
Untuk acara resepsi Jasmine mengenakan Gaun yang sangat mengembang di bagian bawahnya berwarna putih seperti bunga melati, sesuai dengan namanya. Sementara saudari perempuannya mengenakan gaun berwarna emerald. Karena konsepnya garden party, Vanila mengenakan gaun selutut, yang tidak terlalu kembang atau sepan, sehingga memperlihatkan kaki putihnya yang jenjang.
Resepsi garden party yang private membuat tamu dan pengantin menjadi akrab, karena Jasmine dan suaminya bisa berjalan-jalan sambil menyapa tamu yang hadir.
"Apa kabar Va?" Tanya Vano yang tiba-tiba duduk di sebelah Vanila yang sedang memakan dim sum udang favoritnya.
"Kak Vano!" Kata Vanila dengan ekspresi terkejut melihat Vano yang sedang duduk di sampingnya sambil tersenyum.
"Kakak ngapain disini?" Tanya Vanila judes
"Biasa aja ekspresinya Va. Nggak usah di galak-galakin mukanya." Kata Vano masih sambil tersenyum dan berusaha mencairkan suasana.
"Kakak jangan ganggu aku deh."Kata Vanila, lalu hendak berdiri meninggalkan Vano, tapi tangan Vanila di tahan oleh Vano, sehingga Vanila kembali terduduk di kursinya"
"Kakak nggak ganggu kamu Va. Kakak cuma mau minta maaf untuk masalah yang lalu." Kata Vano
"aku maafin kakak, kalau Jeje mau nggak marah lagi dengan aku." Kata Vanila lalu pergi meninggalkan Vano.
Vano yang ditinggal Vanila hanya bisa tersenyum masam meratapi nasip percintaannya. Selama ini dia yang dikejar-kejat cewek dan selalu menolaknya, sepertinya sekarang Vano kena karmanya, Ia cinta dengan Vanila tapi Vanila menolaknya.
Vanila yang kesal dengan Vano, memutuskan untuk kembali ke kamarnya. Karena kalau ia tetap berada di tempat resepsi, maka Vano akan mendekatinya lagi.
"tok tok tok" Terdengar suara pintu kamar Vanila diketuk. Vanila melihat dari lubang yang ada dipintu, yang memang di khususkan untuk melihat orang yang berada di pintu.
Vanila membuka pintu, dan melihat mbok Sa, yang sedang tersenyum sambil membawakan Vanila sepiring nasi legkap dengan lauk pauknya.
"Ini mbok bawakan non makan malam. tadi mbok lihat non belum sempat makan, sudah pergi karena ada den Vano." Kata mbok Sa yang berjalan masuk ke kamar Vanila dan meletakkan piring nasi ya g dibawanya ke meja yang ada di balkon, karena Vanila duduk dekat bangku di balkon.
"Makasih mbok." Kata Vanila sambil tersenyum.
"Tuan tadi nyariin non. Mbok sudah bilang kalau mbok lihat non Lala masuk kamar." Terang mbok Sa dan seperti biasa hanya di tanggapi dengan cengiran oleh Vanila.
__ADS_1
"mau mbok suap non?" Tanya mbok Sa, dan Vanila hanya membuka mulutnya untuk jawaban bahwa ia menyetujui saran mbok Sa.
"Jangan melamun non. ini makannya abisin dulu" Kata mbok Sa yang kembali menyodorkan sendok yang berisi makanan ke mulut Vanila.
Vanila yang tersadar dari lamunannya hanya membuka mulutnya, lalu mengunyah makannannya dan kembali memandang pemandangan lampu kota yang berada di bawah resort.
"Jangan terlalu dipikirkan non. Non ini masih muda. nggak usah mikir banyak-banyak. nanti cepat tua kayak si mbok loh non." Kata mbok Sa sambil sedikit tertawa karena mengatakan dirinya tua.
"Lala cuma heran aja. Lala itu cuma mau berteman, mau punya banyak teman, tapi kenapa semua yabg dekat Lala, jadi marah sama Lala. Jeje marah sama Lala, Kak Jaki sama kak Ghalih berantem gara-gara Lala, Papa, kak Lili, Kak Jasmine, kak Sakura, kak Dahlia, juga nggak mau dekat Lala. Cuma mbok yang selalu ada buat Lala. Mbok Jangan pernah ninggalin Lala ya." Kata Vanila sambil memeluk mbok Sa, dan itu membuat air mata mengalir deras dari kedua mata cantiknya.
"Non jangan ngomong gitu. Semuanya sayang kok dengan non. Tuan, kakak-kakak non, teman-teman non, bunda, anak-anak yang di panti, suami mbok dan mbok semua sayang non. Non anak baik. Mbok mau Non selalu bahagia. Jangan sedih terus." Kata mbok Sa sambil menangis sesegukan, karena Ia tahu betul bagaimana perasaan Vanila yang sudah seperti anaknya sendiri.
"Lala mau sekolah, di sekolah yang muridnya perempuan semua. Tadi Lala baca di laptop, ada namanya pesantren yang membedakan tempat laki-laki dan perempuan. Lala mau masuk pesantren." Kata Vanila yang membuat mbok Sa terkejut, karena kalau Vanila masuk pesantren, itu artinya Ia akan berpisah dengan Vanila.
"Apa non yakin mau masuk pesantren? Di pesantren nggak ada mbok Sa. Mbok cuma bisa menemui non sesekali. Non harus tinggal di pesantren dengan santriwati yang lain." Kata mbok Sa, mencoba memberikan pandangan mengenai kehidupan yang akan di jalani Vanila jika ia tinggal d pesantren.
"Lala tau. Lala kan sudah besar mbok. bukan bayi lagi yang harus mbok jagain." Kata Vanila meyakinkan mbok Sa.
