Vanilarea

Vanilarea
Jalan-Jalan


__ADS_3

Vanila yang kesal dengan kelakuan Aldrin memutuskan untuk menjauh dari Aldrin dan memilih duduk di balkon. Vanila membuka Laptopnya, dan berencana untuk mengerjakan kerjaannya. Tapi hal yang baru saja terjadi membuatnya sulit untuk berkonsentrasi, membuat Vanila jadi kesal sendiri.


Aldrin yang memperhatikan tingkah lucu Vanila, hanya bisa tersenyum, karena Ia tidak ingin Vanila morang-maring.


Sudah lebih dari sejam, Vanila duduk di balkon, dan hanya mengotak atik laptopnya tanpa ada yang dikerjakan.


"Masuk La. Di luar dingin. Nanti Kamu masuk kucing." Kata Aldrin yang sudah berdiri di ambang pintu balkon.


"Mana ada masuk kucing." Kata Vanila.


"Ada, ntar kamu berubah jadi kucing goreng loh." kata Aldrin lagi sambil menahan tawa.


"apa pula lagi itu kucing goreng. Dasar mas tidak berprikucingan." Kata Vanila masih kesal.


"Mau mas cium lagi?" Tanya Aldrin yang mulai berjalan mendekati Vanila, membuat Vanila refleks berdiri dari duduknya dan menutup mulutnya.


"Jangan macam-macam ya mas." kata Vanila galak.


"Mas nggak macam-macam. Satu macam aja." Kata Aldrin lalu tertawa, melihat gaya Vanila melindungi dirinya.


"Iya aku masuk." Kata Vanila sambil morang maring.


Tidak lama masuk kedalam kamarnya, suara adzan di hp Vanila berbunyi, yang menandakan bahwa sudah masuk waktu sholat.


"Kita sholat jamaah berdua ya La." Kata Aldrin.


"Ok. Lala siapain dulu sajadahnya. Mas ambil wudu' duluan aja." Kata Vanila lalu masuk ke dalam kamarnya. 5 menit kemudian Vanila keluar sudah mengenakan mukenah dan membawa dua sajadah, lalu membentangkannya di ruang tamu.


Ini adalah sholat jamaah pertama yang mereka lakukan setelah menikah lebih dari setahun yang lalu. Aldrin menjadi imam, dan mereka melaksanakan sholat dengan khusyuk.


Setelah selesai sholat, berzikir dan berdoa, Vanila mencium punggung tangan Aldrin, dan Aldrin mencium puncak kepala Vanila seraya mengucapkan doa, yang seharusnya ia ucapkan ketika mereka menikah.


Detak jantung Vanila berdetak lebih cepat, dan wajahnya terasa panas, karena ini adalah hal pertama kalinya, seorang pria mencium puncak kepalanya selain papanya.


Vanila mendongakkan wajahnya menatap Aldrin yang sedang tersenyum.


"Itu wajah kenapa kayak kepiting rebus La?" tanya Aldrin yang mencoba menggoda Vanila.


"Aish.. jangan di bahas deh mas. Malu ini. Puas." kata Vanila yang berencana akan pergi, tapi ditahan oleh Aldrin, sehingga Vanila jatuh kedalam pelukan Aldrin.


Vanila dan Aldrin saling menatap, bahkan Aldrin sudah mulai mendekatkan wajahnya ke wajah Vanila.


"Mas mau ngapain?" Kata Vanila sambil membekap mulut Aldrin dengan tangannya.


"Jiah kok cepat sih kamu sadarnya La." kata Aldrin sambil tertawa dan melepaskan bekapan tangan Vanila dari mulutnya, lalu mencium tangan Vanila.


"Mas.." Teriak Vanila sambil menarik tangannya dari pegangan Aldrin.


"Kan kita sudah nikah La. Sudah halal juga. Pahala loh, kalau cium istri atau suami." Kata Aldrin lagi.


"Masih banyak pahala yang lain." Kata Vanila, lalu berdiri dari duduknya, dan memperingatkan Aldrin untuk tidak menariknya lagi.


Vanila segera membereskan sejadah, dan segera masuk ke kamarnya untuk mengganti mukenahnya.


"Kita jalan-jalan yuk La?" Ajak Aldrin. Vanila hanya menatap Aldrin heran.


"Hitung-hitung pacaran. Kita ke mall, nonton, trus dinner." Kata Aldrin lagi.


"Ok. Lala ganti baju." Kata Vanila semangat, karena sebenarnya Vanila suka pergi jalan-jalan, apalagi nonton dan makan.


Setelah Vanila selesai mengganti bajunya dengan gamis casual warna mint, mereka segera pergi menuju mall menggunakan motor matic punya Vanila.

