
Vano benar-benar tidak menyangka, bahwa orang yang tadi diminta kakaknya untuk dinikahi adalah Vanila. Perempuan yang sangat dicintainya. Perempuan yang namanya selalu ia sebut di setiap doanya. Perempuan yang ia harapkan akan menjadi makmumnya di dunia dan di akhirat kelak. Tapi takdir Allah berkata lain. Vanila justru menjadi kakak iparnya, istri dari masnya, Aldrin.
Umi salma segera membawa Vanila masuk ke ruang ICU.
"Mbok Sa !" Kata Aldrin rerkejut ketika melihat mbok Sa.
"Iya den. Ini si mbok. Aden apa kabar?" Tanya mbok Sa, yang masih menggandeng Vanila.
"Ini.."
"Aisyah. Istri kamu." Terang Umi Salma yang membuat Aldrin semakin bingung.
"Iya den. Ini non Lala. Sekarang sudah jadi istri den Al." Terang mbok Sa.
"Pa..." Kata Vanila yang segera menghampiri papanya karena melihat papanya tersenyum ke arahya.
"Sa..yang. Ma..af" Kata Arlan terbata-bata.
"Papa jangan bicara. Papa istirahat aja. Papa pasti sembuh. Lala sudah wujudkan keinginan papa. Jadi papa harus kuat. Demi Lala." Kata Vanila sambil menggenggam tangan papanya.
"Al.." panggil Arlan.
"Iya om." Kata Aldrin dan segera mendekat.
"Pa.. pa.. se..rah..kan Lala sama ka..mu. Ja.. ga.. La..la.. baik-ba..ik." Kata Arlan sambil menyerahkan tangan Vanila kepada Aldrin.
"InshAllah pa." Kata Aldrin.
"Kamu pasangkan mas kawinnya Al." Perintah Abah Yusuf.
Aldrin lalu memasangkan cincin yang tadi di belinya ke jari manis kanan Vanila. Lalu umi Salma meminta Vanila mencium tangan Al, dan Vanila melakukannya. Lalu Ia kembali menggenggam tangan papanya.
"Ja..ngan.. na..ngis La." Kata Arlan yang berusaha mengusap air mata Vanila.
"Lala nggak nangis. Tapi papa harus janji. Papa harus kuat." kata Vanila yang menyeka air matanya dan mencoba tersenyum.
"Ma..af..kan..pa..pa.Pa..pa.. su..dah.. tì..dak kuat." Kata Arlan yang nafasnya mulai tersengal-sengal dan suara alat pendeteksi detak jantungnya mulai tidak stabil.
"Nggak. Papa harus kuat. Papa nggak boleh pergi." Kata Vanila. Umi Salma yang melihat Vanila mulai emosi segera membawa Vanila menjauhi Arlan, dan Aldrin segera duduk di samping Arlan.
"Ikutin Al pa. La..Ilahailallah."
"La... I..la..ha..i..lallah.."
"Muhammadarasulullah."
"Mu..ham..mad..da..ra..su..lullah..."
"Tiiiiiiitttt"
Terdengar suara alat detak jantung Arlan berbunyi panjang dan menunjukkan garis lurus.
"Pa... jangan tinggalkan Lala. Papa bangun pa..." kata Vanila yang menangis sambil memeluk papanya yang sudah tidak bernyawa lagi.
__ADS_1
Aldrin memeluk Vanila dari belakang dan berusaha menenangkan Vanila, karena dokter harus memeriksa dan mencoba memberikan pertolongan kepada Arlan dan meminta semuanya untuk keluar dari ruangan ICU.
"Ikhlaskan papa La. Biarkan papa pergi dengan tenang. InshAllah papa husnul khotimah." kata Aldrin sambil memeluk Vanila dan memaksa membawa Vanila keluar.
Vanila melepaskan pelukan Al, dan memeluk mbok Sa.
"Lala sendiri mbok. Lala sendiri." Ucap Vanila sambil menangis.
"Non nggak sendiri. Ada mbok, den Al, umi Salma, Pak kyai, den Vano, kakak-kakak non. Non nggak sendiri." Kata mbok Sa yang berusaha menenangkan Vanila.
Vanila yang benar-benar syok hanya menangis di pelukan mbok Sa. Aldrin menatap Vanila dan merasa bersalah karena permintaan yang ia ucapkan sebelumnya. Sementara Vano, masih tidak bisa percaya kalau Vanila sekarang menjadi kakak iparnya.
"Maaf. Kami tidak bisa menyelamatkan tuan Arlan. Tuan Arlan meninggal pukul 11.45 wib." Terang dokter yang tadi memeriksa Arlan.
