Vanilarea

Vanilarea
Pernikahan


__ADS_3

Semenjak kejadian itu, Jenifer tidak mau bicara dengan Vanila. Ia selalu menghindari Vanila, bahkan memilih untuk pindah tempat duduk. (Cewek mah gitu, perasaan selalu di depan 😅). Vanila yang tipe orang tidak mau memaksakan kehendak, ketika Jenifer menolak untuk berbicara dengannya dua kali, Vanilapun memutuskan untuk tidak mengusik Jenifer lagi. Sedangkan Dahlia memutuskan untuk melanjutkan sekolahnya di negara M bersama Liliana.


Hari ini adalah hari pelaksanaan ujian akhir semester kenaikan kelas. Selama satu minggu ujian, Vanila lebih banyak menghabiskan waktunya untuk membaca buku di dalam kelas.


"Non ujiannya sudah selesai?" Tanya mbok Sa.


"Udah mbok." Jawab Vanila, yang sejak kejadian Vano menyatakan perasaannya, berubah jadi sedikit pendiam.


"Non jangan sedih terus. Nanti non Jeje pasti mau berteman dengan non lagi." Kata mbok Sa menenangkan.


"Iya mbok. Maaf, Lala sudah buat mbok khawatir" Kata Vanila lalu mencoba tersenyum.


"4 hari lagi, Non Liliana menikah. Papa non mau, non juga hadir." Kata mbok Sa


"Iya." Jawab Vanila singkat, karena Ia kecewa, baru diberitahu kakaknya akan menikah 4 hari sebelum hari H.


"Non mau berangkat kapan? Semuanya sudah disiapkan tuan." Kata mbok Sa lagi.


"Dua hari sebelum acara aja mbok. Lala ke kamar dulu." Kata Vanila lalu masuk ke kamarnya, sementara mbok Sa hanya bisa menghembuskan nafas berat dengan guratan wajah yang sedih. Mbok Sa tau, kalau Vanila sedih dan kecewa.


Hari ini Vanila, Mbok Sa dan pak Arman berangkat ke kota J. Tempat pernikahan Liliana akan dilangsungkan. Liliana akan menikah dengan teman kuliahnya yang ada di negara M. Karena jarak dari kota B ke kota J yang tidak terlalu Jauh, mereka berangkat menggunakan mobil yang biasa digunakan pak Arman.


Sesampainya di kota J, Vanila, mbok Sa, dan pak Arman langsung menuju ke hotel, tempat acara pernikahan sekaligus resepsi diadakan. Hotel tempat acara merupakan salah satu hotel milik Arlan.


"Non, itu kebayanya sudah mbok letakkan di lemari. Untuk acara siraman pakai kebaya warna salem, untuk akad yang pagi warna merah, sama yang untuk resepsi warna mint ya non." Terang mbok Sa.


"Iya mbok. Makasih." Kata Vanila


"Kalau non butuh mbok Sa, telpon aja ya non. Mbok permisi dulu." Kata mbok Sa lalu meninggalkan Vanila.


Seharian Vanila berada di kamar hotel. Untuk menghilangkan rasa jenuhnya, Vanila mencoba mempelajari membuat program sederhana, dari buku yang pernah dibacanya. Beberapa kali program yang Vanila buat mengalami erorr. Setelah beberapa kali percobaan, akhirnya Vanila berhasil, membuat programnya jalan, sesuai dengan keinginan Vanila.


Karena terlalu asyik ngerjakan program, yang buat Vanila bisa melupakan masalahnya sejenak, Vanila baru sadar kalau Ia belum makan siang, karena cacing di perutnya mulai demo minta di isi.


Vanila memutuskan untuk pergi ke restoran hotel, yang agak sepi, karena memang sudah sangat lewat untuk jam makan siang.


Vanila memesan sub buntut sapi di tambah nasi merah. Sewaktu menunggu pesanannya, Vanila melihat Papanya yang sudah menggunakan pakaian tradisional sunda, sedang berbicara dengan seseorang yang berada di lobi hotel. Konsep restorannya adalah konsep terbuka dan letaknya tidak jauh dari lobi, sehingga, dari restoran bisa melihat orang yang lalu lalang di lobi.


Arlan yang juga memandang ke restoran, tidak sengaja mellihat Vanila, tatapan mata mereka saling bertemu, tapi Arlan segera mengalihkan pandangannya, karena Arlan paling tidak bisa menatap mata Vanila yanv memiliki warna mata yang sama dengan Rosaline.


