Vanilarea

Vanilarea
Jenifer


__ADS_3

Tidak lama, mami Daffa kembali datang bersama dua orang wanita yang membawa beberapa paper bag dan kantong plastik.


"Sayang, Ini untuk kamu ganti pakaian. Mami udah belikan semua keperluan kamu. Ternyata menyenangkan sekali berbelanja unyuk anak perempuan." Kata Mami Daffa sambil menyerahkan 5 paper bag besar kepada Vanila.


"Nggak perlu tante, aku punya sendiri untuk keperluan aku." Kata Vanila menolak pberian mami Daffa.


"Kok tante sih. Mami sayang, Ma..Mi." Kata maminya Daffa.


"Iya.. hehehe.. mami." Kata Vanila masih canggung karena belum terbiasa.


"Kamu harus ambil ini. Kalau kamu tidak ambil, nanti mami sedih loh?" Kata mami Daffa sambil memasang ekspresi sedih.


"Tan.. eh Mami jangan sedih. Ya udah, Lala ambil. Terimakasih" Kata Vanila lalu menerima travel bag pemeberian maminya Daffa.


"Daffa sudah sadar sayang?" Tanya maminya Daffa kepada Vanila.


"Sudah tan, eh mi. Tapi Lala suruh istirahat lagi. Nanti pas makan malam aja kita bangunkan." Kata Vanila


"Ok. Mami senang, kamu mau jagain Daffa. Daffa itu anak mami satu-satunya. Salah mami sih dulu, kenapa Daffa sampai mengalami kelainan jantung bawaan. Tapi Daffa itu anak yang manis, kyut, keren, dan tampan seperti papinya. Karena punya kelainan jantung, mami nggak pernah izinkan Daffa bermain dengan orang lain. Hal itu membuat Daffa menjadi sosok yang dingin dan pendiam. Tapi Daffa mulai menjadi semangat, dan berusaha untuk lebih hangat sama orang-orang terdekatnya, sejak Daffa bertemu dengan kamu. Terimakasih sayang." Kata Mami Daffa sambil memeluk Vanila.


"Lala nggak lakuin apapun kok tan, eh mi." Kata Vanila sambil tersenyum.


"Tapi kamu sudah buat Daffa jadi semangat, mau berusaha untuk sembuh." Kata maminya Daffa.


Hari ini Daffa memjalani pemeriksaan EKG untuk mengecek kondisi jantungnya. Vanila melihat dan menganalisa hasil dari EKG.


"Karena operasi sebelumnya tidak berhasil, ternyata memang harus transplantasi jantung." Kata Vanila.


"Betul, dokter Hendro yang merawat Daffa juga bilang begitu." Kata maminya Daffa.


"Tapi Daffa hebat, bisa bertahan sampai saat ini. Tapi semakin lama kinerja jantungnya akan semakin lemah." Kata Vanila lagi.


"Iya,makanya kami lagi berusaha mencari donor jantung yang cocok." Kata maminya Daffa.


"Tan, eh Mi, aku balik dulu ke kantor. Lagian aku rasa Daffa sudah bisa keluar,karena kondisinya sudah lebih baik." Kata Vanila.


"Oh iya. Hati-Hati sayang. Nanti Leo akan jemput kamu. Kamu harus makan malam di rumah mami." Kata maminya Daffa.


"InshAllah Mi. Assalamualaikum." Kata Vanila, lalu pergi setelah mencium tangan maminya Daffa.


"brugh"


"Maaf.. maaf, nggak sengaja, saya lagi buru-buru." Kata seorang wanita yang menabrak Vanila. Vanila melihat wanita itu dan merasa familiar dengan wajahnya.


"Jeje ?" Tanya Vanila yang yakin itu adalah Jeje, sahabatnya waktu SMP, yang marah sama Vanila karena Jenifer menyuakai Vano, tapi Vano menyukai Vanila.


"Kamu salah orang." Kata perempuan itu ketus, lalu hendak pergi meninggalkan Vanila, tapi Vanila menahan tangannya.