Vanila menatap dokter dan petugas rumah sakit yang mulai melepaskan satu persatu peralatan medis yang tadi terpasang di tubuh Arlan. Air mata terus mengalir membasahi pipinya. Vanila hanya diam saja tanpa mengeluarkan suara sedikitpun. Orang-orang yang melihat Vanila turut merasakan kesedihan Vanila.
"Mas, Rasyid dan abah akan mengurus jenazah papa. Kamu pulang dulu dengan mbok Sa dan umi." kata Aldrin.
"Ayo non." Ajak mbok Sa.
"Sudah La. Jagan buat jalan papa kamu berat. Bukankah semua yang bernyawa pasti akan mati." Kata Umi Salma menasehati Vanila. Lalu Vanila mengikuti langkah mbok Sa dan umi Salma, menuju ruangan tempat Ia tadi berganti pakaian.
Vanila mengganti pakaiannya menggunakan pakaian yang tadi ia gunakan saat sidang skripsi. Mbok Sa mmbereskan barang-barang Vanila.
Setelah berganti baju, Vanila segera menuju parkiran bersama mbok Sa dan umi Salma, menggunakan mobil Vanila yang biasa di bawa pak Arman.
Vanila hanya diam sepanjang jalan. Umi salma menggenggam tangan Vanila, berusaha memberikan dukungan kepada Vanila. Sesampainya di rumah, Vanila segera masuk ke kamarnya. Pak Arman melapor ke pak Rt, sedangkan mbok Sa dan umi Salma mempersiapkan segala sesuatunya untuk menyambut jenazah Arlan.
Berita meninggalnya Arlan segera tersebar. Arlan yang memang terkenal baik dan memiliki relasi yang banyak, membuat ada banyak papan bunga ucapan duka cita yang berdatangan. Tidak hanya memenuhi halaman rumah, tapi juga hingga ke jalan utama.
Liliana dan Dahlia sampai di rumah duka bersama keluarga dari pihak suami mereka.
"Non, non Liliana dan Non Dahlia sudah sampai." kata mbok Sa memberitahukan kedatang kedua kakaknya.
Vanila segera keluar dan memeluk kedua kakaknya erat yang menangis tersedu-sedu sejak mereka mengetahui kalau papanya meninggal.
Pemandangan itu benar-benar membuat orang-orang yang melihatnya ikut meneteskan air mata.
"Papa udah nggak ada. Papa udah tenang dan senang dengan mama." kata Vanila mencoba menguatkan kakaknya.
"Onty, jangan nangis." Kata Langit yang memeluk kaki Vanila. Vanila segera memeluk bocah gembul yang menggemaskan anak Liliana.
"Air matanya nakal. Onty nggak bisa berhenti nangis." Kata Vanila.
"Air mata jangan nakal. Jangan buat onty Langit sedih." kata Langit yang berbicara dengan air mata Vanila dan membuat Vanila tersenyum.
Tidak lama kemudian, mobil ambulance yang membawa jenazah Arlan sampai di rumah. Arlan segera di semayamkan di ruangan tamu. Pihak rumah sakit sudah memandikan dan mengkafankan jenazah Arlan.
Vanila dan semua yang hadir satu persatu melihat wajah Arlan untuk yang terakhir kalinya. Anggota keluarga Arlan terutama putri-putri dan cucunya diperkenankan untuk mencium wajah Arlan untuk yang terakhir kalinya.
Vanila yang duduk di samping jenazah papanya mulai membacakan surah yasin. Mulutnya hanya terlihat komat-kamit karena Vanila tidak mengeluarkan suaranya. Begitu juga kedua kakaknya dan suami mereka. Sementara Aldrin dan Vano sibuk mengurus persiapan pemakaman, karena Arlan akan di makamkan selepas sholat Zuhur. Karena mereka tidak akan menunggu Jasmine yang sedang hamil besar dan berada di negara J, dan juga Sakura yang ikut suaminya tugas di negara M.
Ketika masuk waktu Zuhur, Vanila segera melaksanakan sholat Zuhur di kamarnya. Vanila kembali menumpahkan air matanya ketika mendoakan papa dan mamanya.
__ADS_1
"tok.tok..tok.."
"La.. kita sudah mau ke mesjid buat sholatkan papa." kata Aldrin setelah mengetuk pintu kamar Vanila.
"Cklek" Vanila membuka pintu kamarnya, lalu keluar dan melewati Aldrin tanpa memperdulikannya. Aldrin yang paham kalau Ia sudah menyakiti Vanila, hanya menerima perlakuan Vanila dengan ikhlas.
