sakit.
"Iya umi. Ini sudah sampai." Kata Aldrin yang menjawab panggilan telponnya, lalu segera menarik Vanila yang masih bingung menuju ruangan ICU.
Umi salma dan Abah Yusuf terlihat berada di depan ruangan ICU. Umi Salma yang melihat Vanila, langsung memeluk Vanila erat yang mebuat Vanila semakin bingung.
"Aisyah yang sabar ya nak." Kata umi Salma.
"Ada apa ini umi?" Tanya Vanila ketika umi Salma melepaskan pelukannya.
Umi Salma menuntun Vanila menuju ruangan ICU. Vanila terduduk lemas dengan air mata yang mengalir begitu melihat sosok yang sedang terbaring dengan alat-alat medis di ruangan ICU.
"Papa. Papa kenapa umi?" Tanya Vanila
"Papa kamu kecelakaan. Kamu harus kuat Syah." Kata Umi Salma sambil membantu Vanila berdiri.
"Maaf Syah. Sebelum masuk ruangan ICU, Arlan ingin menikahkan kamu. Karena Arlan ingin menyelesaikan tanggungjawabnya. Dokter juga bilang kondisi Arlan sangat parah. Suatu mukjizat Arlan masih bisa bertahan sampai sekarang melihat kondisinya." terang Abah Yusuf.
"Menikah?, Tapi Bah..."
"Kamu nikah gantung. Secara agama usia kamu sudah boleh untuk menikah." Terang umi Salma yang melihat Vanila bingung.
"Kamu harus menikah dengan Aisyah Al." Kata Abah Yusuf kepada Aldrin, yang membuat Aldrin terkejut.
"Tapi bah, Al kan sudah bilang dengan abah kalau Al tahun depan akan mengkhitbah Lala." protes Aldrin.
"Abah sudah janji dengan Arlan, akan menikahkan salah satu putrinya dengan putra abah." Kata Abah Yusuf.
"Kenapa nggak Rasyid aja bah?" Tanya Aldrin.
"Coba kamu hubungi Rasyid. Kalau Rasyid mau, Rasyid yang akan menikah dengan Aisyah." Kata Abah Yusuf.
Adrin segera menelpon adiknya dan memintanya untuk menikah dengan Vanila. Tapi Rasyid juga menolak, karena Ia juga sudah punya wanita yang dicintainya. Aldrin yang tidak mau memaksa adek kesayangannya, akhirnya mengalah, tapi tetap meminta Rasyid datang untuk menyaksikan pernikahan Masnya.
"Al bersedia menikah dengan Aisyah. Tapi Al mau bicara dulu dengan Aisyah."Kata Aldrin lalu mengajak Vanila menjauh dari umi dan abahnya.
"Aisyah. Kamu tahu, kalau kakak sebenarnya tidak ingin menikah dengan kamu, karena kakak sudah janji tahun depan akan mengkhitbah orang yang kakak cinta sejak lama. Kalau kamu bersedia tahun depan kakak menikahi orang yang kakak cintai, Kita akan tetap bersama. Tapi jika kamu tidak bersedia, walau Allah membenci perbuatan ini, maka kakak akan menceraikan kamu ketika kamu memintanya." Kata Aldrin.
Vanila yang terus menangis dan hanya ingin mewujudkan keinginan papanya, memilih untuk mengiyakan ucapan Aldrin dengan menganggukkan kepalanya.
Mereka kembali ke tempat abah Yusuf dan umi Salma. Lalu Aldrin dan abah Yusuf segera mempersiapkan pernikahan mengingat kondisi Arlan yang semakin kritis.
Aldrin pergi untuk membeli cincin yang akan dijadikannya sebagai mas kawin. Sebenarnya Aldrin sudah membeli cincin sewaktu di mesir yang akan digunakannya sewaktu menikahi Sidqila. Ia ingin cincin itu tetap digunakan untuk perempuan yang ia sukai dari sejak ia remaja.
Mbok Sa yang baru sampai setelah menghubungi semua kakak-kakak Vanila memberitahukan bahwa papanya mengalami kecelakaan dan sedang kritis.
Vanila segera memeluk mbok Sa dan menangis di bahu mbok Sa.
"Non yang sabar. Tuan pasti baik-baik saja. Umi Salma sudah ngasih tau mbok, kalau non akan menikah hari ini. Mbok sudah bawakan gamis yang sudah disiapkan tuan." Kata mbok Sa, sambil menyerahkan paperbag kepada Vanila.
Mbok Sa dan umi Salma segera menuju ruang VVIP yang sudah di persiapkan sebagai ruang rawat Arlan jika keluar dari ruang ICU.
Mbok Sa membersihkan wajah Vanila dari fondation yang di gunakannya. Mbok Sa juga meminta Vanila untuk mencuci wajahnya. Sewaktu Vanila mencuci wajahnya, Abah Yusuf menelpon Umi Salma, memberitahukan kalau penghulu dan Aldrin sudah siap, dan Arlan juga sudah mulai sadar. Karena khawatir Arlan pingsan lagi, akhirnya Arlan menikahkan Vanila tanpa ada Vanila disana.
Vanila keluar dari kamar mandi dan sudah mengganti pakaiannya. Wajah cantik Vanila tidak berkurang sedikitpun walau dari tadi air matanya terus keluar.
"Jangan nangis lagi non. Tuan sudah sadar dan sudah menikahkan non dengan den Al. Semoga pernikahan non bahagia dunia akhirat ya non." Kata mbok Sa sambil memeluk Vanila lalu dipeluk juga oleh umi Salma dan mengucapkan doa pernikahan untuk Vanila.
Mereka segera membawa Vanila ke ruang ICU yang cukup besar.
"Va..?!" Kata Al terkejut melihat Vanila, umi Salma dan mbok Sa datang bersamaan. Melihat Vanila menggunakan gamis berwarna putih yang kelihatan sangat cantik.
"Assalamualaikum umi." Kata Vano sambil mencium tangan umi Salma.
__ADS_1
"Kamu ngapain Va?" tanya Vano heran.
"Aisyah ini istri mas kamu Rasyid." Jelas umi Salma yang membuat Vano agak terkejut.