Vanilarea

Vanilarea
Pergi


__ADS_3

Setelah satu minggu kepergian papanya, Liliana dan Dahlia beserta keluarganya kembali ke negara M. Vanila mengantarkan mereka ke Bandara bersama Aldrin.


Sepanjang perjalanan pulang, Vanila hanya diam, memandang apa yang bisa di pandangnya di jalan.


"Mau makan siang dulu La. Mas tau restoran dimsum yang enak." Kata Aldrin karena Ia tahu kalau Vanila sangat suka makan dimsum.


"Pulang aja." Kata Vanila tanpa memandang Aldrin.


"La please. Jangan seperti ini sama mas. Maafin mas." Kata Aldrin lagi. Tapi Vanila hanya diam saja, yang membuat Aldrin hanya bisa menghela nafasnya.


"La.."


"Sudahlah kak. Kita sudah bicarakan semuanya. Nggak ada lagi yang perlu dibicarakan." Kata Vanila lagi.


Sesampainya di rumah, Vanila segera masuk dan mengunci kamarnya. Meninggalkan Aldrin yang sedang memarkirkan mobil ke carport yang ada di samping rumah Vanila.


"Tok..tok.."


"La, mas mau bicara La. Lala mas kan sudah minta maaf. La.." Kata Aldrin sambil terus mengetok pintu Vanila, yang sedikit membuat kegaduhan di rumah.


"Jangan dipaksa begitu non Lala den. Den Al harus sabar menghadapi non Lala. Non Lala masih sedikit terkejut dengan semua yanh terjadi. Tuan meninggal, trus di usianya yang masih sangat muda, harus menikah dengan den Al. Kasi non Lala waktu." Kata Mbok Sa.


"Tapi mbok, Lala nggak bisa dibiarkan terus-terusan seperti ini. Bagaimanapun saya sekarang suaminya. Saya harus bertanggung jawab terhadap Lala. Jadi Lala harus dengarkan perkataan saya." Kata Aldrin agak emosi, karena Aldrin memang memiliki sifat yang dominan.


"Non Lala itu nggak bisa dikerasin. Den Al harus pelan-pelan dan sabar menghadapinya." Kata mbok Sa lagi.


"Kurang sabar apa saya mbok? Dari menikah, sampai sekarang, Lala menganggap saya tidak ada. Selalu cuekin saya, hindari saya. Apa seperti itu sikap seorang istri?" Kata Aldrin mulai marah dan masih mengetok pintu kamar Vanila. Sementara Vanila di dalam kamar yang mendengar pembicaraan Aldrin dan mbok Sa, hanya bisa menangis.


"Aden harus ingat. Bagaimanapun non Lala itu masih kecil. Aden juga baru seminggu nikah. Jangan menuntut non Lala banyak hal tentang pernikahan." Kata mbok Sa lagi.


"Lala sudah mau 15 tahun mbok. Dan itu sudah nggak kecil lagi. Saya sayang dengan Lala, Saya ingin melindungi Lala. Tapi bagaimana Saya mau melindungi Lala, kalau Lalanya seperti itu." Kata Aldrin yang mulai putus asa.

__ADS_1


"Den Al istirahat dulu. Banyakin istigfar, mintak petunjuk sama Allah." Nasehat mbok Sa.


"Astagfirullahaladzim." Ucap Aldrin yang sadar dengan kesalahanya bahwa ia dikuasai nafsu amarah.


"Ya udah, non Lala biar sendiri dulu aja ya den." Kata mbok Sa lagi. Aldrin hanya mengangguk, lalu pergi ke kamar tamu tempat Ia menginap selama di rumah Vanila.


Seperti biasa, selesai sholat, Vanila selalu mencari Aldrin dan mencium punggung tangannya. Setelah itu Ia akan kembali lagi ke kamarnya.


Waktu makan siang, dan makan malam Vanila juga hanya diam saja, mengunyah makanannya dengan perlahan.


"Makan yang banyak La. Mas nggak mau kamu sakit. Dari kamren mas lihat kamu makannya sedikit. Mau mas belikan dimsum kesukaan kamu?" Tanya Aldrin.


"Nggak usah kak. Aku sudah kenyang. Aku balik ke kamar dulu." Kata Vanila lalu meninggalkan meja makan. Aldrin yang agak kesal dengan sikap Lala juga meninggalkan meja makan dan kembali ke kamarnya.


Keesokan paginya, mbok Sa mengetuk pintu kamar Vanila, karena sampai jam 7 pagi, Vanila belum juga keluar dari kamarnya. Biasanya jam 6 pagi Vanila sudah bangun dan duduk di halaman samping.


"Kenapa mbok?" Tanya Aldrin yang baru pulang sholat subuh, kemudian lari pagi di lingkungan perumahan.


"Tok..tok..."


"La.."


"Cklek" Suara pintu yang dibuka Aldrin terbuka. Aldrin dan mbok Sa segera masuk kedalam kamar Lala. Mereka berdua mencari Vanila di setiap sudut dan ruangan yang ada di kamar Vanila, tapi mereka tidak menemukan Vanila.


Aldrin melihat kertas putih yang terlipat di atas meja belajar Vanila. Aldrin segera mengambil kertas itu dan membukanya. Lalu mulai membaca tulisan yang tertulis di kertas putih tersebut.


