
Sesampainya di rumah sakit, Vano segera menggendong Vanila ke ruang IGD. Vanila segera mendapatkan perawatan dari dokter jaga. Seperti dugaan dokter jaga di sekolah, Vanila mengalami hipotermia yaitu kondisi dimana tubuh mengalami penurunan suhu yang ekstrim. Ada beberapa penyebab hipotermia, salah satunya menggunakan pakaian basah di udara yang dingin. Lingkungan sekolah dekat dengan gunung, dan suhu udara malam itu cukup dingin, ditambah Vanila menggunakan pakaian basah cukup lama, mulai dari terkurung di toilet sampai pementasan selesai.
Dokter segera memberikan penanganan untuk hipotermia, dan menempatkan Vanila di ruangan yang cukup hangat, dan meminta Jenifer untuk mengganti pakaian Vanila yang basah, lalu menutup Vanila dengan selimut tebal.
Sudah sejam Vanila berada di rumah sakit, menggunakan selang oksigen dan jarum infus yang terpasang di tangan sebelah kirinya. Walaupun terlihat masih pucat, tapi sudah tidak sepucat sebelumnya.
Pak Arman segera menjemput mbok Sa, dan memberitahukan Arland mengenai kondisi Vanila.
Begitu tahu Vanila masuk rumah sakit, Arland segera ke rumah sakit tempat Vanila di rawat. Ketika sampai rumah sakit, Arland melihat beberapa orang yang sedang duduk di sofa, dan melihat mbok Sa yang sedang memegang tangan Vanila sambil menangis.
"Kenapa Lala bisa seperti ini pak Arman?" Tanya Arland agak sedikit emosi, melihat Vanila yang masih menutup matanya, dengan hidung terpasang selang oksigen dan tangan terpasang jarum infus.
Vano, Reno dan Dokter jaga sekolah yang bernama dokter Andi, agak terkejut melihat Arland yang tiba-tiba masuk dan bertanya dengan suara yang sedikit emosi.
"Maaf pak. Kami akan bertanggungjawab untuk kejadian ini, dan kami akan mengusut tuntas kejadian Vanila sampai mengalami hipotermia." Terang Vano
"Kamu siapa?" Tanya Arland ketus
"Saya Vano pak, ketua kegiatan orientasi siswa di sekolah." terang Vano
Arland yang masih marah melihat kondisi Vanila tidak memperdulikan Vano, lalu berjalan ke arah mbok Sa.
" Saya benarkan mbok? Jangan kasi Lala izin untuk ikut acara menginap di sekolah. Lala itu masih kecil mbok, dia masih belum bisa membedakan mana yang bahaya, mana yang baik sama yang nggak baik." terang Arland lagi yang masih kesal, karena Arland dari awal memang tidak menyetujui kalau Vanila menginap.
__ADS_1
"Maafkan mbok tuan. Mbok nggak tega lihat non Lala murung, waktu tau tuan nggak ngizinin...hiks hiks hiks" Kata mbok Sa sambil terisak, bukan karena Arland marah, tapi karena rasa sayangnya yang sangat besar pada Vanila, justru malah menyebabkan Vanila celaka.
Vanila yang mendengar suara papanya marah, mulai membuka matanya.
"Jangan salahin mbok Sa, Pa. Ini semua salah Lala. Salah Lala yang nggak bisa jaga diri. Lala janji kedepannya Lala nggak akan buat papa khawatir lagi." Kata Vanila dengan suara lemah.
Semua yang ada di ruangan itu bernafas lega, karena Vanila sudah sadar, yang artinya ia sudah melewati masa kritis nya.
"Lala istirahat aja. Jangan ngomong dulu." Kata Arland sambil mencium kening Vanila.
"Papa jangan marahin mbok Sa." Kata Vanila lagi yang hanya di jawab anggukan dan senyuman haru oleh Arland. Arland sangat bersyukur Vanila segera sadar. tidak lama setelah itu telpon genggam Arland berbunyi, Ia izin kepada Lala untuk mengangkat telpon di luar. Lalu dengan wajah yang agak sedikit murung, kembali kedalam ruangan perawatan Vanila.