"Kamu Jeje. Jenifer, teman sekaligus sahabat pertama aku." Kata Vanila sambil memeluk Jenifer erat.


Awalnya Jenifer meronta ingin melepaskan peluka ya dari Vanila, tetapi lama kelamaan Jenifer menyerah, dan malah menangis dalam pelukan Vanila.


Sejak marahan dengan Vanila, Jenifer tidak suka berteman dengan orang lain. Jenifer takut merasa dikhianati seperti perasaannya yang merasa dikhianayi Vanila.


"Udah kayak teletabis aja kita pelukan. Kamu kenapa di rumah sakit?" Tanya Vanila sewaktu melepaskan pelukan Jenifer.

__ADS_1


"Mami sakit. Udah satu tahun lebih mami di rawat disini dalam keadaan koma." Terang Jenifer.


"Astagfirullah. Terus papi?" Tanya Vanila


"Papi meninggal setahun yang lalu karena kecelakaan, itu yang menyebabkan mami tidak sadarkan diri, karena terkejut dan terjadi pembengkakan otak.


"Edema serebral."


"Iya benar. Bagaimana kamu tahu La?" Tanya Jenifer heran.


"Hehehe" jawab Vanila yang hanya nyengir.


"Kebiasaan. nyengir mulu kalau di tanya." Kata Jenifer sambil tersenyum.


"Aku mau jenguk mami." Kata Vanila.


"Ayok. Mami pasti senang." Kata Jenifer lalu mengajak Vanila keruang khusus perawatan maminya.


Vanila melihat maminya Jenifer, wanita yang dulunya sangat ceria, suka berantem dengan Jenifer, dan menempatkan diriny sebagai teman Jenifer.


Air mata Vanila tanpa sadar, menetes tanpa bisa ditahan, melihat kondisi maminya Jenifer.


"Jangan nangis La. Mami pasti nggak suka." Kata Jenifer sambil menggenggam tangan maminya yang tidak bergerak, hanya dadanya yang masih naik turun, menandakan kalau maminya masih hidup.


"Kita bawa mami ke rumah sakit di negara J. Lala kenal dokter yang bisa ngobatin mami. InshAllah mami bisa sadar." Kata Vanila antusias mengingat profesor Lucas adalah spesialis bedah dan otak.


Jenifer hanya diam saja, dan tidak berkata apa-apa.


"Kenapa Je?" Tanya Vanila heran.


"Jangan khawatir kalau masalah biaya."


"Tapi La.."


"Nggak ada tapi-tapi. Mami ini bukan hanya mami kamu Je, tapi mami aku juga. Jadi aku juga harus bertanggungjawab buat mami sehat." Kata Vanila yang membuat Jenifer langsung memeluk Vanila dan menangis terisak-isak.


"Maafin aku La. Karena hal bodoh, aku benci kamu, aku jahatin kamu. Tapi kamu tetap mau jadi teman aku, bahkan bantu aku buat sembuhin mami." Kata Jenifer sambil sesegukan.


"Kan kita sahabat rasa saudara. Hari ini aku bantu kamu, mana tahu suatu hari aanti, kamu bantu aku, anak-anak aku atau keluarga aku yang lain mungkin." Kata Vanila sambil.mengusap air mata Jenifer.


"Terimakasih ya La." Kata Jenifer lalu kembali memeluk Vanila.


"Pelukan muluk." Kata Vanila sambil tertawa yang membuat Jenifer juga tertawa.


Vanila senang, akhirnya Jenifer mau kembali menjadi temannya.


"Btw any way bus way. Kamu masih suka kak Vano?" Tanya Vanila yang membuat Jenifer kembali terdiam, karena bagaimanapun Vano adalah cinta pertama Jenifer,bahkan sampai hari ini Jenifer masih sangat mencintai Vano.


"Nggak." Jawab Jenifer cepat.


"Bo ong. Aku pernah ketemu diary kamu."


"Diary?" Tanya Jenifer heran.


"Iya, Diary yang nggak sengaja kamu tinggalin dekat panti asuhan."

