
Tidak terasa, hampir setahun Vanila tinggal di panti asuhan, walaupun setiap hari ada aja yang ganggu Vanila, tapi 4 orang body guardnya selalu menjaga Vanila. Hubungan dengan ke empat kakaknya juga sudah mulai membaik. Hampir setiap hari Jasmin melakukan VC sama Vanila, dan sebulan lagi kakaknya itu akan menikah dengan cowok warga negara Jerman.
Hari ini merupakan hari terakhir Ujian Nasional.
"Ujian loh ini La. Kamu kok malah sibuk baca komik sih. bukannya buku pelajaran?" Tanya Jaki heran, karena setiap kali ujian Vanila selalu membaca komik, bukan buku pelajaran yang akan diujiankan.
"Setiap hari sudah baca buku pelajaran. sewaktu ujian, waktunya otak aku untuk refresing Kak, biar nggak stress." Jawab Vanila tanpa mengalihkan pandangannya dari komik detective Conan.
"Lagian kamu, yang dibaca komik tentang detektif. bukannya itu juga buat pusing ya mikirin untuk mecahin kasus?"Tanya Jaki lagi.
"Nggak lah. Seru tau Kak. Baca komik tentang detektif membuat aku belajar banyak macam kasus metode pembunuhan. Ntar kalau aku mau bunuh Kak Jaki yang cerewetnya Naudzubillah ini, aku sudah punya metode yang nggak akan terungkap oleh siapapun, termasuk Conan." Kata Vanila sambil nyengir.
"What..!? Kamu yakin mau melenyapkan kakak dari dunia yang fana ini? dasar teman nggak ada akhlak kamu. Kamu Solimin kakak La." Kata Jaki pura-pura sedih, yang membuat Vanila langsung tertawa melihat tingkah Jaki.
"Kamu kenapa ketawa La?" Tanya Ghalih yabg batu datang.
"Biasa" Jawab Vanila masih sambil tertawa, lalu kembali melanjutkan membaca komiknya.
"Oh iya La, Pak Denis tadi pesan. Nanti pas jam pulang, kamu di suruh nemuin pak Denis." Kata Ghalih.
"Aku?, hmmm ada perlu apa ya?"Tanya Vanila heran
"Lah mana kakak tahu." Kata Ghalih
"tahu.. tahu.. tempe lebih enak Lih.."Celetuk Jaki sambil cekikikan.
"Makan noh tempe." Kata Ghalih sambil melempar kertas ke arah Jaki.
"Kak Ghalih, nggak boleh buang-buang kertas. Kakak bayangkan ya.. berapa banyak batang pohon yang di tebang untuk membuat kertas, dan butuh berapa tahun bagi pohon untuk tumbuh, trus bisa dijadikan kertas. Jadi kakak jangan sembarangan menggunakan kertas. Kasian bumi semakin tua kak."Terang Vanila panjang lebar yang membuat Ghalih menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, sementara Jaki bengong, nggak ngerti dengan omongan Vanila.
"Penjelasannya ribet amat yak.. masalah kertas selembar doang." Kata Jaki
"Eh kakak jangan sepelekan selembar kertas ya.." Kata Vanila yang menutup komiknya lalu memandang Jaki dengan mata melotot.
"Biasa aja matanya, ntar bola mata kamu jatuh loh." Kata Jaki
"Yah aku kutip lah kalau jatuh. gitu aja kok repot. Intinya kakak jangan buang-buang kertas, sama kurangi penggunaan plastik. Kasihan bumi kalau harus di penuhi sampah plastik yang butuh waktu puluhan tahun mengolahnya. Lain kali kalau jajan di kantin, bawa botol minum sendiri. Jangan pakai gelas plastik, jangan pakai sedotan plastik juga." Terang Vanila lagi.
"Emang susah ngomong sama aktivis pencinta bumi. Gara-gara kamu nih Ghalih, Jadi kenak ceramah kan kita. Sebentar lagi jadi juru kampanye go green nih si Vanila" Protes Jaki.
"Tuh kan mulai deh, mulut emak-emaknya, nyinyir. Aku tuh..."
"Stop La. Kak Jaki nyerah. Jangan ceramah lagi ya.. please" Kata Jaki sambil mengatupkan kedua telapak tangannya memohon.
