
Hari ini Vanila tidak kemana-mana, Ia benar-benar mengistirahatkan dirinya di rumah, karena besok Vanila akan ke kota P untuk menepati janjinya dengan Amel.
Malamnya Aldrin kembali datang ke rumah Vanila. Ia tidak ingin menyerah begitu saja melepaskan Vanila, wanita yang sangat dicintainya dari sejak kecil, namun berakhir perpisahaan karena kebodohan yang di buat Aldrin.
"Mbok, bilang sama kak Aldrin, Lala nggak mau ketemu. Suruh pulang mbok. Suruh bawa juga semua yang kak Al bawa." Kata Vanila lalu masuk ke kamarnya.
Lama mbok Sa, baru bisa meyakinkan Aldrin untuk pergi meninggalkan rumah Vanila. Aldrin tadinya keukeuh ingin bertemu dengan Vanila, dengan mengancam tidak akan pergi sebelum Vanila keluar. Tapi setelah mbok Sa, menyampaikan nasehatnya, akhirnya Aldrin pergi.
Hari ini Vanila bangun pagi-pagi sekali. Karena Vanila sudah membeli tiket untuk penerbangan menuju kota P. Pak Arman mengantar Vanila ke Bandara setelah sholat subuh. Karena masih pagi, jalanan masih terlihat lengang, sehingga Vanila bisa sampai tepat waktu.
"Pak Arman pulang aja. nggak usah tungguin Lala. Lala bisa kok." Kata Vanila sambil tersenyum, lalu menggendong tas ranselnya.
Walaupun pagi, Bandara terlihat sudah ramai, ditambah ada pesawat yang baru landing, bahkan ada yang dari luar negeri.
"Bruk" Terdengar suara orang yang terjatuh, dan langsung di kerubungi beberapa orang yang berpakaian serba hitam. Salah seorang dari pria berpakaian hitam berteriak kalau ia membutuhkan dokter.
Vanila yang sudah mengambil sumpah kedokterannya tidak mungkin mengabaikan orang yang membutuhkan pertolongan.
"Saya dokter. Biar saya periksa." Kata Vanila, namun pria berpakaian hitam itu tidak langsung percaya begitu saja, membuat Vanila harus mengeluarkan kartu anggota kedokterannya.
Vanila melihat seorang pria yang sepertinya wajahnya tidak asing. Vanila segera melakukan pemeriksaan dan untung saja pasiennya masih sadar, bahkan terus memandang Vanila sambil memegang dadanya.
Vanila mendudukkan pasiennya, kemudian meminta pria berpakain hitam untuk memberikan obat.
"Kunyah obatnya, dan jangan panik ok. Untung saja anda masih sadar." Kata Vanila sambil memasukkan obat ke mulut pasiennya, dan kembali memeriksa kondisi pasiennya.
"Kelainan jantung bawaan. Sebaiknya anda segera ke rumah sakit. Jangan melakukan perjalanan udara terlebih dahulu. Saya khawatir Anda mengalami serangan jantung susulan." Kata Vanila.
"Anda mendengarkan saya? Apa ada yang aneh di wajah saya?" Tanya Vanila heran.
"Daffa" Kata pria itu sambil tersenyum, dan Vanila seperti mengalami dejafu.
"MashAllah. Kamu Daffa, beruang es, kok sekarang jadi beruang madu sih, manis banget." Kata Vanila tidak sadar.
"Ups. sorry." Kata Vanila sambil menutup mulutnya karena Vanila baru sadar kalau, Vanila memuji seorang laki-laki.
Belum sempat Daffa menjawab, Panggilan untuk penumpang pesawat menuju kota P sudah memanggil.
__ADS_1
"Sorry beruang es, eh salah. Daffa, Lala pergi dulu, tuh udah di panggil-panggil. Langsung ke rumah sakit ya. Jaga jantungnya baik-baik." Kata Vanila lalu berlari meninggalkan Daffa, karena panggilan yang terdengar adalah panggilan terakhir untuk keberangkatan menuju kota P.
"Cari tahu, Lala berangkat kemana. Pesan penerbangan tercepat, ke kota yang sama." Kata Daffa dengan wajah dinginnya.
"Tapi tuan.."
"Tidak ada tapi-tapi. Saya di rawat di rumah sakit sana saja." Kata Daffa lagi, lalu di bantu pengawalnya yang lain untuk berdiri.
Setelah menempuh perjalanan 1 jam 45 menit,Vanila akhirnya sampai di kota P. Vanila sengaja tidak memberitahukan kedatangannya kepada Amel, Satya, Rizky dan Niken.
Sesampainya di AERSS, Vanila melihat sekeliling bangunan AERSS, ternyata sudah banyak yang berubah sejak Vanila meninggalkan AERSS 4 tahun yang lalu.
Vanila yang sengaja berpenampilan modis, menggunakan kaca mata hitam dan sedikit menggunakan makeup untuk merubah penampilannya, agar orang-orang di AERSS tidak mengenalinya.
"Selamat pagi dek, ada yang bisa saya bantu?" Tanya seorang satpam dengan ramah sambil membukakan pintu.