__ADS_1


"Pegangan dong La." Kata Aldrin yang melingkarkan tangan Vanila keperutnya. Vanila yang malas ribut, hanya menuruti saja tanpa komentar.


Sesampainya di mall, Aldrin mengajak Vanila untuk membeli baju, karena sewaktu datang Aldrin dan Vano hanya membawa diri.


"Mas nggak bawa baju?" Tanya Vanila heran ketika mereka masuk ke toko pakaian cowok.


"Iya. Mas sama Rasyid bawa diri aja." Kata Aldrin.


"Trus mau cari baju apa?, kemeja atau casual?" Tanya Vanila.


"Kamu pilihin dong yang cocok buat mas. Hitung-hitung belajar jadi istri yang baik." Kata Aldrin.


"aih.. mas hitung-hitung mulu. Mantan debt collector, kayaknya nih."Kata Vanila sambil tertawa.


"Kan mas benar La." Kata Aldrin lagi.


"Mau berapa stel?" Tanya Vanila lagi.


"Ya.. tergantung kamu, mau berapa lama lagi disini." Kata Aldrin.


"Maksud mas?" Tanya Vanila heran.


"Iya, kalau kamu nggak balik ke kota S, mas juga nggak balik. Intinya dimana ada kamu, mas juga ada disitu La." Kata Vano lagi.


"Tapi kerjaan Lala ada di sini. Kerjaan mas di kota S." Kata Vanila sambil memilih beberapa stel pakaian yang dirasanya cocok buat Aldrin.


"Kan kamu bisa kerja dari kota S La. Mas nggak larang kamu kerja kok." Kata Aldrin.


"Ya udah, lusa Lala ikut mas." Kata Vanila sambil menyerahkan 4 stel pakaian kepada Aldrin, lalu Aldrin pergi ke kasir untuk membayarnya, sambil menggenggam tangan Vanila.


"Malu ah mas." Kata Vanila yang berusaha melepaskan genggaman tangan Aldrin.


"Mereka yang nggak halal aja, nggak malu jalan pegangan tangan. Nah kita kan udah halal. Nggak usah pakai malu kalau jalan pegangan tangan La." Kata Aldrin tidak perduli.


Selesai membayar belanjaannya, Aldrin dan Vanila berjalan menuju bioskop dan sengaja memilih film yang mulai jam 8. Karena mereka tidak mau gara-gara nontin, mereka lalai.


Sambil menunggu waktu sholat, Vanila dan Aldrin memutuskan untuk jalan-jalan di sekitar mall.


"Assalamualaikum mbak Amel, bang Sat." Sapa Vanila sambil nyengir, yang membuat Amel dan Satya heran. Satya mau marah karena dipanggil bang Sat, mengurungkan niatnya karena Ia tidak mengenali perempuan cantik yang menyapanya, tapi Satya masih ingat dengan Aldrin, suami Aer.


"Wa'alaikumussalam" Jawab Amel dan Satya bersamaan.


"Wah... pak Aldrin ternyata begini kelakuannya ya? Tadi siang aja, maksa bawa Aer pulang. Sekarang anda malah jalan dengan cewek lain. Kasihan Aer." Kata Satya marah dan menatap sinis Aldrin, yang membuat Vanila dan Aldrin saling pandang.


"Astagfirullah." Kata Vanila yang baru ingat, kalau ia sedang tidak berpenampilan sebagai Aer.


"Ini aku bang. Aer." Kata Vanila.


"Aer?, nggak mungkin lah. Saya itu tahu persis bagaimana Aer. Anda nggak usah bohongin saya." Kata Satya sinis yang membuat Vanila tertawa.


"Kalau abang nggak percaya, besok bawain aku mie ayam pakde, pakai telur puyuh dua, pakai hati ampela, nggak pakai saos, dan kalau ada ceker, aku mau cekernya. Abang tinggal bilang aja pesanan Aer, pasti pakdenya paham. Atau siangnya abang mau belikan aku rujak yang di depan dinas kehutanan, buahnya nanas, pepaya, jambu, sama kedondong, pedasnya sedang dan kuahnya dipisahkan, atau.."


"Kamu beneran Aer?" Potong Satya sambil memandang Vanila terkejut tidak percaya, begitu juga dengan Amel.


"Pak Aldrin oplas ya si Aer?" Tanya Satya lagi, yang membuat Vanila kembali tertawa.


"Abang jahat ih. Sejak kapan aku hoby oplas." Kata Vanila pura-pura merajuk, dan Satya paham betul gaya merajuk Vanila.


