
Badai berdehem untuk mengembalikan Vanila ke alam sadar, karena Vanila terkejut melihat Badai ada di depannya.
"Kayak lihat apa aja kamu La, sampai terkejut gitu." Kata Badai protes karena melihat reaksi Vanila.
"Wah... kakak keren. Pasti banyak cewek yang ngantri. Udah nggak jomblo lagi dong." Kata Vanila senang sambil menggoda Badai.
"Jomblo lah. Di tempat kakak pendidikan rata-rata cowok semua. Masak jeruk makan jeruk." Protes Badai yang membuat Vanila tertawa membayangkan jeruk makan jeruk.
Badai duduk di bangku yang ada di depan Vanila, sambil memandangi Vanila yang sedang tertawa, dua tahun kebersamaan mereka di panti, membuat Badai tahu betul kalau Vanila adalah anak yang jahil dan ceria hanya dengan orang-orang tertentu saja. Melihat Vanila bisa tertawa membuat Badai mengabadikan momen itu dalam memori yang ada di kepalanya.
"Udah belum ketawanya?" Tanya Badai
"hahahaha.. iya sudah." Kata Vanila sambil menyeka air matanya, kebiasaan Vanila kalau ketawa pasti nangis juga.
"Pasti lagi bayangin yang aneh-aneh." Kata Badai
"Hehe tau aja. Aku kangen tahu sama kakak." Kata Vanila yang membuat Badai tersenyum senang, membuat ketampanannya menjadi 10 kali lipat (memang bisa ya kalau senang membuat ketampanan meningkat 10 kali lipat 🤔).
"Tapi bohong." Kata Vanila lalu tertawa melihat ekspresi Badai yang tiba-tiba berubah, dan Langsung mengacak kepala Vanila.
"Dasar, Lala emang nggak ada akhlak kamu ya." Kata Badai sedikit kesal, tapi sekaligus bahagia melihat tawa Vanila
"Kakak ! Jilbab aku berantakan nih. Ntar aku jadi nggak cantik lagi. Ntar nggak ada cowok yang suka dengan aku. Masa aku harus nemanin kakak jomblo." Protes Vanila yang pura-pura kesal.
"Kamu selalu cantik kok buat kakak. Kalau nggak ada cowok yang mau sama kamu, Kakak mau kok." Kata Badai dengan nada suara serius, yang membuat Vanila terdiam. Maksud hati ingin bercanda, eh malah dapat gombalan dari Badai yang membuat Vanila jadi salah tingkah.
"Udah deh, gombalnya buat ciwik-ciwik lain aja." Kata Vanila yang mencoba melucu, tetapi Badai tetap serius, membuat Vanila jadi salah tingkah.
"Kakak serius La." Kata Badai lagi
"Serius bukannya sudah bubar ya kak?" Kata Vanila yang mencoba melucu tapi, tidak pengaruh ke Badai yang masih memasang mode serius, yang membuat Vanila jadi bingung. Ekspresi bingung Vanila, seketika membuat Badai tertawa.
"Ih.. kakak jahat. Aku kira tadi beneran serius." Protes Vanila
"Kan serius sudah bubar" Kata Badai masih sambik tertawa karena senang berhasil menggoda Vanila, dan membuat Vanila jadi morang maring.
"Udah ah, kak Badai mainnya nggak asik." Kata Vanila lalu menutup macbooknya dan memasaukkannya ke ransel, dan bermaksud pergi meninggalkan Badai, tapi tangannya di tahan sama Badai.
__ADS_1
"Jangan pergi La. Kakak bercanda. Oh iya, tadi Lala bukannya mau cari cowok biar nggak jomblo. Tuh teman-teman kakak, banyak, tinggal pilih aja mau yang mana." Kata Badai sambil tertawa lalu kabur, karena Vanila siap-siap menimpuk Badai dengan ranselnya, dan langsung mengejar Badai, tanpa menghiraukan lingkungan sekitar yang dari tadi memperhatikan mereka. Karena yang satu cantik, yang satunya lagi ganteng. Mereka seperti pasangan serasi yang bahagia.
Badai berlari menuju meja tempat teman-temannya duduk. Vanila yang sadar kalau Ia mengejar Badai sampai ke tempat teman-temannya, dan dipandang oleh teman-teman Badai, langsung berhenti seketika, dan memasang mode cool.
"Assalamu'alaikum kakak-kakak semua. Maaf ya, tadi berasa nonton film india adegan kejar-kejaran ya?, Tolong dihapus adegan itu dari memori kakak-kakak semua. Biar kakak-kakak bisa tidur nyenyak dan tidak mimpi buruk." Kata Vanila yang ngelantur, karena salah tingkah di pandangi cowok-cowok yang kadar ketampanannya tidak jauh beda dengan Badai.
Teman-teman Badai dan Badai langsung tertawa mendengar perkataan Vanila yang lagi absurd.
"Jiah.. kok aku diketawain sih kak. Aku ini nggak lagi ngelucu loh. Dan aku juga bukan pelawak." Kata Vanila yang pura-pura cemberut, membuat teman-teman Badai langsung berhenti tertawa karena merasa tidak enak, melihat ekspresi Vanila yang walau cemberut, malah kelihatan makin imut. Hanya Badai saja yang masih tertawa karena ia tahu betul siapa Vanila.
