Vanilarea

Vanilarea
Pergi


__ADS_3

Vanila kembali ke kamarnya dan segera membereskan barang-barangnya. Ia memutuskan untuk kembali ke kota B lebih awal. Vanila telah mengganti kebaya yang Ia kenakan dengan celana jeans panjang baju kaos dan jacket hoodie berwarna hijau botol.


Vanila menemui Arlan dan Liliana serta suaminya untuk berpamitan, dan kebetulan Arlan serta Lilianan dan keluarga suaminya berada di tempat yang sama.


"Pa, maaf. Lala balik duluan." Kata Vanila sambil mencium tangan papanya. Lalu mendatangi Liliana dan memeluk kakaknya untuk yang pertama. Vanila berusaha menahan air matanya yang sudah mengambang di pelupuk matanya.


"Selamat kak. Semoga kakak bahagia dengan pernikahan kakak. Doa terbaik untuk kakak sama abang." Kata Vanila sambil memeluk kakaknya erat dengan air mata yang sudah tidak bisa di bendung lagi.


Vanila segera menyeka air matanya, agar tidak ada yang melihatnya, lalu melepaskan pelukannya dan mencium tangan abang iparnya.


"Titip kak Liliana ya bang." Kata Vanila yang berusaha tersenyum.


"Abang akan jaga kak Liliana. terimakasih buat doanya" Kata Rahmat sambil menepuk-nepuk punggung tangan Vanila.


Lalu Vanila memeluk satu persatu kakak-kakaknya untuk yang pertama kalinya. Walaupun kakak-kakaknya tidak menyukai Vanila, tapi ntah kenapa, ketika Vanila memeluk mereka, mereka merasakan perasaan sayang dan kasihan, bahkan Jasmine yang memang berhati lembut sampai menangis sesegukan.


"Kakak jangan nangis." Kata Vanila sambil menyeka air mata dari pipi kakaknya.


"Maafkan kakak La." Kata Jasmin yang masih menangis.


"Its ok kak. I know that you love me like you love your another sister." Kata Vanila.


Keluarga Rahmat yang melihat kejadian itu sebenarnya agak bingung, seharusnya Liliana yang berpamitan dan menciptakan suasana haru, karena Liliana akan ikut suaminya ke negara M.


Arlan yang melihat putri-putrinya saling berpelukan merasa sedih dan terharu. Timbul perasaan bersalah, karena Ia selalu acuh terhadap Vanila karena wajahnya yang mirip dengan Rosaline.


Setelah berpelukan, Vanila kembali ke papanya, dan menghapus air mata yang mengalir dari sudut matanya yang mulai berkerut.


"Papa jangan nangis. Maaf kalau keberadaan Lala selalu buat papa sedih karena ingat mama. Lala tau kalau papa sangat sayang dengan Lala. Terimakasih." Kata Vanila yang membuat Arlan langsung memeluk Vanila erat untuk pertama kalinya. Putri yang hanya di tatapnya sekilas, karena hati Arlan akan terasa sakit ketika melihat wajah Vanila, karena Ia sulit untuk mengikhlaskan Rosaline.


"Maafkan papa sayang" Kata Arlan yang sangat merasa bersalah.


"Papa nggak salah. Jangan minta maaf dengan Lala." Kata Vanila sambil menghapus lagi air mata papanya lalu tersenyum.

__ADS_1


Setelah memeluk papanya lagi, Vanila lalu berpamitan dengan keluarga Rahmat dan menyalami mereka satu persatu, termasuk Fatir.


"Hi princes. See you soon at my country." Kata Fatir yang hanya dijawab senyuman oleh Vanila.


Lalu Vanila, mbok Sa dan Pak Arman kembali ke kota B.


"Mbok, Lala mau pindah aja. Kita ke kota tempat mbok tinggal ya..?" Kata Vanila merayu mbok Sa, dengan wajah memelasnya.


"Ada maunya aja, mukanya di imut imutin." Protes mbok Sa.


"Lala kan emang imut mbok" Kata Vanila sambil memeberikan senyuman yang manis ke mbok Sa.


"hmm... sekarang sok di manis-manisin. Nanti si mbok jadi diabet lama-lama kalau non senyumin terus" Kta mbok Sa sambil mengelus rambut Lala yang berada di atas pangkuan mbok Sa.


"Please..." Kata Vanila lagi yang membuat Mbok Sa tidak bisa menolak permintaan Vanila.


"Nanti mbok telpon tuan."Kata mbok Sa sambil tersenyum.


