Vanilarea

Vanilarea
Janji


__ADS_3

Angela pagi-pagi sekali sudah datang ketempat Vanila menginap sambil membawa gamis yang terbuat dari brokat, yang berbentuk seperti kebaya rancangan Angela. Sebenarnya Angela membuat gamis itu memang terinspirasi dari Vanila, dan akhirnya, Vanila sekarang bisa memakai gaun rancangannya.


"Morning cantik." Kata Angela begitu Vanila membuka pintu kamarnya.


"Bangun tidur aja lo cantik banget. Apa lagi nanti kalau sudah gue dandanin." Kata Angela yang nyelonong masuk.


"Aku mandi dulu ya kak." Kata Vanila yang memang batu bangun tidur.


Selesai mandi, Vanila segera sholat subuh. Lalu Angelapun mulai memakeup wajah Vanila. Tidak butuh waktu lama bagi Angela untuk memakeupin Vanila, karena memang countur wajah Vanila yang tidak memerlukan banyak manipulasi.


Setelah sekitar 30 menitan memakeup Vanila, hasil makeupnya kelihatan sempurna. Angela selalu senang jika merias wajah Vanila.


"Udah ganti baju sana buruan." kata Angela sambil menyerahkan gaun yang akan dipakai Vanila. Selesai memakai pakaiannya, Angela membantu Vanila mengenakan jilbab syari namun terlihat modis.


"Wah.. you always look perfect." Kata Angela kagum dengan hasil karyanya. Vanila yang melihat dirinya dari atas ke bawah, juga kagum dengan hasil kerja Angela.


"Thanks kak." Kata Vanila sambil tersenyum.


"Kita wefie dulu." Kata Angela lalu foto bersama Vanila dengan beberapa mode, mulai dari yang anggun sampai yang konyol.


"Emang gokil kamu La. Muka jelek aja cantik begini." kata Angela sambil melihat hasil wefienya bareng Vanila.


"Mau gue anterin La?" Tanya Angela.


"Boleh kak. Lumayan tumpangan gratis." Kata Vanila. Lalu mereka segera meninggalkan kamar hotel dan menuju ke basement tempat Angela memarkirkan mobilnya.


Beberapa orang yang berpapasan dengan Vanila memandang takjub kearah Vanila bahkan ada yang berani menggoda Vanila, yang membuat Angela spontan mengeluarkan aura laki-lakinya, yang membuat Vanila tertawa.


"Dasar bocah. Belum tau dia siapa gue. Berani-beraninya godain bidadari gue." Kata Angela morang-maring.


"Udah ah kak. Nggak usah marah-marah. Ntar diabetes loh." Kata Vanila masih sambil tertawa.


"Idih amit-amit. Mulut lo ya La. Doain yang baik napa?" kata Angela lagi.


"Ya udah, semoga kakak, segera kembali kejalan yang benar. Aamiin." kata Vanila berdoa dan mengusap wajahnya.


"Gue jalan udah bener nih." protes Angela.


Vanila hanya tersenyum dan tidak mau mendebat Angela lagi, bisa panjang nanti urusannya.


Selama di perjalanan, Angela menanyakan banyak hal kepada Vanila, dan meminta Vanila untuk menjadi model di agensinya. Tapi Vanila yang memang tidak suka dunia showbiz, selalu menolak Angela dengan cara yang baik.


"Ok. Kita sampai. Ayo cepetan La. Lo agak terlambat kayaknya." kata Angela yang melihat jam 08.05. Mereka agak terlambat, karena di jalan sempat macet karena ada yang kecelakaan.


Semua tamu yang hadir diperiksa secara ketat. Vanila mempersiapkan bouqet bunga yang sangat cantik berbentuk kotak, dimana di dalam kotak tersebut terdapat jam tangan salah satu merek ternama, yang Vanila rasa sangat cocok dengan kepribadian Badai.

__ADS_1


Badai melihat dari jauh, kalau bunda Ningrum, mbok Sa, dan Guntur sudah duduk di podium.


"Dari tadi liat podium mulu lo. NunΔ£guin siapa sih Dai?" tanya Rangga.


"Lala." Kata Badai yang matanya masih mengarah ke podium.


"Beneran Lala datang?" Tanya Bagas antusias, karena Bagas juga sudah lama tidak berjumpa dengan Vanila.


"Katanya sih gitu. Tapi sepertinya tidak datang. Karena gue nggak lihat Lala." kata Badai agak kecewa.


"Semangat bro. Lo kan jadi lulusan terbaik di angkatan kita." Kata Rangga sambil menepuk bahu Badai memberikan semangat.


Badai, Rangga dan Bagas merupakan lulusan terbaik, sehingga mereka bergabung dengan tim satuan khusus, yang beranggotakan semua lulusan terbaik diangkatan mereka. Tim Badai beranggotakan 10 orang, dimana anggota terbaik dari angkatan darat yang menjadi ketuanya.


Acara seremonial pelantikanpun dimulai. Pembukaan dan kata sambutan diberikan oleh para petinggi militer termasuk presiden. Pemberian penghargaan khusus untuk tim anggota khusus membuat suasana menjadi riuh, ketika satu persatu nama anggota tim khusus dipanggil.


Presiden dan para petinggi militer menyematkan lencana penghargaan khusus untuk tim anggota khusus.


Bunda Ningrum, mbok Sa, dan Guntur sangat bangga sekali dengan pencapaian Badai. Bahkan bunda Ningrum menangis terharu, tidak menyangka kalau Badai akan membuatnya bangga.