Rombongan yang menyolatkan dan mengantarkan Arlan ke persemayamannya yang terakhir sangat banyak. Kebetulan pemakan keluarga Arlan berada di kota S, dan Rosaline serta kedua orang tua Arlan juga di makamkan di makam keluarga. Arlan memang sudah mempersiapkan makamnya berada di samping Rosaline.
Vanila ikut mensholatkan papanya untuk yang terakhir kalinya. Melihat semua proses pemakaman papanya hingga selesai. Bahkan ketika satu persatu pelayat yang mengantar, mulai meninggalkan pemakaman, begitu juga dengan kedua kakak Vanila yang tidak bisa berlama-lama di makam, karena khawatir anak-anaknya yang masih bayi akan mencari.
"Ayo La. Kita pulang." Kata Aldrin yang memegang bahu Vanila. Vanila menepis tangan Aldrin lalu melangkah meninggalkan makam Arlan.
Sesampainya di rumah, Vanila segera masuk ke kamarnya dan mengunci pintu kamarnya. Pelayat yang berdatangan masih banyak, para suami, Vano dan keluarga Abah Yusuf serta pak Arman sibuk melayani pelayat yang terus berdatangan.
"tok tok tok.."
"Non.. makan dulu. Buka pintunya non." kata mbok Sa.
"Kenapa mbok?" Tanya Aldrin.
"Ini, non Lala belum makan siang. Tadi pagi juga nggak sarapan." terang mbok Sa.
"Biar Al aja mbok." kata Aldrin dan mengambil nampan yang berisi makanan untuk Vanila.
"Iya den. Tolong ya." kata Mbok Sa.
"La.. ini mas. Kamu harus makan La." Kata Aldrin sambil mengetuk pintu kamar Vanila.
"Kamu nggak mau kan jadi istri durhaka, karena menolak perintah suami." Kata Aldrin lagi.
"Cklek" Vanila membuka pintu kamarnya, lalu mengambil nampan makanan yang berada di tangan Aldrin, lalu kembali menutup dan mengunci pintu kamarnya.
Aldrin tidak mau memaksa Vanila. Karena bagaimanapun Ia yang membuat Vanila seperti itu. Andai saja Aldrin tahu dari awal kalau Vanila adalah Lala, gadis kecil yang sangat di sukainya, Ia tidak mungkin mengatakan pada Vanila kalau tahun depan Ia akan menikahi Sidqila.
Vanila yang tidak mau membiarkan Aldrin yang sudah menjadi suaminya, masuk ke kamarnya, membuat mbok Sa mempersiapkan kamar tamu untuk Al beristirahat.
Rumah yang di beli Arlan sangat besar dan memiliki banyak kamar, karena Ia memang berencana menghabiskan masa tuanya di kota S. Selain rumah utama yang memiliki 8 kamar, di samping juga ada beberapa paviliun yang juga memiliki beberapa kamar.
Seperti adat yang ada di masyarakat kota S pada umumnya, maka di rumah Arlan akan diadakan acara mendoa selama 3 malam.
Sejak papanya meninggal, Vanila lebih sering diam. Hanya omongan langit yang bisa membuatnya tersenyum. Bahkan untuk menghindari Aldrin, Vanila selalu bersama Langit.
"Mas. Mas ada masalah sama Vanila?" Tanya Vano yang memperhatikan ada sesuatu yang tidak beres antara Vanila dan Aldrin. Karena Vano hapal sekali dengan watak Vanila.
"Nggak ada. Ya kamu tahu lah. Lala itu terpaksa menikah dengan mas. Lagian kamu harus panggil Lala mbak. Nggak boleh panggil Vanila aja." terang Aldrin berusaha mengalihkan kecurigaan Vano.
"Kalau tahu mas suruh aku menikah dengan Vanila, aku pasti nggak nolak mas." kata Vano
"Maksud kamu?" Tanya Aldrin heran.
"Vanila itu perempuan yang aku suka dan aku kejar dari SMP mas." Terang Vano.
"Kamu jangan macam-macam ya Rasyid." kata Aldrin agak emosi, mengetahui kalau Vanila adalah orang yang disukai oleh Vano.
__ADS_1
"Aku nggak akan macam-macam mas. Aku tahu batasan. Tapi sekali aja mas sakitin Vanila, jangan salahkan aku, kalau aku akan ambil Vanila dari mas." Ancam Vano.
"Nggak akan. Mas akan jaga Lala dengan baik. Mas juga akan bahagiakan Lala." Kata Aldrin meyakinkan Vano.