
Ketika Satya menyebutkan kalau Vanila adalah pemilik AERSS, membuat Vanila yang tadinya menjadi pusat perhatian karena kecantikan dan kemampuannya selama menjadi relawan, sekarang membuat banyak orang menjadi kagum dan mereka senang bisa melihat langsung pemilik AERSS. Bahkan beberapa tv nasional meliput bantuan yang diberikan oleh Vanila.
Sidqila yang tidak sengaja melihat berita bersama Aldrin dan mamanya, seketika menjadi khawatir. Sidqila memperhatikan Aldrin yang tersenyum melihat Vanila di televisi, bahkan Aldrin tidak menggubris Sidqila yang bertanya kepadanya.
"Mas.." Panggil Sidqila sambil mengguncang tubuh Aldrin.
"Iya kenapa La?" Tanya Aldrin
"Mas begitu banget lihat televisinya. Mas masih cinta dengan Vanila?" Tanya Sidqila kesal.
"Maafin mas." Ucap Aldrin yang tidak bisa membohongi perasaannya.
Sikap Aldrin tentu saja membuat Sidqila semakin membenci Vanila, apalagi melihat Vanila yang semakin sukses dengan perusahaannya, dan bisa memberikan bantuan yang begitu besar.
🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀
"Kamu pulang kemana La?" Tanya Amel
"Lala pulang ke kota S mbak. minggu depan Lala ke AERSS, kangen juga sama yang lain." Jawab Vanila.
"Ya sudah, mbak tunggu ya." Kata Amel sambil memeluk Vanila, karena Vanila harus kembali ke kota S, menggunakan pesawat tentara yang kemaren membawanya ke kota A.
"Jangan menghilang lagi La. Kabarin kakak kalau sudah sampai. Kakak dinas di kota S. Jadi kita bisa ketemu." Kata Badai sambil menyerahkan tas ransel Vanila.
"Aye aye Kapten" Kata Vanila sambil memberi hormat dan tersenyum, lalu segera masuk ke pesawat.
Pesawat yang membawa Vanila dan tim relawan lainnya, kembali ke kota S setelah menempuh perjalanan udara lebih dari dua jam.
Aldrin yang mencari informasi tentang Vanila, mengetahui kalau Vanila kembali ke kota S, sehingga Aldrin menunggu Vanila di bandara.
Sesampainya di bandara, Vanila turun dengan yang lainnya. Tapi tiba-tiba Aldrin menarik tangan Vanila yang membuat Vanila dan beberapa orang yang berjalan dekat Vanila terkejut.
Vanila melihat wajah orang yang menarik tangannya, dan segera melepaskan pegangan orang tersebut.
__ADS_1
"Apalagi sih kak. Aku capek. Kita sudah nggak ada urusan lagi." Kata Vanila
"Kita harus bicara La. Mas mohon." Kata Aldrin yang membuat orang-orang sekitar memperhatikan mereka. (berasa seperti melihat adegan pemain sinetron yang lagi shuting.😅😅)
"Kenapa La?" Tanya dokter Abi yang berdiri di samping Vanila yang membuat Aldrin tidak suka.
"Menjauh anda dari istri saya." Kata Aldrin mulai marah.
Vanila menghembuskan nafasnya kasar, melihat tingkah Aldrin. Vanila yang paling tidak suka menjadi pusat perhatian akhirnya mengalah, menarik Aldrin untuk menjauh dari dokter Abi.
"Its ok dok. Lala selesaikan dulu urusan Lala." Kata Vanila sewaktu melangkah pergi meninggalkan dokter Abi dan rombongan lainnya, yang membuat mereka kembali terkejut dengan pernyataan Aldrin kalau Vanila adalah istrinya.
"Gila bener tuh cewek, udah punya laki, masih aja tebar pesona sama semua laki-laki." Cibir dokter Anya.
"Iya, nggak nyangka gue. Eh tapi suminya cakep banget lih." kata dokter Srik.
Vanila melangkah menuju restoran yang punya private room di bandara, tapi ruangannya terbuat dari kaca, sehingga orang luar dapat melihat aktivitas orang yang di dalam private room. walau terlihat, orang-orang tidak bisa mendengar pembicaraan orang yang berada di dalamnya.
Vanila duduk dan memesan iced matcha minuman favoritnya, dan Aldrin memesan segelas capucino.
"Mas mau kamu jadi istri mas lagi. Kita menikah lagi. Mas cinta dengan kamu La. Mas nggak bisa lepaskan kamu." Kata Aldrin dengan wajah memohon.
"Tolong kak, kakak yang waktu itu jatuhkan talak ke aku. Sekarang kita udah bukan suami istri lagi. Jadi tolong, jangan kakak bilang kalau aku istrinya kakak. Aku juga nggak mau ntar orang-orang bilang aku pelakor." Kata Vanila ketus.
