Vanilarea

Vanilarea
Pergi


__ADS_3

Sudah seminggu kejadian anak Aldrin dan Sidqila meninggal. Tapi Vanila masih tidak mengerti kenapa Aldrin menuduhnya.


Satya dan Amel yang biasanya VC masalah pekerjaan, menjadi khawatir melihat Vanila yang tidak seperti biasanya.


Vanila adalah tipe pemikir, dan tidak mau berbagi beban apapun dengan orang lain. Semua akan ia pendam dan pikirkan sendiri.


"Non makan dulu. Udah seminggu ini non makannya nggak benar. Mau mbok belikan dimsum di restoran biasa?" Tanya mbok Sa dan Vanila hanya menggelengkan kepalanya.


"Bibik suap. Non makan ya?" Kata mbok Sa, dan Vanila hanya diam saja.


Mbok sa mengambilkan nasi dan lauk kesukaan Vanila yang dimasak mbok Sa.


Mbok Sa mulai menyuapi Vanila, dan Vanila menerima makanan yang masuk ke mulutnya dan mengunyahnya dengan perlahan.


"Kenapa Lala bisa jadi bunuh anak mas Al ya mbok?" Tanya Vanila tiba-tiba.


"Waktu non ke rumah sakit memangnya apa yang terjadi?" Tanya mbok Sa yang kembali menyuapkan makanan ke mulut Vanila.


"Tante Vina telpon Lala, katanya ada yang mau dibicarakan. Sampai di rumah sakit, tante Vina minta Lala melepaskan mas Al, karena mbak Qila akan terus sakit, karena mbak Qila nggak pernah mau berbagi barang, apalagi suami. Lala nggak setuju. Lala udah bilang, kalau mas Al menghabiskan lebih banyak waktu dengan mbak Qila nggak apa-apa, dan kalaupun mau Lala pisah dari mas Al, mereka harus bilang ke mas Al. Trus mbak Qila bangun, dia minta hal yang sama dengan mamanya dari Lala, karena Lala nggak mau mbak Qila emosi, makanya Lala tinggal pergi." Kata Vanila secara mendetail kejadian sewaktu Ia datang ke rumah sakit.


"ya udah non nggak usah pikirkan lagi. Non nggak salah, dan non bukan pembunuh. Den Al hanya sedang emosi saja." Kata mbok Sa yang bermaksud menyuapi Vanila lagi, tapi Vanila tolak. Malah Vanila berdiri dan kembali ke kamarnya.


Vanila tidak ingin masalahnya berlarut larut. Akhirnya Vanila mencoba untuk menelpon Aldrin, tapi Aldrin malah kembali mereject nya. Vanila tidak putus asa, Ia mengirimakan pesan, menuliskan kejadian yang terjadi hari itu.


Vanila melihat kalau pesannya terkirim dan dibaca, tapi setelah menunggu hampir sejam, pesan Vanila tidak juga di balas.


Vanila akhirnya memutuskan untuk ke rumah Sidqila, mencari kebenaran, kenapa mereka menuduh Vanila sebagai penyebab kematian anaknya.


"Pak Arman, antarkan Lala ke tempat mbak Qila." Kata Vanila.


"Mbok ikut non." Kata mbok Sa yang khawatir kalau Vanila kenapa-napa di sana.


"Nggak usah mbok. Lala selesaikan urusan Lala sendiri aja." Kata Vanila lalu segera pergi bersama pak Arman.


Sesampainya di rumah Sidqila, Vanila melihat Sidqila yang sedang duduk di bangku taman bersama mamanya.


Sidqila yang melihat Vanila, tiba-tiba teringat anaknya yang sudah meninggal.


"Dasar pembunuh. Ngapain kamu kesini?" Tanya Sidqila dengan marah.


"Kenapa mbak nuduh saya pembunuh? Saya nggak pernah ngelakukan apapun dengan mbak. Nyentuh mbak juga nggak, bagaimana mungkin mbak bisa nuduh saya yang bunuh anak mbak." Kata Vanila membela diri.


