Vanilarea

Vanilarea
What ?!


__ADS_3

Hari ini adalah hari ulang tahun yang paling membahagiakan untuk Vanila. Hari ulang tahun pertama papa dan keluarganya merayakan ulang fahunnya, walau swcara sederhana dirumah sakit. Vanila tidak butuh perayaan mewah, toh merayakan ulang tahun bukanlah budaya muslim. Do'a terbaik yang di ucapkan di hari ulang tahunnya lebih berharga bagi Vanila dari kado apapun.


Para dokter dan perawat yang mengenal Vanila mengucapkan, ucapan selamat ulang tahun kepada Vanila.


"Selamat hari lahir La." ucap dokter Abimana sambil memberikan sebuah bouqet bunga yang cantik.


"Thank's dok. Kayaknya Lala lebih suka bunga deposito or bunga bank deh." Canda Vanila sambil menerima bouqet bunga dari Vanila.


"Dasar matre." Cibir dokter Abimana lalu tertawa, walau mengenal Vanila sekitar 2 mingguan, tapi mereka sudah akrab seperti itu.


"Realistis namanya." Protes Vanila.


"Bahasa halusnya itu. Ujung-ujungnya ya.. matre." Kata dokter Abimana lagi.


"Tapi kan perlu. Zaman sekarang itu ya dok, kalau nggak matre susah loh buat bertahan hidup." Kata Vanila.


"Ya nggak harus terang-terangan bar-bar kayak kamu gitu La." Kata dokter Abimana lagi, dan perdebatan panjang mereka berlangsung sekitar setengah jam, membuat yang ada di ruangan itu hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan Vanila dan dokter Abimana.


Dokter Abimana yang biasanya terlihat pendiam dan keren, berubah menjadi dokter yang konyol, mak-mak ghibah or nitijen maha benar ketika bersama dengan Vanila. Dokter Abimana tidak pernah mau mengalah jika berbicara dengan Vanila, walau ujung-ujungnya Vanila yang selalu menang dalam perdebatan.


"Ini gibs nya kapan di bukaknya sih dok? trus Lala kapan boleh pulangnya? Kan kasihan papa harus bayar biaya rawat inap di rumah sakit." Kata Vanila dengan wajah pura-pura sedih.


"Dasar ratu drama." Kata dokter Abimana sambil menoel hidung mancung Vanila.


"Dokter Abi ! ntar pesek loh hidung aku yang kayak prosotan anak TK. Biaya operasi plastik mahal tau." Protes Vanila yang pura-pura marah dan langsung membuat orang yang mendengarnya tertawa.


"Kan kamu tinggal bantu om jual kamar presidential suite di hotel om beberapa hari dah bisa bayar biaya operasi plasik." Kata dokter Abimana.


"Loh dokter kok tau, papa punya hotel?"Tanya Vanila heran.


"Hello Lala. Papa kamu ini terkenal loh, wajahnya sering muncul di koran atau majalah." terang dokter Abimana.


"Papa nggak pasang iklan di kolom jodoh kan pa?" Tanya Vanila panik sambil mendekati papanya, yang langsung mendapat jitakan pelan dari papanya.


"Bocah gendeng. Ya kali, papa pasang iklan di kolom jodoh. Nggak pasang iklan aja banyak yang ngejar-ngejar papa." Kata Arlan membanggakan diri.


"Idih.. narsis bener si papa. Ingat umur pa." Protes Vanila.


"Kamu kira papa amnesia. Kan papa itu ibarat kelapa, semakin tua, santannya semakin bagus." Terang Arlan


"Lah ? Kenapa bawa-bawa kelapa ?"Tanya Vanila heran. Walaupun Vanila pintar, tapi untuk hal-hal istilah atau perumpaan dalam kehidupan, Vanila tidak begitu paham.


"Udah, nggak usah dipikirin." Kata papanya.


"Memangnya kamu kenapa mau cepat pulang La? Ntar nggak ada temen gila Saya lagi dong." Kata dokter Abimana dengan wajah sedih.


"Lala kan harus kuliah dok. Udah kelamaan libur nih." Kata Vanila


"Lah, kamu udah kuliah? semester berapa? Saya kira kaku masih SMA gitu." Kata dokter Abimana agak terkejut karena baru tahu kalau Vanila sudah kuliah.


"Semester 4." Jawab Vanila


"Wah.. sebentar lagi tamat kuliah dong ya. Bisa nih sepertinya Saya ngelamar kamu. Seru sepertinya rumah tangga kita nanti." Kata dokter Abimana.


"Idih.. pede bener. Siapa yang mau sama dokter?" Protes Vanila.


"Banyak loh La, yang mau sama Saya." Kata dokter Abimana dengan pedenya.


"Lala nggak tuh." Kata Vanila


"kenapa kamu nggak mau dengan saya? Kurang apa saya coba? Baik, punya pekerjaan bagus, sholeh, rajin menabung, tidak sombong, ganteng apalagi, nggak usah di tanya, satu rumah sakit, siapa yang berani bilang saya tidak ganteng?" Tanya dokter Abimana.


