Vanilarea

Vanilarea
Jati Diri


__ADS_3

Melakukan operasi sambil menyemangati terus pasiennya, Vanila akhirnya berhasil menyelamatkannya. Vanila keluar dari ruang operasi untuk menemui orang tua pasien yang sedang di borgol oleh securty, dan ada beberapa orang polisi.


"Bagaimana anak saya dokter?" Tanya laki-laki itu langsung ketika melihat Vanila.


"Kenapa di borgol? Lepaskan !" Kata Vanila marah.


"Tapi dokter, pria ini sudah melakukan kejahatan dengan menyandra dokter Andrea." Kata salah seorang security.


"Anak tuan alhamdulillah bisa di selamatkan. Kita tinggal lihat, apakah ia bisa melewati masa kritisnya. Tuan tenang saja. Saya yang akan menjaganya." Kata Vanila sambil tersenyum.


"terimakasih dokter." Kata laki-laki itu sambil menangis dan berlutut di hadapan Vanila.


"Tuan jangan seperti itu, berterimakasihlah pada Tuhan, karena Tuhan yang berkehendak." Kata Vanila lagi.


"Aisyah ?! Lo hutang penjelasan sama gue." Kata Cathrine yang langsung menarik Vanila menjauh dari pintu ruang operasi.


"Iya, nanti aku jelaskan. Aku ganti ini dulu." kata Vanila sambil menunjuk pakaiannya, lalu segera pergi untuk mengganti pakaiannya.


Polisi membawa orang tua pasien yang tadi mengancam dokter Andrea ke kantor polisi.


Vanila yang sudah selesai mengganti pakainnya di tungguin Suster Anet, dokter Cathrine, bahkan pangeran Nabil dan Pram yang ternyata menyaksikan semua yang terjadi.


"Penjelasannya nanti saja. Saya urus tuan yang tadi. Tuan apakah anda bisa antarkan saya?" Tanya Vanila pada pangeran Nabil.


"Saya akan antar." Kata Pangeran Nabil, lalu bersama supir dan pengawalnya menuju kantor polisi.


Vanila membebaskan laki-laki yang mengancam dokter Andrea. Laki-laki itu adalah salah satu penduduk yang tinggal di tempat orang-orang tidak mampu di kota H.


"Ternyata selain memiliki wajah yang cantik, hati kamu juga cantik." Kata pangeran Nabil sambil tersenyum kepada Vanila.


"kenapa?" Tanya Vanila yang tidak begitu mendengar perkataan pangeran Nabil.


"Tidak ada apa-apa. Saya hanya bilang kalau anda orang yang baik dokter Aisyah." Kata pangeran Nabil.


"Oh, terimakasih" Kata Vanila


"Maaf kalau saya lancang. Kenapa anda suka bersembunyi di balik topeng?" Tanya pangeran Nabil


"Topeng?" tanya Vanila heran


"Bukankah selama ini anda menutupi wajah asli anda dokter? Kenapa anda menutupi kecantikan yang anda miliki. Bukankah para wanita berlomba-lomba untuk tampil cantik?" Tanya pangeran Nabil.

__ADS_1


"Karena saya tidak mau orang mendekati saya karena wajah saya." Jawab Vanila


"Anda berasal dari negara I yang ada di benua A, tapi sepengetahuan saya mereka tidak memiliki warna kulit atau contour wajah seperti anda?" Tanya pangeran Nabil lagi.


"Papa saya masih ada keturunan negara A dan mama saya berasal dari negara M yang ada di benua E." Jawab Vanila.


"MashaAllah. pantasan saja, anda tidak terlihat seperti orang-orang yang berasal dari negara I." Kata pangeran Nabil.


"Suster Anet bilang anda sudah menikah, tapi saya tidak pernah melihat suami anda dokter."


"Maaf tuan. Pertanyaan anda terlalu jauh." kata Vanila sambil tersenyum.


Percakapan yang mereka lakukan selama perjalanan menuju rumah sakit, membuat pangeran Nabil semakin kagum dengan Vanila, yang penuh misteri, tapi hal itu justru membuat pangeran Nabil tertarik dengan karakter Vanila.


Sesampainya di rumah sakit, Vanila segera mengantarkan laki-laki yang tadi baru saja di keluarkan Vanila dari kantor polisi dengan membayar uang jaminan, dan bantuan pengacara pangeran Nabil.


"Terimakasih dokter. Anda bukan manusia. Anda adalah malaikat yang dikirim Tuhan untuk menyelamatkan anak saya." Kata laki-laki itu sambil menangis.


"Saya manusia biasa tuan. Tuan jaga anak tuan dengan baik, tuan tidak perlu memikirkan biaya rumah sakit, karena ada orang yang mau membantu anda." Kata Vanila sambil tersenyum.


