
Vanila duduk dengan tenang dan menyimak pelajaran yang diberikan bu Fitri, yang merupakan pelajaran Bahasa Indonesia. Beberapa murid mulai melirik Vanila, ada yang suka dan ada yang tidak suka. Vanila senang bisa duduk sendiri. Karena Ia nggak mau punya teman perempuan, yang nanti ujung-ujungnya akan membencinya seperti Jenifer.
Setelah 2 x 40 menit istirahat jam pertamapun berbunyi. Buk Fitri yang telah selesai mengajar dan memberikan tugas, segera keluar dari ruangan yang membuat ruangan seketika menjadi riuh.
"Neng Vanila, kita ke kantin yok" Ajak Jaki.
"Maaf. aku udah bawa bekal." Kata Vanila lalu mengeluarkan kotak bekalnya yang berisi 2 potong roti isi daging favorit Vanila.
"Kamu mau? Ambil aja. tuh masih ada satu lagi." Kata Vanila, dan tanpa basa basi Jaki segera mengambil roti isi yang tinggal satu di kotak bekal Vanila.
"wah... ini roti isi paling enak yang pernah aku makan" Kata Jaki dengan mulut yang masih mengunyah makanan.
"Jak.. pantesan aja kamu aku tungguin di kantin nggak nongol. Biasanya kamu yang duluan absen sama ibu kantin" Kata seorang murid cowok yang menggunakan kaca mata tebal dan rambut klimis.
"Hehehe... ini aku udah dapat sarapan gratis. enak lagi. Ini roti isi yang paling enak yang pernah aku makan." Kata Jaki lagi.
"Ya elah Jak. tentu aja itu yang paling enak, kan kamu nggak pernah makan roti isi. Biasa makan lonsay Ibuk Ratna aja, banyak gaya kamu." Kata teman Jaki
"hehehe.. iya juga ya." Kata Jaki yang menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Btw any way busway, ini murid baru yang cantiknya nggak ada ujungnya itu ya?, kok kamu sudah akrab aja. Jangan mau di kadalin sama Jaki." Katanya lagi.
"Aku bukan kadal tau, jadi nggak mungkin Vanila aku kadalin." Protes Jaki
" oh iya aku lupa, kamu bukan kadal, tapi biawak." Kata teman Jaki lagi yang membuat Vanila tertawa melihat interaksi Jaki dan temannya.
"Oh iya, Vanila, kenalin ini teman aku, namanya Ghalih. anaknya culun, tapi dia baik kok." Terang Jaki
"Enak aja kamu bilang aku culun. ini nih penampilan anak pintar. kan aku anak pintar" Protes Ghalih.
"Vanila" Kata Vanila lalu mengulurkan tangannya yang segera di sambut oleh Ghalih.
"Ghalih" Kata Ghalih sambil tersenyum.
"Maaf roti isinya nggak ada lagi. Nih, kamu minum susu aja." Kata Vanila sambil menyerahkan sekotak kecil susu stawbery.
"Thanks La." Kata Ghalih.
__ADS_1
"Cie ileh. Biasa minum air kobokan aja, sok sok an minum susu kamu." Kata Jaki mengejek Ghalih yang membuat teman baru Vanila itu kembali berdebat, tapi bisa membuat Vanila tertawa melihat tingkah mereka.
Sejak hari itu, Vanila memutuskan untuk berteman dengan Jaki dan Ghalih. Mereka sudah seperti tim cerdas cermat yang kemana mana selalu bertiga. Sejak berteman dengan Vanila, Jaki dan Ghalih tidak pernah lagi jajan di kantin, karena Vanila selalu membawakan mereka roti isi dan susu strawberry.
"Hi. kamu Vanila ya?, Nama aku Devan. Kamu mau nggak jadi pacar aku?" Kata seorang murid cowok yang berpenampilan cool dan memiliki wajah yang tampan.
"Buset dah. main nembak-nembak aja. Bisa mati anak orang woi." Protes Jaki.
"Suka- suka aku dong." Kata Devan sambil meletakkan sekotak coklat bermerk mahal di depan Vanila.
"wuih.. Lih.. ngeri nih sogokannya." Cibir Jaki lagi.
"Maaf. Kita ini masih kecil. Masih SMP. Nggak usah mikirin pacar pacaran deh. sekolah aja dulu yang benar." Kata Vanila yang menolak Devan.