Vanila yang tahu, kalau papanya tidak bisa memandangnya lama-lama hanya tersenyum, menertawakan dirinya.


Setelah pesanannya datang, Vanila segera memakannya habis. Ia tidak ingin berlama-lama berada di restoran. Selesai makan, Vanila segera kembali ke kamarnya karena acara siraman dan pengajian akan di adakan jam 4 sore.

__ADS_1


Vanila segera mandi dan mengenakan kebaya yang sudah dipersiapkan oleh mbok Sa. Kebaya modern yang simple, tidak terlalu terbuka, sesuai dengan gaya busana yang Vanila suka.


"Non sudah siap?" Tanya mbok Sa sambil mengetuk pintu kamar Vanila.


"Iya mbok." Kata Vanila, lalu keluar dari kamarnya menggunakan kerudung senada dengan kebayanya.


"MashaAllah. Cantiknya non Lala." Kata mbok Sa sambil tersenyum, dan Vanila hanya menjawab dengan senyuman.


Selama acara berlangsung,Vanila duduk di samping kakak-kakaknya dan saudara dari sebelah papanya yang memang tidak banyak. Acara siraman dan pengajian berlangsung sangat khitmad. Vanila yang memang berbeda dari kakaknya selalu menjadi pusat perhatian, dan itu membuat Vanila tidak ingin berlama-lama di acara tersebut.


"Hi... Kamu sepupunya Kak Lili ye?" Tanya seorang cowok yang usianya di atas Vanila.


Vanila hanya menatap cowok yang tadi menyapa dan beebicara dengannya, tanpa ingin menjawab pertanyaan cowok itu.


"Kenalin name saye Fatir. Saye ne adek bang Rahmat calon suami kak Lili." Kata cowok itu memperkenalkan dirinya, dan mengulurkan tangan untuk berkenalan.


Venila menyambut uluran tangan Fatir dengan wajah tanpa ekspresi. "Vanila" Jawabnya singkat.


"Saye tak sangke. Kak Lili punya sodara sepupu cantik macam kamu." Kata Fatir dengan logat melayu yang kental. Dan hanya di jawab senyuman sekilas oleh Vanila.


"Kamu lagi sariawan ke? Tak nak bercakap dengan saye?" Tanya Fatir


"Iya saya saudaranya kak Lili. Saya permisi dulu." Kata Vanila lalu pergi meninggalkan Fatir. Sementara Fatir hanya tersenyum memandang punggung Vanila yang mulai menjauhinya.


Setelah acara siraman dan pengajian, malamnya diadakan acara hantaran seserahan, dimana calon pengantin laki-laki bersama keluarganya, datang mengantarkan berbagai macam seserahan. Vanila membantu kakak-kakaknya menerima seserahan dari keluarga Rahmat.


"Hi.. kite jumpe lagi. Berjodoh kite nampaknye." Kata Fatir sambil tersenyum. Sementara Vanila hany tersenyum seadanya, tanda Ia menghormati adik ipar kakaknya.


Fatir selalu saja memandang Vanila, dan ketika tatapan mata mereka bertemu, Fatir lalu memberikan senyum termanisnya, yang membuat Vanila sedikit jengah, melihat tingkah Fatir.


Selesai acara seserahan, Vanila segera kembali ke kamarnya, karena Ia nggak ingin, Fatir mendekatinya.


💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚


Hari ini pagi-pagi sekali Vanila sudah bangun, sudah mandi dan di dandani oleh salah satu petugas MUA yang memang diperintahkan untuk mendandani semua anggota keluarga. Vanila di dandani oleh salah satu profesional MUA yang bertulang lunak.


"Selamat pagi... Ya Tuhan.. gue ketemu bidadari. Boleh nggak sih gue kembali ke jalan yang lurus sekarang, jadi laki-laki?" Tanya Angel, nama profesional MUA itu, yang membuat Vanila tersenyum dan asisstent Angel tertawa, karena bosnya mau tobat.


"Masih piyik bos. ntar lo disangka pedofil mau mangsa bocah." Kata asistennya Angel.


"Aduh... gue yakin, kalau nih anak ntar besarnya jadi rebutan laki-laki. Mata lo cantik banget." Kata Angel yang menatap kagum Vanila, yang belum dandan saja sudah kelihatan cantik.


"Bisa nggak kak make upnya pakai lipgloss aja?" Tanya Vanila polos, yang membuat Angel tertawa.