"Terimakasih dokter. Sampaikan rasa terimakasih saya kepada orang yang membantu saya." Kata laki-laki itu.


Vanila lalu pamit meninggalkan orang tua pasien yang baru saja diselamatkan Vanila. Vanila kembali keruangannya dan, Vanila terkejut, melihat Cathrine dan suster Anet, dua orang yang selama ini dekat dengan Vanila, duduk dinkursi yang ada di ruangannya dengan wajah serius.


"Tidak usah banyak penjelasan, hampir 4 tahun lo bohongi kita dengan penampilan lo." Kata Cathrine kesal.


"Maaf." Kata Vanila sambil tersenyum dan memeluk Cathrine, karena Cathrine akan selalu luluh dengan senyum Vanila, apalagi dengan wajah Vanila sekarang.


"Lo ini menyebalkan." Kata dokter Cathrine yang mulai tersenyum, tidak jadi marah.


"Maaf." Kata Vanila sambil memeluk suster Anet, dan suster Anetpun tidak bisa berkata apa-apa melihat sikap manja Vanila.


"Apalagi yang Lo tutup-tutupi?" Tanya dokter Cathrine.


"Apa ya?" Kata Vanila sambil pura-pura berfikir.


"Aisyah. Please deh." Kata Cathrine yang mulai marah lagi.


"Iya iya, ampun." Kata Vanila sambil tertawa, lalu merangkul dokter Cathrine.


"Ok, ok. Tidak ada lagi dusta di antara kita. Nama aku Vanilarea Aisyah Syauqi. Aku berasal dari negara I yang ada di benua A. Aku adalah salah satu putri pemilik Syauqi properties..."

__ADS_1


"What?! Hotel-hotel keren yang ada di beberapa benua A milik keluarga Lo?" Tanya dokter Cathrine yang tau tentang Syauqi properties karena ia dan keluarganya sering liburan dan jalan-jalan.


"Hehehe.." Jawab Vanila hanya nyengir.


"Trus apa lagi?" Tanya dokter Cathrine lagi.


"Aku sudah pernah menikah, tapi juga sudah pisah." kata Vanila.


"What ?! jadi lo beneran tidak bercanda kalau lo sudah menikah. Trus kenapa lo bisa kelihatan imut begini? di resume data pegawai, gue lihat sebentar lagi umur lo 25 tahun." Kata dokter Cathrine penasaran.


"Hehehe.. maaf. Waktu di negara I aku minta pengacara aku untuk merubah penulisan identitas termasuk tahun lahir." Kata Vanila masih sambil nyengir.


"Jadi umur lo berapa?" Tanya Cathrine lagi, udah kayak polisi lagi intrograsi tersangka kejahatan.


"Nggak udah ah. Ntar stress lagi, kalau tahu umur aku berapa."


"Aisyah..." Kata dokter Cathrine sambil merapatkan giginya.


"Iya iya. Dua bulan lagi 20 tahun" Jawab Vanila sambil tersenyum tidak enak.


"Lo nggak bohongkan Syah?" tanya dokter Cathrine meyakinkan.


"InshAllah nggak." Jawab Vanila.


"Keren. Jadi lo adalah dokter bedah termuda yang ada di rumah sakit ini Syah." Kata dokter Cathrine kagum.


"Ntahlah." Kata Vanila sambil mengangkat bahunya, dan berdiri menuju dapur yang ada di ruangannya.


"Aisyah... kebiasaan lo ini ya. Gue belum selesai bicara loh." Kata dokter Cathrine kesal.


"Aku lapar. Kamu mau apa?" Tanya Vanila yang tahu betul kalau dokter Cathrine tidak pernah bisa menolak makanan yang di buatnya.


"Pansier Salmon." Jawab dokter Cathrine spontan.


Vanila segera memasak 3 porsi pansier salmon untuk makan malam suster Anet, Cathrine dan Vanila.


Selesai memasak, mereka menikmati makan malam yang sudah sangat terlambat, karena hari sudah menunjukkan pukul 10 malam.


"Oh iya, Ket, bagaimana dengan Captain Pram?" Tanya Vanila yang ingat kalau dia punya janji periksa dengan Caotain Pram.


"Itu Captain ganteng ngeselin. Dia bilang lo harusnya tanggung jawab, karena lo dokter yang menanganinya dari awal." Cerita dokter Cathrine kesal ketika mengingat perkataan Pram dengan wajah dinginnya dan tanpa ekspresi.

__ADS_1


"Hahaha... nggak jadi godain Captain ganteng dong." Ejek Vanila sambil tertawa.


"Iya. Sebel gue. Dia atur jadwal baru dengan suster Anet, dan dia bilang lo nggak boleh mangkir." Kata dokter Cathrine sambil memasukkan potongan salmon terakhir ke mulutnya.


__ADS_2