
Sudah dua minggu Vanila dirawat di rumah sakit, karena kakinya yang belum benar-benar pulih, dan sesekali Vanila masih merasakan sakit kepala yang luar biasa. Vanila yang ceria dan suka bercanda membuat para suster dan dokter yang merawatnya, terutama dokter Abimana, betah berlama-lama di ruang Vanila jika tidak ada kesibukan.
"Jadi mau latihan jalan La?" Tanya dokter Abimana
"Jadi dong dok. Itu kruk nya sudah dibelikan papa." Kata Vanila sambik menunjuk kruk yang berada di samping brankarnya.
"Wah.. keren kruk kamu. Anak sultan mah gitu, enak." Kata dokter Abimana ketika melihat kruk Vanila yang memang di desain dan di pesan khusus oleh Arlan.
"Tau tuh sipapa, sudah Lala bilangin, beli kruk biasa aja. Eh, malah di pesanin kruk khusus kayak gitu." Kata Vanila yang pura-pura ngomel.
"Ratu akting bisa aja. Papa kamu loh itu, pakai acara di omelin. Dasar anak nggak pakai akhlak." Kata dokter Abimana.
"Eits. yang Lala omelin papanya siapa?" Tanya Vanila
"Kamu."Jawab dokter Abimana
"Trus kenapa dokter yang repot ya? Dah jadi nitijen julid nih." Protes Vanila yang membuat dokter Abimana tidak bisa protes lagi.
Vanila turun dari tempat tidurnya dan mengambil kruk yang ada di sampingnya, untuk menopang tubuh Vanila, karena retak tulang kaki kirinya, membuat Vanila harus berjalan di bantu kruk.
"Dah langsung jago aja pakai kruk nya." Kata dokter Abimana.
"Iya, tadi Lala les dulu cara pakai kruk yang baik dan benar. Makanya langsung bisa." Kata Vanila yang jawabannya selalu membuat dokter Abimana tertawa.
Dokter Abimana membawa Vanila berjalan-jalan ke taman yang ada di rumah sakit. Sesampainya di taman, mereka duduk di bangku taman yang berada di bawah pohon besar. Mereka melihat banyak orang yang berlalu lalang dan beberapa anak kecil yang bermain di taman.
Diantara beberapa anak yang bermain dengan ceria, Vanila melihat ada satu orang remaja yang kira-kira berusia 15 tahun, duduk sendiri dengan wajah sedih.
"Dokter kenal cowok itu?" Tanya Vanila sambil menunjuk anak yang hanya duduk diam dengan wajah sedih.
"Kenal. Namanya Daffa. Dia mengalami kelainan jantung bawaan. Sering bolak balik masuk rumah sakit. Dari awal memang anaknya begitu, jutek dan nggak mau di dekati. Karena orang tuanya terlalu protec terhadap Daffa. Sehingga Daffa tumbuh menjadi anak yang sulit bersosialisasi." Terang dokter Abimana.
Vanila yang mendengar penjelasan dokter Abimana, hanya tersenyum lalu bangkit dari duduknya dan menuju ke arah anak yang bernama Daffa.
"Kamu mau kemana La? Jangan macam-macam. Pengasuh Daffa galak loh. Tuh para pengawal di sekelilingnya juga pasti larang kamu dekatin." Kata Dokter Abimana, yang tahu maksud senyum jahil Vanila.
"Dokter tenang aja." Kata Vanila, lalu melangkah pelan-pelan menggunakan kruknya.
Sesampainya di tempat yang tidak jauh dari Daffa, Vanila pura-pura terjatuh, pas di depan Daffa dengan jarak sekitar 2 meteran.
"Aduh" Kata Vanila yang pura-pura merasa sakit. Daffa hanya melihat ada pasien yang sedang terjatuh, lalu mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Hai kamu !, Lihat orang jatuh itu di bantuin. Jangan di cuekin." Kata Vanila yang sengaja masih terduduk di rumput, tapi Daffa hanya diam saja tanpa ekspresi.
"Eh, Tuan es batu. Eh salah, tuan tembok, hmm.. kebagusan kalau tembok mah (sambil pura-pura berfikir). Tuan beruang kutub, ih imut banget kalau di samain dengan beruang kutub, dia kan nggak imut. Tuan beruang madu. Kekerenan di panggil beruang madu" Kata Vanila yang memberi panggilan Daffa dengan banyak sebutan, yang aneh-aneh kemudian di sanggahnya sendiri. Perkataan Vanila sebenarnya menarik perhatian Daffa. Sedikit sudut bibirnya terangkat melihat tingkah konyol Vanila.