"Ya udah. Nanti atau besok Non telpon tuan aja. langsung bilang ke tuan. Kalau nggak salah mbok, tuan punya sahabat Kyai Abdullah yang punya pesantren di kota K." Kata mbok Sa.
"Ya udah, ini non cepat abiskan makannya." Kata mbok Sa yang kembali menyodorkan swndok berisi makanan ke mulut Vanila. Dan Vanila mengunyah makanannya penuh semangat. Setelah makan malamnya habis, mbok Sa meninggalkan Vanila, yang mulai kembali sibuk dengan laptopnya.
Hari ini pagi-pagi sekali Vanila sudah bangun. Ia memutuskan untuk melakukan lari pagi di sekitar resort. Vano yang kebetulan juga sudah bangun dan juga berencana lari pagi, melihat Vanila keluar dari kamarnya. Vano memutuskan mengikuti Vanila, memperhatikannya dari jauh, karena Vano tidak mau Vanila kembali menjnggalkannya. Ia tidak mau memaksa Vanila untuk mau bertemu Vano, karena jika di paksa, Vano yakin Vanila akan semakin membencinya.
Selesai lari pagi, Vanila memilih duduk di bangku taman yang ada depan kamar papanya. Arlan yang melihat Vanila duduk di bangku taman, memutuskan untuk duduk di samping Vanila, karena Arlan tidak mau jadi pengecut lagi yang selalu menghindari Vanila. Bagaimanapun Vanila adalah putrinya. Vanila butuh kasih sayangnya, karena Ia satu-satunya orang tua yang dimiliki Vanila.
"Pagi-pagi sudah bangun sayang?" Tanya Arlan yang membuat Vanila sedikit terkejut.
" Ia pa. Lala mau ngomong sama papa." Kata Vanila
"Iya ngomong aja."
__ADS_1
"Lala mau tinggal di pesantren. Kata mbok Sa, papa punya teman yang punya pesantren. Lala mau tinggal di sana boleh?" tanya Vanila.
"Kamu yakin sayang mau tinggal di pesantren? Kehidupan di pesantren itu berat. Kamu harus mandiri. apa-apa semuanya harus di lakukan sendiri. di kota K ada teman papa sih, Kiyai Abdullah. Kalau Lala benar-benar sudah yakin mau tinggal di pesantren, nanti papa hubungi beliau." Kata Arlan sambil mengusap kepala Vanila.
"Beneran pa?, makasih Pa. Lala saaayang papa." Kata Vanila senang sambil memeluk Arlan. Vano yang melihat Vanila senang sambil memeluk papanya, hanya bisa tersenyum dan memandang Vanila dari jauh, tanpa bisa mendengar percakapan Vanila dna papanya.
Setelah berbicara dengan Arlan, Vanila kembali ķe kamarnya untuk bersih-bersih. Lalu Ia segera pergi ke restoran untuk sarapan, sekaligus pamit dengan yang lain.
Di restaurant hotel, Vanila melihat kakak-kakaknya duduk di kursi salah satu meja bersama-sama.
"Kakak. Lala mau pamit, balik ke kota P pagi ini." Kata Vanila yang berdiri di samping kursi Jasmine.
"Cepet banget baliknya La?"Tanya Jasmine heran
"Iya. kan Lala mau urus masuk sekolah baru." Jawab Vanila.
"Bukannya kamu kenaikan kelas ya?"tanya Dahlia heran
"Lala ikut akselerasi lagi" Jawab Liliana membantu Vanila, yang mendapat tatapan tidak percaya dari Jasmine, Sakura dan Dahlia.
"Hehehe.... pelajarannya terlalu gampang. Lala butuh pelajaran yang lebih susah." Kata Vanila memberikan alasan, karena tahu, kakak-kakaknya pasti mau tahu alasan Vanila.
Setelah sarapan bersama keluarga besarnya, Vanila segera pamit, karena Ia sudah memesan penerbangan untuk pagi hari, menuju kota P. Vanila memeluk papanya dna kakak-kakaknya satu persatu, lalu pergi bersma mbok Sa dan pak Arman yang sudah bersiao-siap dari tadi.
Sesampainya di kota P, Vanila segera memberitahukan bunda Ningrum, kalau Vanila akan melanjutkan sekolahnya di pesantren. Sebenarnya bunda Ningrum tidak rela Vanila pergi, karena Ia mulai sayang dengan Vanila. Begitu juga dengan anak panti yang lain, terutama Badai dan Guntur.
"Kak Badai biasa aja mukanya. Lagian bukannya kakak tahun ini mau masuk sekolah angkatan udara kan? Jadi dari pada kakak ninggalin Lala, jadinya Lala duluan yang ninggalin kakak." Kata Vanila sambil nyengir, karena melihat ekspresi wajah Badai yang semakin datar begitu mendengar Vanila akan meninggalkan panti.
"tapi kan beda La. Kalau di pesantren, apalagi kamu Jauh, pasti kita nggak ketemu untuk waktu yang lama." Kata Badai
"Yah... hitung-hitung, biar kakak bisa lebih fokus dengan pendidikan kakak nanti. Lala mau, nanti kalau kita ketemu, kakak sudah jadi angkatan udara yang punya pangkat yang bisa buat bunda bangga." Kata Vanila sambil tersenyum.
__ADS_1
"Nanti kalau kakak lulus, kamu janji ya, bakalan hadir di acara kelulusan kakak setelah mengikuti pendidikan di AAU." kata Badai lagi.
"Aye aye Captain. walaupun hujan badai Lala pasti datang." Kata Vanila sambil memberikan hormat ala-ala tentara, yang membuat Badai jadi tersenyum dan gemas melihat tingkah Vanila.