Sidqila yang tahu kalau Aldrin di dalam rumah, berjalan mendekati Vanila.


"Kamu pembunuh. Kamu pembunuh. Kamu yang menyebabkan anak saya meninggal." Kata Sidqila sambil mengguncang-guncang bahu Vanila.


Vanila menepiskan tangan Sidqila agar tidak mengguncangnya, tapi Sidqila malah menjatuhkan dirinya.

__ADS_1


"Lala !" Bentak Aldrin marah karena melihat Sidqila jatuh dekat Vanila, lalu berlari menghampiri Sidqila dan membantunya berdiri.


"Seperti itu kelakuan istri pertama kamu Al. Seperti yang mama bilang." Kata mam Sidqila yang manas manasin Aldrin


"Apa tidak cukup waktu itu kamu dorong Qila di rumah sakit dan menyebabkan anak mas meninggal? Sekarang kamu dorong Qila lagi. Mas sudah bilang, kamu jangan ketemu sama Qila lagi." kata Aldrin dengan suara tinggi.


"Tapi mas..."


"Ya Allah, kamu kenapa Qila?" Teriak umi Salma dari dalam rumah yang melihat Al sedang memapah Sidqia.


"itu jeng, menantu kamu dorong Qila lagi." Jawab mama Sidqila.


"Ya Allah La. Kamu kenapa jadi jahat begini. Qila itu masih sakit, masih masa pemulihan." Kata Umi Salma yang menyalahkan Vanila.


"Tapi umi, Lala nggak..."


"Udah kamu pulang aja. Mas sudah bilang, kamu renungkan kesalahan kamu. Jangan temui Qila lagi." Kata Aldrin lalu berjalan sambil menggendong Sidqila ala bridal style.


"Lala nggak mau masalah ini berlarut-larut. Lala sudah jelaskan yang terjadi. Kalau mas menganggap Lala salah, nggak perlu lagi kita pertahankan rumah tangga kita." Kata Vanila dengan air mata yang mengalir deras membasahi wajah cantiknya.


"Baik kalau itu mau kamu. Ternyata kamu nggak bisa terima kalau kamu salah. Mas nggak bisa menddidik kamu jadi istri yang baik. Kalau kamu mau pisah, mas ceraikan kamu." Kata Aldrin lalu mempercepat langkahnya.


Vanila terduduk di tanah, mendengar perkataan Aldrin. Hati Vanila terasa sangat sakit, bukan hanya karena Aldrin menalaknya, tapi karena Aldrin tidak percaya dan tidak mau mendengar penjelasannya.


Mama sidqila dan umi Salma mengikuti Aldrin masuk ke rumahnya, dan pak Arman yang melihat Vanila menangis terduduk di tanah, membantu Vanila berdiri dan menuntunnya masuk ke mobil.


"Lala kenapa pak?" Tanya mbok Sa, begitu melihat kondisi Vanila.


"Nanti bapak cerita. Sekarang ibu bawak masuk non Lala." Kata pak Arman.


Mbok Sa menuntun Vanila ke kamarnya, dan membaringkan Vanila di atas tempat tidurnya. setelah menyelimuti Vanila, mbok Sa keluar, untuk meminta penjelasan pak Arman.


Pak Arman menceritakan semua yang terjadi di rumah Sidqila. Mbok Sa yang bisa merasakan rasa sakit Vanila, ikutan sedih dengan apa yang menimpa Vanila.


Vanila yang lelah menangis, akhirnya tertidur. Ia terbangun ketika masuk waktu zuhur. Vanila segera bangun, membersihkan dirinya, berwudhu dan melaksanakan sholat zuhur.


Lama Vanila berzikir seusai sholat, agar hatinya menjadi tenang, dan Ia bisa berfikir apa yang akan dilakukannya.


Vanila terus berzikir sampai masuk waktu Ashar,Vanilapun segera melaksanakan sholat ashar. Selesai sholat Ashar, Vanila berdoa, mencurahkan segala kesedihannya hanya kepada Sang Pemilik.