Selesai mempermasalahkan selembar kertas yang berbuntut panjang, Jaki tidak mau komentar lagi. Karena kalau sudah menjelaskan sesuatu, Vanila suka pakai bahasa ilmiah yang agak sulit dicerna otak Jaki yang minimalis.
Akhirnya mereka selesai melaksanakan Ujian Nasional yang terakhir. seperti pesan Ghalih, Vanila menemui pak Denis. Pak Denis meminta Vanila untuk mengisi kegiatan perpisahan sekolah, sebagai murid simbolis yang melepaskan atribut SMP yang di pakai.
Seminggu setelah pelaksanaan UN, diadakan kegiatan perpisahan yang diisi dengan berbagai kegiatan, mulai dari kegiatan sosial hingga acara puncak kegiatan hiburan yang diadakan di sekolah. Seperti yang disampaikan Pak Denis, Vanila menjadi murid simbolis, yang akan melepaskan atribut lambang-lambang SMP yang ada di seragam yang dikenakan Vanila.
Jaki yang selama ini bersikap konyol, dan selalu bersama Vanila, sebenarnya memiliki perasaan suka, Ia ingin mengungkapkan perasaannya sewaktu acara perpisahan. Ghalih yang selalu bersama Vanila, diam-diam juga menyukai Vanila, Ia suka bukan hanya karena wajah Vanila yang cantik, tapi juga karena kepintaran yang dimiliki Vanila selalu membuatnya kagum. Ghalih pernah memastikan kepada Jaki, apakah Jaki menyukai Vanila, tapi Jaki yang tidak ingin kebersamaannya dengan Vanila rusak, berbohong kepada Ghalih, bahwa ia tidak memiliki perasaan suka terhadap lawan jenis kepada Vanila. Hal ini tentu saja membuat Ghalih merasa kalau Ia punya harapan mendekati Vanila.
Jaki dan Ghalih sama-sama mempersiapkan hal spesial yang akan di ungkapkan kepada Vanila. Tanpa di ketahui yang lain. Jaki berencana menyanyikan sebuah lagu, kemudian ia akan menyatakan perasaannya kepada Vanila. Sementara Ghalih yang pendiam, berencana akan memberikan Vanila surat cinta, yang berisi perasaannya terhadap Vanila.
__ADS_1
Jaki yang biasanya kelihatan konyol, hari ini lagi menampilkan mode serius, sehingga aura ketampanannya muncul, yang membuat para murid cewek berteiak histeris sewaktu Jaki mulai memetik gitar, untuk menyanyikan lagu yang akan dibawakannya buat Vanila.
"aaa.. Jaki aku pada mu"
"Jaki I lope u pull"
"Jaki my prince"
"Jaki.. "
"Jaki.."
Dan banyak teriakan lainnya yang mengelu-elukan Jaki.
Dia hanya dia di duniaku
Dia hanya dia di mataku
Dunia terasa telah menghilang
Tanpa ada dia di hidupku
Sungguh sebuah tanya yang terindah
Bagaimana dia merengkuh sadarku
Tak perlu ku bermimpi yang indah
Karena ada dia di hidupku
Ku ingin dia yang sempurna (yang sempurna)
Ku ingin hatinya ku ingin cintanya
Ku ingin semua yang ada pada dirinya
Ku hanya manusia biasa (yang biasa)
Tuhan bantu ku tuk berubah (untuk berubah)
Tuk miliki dia tuk bahagiakannya
Tuk menjadi seorang yang sempurna untuk dia
Ku ingin dia yang sempurna (yang sempurna)
Untuk diriku yang biasa
Ku ingin hatinya ku ingin cintanya
Ku ingin semua yang ada pada dirinya
Ku hanya manusia biasa (yang biasa)
__ADS_1
Tuhan bantu ku tuk berubah (tuk berubah)
Tuk miliki dia tuk bahagiakannya
Tuk menjadi seorang yang sempurna untuk dia untuk dia (Nyanyi Jaki sambil menunjuk Vanila yang membuat semua mata tertuju pada Vanila)
Vanila yang nggak tahu apa-apa tiba-tiba heran melihat banyak mata yang menatapnya.
"Dasar Kak Jaki somplak nih. Nggak gini juga kalau mau bercanda." Kata Vanila dalam hati, dan hanya menunjukkan cengirannya kepada orang-orang yang menatapnya.