"Assalamualaikum. Wr. Wb. Waktu kakak baca surat ini, aku sudah pergi meninggalkan kota ini. Maaf kalau aku belum bisa jadi istri yang berbakti. Tolong izinkan kepergian aku, biar Allah ridho dengan aku, karena izin dari suami aku. Seperti yang kakak bilang sebelum kita menikah, Aku akan mengajukan surat cerai kita ketika kakak akan menikahi wanita yang ingin kakak khitbah. Terimakasih sudah mewujudkan keinginan terakhir papa. Jangan cari aku. Semoga kakak, umi dan abah selalu sehat dan dalam lindungan Allah. Sekali lagi maaf. Ttd Vanilarea" Tulis Vanila pada selembar kertas putih itu, yang membuat Aldein terduduk di pinggir tempat tidur Vanila.


Mbok Sa hanya bisa menangis sedih, mengingat nona kesayangannya. Walaupun mbok Sa tidak membaca isi surat yang dipegang Aldrin, tapi mbok Sa tahu persis, bahwa Vanila sudah pergi meninggalkan rumah.


"Assalamualaikum. Mas, Ini aku bawakan sarapan dari umi." Kata Vano yang masuk ke dalam rumah, karena memang pintu depan terbuka.

__ADS_1


Karena tidak ada sahutan, Vano masuk kedalam dan melihat pintu kamar Vanila yang terbuka. Vano berdiri di ambang pintu dan melihat mbok Sa yang sedang menangis dan Aldrin dengan wajah putus asanya.


"Ada apa mas? Kenapa mbok Sa nangis?" Tanya Vano, tapi tidak ada satupun yang bersuara. Vano melihat kertas yang dipegang Aldrin, kemudian membaca isi surat tersebut.


"Brengsek kamu mas. Kamu apakan Vanila?! Kamu apakan dia mas? Sampai-sampai Vanila mau bercerai dari kamu mas? Apa maksud ini semua mas?!" Tanya Vano marah sambil mencengkram erat kerah baju Aldrin yang hanya diam saja.


"Mas! Jawab mas !." Kata Vano yang masih emosi.


"Mas salah. Mas bodoh. Mas salah." Ucap Aldein menyesal.


"Aku sudah bilangkan mas, Jangan sakiti Vanila. Sekali aja kamu sakitin Vanila, aku akan ambil Vanila dari kamu mas. Aku nggak perduli, mau kamu saudara kandung aku sekalipun, aku nggak perduli" kata Vano penuh amarah. Lalu keluar dan segera memacu motornya menuju terminal.


Aldrin yang tersadar kalau ia juga harus mencari Vanila segera mengeluarkan mobil dari carport dan menuju bandara. Aldrin juga menghubungi beberapa anak buahnya untuk membantunya mencari dan melacak keberadaan Vanila.


Seharian Aldrin, Vano dan orang-orangnya mencari Vanila di kota S. Tapi Vanila seperti ditelan bumi, tidak meninggalkan jejak apapaun. Bahkan di bandara, terminal, dan pelabuhan, tidak ada manifest penumpang atas nama Vanila.


Setelah seharian mencari, Aldrin memutuskan kembali ke rumah Vanila, mencoba mencari petunjuk dari mbok Sa, atau petunjuk yang bisa menunjukkan Vanila pergj kemana.


Vano yang sudah lebih dulu berada di rumah Vanila bersama umi Salma dan abah Yusuf, menatap Aldrin dengan tatapan marah. Bahkan Abah Yusuf sempat memukul Aldrin. Abah Yusuf tidak percaya kalau Aldrin punya kesepakatan akan menceraikan Vanila sebelum mereka menikah.


"Kamu abah sekolahkan pendidikan agama dengan baik. Kamu tahu betul kalau Allah tidak menyukai perceraian walau itu halal. Tapi kenapa kamu lakukan itu ke Aisyah?! Aisyah itu masih kecil. Bagaimana dia hidup di luar sana nanti. Bagaimana abah harus mempertanggungjawabkannya ke Arlan. Bagaimana Al?" Kata Abah Yusuf dengan suara bergetar menahan tangis dan amarahnya. Sementara Aldrin hanya diam saja, karena ia tahu bahwa ini semua adalah salahnya.


"Aku akan cari Vanila. Kalau aku bisa menemukan Vanila. Mas lepaskan Vanila. Biar aku yang jaga Vanila." Kata Vano lalu berdiri dari duduknya dan hendak pergi.


"Nggak bisa. Lala istri mas. Sampai kapanpun dia istri mas. Mas nggak akan menceraikannya !" kata Aldrin marah, mendengar perkataan Vano.


"Kalau mas tidak mau menceraikan Vanila, kenapa di surat itu tertulis kalau mas akan menceraikannya?!" tanya Vano marah.


Aldrin menceritakan semua kesalahpahaman yang terjadi. Aldrin menceritakan kalau dia mengenal Vanila sudah lama, sebelum ia berangkat ke negara M. Aldrin salah mengira bahwa Sidqila adalah Vanila, karena selama kenal Vanila, Aldrin hanya mengenal nama Lala. Vanila tidak pernah memberitahukan nama aslinya. Sidqila memiliki banyak kemiripan fisik dengan Lala. Berbeda dengan Vanila sewaktu menjadi Aisyah, Sehingga Aldrin mengira Sidqila adalah Vanila dan berjanji akan mengkhitbahnya ketika Sidqila tamat sekolah.


"Kamu cari Aisyah sampai ketemu. Abah tidak mau tahu. Apapun keputusan Aisyah nanti, Abah akan terima." kata Abah Yusuf lalu pamit kepada mbok Sa bersama umi Salma untuk kembali ke pesantren.

__ADS_1


Vano juga pergi meninggalkan Aldrin yang berlutut di tengah ruang keluarga menyesali perbuatannya.


__ADS_2