__ADS_1
"Jadi aku, kamu mau kasih julukan apa?" Tanya Daffa tiba-tiba yang membuat Vanila memandang Daffa sambil tersenyum manis.
"blush" Pipi Daffa terasa agak sedikit panas melihat Vanila, terutama mata hazelnya yang cantik.
"Bisa ngomong toh. Kirain..."
"Enak aja. Kamu mau bilang aku bisu?" Protes Daffa agak sedikit marah.
"Kamu loh yang bilang. Bukan aku. Aku mau bilang kirain lagi GTM (Gerakan Tutup Mulut)." Kata Vanila
"Kamu kira aku bayi, pakai acara GTM." Protes Daffa.
"Ih bayi mah imut, kalau kamu amit." Kata Vanila sambil tertawa, yang membuat Daffa terdiam sambil memperhatikan Vanila.
"Nggak punya rencana bantuin aku?" Tanya Vanila.
"Cih.. ngapain aku bantuin kamu. Kamu kan jatuh sendiri." Protes Daffa
"Ya elah. Jatuh ya sendiri. Kalau ramai-ramai namanya jatuh berjamaah." Kata Vanila lagi.
"Dasar tuan es batu, nggak punya perasaan. Tidak berprikemanusiaan, tidak tenggang rasa, tidak toleransi, tidak..."
"Kenapa kamu malah mengabsen bab mata pelajaran PPKN?" Tanya Daffa heran.
"Biar saya saja yang bantu tuan muda." Kata pengawal itu.
"Om, aku nggak punya penyakit menular loh. Nggak apa-apa kali di bantu tuh tuan es batu, biar dia bisa praktek mata pelajaran PPKN." Kata Vanila.
"Alah.. bilang aja kamu mau dibantuin cowok cakep kan?" Kata Daffa yang sudah berjongkok di hadapan Vanila.
"Idih.. pede banget. Jadi mau muntah, hoek" Kata Vanila sambil menirukan gaya muntah yang membuat Daffa sedikit tertawa.
"Eh tuan es batu kenapa tertawa. Aku nggak lagi ngelawak loh."Kata Vanila yang pura-pura protes.
"Udah. Nggak usah banyak bacot deh. Mau aku bantuin nggak?" Tanya Daffa yang agak malu karena ketahuan lagi tertawa. Dan rasanya sudah lama sekali Daffa tidak tertawa.
Daffa mengulurkan tangannya, dan menarik Vanila agar berdiri, lalu memberikan kruk Vanila, agar Vanila bisa berjalan. Walaupun Daffa umurnya lebih tua setahun dari Vanila, tapi Vanila terlihat lebih kecil dari pada Daffa, karena memang body Daffa yang tinggi besar, walau usianya sekitar 15 tahunan, tapi Daffa memiliki wajah yang baby face, imut-imut gitu.
Daffa kembali duduk di tempat duduknya tadi, dan Vanila duduk disampingnya. Dari kejauhan dokter Abimana tersenyum melihat Vanila yang bisa mencairkan pangeran es, julukan yang diberikan dokter dan perawat yang ada di rumah sakit itu.
"Daffa." Kata Daffa kepada Vanila.
"Heh?" kata Vanila sambil mengerutkan dahinya.
"Nama aku Daffa." Kata Daffa menjelaskan.
__ADS_1
"Oh, Aku Vanila. Panggil Lala aja." Kata Vanila
"Ok. Kamu sendiri aja?" Tanya Daffa.
"Tadi sih sama dokter Abi. Tapi sekarang kayaknya dokter Abi lagi visitasi deh. Btw, kamu kenapa harus di jagain sih? Kamu anak mafia ya?" Tanya Vanila
"Enak aja kamu. Itu karena mami aku, ngggak mau aku kenapa-kenapa." Jawab Daffa.
"Idih.. anak mami" Kata Vanila sambil tertawa. Daffa yang tadinya ingin protes, tiba-tiba kembali terpaku melihat wajah bahagia Vanila yang sedang tertawa.
"Maaf ya, aku nggak bermaksud ketawain kamu. Oh iya, aku balik ke kamar dulu. Besok kita ketemu lagi." Kata Vanila
"Biar aku antar." Kata Daffa.
