Vanilarea

Vanilarea
Menyelamatkan


__ADS_3

Sudah hampir sebulan Malik menjalani perawatan, semakin hari kesehatannya semakin membaik, bahkan Malik sudah mulai bisa berlari kecil ketika bermain di taman.


Vanila suka mengajak Malik bermain di taman pada saat jam istirahat. Papa Malik selalu memperhatikan Malik yang sangat bahagia ketika bermain dengan Vanila.


"Bagaimana keadaan Malik dokter?" Tanya pangeran Nabil papanya Malik.


"Alhamdulillah. Progresnya sangat bagus sekali. Besok Malik sudah boleh pulang." Kata Vanila menyemangati Malik, tapi Malik malah memasang wajah sedih.


"Malik kenapa sedih?" Tanya Vanila heran.


"Malik nggak mau pulang." Kata Malik dengan suara pelan sambil menundukkan wajahnya menahan air mata.


"Loh.. kenapa tidak mau pulang. Malik sudah lebih baik. InshAllah nggak akan sakit lagi." Jelas Vanila lembut, sambil membelai sayang kepala Malik.


"Tapi di istana tidak ada dokter." Jawab Malik.


"Kan di istana ada papa, kakak pengasuh, kakek dan nenek juga ada." Terang Vanila lagi.


"Semuanya sibuk. Malik sendirian."Kata Malik dengan ekspresi sedihnya.


"Malik nggak sendirian kok." Kata Vanila berusaha membuat Malik tidak sedih lagi.


"Dokter, boleh saya bicara sebentar?" Tanya Psngeran Nabil


"Boleh." Kata Vanila.


"Papa bicara dengan dokter dulu Malik." Kata Pangeran Nabil lalu mengajak Vanila menjauh dari Malik.


"Maaf sebelumnya dokter, kalau saya lancang. Apakah dokter mau menjadi dokter pribadi keluarga saya? Saya akan memberikan kompensasi yang sangat besar." Kata pangeran Nabil.


"Maaf tuan. Saya tidak bisa." tolak Vanila


"Tapi kenapa? Malik sangat susah dekat dengan orang, termasuk pengasuhnya. Dari kecil Malik tidak pernah bahagia. Tapi dengan anda Malik bisa tertawa lepas." Kata pangeran Nabil sambil memandang Malik yang sedang duduk di bangku taman.


"Jika jadi dokter pribadi saya tidak bisa,tapi kalau sesekali mengunjungi Malik InshAllah saya bisa." Jawab Vanila.


"Apakah anda tidak bisa mempertimbangkan lagi?, demi Malik." Kata pangeran Nabil lagi.

__ADS_1


"Maaf tuan. Saya tidak bisa." Kata Vanila sambil tersenyum ramah.


"Jika anda berubah pikiran, anda bisa menghubungi saya." Kata pangeran Nabil sambil memberikan kartu nama yang berisi nomor pribadinya.


"Terimakasih tuan. Sore ini Malik sudah bisa pulang. Semoga Malik, anda dan seluruh keluarga anda selalu dalam lindungan Allah. Aamiin." Kata Vanila lalu kembali duduk di samping Malik.


Vanila berusaha menjelaskan kepada Malik, agar pangeran kecil itu tidak sedih ketika harus berpisah dari Vanila. Setelah Vanila menjelaskan, akhirnya Malik mengerti dan mau tersenyum kembali.


"Pangeran Nabil ganteng banget ya Syah?" Kata Cathrine sambil duduk.di hadapan Vanila.


"Biasa aja." Jawab Vanila cuek sambil membereskan ruangannya karena Vanila baru saja selesai memeriksa pasien terakhirnya.


"Dok, ini kapten Pram yang sebulan lalu kecelakaan sore ini janji chek up." Kata suster Anet.


"Sama dokter Cathrine aja. Saya ada perlu." Kata Vanila yang selesai merapikan barang-barangnya.


"Kok gue sih?" Protes Cathrine


"Kapten Pram itu tentara yang kamu bilang ganteng loh." Kata Vanila.menyemangati dokter Cathrine.


"kapten Pram. oh astaga, gue ingat. Ok, kalau itu mah nggak apa-apa. palingan tinggal chek up rutin aja." Kata Cathrine senang karena membayangkan wajah kapten Pram.


"Betul kamu. ok, gue pergi. see u Syah." Kata dokter Cathrine yang pergi sambil menggandeng tangan suster Anet.


Vanila segera mengunci pintu ruangannya, menghapus makeupnya dan segera membersihkan dirinya, lalu bersiap-siap untuk sholat ashar.


Sore ini Vanila rencananya akan mengunjungi lingkungan kumuh yang lokasinya tidak jauh dari tempat tinggalnya. seminggu sekali Vanila selalu kesana untuk memeriksa kesehatan mereka dan memberikan bahan-bahan makanan supaya mereka bisa lebih sehat lagi.