"MashaAllah. Jadi kamu beneran Aer? Kok bisa tiba-tiba jadi cantik banget gini sih Ae. Kakak nggak ngenalin kamu loh." Kata Amel sambil memegang wajah Aer.


"Maaf, Aku sudah bohongin kakak, bang Satya dan yang lainnya. Aku aslinya ya gini, yang sehari-hari kak Amel dan bang Satya lihat, cuma kamuflase." Kata Vanila sambil tersenyum bersalah.

__ADS_1


"Kamu keturunan bunglon Ae ?, pakai kamuflase segala." Kata Satya.


"Aku biawak bang. Kalau bunglon kekecilan." Kata Vanila yang membuat Satya tertawa, dan sekarang dia sangat yakin kalau perempuan cantik dihadapannya adalah Aer.


"Kamu hutang cerita sama kakak Ae." Kata Amel.


"Besok aku jelasin semuanya di kantor. Btw, kok kak Amel bisa sama nih si bang Sat?." Tanya Vanila yang langsung di pelototin Satya, sementara Amel, malu kepergok jalan dengan Satya.


"Kita pacaran." Jawab Satya enteng.


"Aih.. nggak benar bang Satya nih. Nggak boleh loh pacaran. Udah lamar aja kak Amel besok. Aku temanin deh." kata Vanila antusias.


"Ehem" deheman Aldrin karena dicuekin.


"Eh, maaf mas. Oh iya, kak Amel, ini mas Aldrin. Suami aku." Kata Vanila memperkenalkan Aldrin. Aldrin menangkupkan tangannya di depan dada, begitu juga dengan Amel.


"Jadi yang di bilang lo beneran Sat?" tanya Amel kepada Satya.


"Ya benar lah. Gue aja terkejut. Nih bocah udah punya suami aja. Kayak misteri gunung berapi si Aer. Banyak banget misterinya." Kata Satya.


"Jiah.. aku jadi mak lampir gitu?" Tanya Vanila protes.


"Kebagusan kalau kaju jadi mak lampir Ae." Kata Satya sambil tertawa.


"Trus, aku jadi siapa dong?" Tanya Vanila serius.


"Ki rempah mayit." Kata Satya tertawa puas, karena berhasil ngerjain Vanila.


"Kak, amel, putusin aja bang Satya. Nggak usah mau, sama abang gendeng kayak bang Satya. Ntar aku jodohin sama yang lebih bagus dari bang Satya" kata Vanila marah.


"Enak aja. Susah tahu, abang dapatin Amel. Kamu maen suruh putus aja." Protes Satya.


"Aku merujak." kata Vanila sambil membuang pandangannya dari Satya.


"Tukang rujak dah tutup Ae. Abang ganti dim sum mau?" Tanya Satya.


"Mau" Kata Vanila dengan wajah berbinar.


"10 porsi. Abang yang bayar." kata Vanila sambil tersenyum bahagia.


"Lah, busyet.. banyak bener. Di perut kamu itu ada raksasanya ya Ae? abang heran deh, badan kecil, makannya banyak. Kamu kemanain sih Ae semua makanan kamu?" tanya Satya serius.


"kalau usus abang kan 12 jari. Usus aku 12 kaki, jadi dia melakukan perjalanan yang jauh untuk proses cerna, jadi habis di perjalanan nutrisinya. Lagian nih ya, aku tuh, lagi dalam masa pertumbuhan tau." Terang Vanila.


"Pertumbuhan apaan lagi. Udah nikah ini, berarti usia kamu udah nggak usia pertumbuhan lagi." Protes Satya.


"Emang, berapa umur aku?" tanya Vanila.


"Dari wajah sih imut, 15 tahunan gitu, tapi wajah kan bisa nipu, kalau abang tebak, umur kamu sekitar 20an." kata Satya.


"Tua bener. 4 tahun lagi aku baru 20." Kata Vanila.


"Apa? Seriusan kamu Ae. Bohong pakai kira-kira juga kali Ae." Kata Satya lagi.


"Beneran" Kata Vanila serius.


"Bukannya kamu udah nikah setahun yang lalu, udah selesain kuliah kamu juga. Kok bisa umur kamu 16 tahun?" Tanya Satya heran.


"Bisa lah. Aku nikah waktu itu belum 15 tahun. Kalau soal kuliah mah, kan ada yang namanya akselerasi sama semester pendek." Jawab Vanila sambil nyengir.


"Ternyata beneran bocah." kata Satya.

__ADS_1


"Nggak usah ejek-ejek bocah. Ayok kita ke resto dimsum favorit aku." Kata Vanila sambil mengajak Aldrin pergi, dan tersenyum bahagia, karena akan makan dimsum favoritnya 10 porsi.


__ADS_2