
Vanila sengaja meminta Vano untuk datang ke kota P, karena Vanila tahu betul kalau Jenifer masih sangat mencintai Vano.
Setelah mengantar Jenifer ke rumah sakit, Vanila mengantarkan Vano ke hotel keluarganya untuk beristirahat.
"Biar kakak yang nyetir Va." Kata Vano yang mengambil kunci mobil dari tangan Vanila.
Lalu mereka segera meninggalkan pelataran parkir rumah sakit.
"Jadi ini kejutan buat kakak?" tanya Vano lagi.
"Iya. Lala mau kak Vano belajar terima Jeje. Jeje anak yang baik kak. Dia setia banget tau, dari SMP sampai sekarang masih suka aja sama kakak. Kakak jangan berharap lagi sama Lala. Bagaimanapun, Lala cuma anggap kakak sebagai abang Lala. Nggak lebih. Lala mohon." Kata Vanila dengan wajah sungguh-sungguh.
Vano tidak menjawab perkataan Vanila. Vano hanya diam dan sesekali menghembuskan nafasnya berat sambil konsentrasi mengemudikan mobil yang di bawanya.
"Kak.."
"Kasih kakak waktu La. Hati dan perasaan nggak bisa di paksa." Kata Vano yang tahu kalau Vanila sedang menunggu jawabannya.
"Bisa kak. InshAllah. Sekarang tinggal kakak mau membuka hati atau nggak." Kata Vanila sambil tersenyum untuk meyakinkan Vano.
Selama di kota P, Vanila memberikan waktu lebih banyak kepada Jenifer untuk lebih saling mengenal. Vanila senang akhirnya Vano mau berusaha membuka diri untuk mencoba mengenal Jenifer.
"Kak Vano aja bisa buka diri. Kamu kok nggak bisa?" tanya Daffa sewaktu Vanila menemani Daffa duduk di bangku taman di penginapan tempat Daffa tinggal sementara.
"Kan udah aku bilang sebelumnya, aku lagi pengen main, walaupun telat, paling nggak aku pernah ngerasain dunia bermain. Lagian aku kan masih imut, masih bisa mainlah jadi anak SMA." Kata Vanila sambil tertawa.
"Iya juga sih, kamu imut banget, pasti banyak orang yang nggak percaya kalau umur kamu udah kepala 2 dokter spesialis lagi." Kata Daffa sambil tersenyum menatap Vanila.
Vanila yang sedang memeriksa media sosialnya melihat informasi untuk menjadi relawan di salah satu negara yang sedang mengalami penindasan.
Tanpa pikir panjang, Vanila langsung mendaftarkan dirinya secara online.
"Kamu lagi ngapain? serius bener lihat hp." protes Daffa.
"Lagi ada yang di cek. Oh iya, lusa aku balik ke kota S. kasian mbok Sa ditinggal mulu. Kamu baik-baik jaga jantung. Ntar aku recomin dokter Jantung terbaik. Kamu harus sembuh Ok." Kata Vanila sambil tersenyum menyemangati Daffa lalu pergi meniggalkan Daffa.
Sudah dua bulan lebih Vanila kembali ke kota S, rencana Vanila untuk jadi relawan di negara yang sedang konflik tidak jadi, karena mbok Sa tidak memberikan izin.
Hubugan Vano dan Jenifer juga sudah semakin dekat, bahkan mama Jenifer juga sudah sadar. Vanila yang terus ngompor-ngomporin Vano akhirnya setuju untuk segera melamar Jenifer.
Hari ini Vano dan keluarga besarnya datang untuk melamar Jenifer. Vanila yang tahu kalau Aldrin juga datang dengan Sidqila memilih menunggu di kamar Jenifer dan tidak mau ikut dalam pertemuan dua keluarga.
__ADS_1
Dalam pembicaraan dua keluarga akhirnya diputuskan kalau Jenifer dan Vano akan menikah sebulan lagi. Selesai acara pertemuan dua keluarga, Jenifer langsung masuk ke kamarnya dan di sambut pelukan hangat Vanila.
"Selamat ya Je, semoga semuanya lancar sampai hari H. Doa terbaik buat hubungan kalian." Kata Vanila dengan mata yang berkaca-kaca.
"Terimakasih La. Ini semua karena kamu. Aku banyak berhutang budi sama kamu. Sampai kapanpun aku nggak akan bisa balas La." Kata Jenifer yang juga berlinang air mata.
"Kamu saudara aku nggak sih?" Tanya Vanila yang pura-pura kesal, dan di jawab anggukan oleh Jenifer.
"Nah.. tidak ada kata budi dalam persaudaraan." Kata Vanila sambil tersenyum.
Vanila membantu Jenifer mempersiapkan acara pernikahannya. Pernikahan Jenifer akan dilakukan di ballroom hotel keluarga Vanila yang ada di kota P. Vanila juga membayar WO profesional untuk mempersiapkan acara pernikahan Jenifer dan Vano.
Hari ini Vanila menemani Jenifer dan Vano yang akan melakukan prewedding dengan konsep alam. Jenifer yang dasarnya memang sudah cantik, menjadi semakin cantik ketika sudah di dandani oleh MUA profesional.
Vano yang sebenarnya masih menyimpan perasaan kepada Vanila, sering curi-curi pandang ke arah Vanila. Jenifer yang sebenarnya tahu bahwa Vano masih mencintai Vanila hanya bisa bersabar, karena Vano sudah jujur mengatakan tentang perasaannya kepada Jenifer.
Vano berjanji akan berusaha mencintai Jenifer, walaupun sudut hatinya yang paling dalam akan selalu ada nama Vanila.