"Iya sih. Tapi ada satu yang kurang, dokter kurang muda." Kata Vanila.


"Lah, kurang muda bagaimana. Saya rasa jarak usia kita tidak terlalu jauh, kalau kamu kuliah semester 4, seharusnya usia kamu sekitar 20 tahunan, usia saya tahun ini nanti 24 tahun, beda 4 tahun ini." Analisa dokter Abimana yang langsung di tertawakan Vanila.

__ADS_1


"Kenapa kamu tertawa La? Analisa saya benar dong?" Tanya dokter Abimana heran.


"Dokter bilang umur aku 20 tahun? hahaha" kata Vanila masih sambil tertawa.


"Iya, kalau pun agak muda yah.. 19 tahun lah." Kata dokter Abimana lagi.


"Hari ini aku ulang tahun yang ke 14 dok." Kata Vanila sambil berhenti tertawa dan menyeka air matanya (kebiasaan Vanila, kalau tertawa pasti air matanya keluar)


"what?! Kamu nggak lagi bercanda kan La?" Tanya dokter Abimana terkejut.


"Beneran. Tanya aja papa atau mbok Sa." Kata Vanila yang membuat dokter Abimana langsung memandang Arlan dan melihat Arlan mengangguk membenarkan ucapan Vanila.


"Jiah.. padahal tadi saya sudah berharap sekali loh La." Kata dokter Abimana sedih, karena harapannya tidak bisa terwujud.


"Tapi jodohkan nggak ada yang tahu dok." Kata Vanila, yang mencoba mengganggu dokter Abimana, sehingga membuat muka sedihnya, langsung bersinar seperti bola lampu baru pasang.


"Bener juga kamu. 10 tahun mah nggak masalah. Kan ada yang beda usianya lebih dari 10 tahun jodoh. Baiklah, saya akan menunggu kamu La." Kata dokter Abimana bersemangat.


"ih.. dokter pede banget. Lala nggak mau sama dokter." Kata Vanila sambil tertawa.


"Biarin. Jodohkan nggak ada yang tahu. Ntar saya minta sama yang punya kamu." Kata dokter Abimaana penuh keyakinan.


"Minta sama papa? Papa mah dengar apa maunya Lala." Kata Vanila.


"Nggak dong. Om nggak punya kamu. Yang punya kamu Allah. Ntar aku minta sama Allah." Kata dokter Abimana serius.


"Wah.. kalau itu mah Lala nggak ikut-ikut." Kata Vanila yang tersenyum agak kikuk, karena akhirnya kata-kata dokter Abimana tidak bisa di sanggahnya.


🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀


Hari ini Vanila latihan berjalan lagi menuju taman, dokter Abimana sedang mengoprasi pasiennya. Jadinya Vanila ke taman di temani mbok Sa.


"Non duduk di sini dulu. Mbok ambil air minumnya." Kata mbok Sa yang lupa membawa air minum Vanila, lalu pergi ke kamar inap Vanila.


"Hi. Happy birthday." Kata Daffa yang berdiri di depan Vanila bersama pengasuh dan dua orang bodyguardnya, sambil menyerahkan sebatang coklat dengan merk terkenal, yang sudah dibungkus cantik dengan pita.


"Boleh aku duduk disini?" Tanya Daffa yang sudah langsung duduk ketika Vanila mengambil coklatnya.


"Basa basi kamu basi. Udah duduk juga. Ngapain nanya? Lagian kalau aku ngusir kamu, ntar aku di pelototin sama tuh para penjaga kamu." Kata Vanila sambil melirik ke arah pengasuh dan bodyguard Daffa.


"Sebelum mereka pelototin kamu, aku duluan yang pelototin mereka." kata Daffa.


"Ntar bola mata kamu keluar loh, kalu melotot." Kata Vanila sambil tertawa karena membayangkan mata Daffa yang keluar karena melotot. (Salah satu kebiasaan Vanila yang suka langsung membayangkan apa yang di ucapkannya).


"Ya nggak mungkinlah bola mata aku keluar kalau melotot. Kamu ini ada ada aja." Kata Daffa.


"Btw any way bus way, Kamu sehat-sehat aja tapi kok berkeliaran di rumah sakit sih?" Tanya Vanila pura-pura tidak tahu kalau Daffa menderita penyakit kelainan jantung bawaan.


"Lagi nunggu jadwal operasi. Kamu sendiri, cuma sakit kaki gitu doang, juga masih di rumah sakit? Kan bisa rawat jalan aja." Kata Daffa


"Tau nih dokter Abi. Dia ngefans sama aku, jadi nggak ngebolehin aku pulang." kata Vanila sambil nyengir.


"Kamu serius?" Tanya Daffa serius.


"Hehehe.. becanda." Kata Vanila sambil mengangkat jari telunjuk dan jari tengahnya ✌.


"Kirain benar. Kalau benar, ntar aku suruh papi aku buat negur dokter Abi." Kata Daffa.


"Idih.. emang papi kamu siapa?" Tanya Vanila.