"Kenak prank Lo semua. Itu ekspresi cemberutnya akting doang." Kata Badai yang masih tertawa, membuat teman-temannya langsung memandang Vanila, yang membuat Vanila nyengir sambil menunjukkan jari telunjuk dan jari tengahnya 😁✌.
Beberapa pengunjung cafe yang perempuan, merasa iri karena Vanila duduk dan tertawa bersama cowok-cowok ganteng.
"Gimana kuliah kamu La?" Tanya Badai yang tahu kalau sekarang Vanila sudah kuliah.
"Baik kak." Jawab Vanila
"Wah, kamu sudah kuliah La? Imut-imut gini. Kakak kira kamu masih SMA tadi." kata Andre salah satu teman Badai.
"Imut apaan? Amit dia mah kalau udah tau orangnya kayak apa." Protes Badai, yang mendapat pelototan dan tinjuan di lengan sebelah kirinya.
"Nggak usah di dengar Badai La. Kamu imut kok." bela Satria yang juga teman Badai.
"Btw, kamu sudah punya pacar atau belum La? Kalau belum, boleh dong Kak Bagas daftar jadi pacar kamu." Tanya Bagas salah satu teman Badai yang langsung di sorakin teman-temannya yang lain sebagai bentuk protes, karena Bagas berani menanyakan, Vanila sudah punya pacar atau belum.
"Tidak boleh pacaran loh kak. Pacaran itu perbuatan yang mendekati Zina. Bukankah Allah sudah berfirman dalam surah Al-Isra' Ayat 32 yang artinya 'Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina adalah perbuatan keji dan suatu jalan yang buruk'. Jadi pacaran adalah salah satu perbuatan yang bisa membuat kita mendekati zina. Tidak ada ya istilah pacaran halal, tapi sebelum menikah. Jadi nikah dulu baru pacaran, biar halal." kata Vanila, yang ceramah udah seperti ustadzah kondang, yang membuat teman-teman Badai terdiam.
"Ya udah, nanti kalau selesai pendidikan, kak Bagas langsung lamar deh." kata Bagas lagi.
"Emang kakak kapan selesai pendidikan?" Tanya Vanila.
"Tahun depan." jawab Bagas.
"Kalau tahun depan mah, nggak bisa." Kata Vanila yang pura-pura serius.
"Kok nggak bisa? Kakak nggak akan ngelarang kamu kuliah kok, walaupun kita nanti sudah menikah." kata Bagas serius yang langsung disorakin teman-temannya karena Bagas ngarep bisa nikah dengan Vanila.
__ADS_1
"Beneran kalau tahun depan, nggak bisa." Kata Vanila lagi.
"Iya kenapa La? Kasih kakak alasan dong." Kata Bagas yang mulai terpancing emosinya.
"Woles kak woles"Kata Vanila menenangkan Bagas.
"Emang Lo mau nikah sama anak di bawah umur?" Tanya Badai
"Di bawah umur?" tanya yang lain kompak terkejut karena Badai bilang Vanila anak di bawah umur.
"Loh, bukannya Vanila sudah kuliah ya? Anak kuliah itu walaupun semester awal, pasti palingnggak sudah berumu 17 tahun ke atas."Protes Bagas.
"Ini anak bajing loncat. Hobynya loncat kelas mulu. Btw umur kamu berapa sekarang La? kakak juga nggak tahu." tanya Badai.
"Aduh.. jadi malu Lala kalau ngomong masalah umur. Ntar kakak-kakak pada minder lagi." Kata Vanila pura-pura malu.
"Udah ngomong aja La, kita penasaran nih." Kata Andre.
"Januari nanti sih 13 tahun." Jawab Vanila
"What?" ucap semuanya kompak terkejut termasuk Badai, yang baru tahu kalau umur Vanila 13 tahun dan mereka beda usia sekitar 8 tahunan bahkan ada yang beda 10 tahun.
"Tuh kan. Lala malas nyebutin umur sebenarnya." Kata Vanila tidak enak melihat wajah-wajah syok yang ada di sekitarnya, karena terkejut mendengar umur Vanila.
"Kok bisa kamu sudah kuliah?" Tanya Rangga penasaran, karena diantara semua yang ada disitu, Rangga umurnya yang paling muda, dan dia yang paling pintar. Pernah ikut kelas akselerasi waktu SMA.
"Lala masuk SD umur 5 tahun. Trus di SD cuma 3 tahun karena langsung lompat 3 kelas. SMP 2 tahun, SMA juga 2 tahun." Jelas Vanila
"Wtf." Kata Rangga mengumpat tidak percaya, karena ada makhluk yang lebih cerdas selain dia.
"Ngerasa punya saingan ya Lo, serangga." Ejek Bagas sambil tertawa, karena baru kali ini melihat si jenius Rangga mengumpat.
"Hehehe iya bang. Ternyata bener di atas langit masih ada langit. Calon bibit unggul nih. Bang Rangga tunggu Lala tiga tahun lagi boleh nggak, buat ngelamar?" Tanya Rangga yang otomatis langsung ditimpukin yang lain.
"Tadi aja Lo sok cool." protes Andre
"Bibit unggul ini bang. Karena kecerdasan yang dimiliki seorang anak, itu warisan dari gen ibunya. Aku secerdas ini, karena mami aku cerdas bang." Jelas Rangga.
__ADS_1
"Bibit bibit, emangnya Lala tanaman ya?" Protes Vanila yang membuat semuanya kembali tertawa.