Sementara itu Ghalih yang duduk di sebelah Vanila tidak terima kalau Jaki, yang katanya tidak suka dengan Vanila, ternyata menyukai Vanila. Karena tidak ingin merusak acara perpisahan, Ghalih memutuskan untuk menjnggalkan aula sekolah.
Jaki melanjutkan kegiatannya, dengan turun dari panggung dan menyerahkan setangkai bunga mawar, lengkap dengan pot dan tanahnya.
"La, maaf. Sebelum kita meninggalkan sekolah kita tercinta ini, Kakak mau ngungkapin perasaan kakak ke kamu. Ternyata, kebersamaan kita selama ini, membuat kakak suka sama kamu. kamu mau nggak terima perasaan kakak. Perasaan kakak seperti mawar ini, yang sedang mekar dengan indahnya. Kakak sengaja kasih mawar sekaligus pot dan tanahnya, supaya perasaan kakak ke kamu terus tumbuh dan hidup seperti mawar ini La." Kata Jaki panjang x lebar.
"Udah ah kak. nggak lucu bercandanya." Kata Vanila yang mulai tertawa kikuk, untuk mencairkan suasana yang mulai aneh.
"Kakak serius Vanilarea Aisyah Putri Sauqi." Kata Jaki dengan menyebut nama lengkap Vanila.
"Maaf kak, kita temanan aja. aku lebih senang kita berteman aja." Kata Vanila sambil tersenyum tulus.
"Jiah.. aku di tolak." Kata Jaki yang berusaha menunjukkan senyumnya.
"Jaki... ! Kamu ini ya.. ada-ada saja kelakuannya. sekolah dulu yang benar, baru cinta-cintaan kalau kamu sudah sukses." Kata buk Fitri sambil menjewer kuping Jaki.
"aduh aduh.. ampun buk. sakit kuping saya buk. ntar kalau copot gimana buk."Kata Jaki yang membuat semua yang hadir tertawa melihat buk Fitri menjewer Jaki.
Selesai kegiatan perpisahan, Vanila mencari Ghaih dan Jaki, tapi tidak ketemu. Lalu Vanila memutuskan pergi ke taman belakang sekolah, karena Jaki dan Ghalih suka ngumpul dekat ruangan yang ada di samping gudang.
"Kak Jaki !, Kak Ghalih ! STOOOOP!" Teriak Vanila yang melihat Jaki dan Ghalih yang sedang baku hantam.
"Kakak kenapa berantem. Kayak anak kecil aja. kalau ada masalah tu, dibicarakan baik-baik. pakai omongan, nggak pakai baku hantam kayak gini." Kata Vanila yang berjalan ke arah Jaki dan Ghalih yang sama-sama babak belur.
"Emang masalahnya apa sih? Cobak cerita biar aku carikan solusinya." Kata Vanila, sambil menyerahkan tisu ke Ghalih dan Jaki.
Ghalih dan Jaki hanya diam saja sambil mengelap sudut bibirnya yang berdarah.
"Kok malah diam?" Tanya Vanila
"Kak..!" bentak Vanila yang mulai kesal, karena Ghalih dan Jaki sama-sama diam.
"Kamu masalahnya La. Ghalih nggak terima kakak suka smaa kamu"
"Kamu munafik Jak. Aku sudah sering tanya ke kamu, kamu selalu bilang, nggak mungkin kamu suka sama Lala. Tapi kenyataannya apa sekarang, kamu nembak Lala." Kata Ghalih dengan suara yang penuh emosi.
"Jadi masalahnya aku. Gara-gara aku kakak berantem? kak.. come on. Kita itu masih sekolah. sekolah aja dulu yang benar." Kata Vanila
"Namanya juga perasaan La, nggak bisa di cegah, kapan munculnya." Celetuk Jaki.
"Aku mau kakak berdua baikan. kalau nggak, aku nggak mau temanan lagi dengan kakak." Kata Vanila.
Ghalih yang sangat kesal dengan Jaki, tidak mau meminta maaf, begitu juga dengan Jaki. Ghalih memilih pergi meninggalkan Vanila dan Jaki.
__ADS_1
Vanila menghembuskan nafasnya kasar, memandang punggung Ghalih yang menghilang di sebalik pintu, lalu memandang Jaki.
"Kakak selesaikan masalah kakak dengan kak Ghalih. aku nggak mau, gara-gara aku persahabatan kalian sejak TK rusak begitu aja." Kata Vanila lalu pergi meninggalkan Jaki.