"Ini rumah sakit keluarga aku. Yang bangun ini kakek aku. Direktur rumah sakit ini papi aku." Terang Daffa.


"Wah.. keren. Bisa dong biaya aku di nol kan?" Tanya Vanila pura-pura serius.


" Bisa lah. Pakde Edy, tolong uruskan tagihan Lala. Suruh bagian administrasi buat tagihannya nol." Kata Daffa langsung memerintah pengasuhnya.

__ADS_1


"Baik den" kata pak Edy dan segera melangkah menuju bagian administrasi.


"Stop pak. Saya bercanda. Daffa, aku bercanda loh. Kamu nggak asik ah, nggak bisa di becandain" Kata Vanila yang pura-pura kesal.


"Lah? Tadi katanya tagihannya mau di nol kan." protes Daffa.


"Aku bercanda Daffa. Iya kali tagihan aku yang banyak itu mau di nol kan. Lagian jangan khawatir. Papa aku sanggup kok bayarnya. But, thanks ya." kata Vanila sambil tersenyum.


"Jadi bagaimana den?" Tanya pak Edy.


"Udah pakde, nggak usah." Kata Daffa.


"Kamu kok tahu aku ulang tahun?" Tanya Vanila.


"Kamu lupa tadi aku bilang apa?" Tanya Daffa


"Bilang yang mana?" Tanya Vanila balik.


"Rumah sakit ini punya keluarga aku. Jadi apapun yang terjadi di rumah sakit ini aku pasti tau lah. Apalagi papa kamu ngasih makanan buat semua dokter dan karyawan rumah sakit, tambah lagi menggratiskan semua orang yang pesan di kantin rumah sakit." Kata Daffa.


"Iya ya? Kok aku nggak tau. Papa kebiasaan nih."Protes Vanila ngomong sendiri.


"Loh kok kamu nggak tau?" Tanya Daffa heran.


"Nggak tau aja. Papa emang suka gitu." Kata Vanila sambil nyengir.


"Btw kamu ultah yang ke berapa?" Tanya Daffa


"Ada deh." Jawab Vanila.


"Ish. Pelit banget. Tapi kan cewek emang gitu. Takut dibilang tua, jadi nggak mau nyebutin umurnya. Ngomong-ngomong kamu sekolah kelas berapa sih?" Tanya Daffa.


"Sekolah? Aku tuh udah kuliah semester 4 tau." Kata Vanila, dan seperti biasa reaksi yang mendengar selalu terkejut tidak percaya.


"Bercanda kamu pasti." kata Daffa tidak percaya.


"Beneran. Cek aja di Forlap Dikti, pasti nama aku terdaftar di salah satu universitas." Kata Vanila meyakinkan.


"Tapi kok, kamu kelihatan masih muda banget. Nggak kayak mahasiswa yang udah semester 4?" Tanya Daffa lagi.


"Ada deh." jawab Vanila sekenanya.


"Ada deh mulu. Kamu mau main detektifan sama aku?, 10 menit aku bisa dapat info kamu loh." Kata Daffa.


"Coba aja." Kata Vanila nantangin.


Daffa yang merasa di tantang, langsung mengeluarkan hpnya dan menghubungi seseorang. Tidak lama kemudian sebuah pesan masuk ke hpnya.


"Aku udah dapat nih info tentang kamu. Vanilarea Aisyah Syauqi. Anak bungsu dari Arlan Syauqi pemilik Syauqi properties. lahir tanggal 6 Januari tahun... What?! beneran kamu baru 14 tahun?, kok udah kuliah semester 4?" Tanya Daffa heran.


"Akselerasi." jawab Vanila singkat.


"Oh. Karena kamu lebih muda dari aku, jadi kamu harus manggil aku mas Daffa." Kata Daffa sambil senyum-senyum, membayangkan Vanila memanggilnya dengan sebutan 'mas'.


"Ok. Menghargai yang lebih tua. Lagian nggak ada salahnya buat orang senang." Kata Vanila sambil tersenyum.


"Mas mintak nomor hp or WA kamu dong." Kata Daffa.


"Nggak boleh." Kata Vanila.


"Loh, kok nggak boleh sih? Biar mas bisa hubungi kamu. Biar kita bisa tetap saling komunikasi." kata Daffa.


"Maaf ya mas, Kita baru kenal 2 hari ini. Lagian Lala hanya simpan nomor keluarga inti Lala aja. Yang tahu nomor Lala juga hanya keluarga inti Lala aja." kata Vanila beralasan.


"Kok kamu gitu sih La. Mas kan bukan orang jahat." Kata Daffa lagi.

__ADS_1


"Gini aja. Mas fokus dulu untuk operasinya. Nanti kalau mas sembuh mas cari Lala. Kalau kita ketemu lagi, berarti kita jodoh untuk ketemu. Pas kita ketemu lagi, Lala akan kasi nomor hp Lala. Deal?" Kata Vanila sambil mengulurkan tangannya untuk di jabat.


"Ya udah deh. Deal." Kata Daffa menjabat tangan Vanila.


__ADS_2