Vanila yang datang terlambat, sehingga menyebabkan Ia harus duduk dibelakang, menatap Badai dan orang-orang yang dikenalnya dengan bangga.


Setelah acara seremonial selesai, para anggota keluarga diperkenankan untuk menghampiri mereka ketengah lapangan.


Selain keluarga, banyak juga calon pasangan yang membawakan bouqet bunga untuk para tentara yang baru lulus.


Vanila yang turun belakangan, dan berusaha melewati keramain keluarga prajurit yang baru lulus, kembali menjadi pusat perhatian, karena penampilannya yang begitu cantik.


"Selamat kak." Kata Vanila sambil tersenyum memandang Badai, yang membuat Badai langsung tersenyum bahagia.


"Terimakasih La." Kata Badai senang.


Mbok Sa, yang melihat Vanila, langsung memeluk Vanila dengan erat. Air mata mbok Sa terus mengalir tanpa bisa ditahan.


"Mbok jangan nangis. Nanti Lala nangis juga." kata Vanila sambil mengusap air mata mbok Sa.


"Mbok kangen." Kata mbok Sa sambil terisak berusaha menahan tangisnya.


"Lala juga kangen." Kata Vanila yang berusaha tersenyum.


"Wah.. makin cantik aja kamu La."Kata Bagas yang datang menghampiri.


"Hi bang. Lulus juga akhirnya." kata Vanila sambil tersenyum.


"Nggak usah senyum-senyum deh La." kata Bagas dengan wajah serius.

__ADS_1


"Loh, nggak boleh senyum sekarang ya? Takut pacar abang marah,?" Tanya Vanila


"kalau kamu senyum, abang khawatir bisa kenak diabetes. Abis senyum kamu manis bener." kata Bagas yang membuat Vanila tertawa, sedangkan yang lain geleng-gelang kepala mendengar gombalan Bagas.


"Waduw. Di hutan waktu pelatihan pasti kasihan ya monyet sama orang hutan." Kata Vanila.


"Loh kenapa kasihan. Kita nggak pernah menyiksa binatang kok." Kata Bagas lagi.


"Ya kasihan. Di gombalin mulu pasti sama abang." Kata Vanila membuat yang lain mendengar perkataan Vanila jadi tertawa.


"Bisa aja kamu La." Kata Bagas.


"Nih untuk kak Badai." Kata Vanila sambil menyerahkan kotak berukuran sekitar 30 cm x 40 cm berwarna emerald.


"Wah.. pilih kasih nih. Abang kok nggak dapat?" Tanya Bagas protes.


"Aduh, Lala lupa karena buru-buru. Besok Lala titip ke kak Badai ya." Kata Vanila, yang merasa tidak enak, karena Ia lupa membeli hadiah untuk Bagas dan Rangga, karena Vanila tidak tahu kalau Bagas dan Rangga lulusnya sama dengan Badai.


Mereka mengabadikan moment kebersamaan mereka hari itu. Vanila terlihat sangat bahagia, membuat wajahnya terlihat semakin cantik. Beberapa teman Badai memperhatikan kedekatan Vanila dengan Badai, Rangga dan Bagas. Bahkan para perempuan yang kira-kira seusia Vanila, merasa iri melihat kedekatan Vanila dengan ketiga tentara ganteng itu.


πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸŒΉπŸŒΉπŸŒΉπŸŒΉπŸŒΉπŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€


Dilain tempat, tepatnya di kantor AlRasyid properties, Vano sedang duduk di ruangan rapat, karena ada hal yang akan dibahas dengan Aldrin. Sambil menunggu Vano iseng-iseng menulis kata 'Aer'. Vano terus mengulang kata itu menggaris bawahi, dan memulai membaca dari kanan ke kiri.


"Aer, aer, rea. ya Allah." Kata Vano agak terkejut, karena ia baru menyadari sesuatu, kemudian Vano tersenyum.


"Kamu kenapa senyum-senyum Rasyid?" Tanya Aldrin yang masuk keruang rapat, dan heran melihat Vano yang senyum-senyum sendiri.


"Aku punya kabar baik mas." Kata Vano senang.


"Kamu menang tender? Bukannya sudah biasa ya." Kata Aldrin lalu duduk di bangkunya.


"Kalau aku nemuin Vanila, mas janji ya, Vanila buat aku." Kata Vano yang mencoba menggoda Aldrin.


"Enak aja kamu. Lala itu bukan barang, yang bisa di bagi-bagi." Kata Aldrin kesal.


"Tenang mas. Aku bercanda. Aku tahu Vanila ada di mana." Kata Vano sambil tersenyum puas karena berhasil menggoda Aldrin.


"Beneran kamu tahu?. Ayo kita kesana." Kata Aldrin yang tidak sabaran.


"Eits sabar dulu mas. Kita harus susun rencana supaya Vanila tidak bisa kabur. Memang pintar sekali Vanila bersembunyi. Pantasan aja semua orang yang kita suruh cari tidak bisa menemukannya." Kata Vano sambil tersenyum, dan mengingat wajah Vanila yang berubah menjadi Aer. Gadis mungil yang hitam manis.


"Kamu yakin itu Lala?" Tanya Aldrin lagi.


"Yakin. itu pasti Vanila. Mas lihat ini. baca dari kanan ke kiri." Kata Vano sambil memperlihatkan kertas yang di tulisnya.

__ADS_1


"Rea?" Tanya Aldrin masih kurang paham.


"Vanilarea" Ucap Vano yang membuat Aldrin ikut tersenyum senang, karena sekarang Aldrin yakin, kalau Aer adalah Lala.


__ADS_2