Setelah selesai berdoa, Vanila menjadi lebih tenang, dan menyemangati dirinya, untuk tidak bersedih lagi.


Selesai sholat dan membereskan mukenahnya, Vanila keluar kamarnya, dan melihat mbok Sa yang duduk di ruang keluarga bersama pak Arman.


"Lala laper mbok." Kata Vanila yang membuat mbok Sa dan pak Arman saling pandang, heran melihat sikap Vanila.


"Mbok.."

__ADS_1


"Eh, iya non. Sebentar mbok siapkan dulu." Kata mbok Sa.


"Terimakasih mbok." Kata Vanila lalu menuju ruang makan.


Vanila memakan makanannya dengan lahap, yang membuat mbok Sa jadi terharu.


"Lala sudah kenyang. Makasih ya mbok." Kata Vanila sambil memeluk mbok Sa, yang membuat mbok Sa jadi menangis.


"Mbok kenapa nangis? Lala nggak apa-apa." Kata Vanila sambil tersenyum, lalu menghapus air mata mbok Sa.


Setelah mbok Sa tenang, Vanila kembali ke kamarnya. Vanila memutuskan untuk pergi dari negaranya, dan akan melanjutkan kuliahnya. Vanila sudah mencari info kampus tujuannya. Vanila juga menuliskan surat yang ia tujukan untuk mbok Sa dan Aldrin.


Vanila membereskan beberapa dokumen penting, mematikan Hpnya dan menyimpannya di lemari, lalu memasukkan barang-barang penting lainnya ke tas ranselnya termasuk laptopnya.


🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🥀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀


Sudah jam 7 lewat, tapi Vanila tidak keluar dari kamarnya. Vanila bermaksud mengetuk pintu kamar Vanila, tapi bel pintu depan berbunyi.


Mbok Sa segera membuka pintu depan, dan melihat Vano yang sedang berdiri di ambang pintu sambil tersenyum.


"Assalamualaikum mbok." Salam Vano.


Wa'alaikumussalam den. Aden mau cari non Lala?" Tanya mbok Sa.


"Iya, Vanila ada mbok?" Tanya Vano.


"Sebentar den, mbok panggilkan. Den Vano duduk aja dulu." Kata mbok Sa meminta Vano duduk.


"Iya mbok. Terimakasih." Kata Vano lalu duduk di bangku depan menunggu Vanila.


Mbok Sa segera menuju kamar Vanila dan memanggil-manggil Vanila, tapi tidak ada jawaban. Mbok Sa yang panik, takut terjadi hal buruk dengan Vanila berteriak memanggil suaminya. Vano yang mendengar teriakan mbok Sa, memutuskan untuk masuk ke dalam rumah bersama pak Arman.


"Ada apa buk?" tanya pak Arman.


"Ini loh pak. Dari tadi ibuk panggil, nggak ada suara dari dalam. Biasanya non Lala di panggil sekali langsung nyahut." Kata mbok Sa.


Vano mencoba membuka handle pintu, dan pintu kamar Vanila terbuka. Lalu ia bersama mbok Sa dan pak Arman segera masuk kamar Vanila dan menghidupkan lampu, karena kamar Vanila terlihat gelap.


Mbok Sa, pak Arman dan Vano menacari-cari Vanila di kamarnya, tapi tidak ketemu.


Mbok Sa mulai panik dan menangis, takut kalau sesuatu yang buruk menimpa Vanila.


Vano melihat dua buah surat di meja rias Vanila, lalu mengambil surat itu. Vano melihat ada tulisan untuk mbok Sa, di amplop yang satu dan untuk Mas Aldrin di amplop yang lainnya.


"Ini mbok baca dulu." Kata Vano sambil menyerahkan amplop yang bertuliskan nama mbok Sa.


Mbok Sa mengambil amplop itu, dan segera meebacanya. Kaki mbok Sa terasa lemas, ketika selesai membaca surat itu. Pak Arman yang berdiri di samping mbok Sa,menahan tubuh mbok Sa, yang akan jatuh ke lantai.

__ADS_1


__ADS_2