Vanila yang tidak ingin di kenali teman kuliah atau rekannya di rumah sakit, selalu datang ketempat itu tanpa makeup. Masyarakat di lingkungan kumuh menjuluki Vanila malaikat karena kebaikannya dan kecantikannya.


Vanila sudah memesan melalui aplikasi untuk bahan makanan yang akan di bagikan. Vanila menyiapkan Vitamin untuk masyarakat yang akan di temuinya.


Vanila mengenakan masker dan kacamata untuk menutupi penampilannya, dan keluar diam-diam dari ruangannya dan segera menuju tempat parkir.


Sebelum sampai tempat parkir, Vanila melihat di depan ICU ada banyak sekali orang-orang yang berkerumun, Vanila yang penasaran memutuskan untuk melihat apa yang di lihat oleh kerumunan orang di depan ICU.


Vanila melihat seorang pria dengan pakaian yang sedikit lusuh, sedang meletakkan pisau dileher dokter Andrea yang memang terkenal sombong.

__ADS_1


Beberapa security rumah sakit menodongkan pistol ke arah laki-laki lusuh yang sedang mengancam dokter Andrea.


"Kalian jangan coba-coba mendekat, atau aku akan membunuh perempuan ini. Dia menyebabkan anak saya mati. Dia tidak mau menolong anak saya hanya karena kami miskin." Kata laki-laki itu dengan wajah sedih dan masih tetap menodongkan pisau di leher dokter Andrea.


Vanila berusaha mendekati ICU, dan melihat anak kecil yang berumur sekitar 10 tahunan terbaring di brankar depan ICU.


Vanila melihat kondisi anak yang berada di brankar, dan mengamatinya dengan seksama, dan tanpa sadar Vanila malah berjalan mendekati brankar, tapi di tahan oleh security yang berda di barisan depan.


"Jangan mendekat nona." Kata security itu menahan Vanila.


"Tapi saya mau periksa pasien." Kata Vanila yang lupa kalau ia sedang tidak menjadi dokter Aisyah.


"Tapi nona..."


"Aih... pak Jef tenang saja." Kata Vanila karena ia memang mengenal security yang menahannya,tapi security itu malah menatap Vanila heran.


"Tuan maaf. Anda lepaskan dokter Andrea. Saya periksa anak anda terlebih dahulu, sepertinya dia masih bisa kita selamatkan." Kata Vanila yang langsung mendekati pasien dengan tiba-tiba yang membuat suasana tiba-tiba menjadi panik, karena laki-laki yang mengancam dokter Andrea malah menekankan pisau keleher dokter Andrea, sehingga sedikit tergores.


Vanila segera memeriksa denyut nadi, detak jantung dan bola matanya.


"Alhamdulillah, walau lemah, tapi dia bisa kita selamatkan. Cepat bawa ke ruang tindakan, saya yang akan tangani." Kata Vanila membuat perawat dan dokter yang ada di ICU bingung.


"Kenapa bengong. Cepat, waktu kita tidak punya banyak waktu." Kata Vanila tapi mereka masih diam.


"Saya dokter Aisyah." Kata Vanila sambil membuka maskernya dan membuat petugas rumah sakit saling tatap karena dokter Aisyah yang mereka kenal memiliki kulit berwarna gelap, sementara dokter Aisyah yang sekarang memiliki kulit putih bersih dan mata hijau yang sangat cantik.


"Aih..." Kesal Vanila lalu segera mendorong sendiri brankarnya ke ruang ICU.


Vanila segera memberikan tindakan terhadap pasiennya.


"Suster Anet, tolong siapkan ruangan operasi." Kata Vanila dengan gayanya yang khas, dan suster Anet mengenali kalau ia memang dokter Aisyah.


Vanila segera mempersiapkan operasi untuk memyelamatkan anak yang orang tuanya sedang menyandra dokter Andrea.


"Saya akan menyelamatkan anak anda. Tolong lepaskan dokter Andrea." Kata Vanila sambil tersenyum, dan mengambil pisau yang menempel di leher dokter Andrea.


Laki-laki itu melepaskan pisaunya, dan berlutut di lantai sambil menangis. Beberapa security langsung mengamankan laki-laki itu, dan Ia laki-laki itu memberontak karena tidak ingin meninggalkan anaknya.

__ADS_1


Vanila segera melakukan operasi, tanpa mengetahui kejadian yang ada di luar. Vanila berusaha menyelamatkan nyawa anak laki-laki kecil.


"Ayo sayang, kamu harus bertahan. Demi papa kamu." Kata Vanila menyemangati pasiennya, yang mulai menunjukkan kondisi yang menurun.


__ADS_2