"Tapi kan nggak ada salahnya kalau kita pacaran" protes Devan.
"Hel to lo Hello... kamu udah di tolak loh. Sana-sana pacaran sama fans-fans kamu." Usir Jaki.
"Kok kamu resek banget sih Jak. Jangan mentang-mentang kamu teman Vanila, trus kamu merasa menguasai Vanila." Kata Devan yang mulai marah.
Devan yang tidak ingin meninggalkan kesan buruk untuk Vanila, pergi meninggalkan kelas Vanila.
"Kamu pakai pelet ya La? Sejak ada kamu, kelas kita jadi kedatangan cowok-cowok keren sekolah. Kasih tau aku dong La, kamu pakai pelet dukun yang mana?" Tanya Jaki yang mendapat jawaban tinjuan di lengan kanan atasnya.
"kapok kamu." Ejek Ghalih
"aku nggak pakai pelet. Kenal sama dukun juga nggak." Kata Vanila
"Iya nih Jak, kamu ada ada aja. Wajarlah banyak cowok yang suka Lala, secara Lala itu cantik, baik, pintar..."
"puji aja terus. Dasar carmuk" kata Jaki yang memotong perkataan Ghalih yang membuat mereka kembali berdebat.
"Untung kalian nggak sekelas ya.." Kata Vanila sambil tertawa melihat Jaki dan Ghalih yang mulai tonjok-tonjokan bercanda.
Selama di kelas, Jaki dan Ghalih selalu menjaga Vanila, mereka selalu bertiga kecuali ke toilet. Kalau jam pulang, Vanila selalu pulang bersama Badai dan Guntur, karena jam pulang mereka yang sama.
"Hi Vanila. Kak Damar antarin pulang mau?" Tanya Damara yang menghampiri Vanila yang sedang berjalan dengan Damar dan Badai.
__ADS_1
"Nggak Kak, terimakasih. Aku sama kak Badai sama Kak Guntur aja." Kata Vanila
"Mendingan sama kakak La, kan kamu nggak capek jalan." Kata Damar lagi.
"Udah deh Mar. Lalanya nggak mau, nggak usah dipaksa." Kata Guntur yang mulai agak emosi.
"Kok, kamu yang nyolot sih. Vanilanya aja biasa aja tuh." Kata Damar nggak terima
"Iyakan Lala udah bilang nggak mau. Kok kamu masih maksain aja." Kata Guntur lagi dengan suara yang mulai meninggi.
"Kak, udah nggak usah di bahas. Kak Damar maaf ya. Aku pulang sama kak Badai dan kak Guntur. Jadi kakak silahkan duluan. terimakasih untuk tawarannya." Kata Vanila yang berusaha menenangkan suasana yang mulai memanas.
"Ok. Kali ini kamu nggak bisa kakak antar, tapi kakak harap lain kali kamu nggak nolak." Kata Damara lalu pergi meninggalkan Vanila dengan memacu sepeda motor sport yang dikendarainya.
Dari kejauhan ada beberapa pasang mata yang menatap sinis kepada Vanila karena Damar berusaha mengantarkan Vanila pulang.
"Besok naik sepeda aja kakak gonceng mau nggak La?" Tawar Badai, yang melihat Vanila masih belum terbiasa berjalan kaki.
"Nggak ah kak. lebih seru jalan, walau capek. hehehe" kata Vanila sambil nyengir 😁.
"Kamu jadi ikut musabaqoh Dai?" Tanya Guntur
"Jadi bang. Minggu depan mulai ikut kegiatan karantina." Jawab Badai
"Kakak, ikut lomba baca Alqur'an? Wah.. keren. Kakak udah hapal berapa jus?" Tanya Vanila antusias.
"alhamdulillah sudah 10 jus La." Jawab Badai.
"hmm.. Lala kalah dong." Kata Vanila agak lesu.
"loh, kamu hapal alquran juga La?" Tanya Guntur tidak percaya
"Iya tapi cuma 3 jus. Dulu kak Al, yang ngajarin. Tapi sejak kak Al nggak ada, nggak ada yang bantu Lala menghapal lagi." Kata Vanila dengan wajah agak sedih karena Ia ingat dengan Alkhalif.
"Mau mulai hapalan lagi dengan kakak?"Tanya Badai
"Mauuu... terimakasih kak." Kata Vanila antusias, dan tidak terasa mereka bertiga sampai ke Panti.
__ADS_1