__ADS_1


"Ya ampyun Say.. lo nggak usah khawatir deh. Ntar gue makeupin Lo senatural mungkin. Kulit Lo cantik banget, jadi gue nggak akan ngasih banyak dempul buat lo." Kata Angel, yang mulai membersihkan wajah Vanila yang memang kulitnya putih bersih.


"Lo beneran adeknya Jasmin?" Tanya Angel lagi, sambil bekerja.


"Beneran." Jawab Vanila singkat


"Kok Lo beda banget dari kakak-kakak lo yang lain? walau kalian semua cantik sih. Emang cetakan bos Arlan bibit unggul semua." Kata Angel lagi.


"Mungkin waktu buat aku, papa sama mama lagi sangat bahagia. Makanya aku beda." Jawab Vanila seadanya.


"Kue keles, dibuat." Kata Angel sambik tertawa mendengar jawaban Vanila.


"Kakak-kakak lo tu Arab-arab asia gitu. Mirip sama bos Arlan. Nah elo, bule banget. Kulit lo putih, Mata lo belo, warna bola mata lo cantik banget. Ini rambut lo warnain?" Tanya Angel lagi.


"Nggak. Ini warna rambut aku asli kak." Jawab Vanila


"OMG.. emang Lo salah satu makhluk Tuhan yang paling sempurna yang pernah gue temuin." kata Angel lagi.


Angel mendandani Vanila dengan makeup yang simple dan sederhana, dan disesuaikan dengan warna kebaya yang dikenakan Vanila. Tidak butuh waktu lama, bagi Angel untuk mendandani Vanila yang memang dasarnya sudah cantik.


Begitu selesai mendandani Vanila, Angel benar-benar kagum dengan kecantikan Vanila. mulutnya dari tadi tidak berhenti ngoceh melihat hasil karyanya, dan tidak lupa untuk mengabadikannya, dan segera mempostingnya di medsos yang dimiliki Angel. Baru saja di posting, photo Angel dan Vanila langsung mendapat like dan komentar yang sangat banyak. Mulai dari komentar yang bagus, komentar tidak bagus, sampai komentar yang absurd.


"Lo mau nggak jadi artis? Ntar gue rekomin sama salah satu agensi temen gue. Gue yakin, Lo pasti bakalan langsung terkenal. Ini medsos gue langsung banjir like n komen" Kata Angel sambil memperlihatkan medsosnya kepada Vanila.


"Nggak kak. terima kasih." Kata Vanila


"BTW.. akun medsos Lo apa? biar gue tag" Kata Angel lagi.


"Nggak ada." Jawab Vanila singkat


"Ya Tuhan... hari gini masih ada yang nggak punya akun sosmed? Jaman sekarang, bayi baru lahir ampe nenek-nenek bau tanah punya sosmed. Nah elo, kok bisa nggak punya?" Tanya Angel heran, yang hanya di jawab cengiran yang memperlihatkan gigi putih yang tersusun rapi milik Vanila.


"Fix... gue tobat kalau gini. Nyengir aja lo cantik banget." Kata Angel sambil menatap Vanila kagum.


"Baneran bos mau tobat?" Tanya asistennya heran, karena selama menjadi asisten Angel, tidak pernah sekalipun Angel punya niatan kembali jadi laki-laki normal.


"Kalau dia mau sama gue, gue bakalan tobat." Kata Angel


"ehem. btw anyway busway umur kita nggak beda jauh kan ya..? Lo imut-imut bukan karena masih bocah kan? Lo sekolah kelas berapa sih?" Tanya Angel lagi (dengan suara yang di rubahnya jadi mode suara ngebas khas cowok), karena Ia susah memprediksi umur Vanila.


"Kelas VII, mau kelas VIII." Jawab Vanila.


"Kelas VII, berarti umur lo 14 tahun, gue 24. mmm bisa lah.. beda kita cuma 10 tahun." Kata Angel.

__ADS_1


"Umur aku tuh baru 8 tahun kak." Kata Vanila sambil tertawa karena lucu melihat ekspresi keterkejutan Angel.


"Lo buat gue patah hati. emang masih piyik banget lo. Tapi Lo tinggi ya emang seperti anak umur 14 tahun. Tapi wajah lo imut seperti bocah 8 tahun emang, makanya gue nggak bisa nebak usia lo." Kata Angel kecewa dan mengembalikan suaranya ke mode khas suara makhluk bertulang lunak.


__ADS_2