"Tapi La, kamu bukan pelakor, kamu istri mas."
"Mantan istri." Potong Vanila mengingatkan.
"La, mas mohon, kita menikah lagi ya?" Kata Aldrin lagi.
"Sudah lah kak. Aku capek menghadapi sikap kakak. Kakak tidak cinta dengan aku. Kakak hanya terobsesi dengan aku. Kalau kakak cinta aku, kakak pasti bisa membiarkan aku hidup dengan tenang. Aku sebenarnya nggak mau merusak silaturahmi antara kita, tapi kalau kakak begini terus, aku nggak bisa ketemu kakak lagi. Aku mohon." Kata Vanila dengan wajah sedih dan memohon, yang membuat Aldrin tidak sanggup berkata-kata lagi.
"Lala pulang dulu. Salam buat umi, abah dan mbak Qila. Assalamualaikum." Kata Vanila lalu pergi meninggalkan Aldrin yang masih terduduk diam di dalam ruangan cafe.
__ADS_1
Vanila yang sudah memberitahukan kepulangannya segera menelpon pak Arman untuk segera menjemputnya di depan Bandara. Setelah pak Arman datang,Vanila segera masuk dan mereka pulang menuju rumah Vanila.
"Assalamualaikum mbok." Sapa Vanila sambil memeluk mbok Sa begitu sampai rumah.
"Wa'alaikumussalam. Non baik-baik aja di sana?" Tanya mbok Sa sambil memperhatukan Vanila.
"Alhamdulillah Lala baik-baik aja. Oh iya mbok, Lala capek, mau istirahat. Nanti kalau pas waktu zuhur Lala belum bangun, mbok bangunkan Lala ya." Kata Vanula lalu masuk ke kamarnya.
Vanila yang lelah hati dan fisik, segera terpejam begitu merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur menuju ke alam mimpi, karena Vanila memang tipe *****, nempel langsung molor.
Setelah beristirahat dan melaksanakan sholat zuhur, Vanila segera menuju meja makan, karena cacing di perutnya sudah demo, minta di isi makanan.
Di meja makan Vanila melihat ada dim sum favoritnya. Vanila tersenyum senang melihat dim sum, dan tidak sabar untuk segera memakannya.
"Mbok pesan dim sum?" Tanya Vanila ketika mbok Sa meletakkan air minum di depan Vanila.
"Itu den Vano tadi kesini. Tapi karena non tidur, jadinya den Vano titip aja. Den Vano baik dan perhatian banget ya non? Setia juga. Dari zaman non SLTP sampai sekarang, den Vano masih nungguin. Non kenapa nggak sama den Vano saja?" Tanya mbok Sa.
"Kak Vano baik. Tapi Lala nggak cinta dengan kak Vano mbok. Lala juga pengen bahagia, hidup bersama orang yang Lala cintai dan mencintai Lala. Kak Vano baik, tapi Lala nggak bisa paksa perasaan Lala buat kak Vano." Jawab Vanila, yang tanpa Vanila sadar, Vano berdiri tidak jauh dari Vanila, dan mendengar semua perkataan Vanila.
Vano sedih, mendengar perkataan Vanila. Tapi Vano segera memasang wajah bahagia seperti biasanya karena tidak ingin Vanila merasa tidak enak.
"Asalamualaikum." ucap Vano dengan suara semangat dan senyum lebar.
"Wa'alaikumussalam. Kakak dari tadi?" Tanya Vanila terkejut, karena khawatir Vano akan mendengar kata-katanya.
"Nggak kok, kakak baru sampai. Kenapa memangnya? Kamu abis ngegosipin kakak dengan mbok Sa ya?" Tanya Vano pura-pura curiga.
"Ih, kakak ge er. Nggak mungkinlah aku ngegosipin kakak, tapi lagi membicarakan fakta." Kata Vanila sambil memasukkan dim sum kemulutnya.
"Fakta apa? Kalau kakak gantemg, baik hati, rajin menabung dan suka menolong?" Tanya Vano lagi.
"Aih.. makin ge er kak Vano. Ya nggak nyeritain fakta itulah. Pokoknya ada deh. Kakak nggak boleh ke to the po, kepo. Btw terimakasih ya kak dim sum nya." Kata Vanila sambil tersenyum dan kembali memasukkan dim sum ke mulut mungilnya.
__ADS_1
Setelah kenyang makan 4 porsi dim sum, Vanila dan Vano ngobrol tentang kegiatan Vanila di tempat bencana. Vano sangat antusias mendengarkan Vanila bercerita, karena dulu Vanila selalu menghindar darinya. Tapi sejak kembali, Vanila bisa lebih terbuka dan menjadi dirinya apa adanya di depan Vano.
Vano sudah cukup senang bisa melihat Vanila tertawa lepas, walaupun hati Vano masih sakit, ternyata perasaannya masih belum terbalaskan.