Vanilarea

Vanilarea
Malik


__ADS_3

Alric menunggu Vanila di lobi rumah sakit, menggunakan masker dan kacamata yang cukup besar untuk menyembunyikan identitasnya. Alric sebenarnya tidak mau menjemput Vanila karena Alric yang memiliki wajah tampan lebih suka menjemput wanita cantik, walaupun Vanila tidak jelek-jelek amat, tapi karena penampilan Vanila yang culun membuat Alric malu kalau menjemputnya.


"Tuan Alric, Ayo." Kata Vanila yang tahu kalau yang sedang berdiri di loby rumah sakit dengan masker dan kaca mata besarnya adalah Alric.


"Bagaimana kamu tahu ini saya?" Tanya Alric heran.


"Ada deh." Kata Vanila lalu segera melangkah menuju parkiran.


"Menyebalkan." dumel Alric.


Lalu mereka segera menuju ke rumah Mr. Lucas untuk makan malam.


"Maaf tuan Alric, saya ada sedikit pekerjaan, jadi saya akan menggunakan hp sepanjang perjalanan." Kata Vanila sopan


"Terserah" Jawab Alric ketus.


Jarak rumah profesor Lucas dan rumah sakit memakan waktu hampir satu jam perjalanan. Sepanjang jalan, Vanila memeriksa laporan dari AERSS.


"Kita sudah sampai" Kata Alric lalu keluar dari mobilnya.


Vanila segera menyimpan HPnya dan turun dari mobil Alric.


"Apa kabar sayang?" Tanya Mrs. Sofie yang merupakan istri profesor Lucas.


"Sehat nyonya Sofie.," Kata Vanila sambil mencium punggung tangan nyonya Sofie.


"I miss you somuch honey" Kata Mrs. Sofie sambil memeluk Vanila.


"Sayang, jangan di peluk terus Aisyah. Saya dan anak-anak sudah lapar." Kata profesor Lucas bercanda.


"Ayo Aisyah, kita kemeja makan. Para pria ini tidak bisa mandiri kalau ada kita para wanita." gerutu Mrs. Sofie sambil tersenyum.


Mrs Sofie mengambilkan makan malam, buat suaminya. Vanila membantu Mrs Sofie mengisi piring Alric dan Carl dengan makanan Favorite mereka dan sesuai dengan porsi mereka. Karena sudah beberapa kali Vanila bergabung makan malam dengan keluarga profesor Lucas, membuat Vanila sudah hapal dengan selera makan Carl dan Alric.


"Ya ampun sayang. Kamu nggak usah repot-repot ambilkan Alric dan Carl. Mereka sudah besar. Mereka bisa ambil makanan mereka sendiri." Kata Mrs Sofie.


"Its ok Nyonya." Kata Vanila sambil tersenyum.


"Iya mommy. Bukankah tugas wanita melayani pria dimeja makan?" Kata Alric dengan gaya sombongnya.


"Enak saja kamu. Kami ini para wanita mau mengambilkan makanan, bukan berarti kami pelayan. Tapi itu semua hanya semata-mata bentuk bakti dan menghormati kaum pria." protes Mrs Sofie.


"Sayang. Ayo kita makan dulu. Debatnya nanti saja." Kata profesor Lucas menengahi, karena kalau tidak, bukannya makan malam malah akan ada acara debat di meja makan.


"Ini Saya buat khusus buat kamu sayang." Kata Mrs Sofie sambil menyerahkan rusuk panggang yang aromanya sangat menggugah selera.


"Anak Mommy Aisyah atau kami sih?" Protes Alric karena cemburu ibunya membuat makanan khusus buat Vanila.


"Kalau mommy boleh milih, tentu saja mommy pilih Aisyah jadi anak mommy." Kata Mrs Sofie sambil tertawa, dan membuat Alric menjadi kesal. Sementara Carl hanya diam saja sambil menikmati makan malamnya.


Setelah makan malam dan mengobrol dengan keluarga profesor Lucas, Carl mengantar Vanila pulang ke apartemennya yang lokasinya tidak jauh dari rumah sakit.


Sepanjang jalan, Vanila kembali memeriksa beberapa laporan dari AERSS dan Syauqi Properties.

__ADS_1


"Kamu tidak bosan dari tadi lihat hp terus?" Tanya Carl.


"maaf?" Kata Vanila yang tidak mendengar perkataan Carl karena sedang fokus memeriksa laporannya.


"Itu kamu tidak bosan dari tadi lihatin hp?" Kata Carl datar.


"Oh.. ini. Saya lagi baca laporan perusahaan." Kata Vanila


"Perusahaan?"


"Iya, perusahaan suport system sama properties." Kata Vanila lagi.


"Bukannya kamu dokter bedah ?" Tanya Carl heran


"Iya. Apakah dokter tidak bisa punya bisnis?" Tanya Vanila balik.


"Bisa sih. Tapi jarang ada yang bisa jalanin keduanya bersamaan. Apalagi bukankah tadi ada dua perusahaan yang kamu sebut." Kata Carl lagi.


"kalau suport system memang saya yang buat analisa perancangan sistemnya, tapi kalau properties sudah tinggal mantanance, karena dulu papa saya yang jalankan." Terang Vanila.


"Wah..ternyata kamu sangat hebat. Umur kamu berapa ?" Tanya Carl penasaran


"sebentar lagi 20 tahun."


"What?! Are you kidding me?"


"serious" Kata Vanila santai karena sudah sering menerima reaksi seperti itu ketika orang mengetahui usianya.


"Jago buat sistem, seorang dokter bedah yang hebat, kamu ini beneran jenius. " Kata Carl kagum.


"Tuan harus kembali fokus ke jalan." Kata Vanila memperingatkan karena jalan mobilnya agak sedikit goyang.