"Terimakasih mbok. Lala sayang mbok." Kata Vanila sambil memeluk pinggang mbok Sa.


💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚


Hari ini Vanila memulai hidup barunya di kota yang baru. Vanila tidak ingin bertemu dengan orang-orang yang mengenalnya. Rumah mbok Sa sangat nyaman, walaupun tidak sebesar rumah Vanila.


"Hari ini mbok mau ke tempat adeknya si mbok. Apa non mau ikut?" Tawar mbok Sa.


"Ok. Sebentar ya mbok, Lala ganti baju dulu." Kata Vanila lalu bersiap-siap untuk pergi


Mbok Sa di antar Pak Arman mengunjungi rumah adik kandung mbok Sa. Vanila memandang rumah yang tidak terlalu besar, tapi ramai dengan anak-anak mulai dari yang kecil, sampai yang remaja.


"Adek mbok anaknya banyak banget." Kata Vanila dengan lugunya, yang membuat mbok Sa langsung tertawa.


"Kenapa mbok tertawa?"Tanya Vanila heran.

__ADS_1


"Itu anak asuh bunda Ningrum, adeknya mbok Sa non." Terang pak Arman.


"Oo.." Kata Vanila yang hanya membulatkan bibirnya, lalu segera turun dari mobil mengikuti mbok Sa.


Sesampainya di dalam rumah, Vanila melihat seorang wanita yang mirip dengan mbok Sa, tetapi terlihat lebih ramah dan menyenangkan.


"Wah... ini non Lala ya. Sudah besar. Cantik lagi. Benar-benar mirip nyonya Rosaline." Kata bunda Ningrum yang senang melihat Vanila.


Vanila segera menghampiri bunda ningrum dan mencium punggung tangan bunda ningrum.


"Panggil bunda aja." Kata bunda Ningrum yang melihat ekspresi bingung Vanila.


"Oh. ok bunda. Oh iya, Lala boleh ikut mereka main?" Tanya Vanila, yang melihat sekitar 10 orang anak-anak yang usianya tidak jauh beda dari Vanila sedang bermain.


"Boleh sayang. ayok bunda antar." Kata bunda Ningrum lalu berjalan ke halaman belakang.


Anak-anak yang asik bermain, segera menghentikan kegiatan begitu melihat bunda Ningrum berjalan dengan seorang anak perempuan yang sangat cantik.


"Anak-anak sini. Kenalin ini teman baru, namanya Vanila, tapi boleh di panggil Lala." Terang bunda Ningrum


"Kakak Cantik kayak belbi" Kata Sarah, salah satu anak panti yang masih berusia 4 tahun.


"Makasih. Kamu juga cantik kayak barby" Kata Vanila lagi yang gemas melihat Sarah yang imut menggunakan jilbab.


Lalu Sarah mengajak Vanila bermain masak-masakan dengan anak perempuan yang lainnya. Beberapa anak yang usianya di bawah Vanila, memainkan rambut Vanila yang berwarna almond. mereka baru itu melihat orang yang berambut coklat. Bahkan ada yang membuatkan Vanila mahkota bunga, dan menjadikan Vanila putri.


Mbok Sa tersenyum bahagia, melihat Vanila yang bisa tertawa bahagia bermain dengan anak-anak panti.


"aku senang, akhirnya Lala bisa tersenyum bahagia seperti itu." Kata mbok Sa.


"Iya. kalau dengar cerita kakak, memang kasian sekali Vanila. Tapi dia anak yang hebat. Sikapnya juga kelihatan dewasa." kata bunda Ningrum


"Yah.. bagaimana Vanila tidak bersikap dewasa, kalau dari kecil Ia sudah menerima penolakan dari keluarganya. Dia selalu memperlihatkan sikap tegar, walau kadang-kadang, kakak lihat Lala menangis di kamarnya. Lala anak yang sangat baik dan sangat cerdas. Bahkan di usianya yang baru 8 tahun, Lala sudah SMP." Kata mbok Sa lagi masih sambil menatap Vanila dari jauh.

__ADS_1


"Apa? Lala sudah SMP? aku bahkan lupa kalau Lala baru 8 tahun. Soalnya Lala tinggi untuk anak umur 8 tahun." Kata bunda Ningrum sedikit terkejut.


"Ia, makanya Lala bisa berbaur dengan teman SMPnya tanpa ada yang tahu kalau umur Lala masih kecil. Sifat tidak sabarnya, membuat Vanila menjadi anak yang cerdas." Kata mbok Sa lagi.


__ADS_2