"Maafkan papa sayang. Ada masalah pembangunan proyek papa yang di negara S. Papa harus segera ke lokasi untuk ngecek." terang Arland
"Tolong jaga Lala baik-baik mbok. laporkan sama saya setiap perkembangan nya." Kata Arland sebelum pamit pergi.
"Iya tuan" Kata mbok Sa. Lalu Arland segera meninggalkan rumah sakit, setelah sebelumnya memastikan dulu kondisi Vanila kepada dokter yang merawat Vanila.
Setelah Arland pergi, suasana yang tadinya tegang mulai berangsur santai. Dokter Andi pamit untuk kembali ke sekolah, sementara Vano, Reno dan Jenifer memutuskan untuk tetap berada di ruangan Vanila.
"Papa kamu Arland Syauqi La?" tanya Jenifer penasaran, karena ia kurang satu Minggu jadi teman Vanila, dan Vanila tidak pernah bilang kalau dia putri Arland Syauqi, karena memang nggak mirip.
Vanila yang merasa mulai baikan, meminta mbok Sa membantunya untuk duduk. Selang oksigen sudah di lepaskan, hanya tinggal jarum infus yang masih melekat, karena dokter bilang, minimal habiskan satu kantong, batu nanti dilepas.
__ADS_1
"Wah.. papa kamu orang keren La. Aku suka banget arsitektur. dan Arland Syauqi adalah salah satu idola aku. Cobak tadi papa kamu datangnya nggak marah-marah dan nggak langsung pergi, aku mau minta tandatangan sama mau foto bareng." Cerocos Jenifer dengan wajah berbinar. Vanila hanya tersenyum mendengar ocehan Jenifer yang ternyata fans papanya.
"Vanila butuh istirahat Je. Kamu ini kebiasaan ya, ngomong kok nggak ada remnya." Kata Reno yang menegur Jenifer.
"Hehe.. UPS sory" kata Jenifer sambil nyengir dan menutup mulutnya yang nggak punya rem dengan jari tangannya.
"Tapi kan keren banget kak, ternyata aku temenan sama anak Arland Syauqi, Arsitek terkenal di seantero negeri kita tercinta ini. Semua bangunan yang di rancangnya adalah Masterpiece. Aku selalu nginap di hotel milik Syauqi Property. Keren banget pokoknya. eh tapi btw anyway busway, masa sih kamu anaknya La? nggak ada mirip-mirip nya. Kamu anak pungut ya? huaaa.... aku mau dong di pungut jadi anak." Kata Jenifer antusias.
"Ya ampun Je, kamu ini ya, teman kamu masih sakit loh itu." Kata Vano yang mulai gemas mendengar ocehan Jenifer yang emang susah berhenti ngomong.
"Jawab dong La, jangan ketawa aja. Nanti aku bisa mati penasaran loh, trus aku akan gentayangin kamu." Kata Jenifer lagi yang membuat Vanila jadi tertawa.
"Lala anak pungut papa mbok?" Tanya Vanila pada mbok Sa sambil tersenyum.
"Non Lala ini anak kandung tuan Arland non Jenifer. Kenapa non Lala nggak mirip tuan Arland itu karena, non Lala mirip sama mamanya." Terang mbok Sa
"Wah... pasti mama kamu cantik banget ya La, soalnya kamu nya aja cantik begini, apalagi mama kamu. beuh... jadi nggak sabar aku ketemu mama kamu." Kata Jenifer yang membuat senyum Vanila hilang seketika, dan Jenifer baru ingat, kalau istri Arland Syauqi sudah meninggal.
"ups. maaf ya La. Nggak bermaksud buat kamu sedih." Kata Jenifer sambil memeluk Lala.
"Nggak apa-apa Je." Kata Vanila yang mencoba tersenyum.
Melihat kondisi Vanila yang mulai membaik dan membutuhkan istirahat yang banyak, Vano, Reno dan Jenifer pamit kembali ke sekolah. Sebenarnya Jenifer masih mau di rumah sakit jagain Vanila, tapi Vano dan Reno yang tahu Jenifer seperti apa orang nya, memaksa Jenifer untuk kembali ke sekolah. Kalau ada Jenifer dekat Vanila, bisa-bisa Vanila tidak istirahat, tapi malah akan mendengarkan cerocosan Jenifer yang nggak bisa berhenti.
__ADS_1