"Selamat pagi pak. Saya mau ketemu buk Amel ada?" Tanya Vanila.
"Oh ada dek. Lapor aja ke resepsionist, nanti akan di antarkan ke ruang buk amel." Kata satpam itu ramah.
Vanila langsung berjalan menuju ruangannya dulu. Beberapa karyawan baru heran melihat ada seorang wanita cantik yang datang ke kantor mereka. Tapi langkah Vanila menuju ruangan lamanya di hentikan oleh seorang resepsionist.
"Maaf buk, boleh saya tahu anda mau kemana?" Tanya resepsionist yang menghalangi jalan Vanila ramah.
"Suka-suka saya mau kemana." Kata Vanila pura-pura ketus, karena ingin mengerjai resepsionist di AERSS.
"Maaf sebelumnya bu, kalau mau bertamu, ibu harus lapor dulu." Kata resepsionist yang di bajunya tertulis nama Airin.
"Aduh.. kok ribet banget ya. Tadi saya sudah lapor sama security." Kata Vanila lagi sambil memutar bola matanya, memperlihatkan sikap meremehkan.
"Tapi peraturan di sini memang seperti itu Ibu." Kata Airin lagi masih dengan sikap ramah.
Percakapan mereka tentu saja menarik perhatian orang lain yang mulai berkerumun di sekitar mereka.
"Ada apa ini Airin?" Tanya Satya yang baru saja sampai kantor, karena ada urusan di luar.
"Ini pak, Ibu ini tidak mau lapor dulu mau ketemu siapa." Kata Airin masih ramah.
__ADS_1
"Udah, orang nggak sopan nggak di terima di AERSS. Suruh pak Aryo minta tamunya keluar." Kata Satya sambil melihat Vanila yang bergaya ala-ala perempuan sombong.
"Yakin bapak mau usir saya?" Kata Vanila dengan merubah gaya bahasa dan suaranya.
"Yakin. Maaf ya. kantor kami tidak menerima tamu yang tidak bisa mengikuti peraturan seperti anda. Silahkan anda yang keluar sendiri, atau saya meminta security untuk menyuruh anda keluar." Kata Satya ketus.
Vanila tertawa melihat wajah serius Satya yang ingin mengusirnya, dan tentu saja membuat orang-orang yang berada di AERSS heran termasuk Satya.
"Nggak waras nih orang." Gumam Satya tapi masih terdengar oleh Vanila.
"Enak aja bilang aku nggak waras, Abang mau AERSS aku tutup?" Kata Vanila sambil membuka kaca mata hitamnya dan tersenyum ke arah Satya.
"Aer?! Ini beneran kamu? Kok kamu jadi beda banget gini? Abang kira tadi kamu perempuan kaya yang sombong gitu. Dasar kamu ini ya. Jahilnya nggak hilang-hilang." Kata Satya senang, yang membuat karyawan yang lain heran.
"Maaf ya mbak Airin tadi saya kerjai. Aku masih harus lapor bang?" Tanya Vanila pura-pura lugu.
"Lapor itu buat tamu. Kamu kan yang punya AERSS, ya nggak perlu lapor lah. Ya udah, Yok masuk." Kata Satya yang berjalan menuju ruangan mereka dulu.
Begitu Satya membuka pintu ruangannya, terlihat Amel, Rizky dan Niken yang sedang mengerjakan pekerjaan mereka. Karena mereka tahu kalau pasti Satya yang masuk, karena tanpa ketok pintu, jadinya mereka cuek aja.
"Banyak banget ya pekerjaan di AERSS?" tanya Vanila melihat Amel, Niken dan Rizky langsung menoleh ke sumber suara, karena mereka tahu betul itu suara siapa.
"Aer?" Ucap mereka kompak, bahkan Amel dan Niken langsung berlari memeluk Vanila.
"Mbak kira kamu masih lama kesininya. Kenapa nggak bilang, biar mbak jemput. lagian tumben dandan gini. Mbak pangling tau." Kata Amel sambil melepaskan pelukannya.
"Surprise.." Teriak Vanila.
"Telat bambang. Udah nggak surprise lagi." Kata Satya sambil menoel kepala Vanila pelan.
"Bang Sat, kepala aku fitrah loh, ntar aku kalau jadi nggak pintar bagaimana?" Tanya Vanila pura-pura merajuk.
"Alah, begitu aja adek abang pakek pura-pura merujak. Nggak mempan, dah hapal trik kamu." Kata Satya santai lalu duduk di kursinya
"Rujak..."
"Iya nanti abang belikan, yang di depan dinas kehutanan kan? dah pindah dia agak sononya dikit, dah punya tempat dia sekarang, kuahnya pisah, pedas sedang, nggak pakai timun, nanasny di banyakin. Siip, ntar abang belikan. Apa sih yang nggak buat adek abang satu ini." Kata Satya panjang lebar yang membuat Vanila nyengir, karena Satya masih ingat dengan kebiasaan Vanila ketika mendengar kata rujak.
__ADS_1