"Nggak usah. Nanti kamu di cariin mami kamu lagi." Kata Vanila sambil tersenyum, lalu segera pergi meninggalkan Daffa, tapi Daffa meminta salah satu bodyguardnya untuk mengantar Vanila, dari jauh.
Sesampainya di pintu kamar, Vanila terharu melihat papanya memegang kue ulang tahun dengan lilin yang menyala.
"Barakallah fii umrik sayang. Doa terbaik papa buat Lala." Ucap Arlan dengan mata berkaca-kaca. Karena ini untuk yang pertama kalinya sejak kelahiran Vanila, Arlan mengucapkan selamat ulang tahun. Hari kelahiran Vanila adalah hari meninggalnya Rosaline, makanya Arlan tidak pernah mengucapkan kata selamat ulang tahun, dan biasanya Arlan akan berada di makam Rosaline. Bahkan ke empat kakaknya juga tersambung melalui VC.
Vanila yang benar-benar tidak ingat dan tidak menyangka kalau papa dan keluarganya akan mengucapkan selamat ulang tahun untuk pertama kalinya, hanya bisa berdiri diam di depan pintu kamarnya, dengan air mata yang terus mengalir.
Pengawal Daffa agak heran melihat Vanila yang hanya berdiri di depan kamar, tapi rasa herannya hilang ketika melihat ada seorang laki-laki yang sudah cukup berumur, membawa kue ulang tahun lengkap dengan lilinnya.
"Make a wish first." Kata Arlan lalu menyodorkan kue ulang tahunnya. Vanila memejamkan matanya yang masih terus mengeluarkan air mata. Vanila benar-benar terharu dan tidak menyangka. Butuh 14 tahun papa dan keluarganya mengucapkan kata selamat ulang tahun. Setelah meniup lilin, Arlan menyerahkan kue kepada mbok Sa, lalu memeluk Vanila erat.
"Maafkan papa." Ucap Arlan lirih, dengan sudut mata yang mulai basah. Kejadian itu menarik perhatian beberapa orang yang melewati lorong ruangan Vanila.
"Terimakasih Pa." Ucap Vanila tercekat. Hanya kata itu yang bisa di ucapkannya, karena perasaan Vanila benar-benar campur aduk.
Arlan membantu Vanila masuk ke kamarnya, dan mendudukkan Vanila di sofa yang ada di kamar rawatnya. Satu persatu kakak-kakaknya mengucapkan selamat ulang tahun, termasuk si cerewet Langit, yang ngomel-ngomel karena mommynya tidak mau mengantarkan Langit ke tempat Vanila.
Arlan memesan makanan di restoran terbaik yang ada di kota itu, lalu membagikannya kepada semua dokter dan perawat yang ada di rumah sakit, dan meminta pihak kantin rumah sakit untuk menggratiskan makanannya untuk semua orang yang memesan hari itu, karena Arlan yang akan membayar. Arlan juga tidak lupa memberikan donasi ke beberapa panti asuhan atas nama Vanila dan Rosaline.
Vanila benar-benar bahagia hari itu. Sekretaris Arlan, Pak Wahyu membantu Arlan mengabadikan moment pada hari itu. Tadinya Vanila protes sama pak Wahyu, karena perayaan ulang tahun pertamanya, Vanila mengenakan pakaian pasien rumah sakit. Tapi akhirnya tidak lagi protes.
"Kan jarang ada non, tema ulang tahun pasien rumah sakit" Kata pak Wahyu yang membuat Vanila dan lainnya tertawa dan membenarkan ucapan pak Wahyu.
Vanila melihat hasil jepretan dan rekaman yang dilakukan pak Wahyu, dan mengirimkan beberapa Foto yang memperlihatkan moment kebersamaan dengan papanya sewaktu menyodorkan kue ulang tahun, tapi dengan angel wajah Vanila yang blur dan fokus ke kue ulang tahunnya dengan lilin yang menyala.
Vanila memposting, foto itu di media sosialnya yang sudah memiliki banyak follower, karena foto yang di posting Vanila menampilkan foto yang enak di pandang.
"First time. Thank's Pa n all my beloved family" Tulis Vanila untuk caption di media sosialnya, yang langsung di banjiri like dan komen yang berisi ucapan dan doa yang terbaik untuk Vanila.
Barakallah fii umrik, 6 Januari .... 🎊🎉🥳
__ADS_1