"Ehem.." dehem Carl menahan malu karena Vanila tahu kalau Carl sedang tidak fokus.


"Kamu jago di bidang IT. Apakah kamu mau menjadi kepala IT di kantor saya?" Tanya Carl


"Maaf tuan Carl, diri saya cuma satu, tidak bisa di bagi untuk perusahaan tuan dan rumah sakit." Kata Vanila lagi.


"Oh iya saya lupa, kalau kamu dokter di rumah sakit besar, dan pasti sangat sibuk sekali.Tapi apakah kamu bisa sesekali memeriksa sistem di perusahaan saya?" Tanya Carl.


"InshAllah" jawab Vanila, dan tidak terasa mereka sudah sampai di apartemen Vanila.


"Terimakasih tuan Carl. Hati-hati di jalan." Kata Vanila lalu turun dari mobil Carl.


"Jangan panggil saya tuan Carl. Panggil Carl saja. Saya tunggu janji kamu." Kata Carl lalu menjalankan mobilnya.


"Ya suster Anet" Kata Vanila karena telponnya berbunyi.


"Ok, saya ke rumah sakit sekarang." Kata Vanila lalu segera berlari menuju rumah sakit karena jaraknya yang memang tidak jauh.


Sesampainya di rumah sakit,Vanila segera meletakkan tasnya di loker, dan mengenakan snelly dan menggantung stetoskop di lehernya.


"Bagaimana kondisinya?"

__ADS_1


"Pasien sampai sudah dalam kondisi tidak sadar. Denyut nadi dan detak jantung mulai melemah." Jelas suster Anet sewaktu menyerahkan laporan pasien.


Vanila segera memeriksa pasien yang di bawa ke ICU, dan kondisinya seperti yang dikatakan suster Anet.


"Suster, siapkan ruang operasi." Kata Vanila lalu segera menyiapkan diri untuk melakukan operasi.


Tiga jam lebih Vanila berada di ruang operasi berusaha menyelamatkan pasiennya, seorang anak berumur sekitar 7 tahun yang mengalami kelainan jantung.


"Bagaimana anak saya dokter?" Tanya seorang pria dengan wajah khas daerah negara Timteng.


"Masa kritisnya belum lewat. InshAllah tuan berdoa aja, anak tuan bisa melewati masa kritisnya. Saya permisi dulu." Kata Vanila yang agak sedikit heran kenapa di lorong rumah sakit ada sekitar 8 orang bergaya bodyguard.


Vanila membersihkan diri di ruangannya dan berencana untuk istirahat sebentar, karena hari sudah menjelang pagi.


"Aisyah..." Teriak Cathrine yang nyelonong masuk ruangan Vanila karena mendengar kabar dari suster Anet kalau Vanila baru saja mengoprasi seorang anak pangeran yang berasal dari negara Timteng.


"Keket please deh. Aku butuh istirahat. 30 menit ok. Kamu handle dulu pasien aku ya." Kata Vanila lalu memaksa Cathrine keluar dari ruangannya dan mengunci pintu ruangannya.


Vanila segera tidur karena tubuhnya sangat lelah sekali. Cathrine yang tahu bagaimana Vanila meletakkan tulisan "don't disturb" di depan pintu Vanila agar Vanila bisa beristirahat.


Vanila yang lelah tertidur hampir selama 7 jam. Ia terbangun karena mendengar alarm adzan untuk sholat dzuhur. Vanila segera mandi dan melaksanakan sholat dzuhur, kemudian mempersiapkan makan siang untuknya, Cathrine dan Pram.


Vanila meminta petugas rumah sakit untuk mengantarkan makanan Pram.


"Kamu masak apa Ai?" Tanya Cathrine


"Oxtail soup." Kata Vanila sambil menikmati makan siangnya.


"Wah... enak nih." Kata Cathrine yang tanpa di suruh langsung menyenduk sup untuk dirinya.


"Kamu tau Ai, ternyata yang kamu operasi adalah cucu raja dari negara Timteng. Papanya ganteng banget. Kulitnya eksotis kayak kulit kamu Ai, bodynya juga keren." Kata Cathrine sambil menyeruput kuah supnya.


"Kebiasaan. Nggak bisa lihat cowok ganteng dikit. Udah punya istri dan anak loh." Kata Vanila lagi


"Lumayan buat cuci mata." Kata Cathrine.


"Pakai air kalau mau cuci mata." Kata Vanila sambil tertawa.


"Aish...cuci mata batin nggak bisa pakai air." Kata Cathrine kesal.


"Bagaimana kondisinya? Sudah lewat masa kritis?" Tanya Vanila


"Kerjaan kamu kan selalu bagus. Aku cek tadi, dia baru sadar sekitar 30 menit yang lalu." Kata Cathrine yang menyelesaikan makan siangnya.


Vanila segera memeriksa kondisi beberapa pasien yang di tanganinya termasuk putra pangeran negara Timteng.


"Assalamualaikum. Syafakallah anak ganteng. Apa ada yang sakit sayang?" Tanya Vanila menggunakan bahasa Internasional, sambil tersenyum.


"ini sakit dokter" Katanya sambil menunjuk bekas operasinya.


"Sabar ya sayang. Kamu kan anak hebat, anak kuat pasti cepat sembuh. Oh iya nama kamu siapa?" Tanya Vanila


"Malik." Jawab anak laki-laki itu pelan.

__ADS_1


"Ok, malik, kalau ada apa-apa kamu lapor perawat, nanti dokter akan periksa kamu. Malik anak hebat, anak kuat, InshAllah cepat sembuh." Kata Vanila sambil tersenyum, lalu pergi meninggalkan ruang rawat Malik.


__ADS_2