__ADS_1


"Jadi kamu nemuin diary aku?" Tanya Jenifer tidak percaya.


"Nggak sopan loh La, baca diary orang." Kata Jenifer lagi.


"Nggak sengaja terbuka, trus aku baca, eh isinya ternyata menarik, kak Vano.."


"Lala, diam" Kata Jenifer yang malu kemudian membekap mulut Vanila, lalu mereka kembali tertawa.


"Iya kan kamu masih suka sama kak Vano?"


"Cinta monyet. Nggak usah di anggap." Kata Jenifer yang mencoba menutupi perasaannya.


"Beneran cinta monyet?" Tanya Vanila pura-pura serius.


"Iyalah." Kata Jenifer lagi.


"Beneran ya cinta monyet. Kamu nggak nyesel, kalau aku jodohin kam Vano sama orang lain"


"Jangan" Kata Jenifer refleks, kemudian menutup mulutnya karena sadar kalau ia ketahuan bohong, dan membuat Vanila tertawa melihat tingkah temannya.


"Emang kak Vano belum nikah?" Tanya Jenifer


"Belum. Nanti aku temuin kamu dengan kak Vano." Kata Vanila sambil tersenyum karena melihat ekspresi Jenifer yang malu-malu tapi mau.


Vanila yang janji dengan Amel dan Satya untuk bsrtemu di AERSS, pamit dengan Jenifer. Vanila janji akan balik lagi setelah urusannya selesai.


Salah satu bodyguard Daffa mengantarkan Vanila ke AERSS. Selama di perjalanan Vanila mendiskusikan tentang penyakit maminya Jenifer kepada profesor Lucas. Karen Vanila mwnggunakan bahasa negara J, tentu saja bodyguard Daffa tidak mengerti.


"Kita sudah sampai nona." Kata bodyguard itu sopan.


"Oh iya. terimakasih. Nggak usah tungguin saya. Nanti saya balik ke rumah sakit dengan mbak Amel." Kata Vanila sambil tersenyum, lalu turun dari mobil yang mengantarnya ke AERSS.


Satya, Amel Niken, Rizky dan Vanila sedang membicarakan gedung baru AERSS. Karen AERSS semakin besar, tentu saja mereka butuh temoat baru yang lebih representatif.


"Ya udah aku ikut aja. Tapi lebih bagus beli tanah, trus gedungnya kita yang design." saran Vanila.


"Good idea. tadinya abang mau saran gitu Ae." Kata Rizky yang langsung di sambit pakai snack oleh Niken dan Amel.


"Tapi untuk dapat tempat yang strategis, biayanya akan lumayan tinggi." Kata Amel.


"Di sebelah Syauqi Hotel ada tanah kosong. Tadinya papa beli itu untuk buat fasum, tapi akhirnya fasumnya di pindahin ke Jl. Agrowisata." Terang Vanila.


"Memang boleh?" Tanya Amel yang nggak ingat kalau Vanila adalah anak Arland Stauqi pemilik Syauqi Hotel.


"Boleh. Ntar aku bicarain sama kak Rosaline." jawab Vanila.


"Astagfirullah. Mbak lupa kalau hotel itu punya kekuarga kamu." Kata Amel sambil menepuk jidatnya.


"Ya udah, jafi di sana aja. Tinggal buat konsep gedungnya seperti apa, trus cari pihak yang bisa bertanggung jawab buat selesaikan. Target aku sih 3 bulan udah selesai." Kata Vanila.


"Ok. Ntar kita open recruitment buat mencari kontraktornya." Kata Satya.


"Ok abang. Oh iya, btw rujak aku mana?" Tagih Vanila yang tiba-tiba ingat kalau Satya janji mau membelikannya rujak.


"Iya nanti abang belikan, sekalian langsung tukang jual rujaknya." Kata Satya sambil tertawa.

__ADS_1


"Ok. Antar aja ke rumah Sakit Islam bang. Nanti aku sharelock. Aku masih ada urusan lain, karena sudah ada keputusan, aku pamit dulu. Assalamualaikum." Kata Vanila.


__ADS_2