Setelah satu bulan melakukan persiapan, akhirnya hari ini Vano dan Jenifer melaksanakan akad Nikah.
Jenifer meminta Vanila untuk menemaninya selama acara prosesi pernikahan. Vanila yang tidak ingin dikenali akhirnya memutuskan mengenakan cadar untuk menutupi wajahnya, bahkan merias matanya agar terlihat tidak seperti Vanila.
Vanila mendudukkan Jenifer di samping Vano untuk menjalankan prosesi setelah ijab kabul seperti penyematan cincin, Jenifer mencium punggung tangan Vano dan Vano mencium puncak kepala Jenifer yang tertutup hijab, karena setelah lamaran Jenifer memutuskan mengenakan hijab.
"Selamat kak Vano." Kata Vanila sambil menangkupkan tangannya di depan dada dan langsung memeluk Jenifer.
"Selamat ya Jeje sayang. Kamu harus jadi istri yang baik,kalau kak Vano nakal, lapor aja sama aku, ntar aku jewer kak Vano biar nggak nakal lagi." Kata Vanila sambil melirik Vano.
"Enak aja kamu jewer kakak." Protes Vano
"Makasih ya La." Kata Jenifer dengan mata yang berkaca-kaca.
"Jangan nangis. Ntar luntur makeup nya." Kata Vanila sambil mengusap sudut mata Jenifer agar air matanya tidak menetes.
"Kakak harus jagain saudara aku. Jangan pernah kakak sakitin Jeje ya. Kalau kakak sakitin Jeje, itu artinya kakak nyakitin aku." Kata Vanila sambil memelototkan matanya yang berusaha memperlihatkan ekspresi galak.
"Nggak cocok kamu galak La. InshAllah kakak akan berusaha untuk tidak menyakiti Jenifer. Bagaimanapun kakak manusia biasa La." Jawab Vano serius.
"Doa terbaik dari aku buat pernikahan kakak. Oh iy jangan lupa buatin aku keponakan yang ganteng dan cantik ya." Kata Vanila yang membuat Jenifer malu.
Sebagai kado pernikahan, Vanila memberikan tiket dan akomodasi untuk honeymoon di beberapa destinasi tempat wisata yang ada di dalam negeri.
__ADS_1
Sudah seminggu pernikahan Jenifer dan Vano berlalu. Mereka sedang menikmati hadiah dari Vanila honeymoon ke beberapa tempat destinasi wisata.
Setiap hari Jenifer mengupload kegiatannya di media sosial yang dimilikinya. Vanila senang, akhirnya dua orang yang di sayanginya bisa menyatukan cinta mereka dan hidup dalam bahtera rumah tangga.
Vanila yang mulai bosan tidak ada kegiatan, akhirnya memutuskan untuk mengunjungi kota A yang waktu itu ia menjadi relawan bencana alam.
Di bandara, Vanila segera menunggu di tempat untuk pengambilan barang-barang penumpang. Pada saat Vanila bermaksud mengambil tas ranselnya, tiba-tiba ada sebuah tangan yang menyambar tas Vanila.
"Eh. Itu tas saya." Protes Vanila dan langsung menatap wajah orang yang mengambil tasnya.
"Captain.. Anda..."
"Formal banget. Biasa aja kali nggak usah saya anda ngomongnya bisa nggak sih." Kata Pram berdecak sebal sambil melangkahkan kakinya keluar bandara dan segera diikuti Vanila, karena mengejar tasnya.
"Captain kembaliin dong tas aku." Kata Vanila kesal.
"Jangan panggil aku Captain." kata Pram yang terus melangkah menuju mobil dinas kemiliteran yang sudah menunggi di parkiran dengan seorang pengemudi yang mengenakan baju loreng.
"Lah.. biasanya juga panggil Captaint." Protes Vanila.
"Pertama aku bukan Captaint lagi, udah naik pangkat, kedua kamu bukan anak buah saya Ai, jadi nggak usah manggil pangkat saya. ketiga.."
"Banyak bener alasannya." Potong Vanila, yang langsung keningnya di sentil pelan oleh Pram karena sudah berani memotong perkataannya.
"Aduh.. sakit tau. Tentara sableng." Protes Vanila yang langsung mendapat pelototan dari mata Pram yang tajam, membuat Vanila refleks menutup mulutnya karena keceplosan, dan kemudian nyengir sambil memberikan tanda peace pada Pram.
"Ayo cepat masuk." perintah Pram yang sudah duduk di kursi samping supir.
"Masuk masuk.. emang Capt.. eh.. aku panggil apa dong? Panggil nama aja kan nggak sopan banget. Ntar aku kualat loh manggil nama sama orang tua." Kata Vanila dengan ekspresi yang terlihat imut membuat Pram langsung memelototkan matanya karena dibilang tua, sementara anak buahnya menutup mulutnya berusaha menahan tawa mendengar perkataan Vanila yang mengatakan kalau Pram orang tua.
"Panggil mas aja" Kata Pram sambil menjitak kepala anak buahnya karena ketahuan ngetawain Pram.
"Idih.. ogah. Siniin tas aku deh." Pinta Vanila lagi.
"Masuk cepat, kamu mau ke Kampung Laut Besar kan?" Tanya Pram.
"Lah.. kok tahu?" Tanya Vanila heran.
"Makanya masuk cepat. Saya juga mau ke sana." Kata Pram lagi.
"Aye aye Captaint." Kata Vanila sambil memeberi hormat lalu segera masuk ke mobil dan duduk di bangku yang di belakang supir.
__ADS_1